
Istana Kerajaan Siluman Monyet,
Para siluman monyet hilir mudik keluar masuk istana. Mereka nampak sibuk tengah mempersiapkan pesta besar yang akan di gelar dua malam lagi.
Didalam sebuah ruangan yang temaram hampa dan pengap, sesosok berwujud anak kecil berusia 3 tahunan, meringkuk di salah satu sudut.
Wajahnya kuyu pucat pasi, tubuhnya lemah menggigil seperti merasakan ketakutan yang teramat sangat.
Nampak mulutnya terbuka seperti mengatakan sesuatu namun tak ada suara yang keluar dari bibirnya yang memucat.
Anak kecil itu tak menghiraukan teriakkan- teriakan dan erangan dari mahluk- mahluk