
Jam dinding menunjukkan pukul 8 malam. Abah Dul dan Mahmud kian gelisah ditempat duduknya di ruang tamu menunggu Kosim yang tak kunjung pulang.
"Mud coba telpon teman kerjanya," kata Abah Dul ditengah kegelisahannya.
"Waduh, saya nggak punya nomor kontaknya Bah. Sewaktu di rumah sakit saya nggak kepikiran minta nomornya," kata Mahmud.
"Sebentar Bah, saya ingat temannya yang bernama Juned pernah telpon waktu ngasih kabar Kosim ďi rumah sakit," sambung Mahmud.
Mahmud segera membuka hapenya melihat-lihat panggilan masuk lima tujuh hari yang lalu.
"Alhamdulillah ada nih Bah," kata Mahmud langsung menelponnya.
Tak berapa lama suara dering masuk tersambung, telpon pun diangkat.
"Halo, assalamualaikum, dengan Mas Juned? Saya Mahmud kakak iparnya Kosim, mau nanya Kosim sudah pulang belum? Kapan?"
Setelah mendengar jawaban Juned dari seberang telpon, wajah Mahmud langsung berubah kian cemas. Abah Dul yang memperhatikan ekspresi Mahmud turut merasakan cemas pula.
"Apa katanya Mud?!" Tanya Abah Dul penasaran.
"Katanya Kosim sudah pulang dari proyek," cetus Mahmud.
"Kalau Arin, Dede dan Dewi lagi pada ngapain?" Tanya Abah Dul lagi.
"Lagi pada nonton televisi Bah," jawab Mahmud.
Tiba-tiba Abah Dul terdiam. Dia merubah duduknya dengan bersila sesaat kemudian memejamkan matanya. Abah Dul sedang menggunakan amalan "Memisahkan Sukma" nya melesat ke tempat Kosim bekerja.
Sukma Abah Dul melihat-lihat area proyek perumahan tempat Kosim bekerja. Lalu melayang ke sebuah bangunan kayu yang terletak disudut yang tak lain mess sebagai tempat tidur para pekerja.
Ada enam orang nampaknya sedang sibuk membetulkan dinding yang terlihat bolong. Dilihatnya satu persatu wajah para pekerja itu, tidak ada Kosim diantara mereka. Sukma Abah Dul pun segera meninggalkan tempat itu melesat cepat kembali masuk raganya.
"Iya Mud, Kosim nggak ada ditempat Kerjanya." Ujar Abah Dul.
"Aduh Bah, kemana ya atau mungkin sedang dalam perjalanan pulang ya," Mahmud kian cemas.
Kedua orang sahabatan sejak kecil itu sama-sama terdiam. Wajah keduanya mengguratkan kecemasan yang mendalam.
Sesaat kemudian suasana hening membisu itu tiba-tiba dikagetkan oleh suara seorang perempuan dari luar rumah yang memanggil-manggil nama Kosim.
"Kang... Kang Kosiiiiim.... Kang Kosiiiim..."
Mahmud segera bangkit dari duduknya untuk melihat keluar. Di halaman depan berdiri seorang perempuan muda dan cantik dengan pakaian kebaya pengantin berwarna putih.
Jantung Mahmud langsung berdegub kencang ketika pandangannya bentrok dengan sorot mata perempuan tersebut. Mahmud merasakan ada aura magis didalam diri perempuan berkebaya pengantin itu.
"Ma... maaf, cari siapa ya?" Tanya Mahmud dengan suara bergetar.
Perempuan itu diam saja sambil matanya terus menatap tajam Mahmud. Mahmud pun mengulang kembali pertanyaannya.
"Mbak cari siapa?"
"Kang Kosim," sahut perempuan berkebaya putih itu dengan raut muka dingin.
"Ada perlu apa dengan Kosim?" Tanya Mahmud lagi.
Semakin lama menatap mata perempuan itu degub jantung Mahmud terasa kian kencang. Mahmud segera mengalihkan pandangannya kearah pohon jambu air disisi kiri perempuan.
Lagi-lagi perempuan berkebaya tidak menjawab pertanyaan Mahmud. Ekspresi mukanya sangat dingin namun sorot matanya menggidikkan menatap tajam Mahmud.
"Kang Kosim mana...?" Tanya perempuan berkebaya datar.
Abah Dul yang mendengar percakapan tak wajar itu bergegas beranjak dari duduknya menyusul Mahmud yang berdiri ditengah-tengah pintu.
"Astagfirullah!" Seru Abah Dul dibelakang Mahmud.
Mahmud sempat tersentak oleh seruan Abah Dul yang tiba-tiba sudah berada dibelakangnya. Ia pun menggeser tubuhnya selangkah keluar pintu.
__ADS_1
"Mau apa anda nyari Kosim?!" Sergah Abah Dul setengah marah melihat perempuan berkebaya itu.
"Kosim calon suamiku" jawab perempuan itu dingin dan datar.
Abah Dul dan Mahmud terkejut bukan main. Mahmud merasakan bulu kuduknya langsung meremang berdiri sementara Abah Dul merasakan sosok perempuan itu tak wajar, segera mempersiapkan diri merapalkan amalan siap menghajar.
"Kang Kosim harus ikut bersamaku sekarang," kata perempuan berkebaya dengan suara datar.
"Anda siapa?!" Sergah Abah Dul menahan marah.
Abah Dul sebetulnya sudah mengetahui kalau perempuan berkebaya pengantin itu bukanlah manusia. Mata batinnya melihat perempuan berkebaya putih itu sejatinya adalah siluman monyet.
"Cepat serahkan Kang Kosim!" Hardik perempuan berkebaya mulai marah.
Suaranya sangat menggidikkan membuat sekujur tubuh Mahmud merinding.
Usai menghardik, perempuan berkebaya secepat kilat mengibaskan selendang merah yang sedari tadi terlampir ditangan kanannya.
Selarik cahaya merah meluncur deras kearah Mahmud. Mahmud yang tak siap mendapat serangan terkesiap kaget.
"Ya Allah!" Teriak Mahmud.
Mahmud tak kuasa untuk menghindar. Dia hanya tertegun melihat sinar merah itu meluncur deras dan menghantam dadanya dengan telak.
Mahmud terpental kebelakang, punggungnya membentur sudut kusen-kusen pintu.
"Aduh!" Teriak Mahmud.
Mahmud terbungkuk-bungkuk sambil memegangi dadanya yang terasa sesak. Perlahan-lahan tubuhnya menggelosoh terduduk didepan Abah Dul.
Abah Dul bermaksud menolong memapah Mahmud untuk mengamankannya namun urung dilakukan. Dia melihat kilatan cahaya merah meluncur cepat kearah Abah Dul.
"Kurang ajar! Dasar iblis!" Teriak Abah Dul.
Abah Dul langsung menghentakkan kakinya ke lantai bersamaan dengan menyorongkan telapak tangannya menyongsong sinar merah mengarah ke tubuhnya.
Dua kekuatan besar saling beradu diatas pinggir teras tiga langkah dihadapan Mahmud. Mahmud tersentak tubuhnya terdorong kebelakang oleh terpaan energi bentrokkan dua kekuatan itu.
Sementara Abah Dul tak mau ambil resiko segera merapalkan amalan penghancur sukma dengan satu hentakkan telapak tangannya. Kilatan cahaya putih dari telapak tangan Abah Dul meluncur deras. Perempuan berkebaya pengantin terbelalak tak dapat menghindar dari hantaman Penghancur Sukma.
"Aaaaaaaaaaaakkkkhh!" Suara perempuan berkebaya itu melengking menyayat.
Sinar putih dari telapak tangan Abah Dul menderu dengan dahsyat menghantam tubuh perempuan itu dengan telak. Asap tebal berwarna kelabu mengepul dari tubuh perempuan itu lalu hilang bersama lengkingan jeritannya.
Abah Dul segera memapah Mahmud yang terduduk bersandar pada tembok lalu membawanya masuk. Tangan Mahmud terus memegangi dadanya yang terasa sesak.
Tidak beberapa lama terdengar suara laki-laki mengucap salam dari luar, "Assalamualaikum..."
"Waalaikum salam," sahut Mahmud dan Abah Dul bersamaan.
Mahmud segera berdiri untuk membukakan pintu namun namun terduduk kembali. Sesak didadanya kian terasa panas.
"Sudah, sudah Mud biar saya aja yang buka pintu." sergah Abah Dul.
Abah Dul segera beranjak membuka pintu, "Alhamdulillah, Kosim pulang Mud." kata Abah Dul setengah teriak.
Mahmud hanya mengangguk, dia terus memegangi dadanya sesekali terbatuk-batuk.
Kosim menyalami Abah Dul lalu wajahnya berubah panik dan cemas melihat Mahmud nampak pucat memegangi dadanya.
"Mas Mahmud kenapa?!"
"Arin dan Mbak Dewi kemana?!"
Kosim langsung memberondong pertanyaan kepada Mahmud. Mahmud hanya menjawab dengan menunjuk arah dalam dimana Arin dan Dewi berada dengan tangan kirinya.
Kosim tiba-tiba terdiam, telinganya memdengung lalu disusul suara bisikkan,
__ADS_1
"Tempelkan telapak tanganmu di dadanya"
Selesai mendengar bisikan itu Kosim segera memempelkan telapak tangannya di dada Mahmud. Abah Dul terkesima ditempatnya berdiri melihat Kosim berupaya mengobati Mahmud.
Bersamaan telapak tangan Kosim menempel di dada Mahmud, samar-samar keluar asap tipis dari celah-celah jarinya. Kosim terus menekannya hingga asap itu tak nampak lagi mengepul.
Mahmud tercengang, ia merasakkan ada hawa sejuk mengalir disekujur tubuhnya. Hawa panas dan sesak di dadanya seketika hilang.
Kosim mengangkat telapak tangannya melihat wajah kakak iparnya kembali segar.
"Alhamdulillah..." ucap Koaim.
Abah Dul memandang takjub perubahan pada Kosim yang kini memiliki kelebihan. Lalu ia duduk disebelah Mahmud sambil memeriksa dadanya.
Abah Dul tersenyum senang melihat dada Mahmud yang tak lagi berwarna merah kehitaman akibat hantaman perempuan berkebaya.
"Kamu darimana saja Sim, disini mencemaskanmu." Kata Mahmud yang nampak sudah bugar kembali.
Kosim pun lantas menceritakan semuanya dari kejadian di mess maupun pada saat perjalanan pulang.
......................
Kosim menceritakan;
Kosim segera merogoh saku celannya mengambil hape bermaksud menelpon Mahmud.
"Ah, batreinya habis lagi." Kosim membatin.
"Ned, Kang.. semuanya saya duluan pulang ya. Kayaknya mendung," kata Kosim kepada teman-teman kerjanya yang sedang membetulkan mess yang bolong.
"Iya Mas, matur nuwun yo..." Sahut teman-temannya yang berlogat Jawa Timuran.
Kosim bergegas menuju sepeda motor yang di parkir disamping mess. Kemudian berlalu meninggalkan area proyek perumahan bertepatan dengan suara azan waktu Isya dari toa masjid.
......................
Rintik-rintik hujan mulai turun mengiringi sepeda motor yang dinaiki Kosim yang kini sudah melaju di jalan raya pantura. Jalanan sedikit senggang hanya kendaraan-kendaraan roda empat dan sepeda motor serta sesekali menyalip truk kecil yang mendominasi. Jam-jam segini kendaraan-kendaraan besar seperti kontainer dan truk-truk besar biasanya memilih jalan tol.
Kosim memacu sepeda motornya tidak terlalu cepat namun juga tak terlalu pelan. Jarum pada speedo meternya kadang menunjukkan berada di angka 65 kadang turun ke 50 km/jam.
Meskipun rintik-rintik hujan membasahi jaket jeans belelnya, tak menghentikan Kosim untuk meneruskan perjalanan pulang.
Beberapa saat lamanya Kosim memacu sepeda motornya. Tiba-tiba terdengar suara klakson mobil dari belakang cukup mengagetkannya, Kosim segera meminggirkan jalannya sedikit.
Sebuah truk berwarna kuning menyalip disisi kanannya. Begitu melewatinya, mata Kosim tertuju pada tulisan dibelakang truk yang jelas terpampang didepan matanya.
"Manusia Ingkar"
Deg! Jantung kosim berdebar kencang. Tulisan berukuran besar berwarna merah darah di belakang truk itu sontak membuat Kosim terkejut dan membuatnya hilang konsetrasi hingga sepeda motornya oleng sesaat.
Beruntung tidak sampai jatuh tetapi cukup membuat Kosim deg-degan dan gemetar.
Kosim pun langsung menepikan sepeda motornya dan berhenti didepan halaman sebuah warung makan yang tutup untuk menangkan kondisinya.
Ditengah rintik hujan Kosim tertegun sambil terus memandangi mengikuti jalannya truk tersebut hingga tak terlihat lagi.
"Aneh! Tulisan itu seperti ditujukan buat saya," gumam Kosim.
"Ah, mungkin cuma kebetulan saja!" Kata hati Kosim menenangkan dirinya sendiri.
Entah suatu kebetulan atau memang ulah dari siluman monyet yang mengaburkan pandangan mata Kosim sehingga berhalusinasi. Namun tulisan di belakang truk itu membuat Kosim berprasangka dan merasa seperti sengaja ditujukan untuk dirinya.
Sampai dengan hari ke-13 ini didalam hati Kosim mengakui kalau dirinya sebagai manusia yang mengingkari perjanjian gaib bahkan sedang berusaha melawannya.
"Astagfirullah, ini malam Jumat..." ucap Kosim sambil tercenung diatas sepeda motornya.
Segera Kosim menghidupkan sepeda motornya dan kembali melaju di jalan raya pantura. Kali ini Kosim memacu sepeda motornya lebih kencang agar cepat sampai di rumah.
__ADS_1
......................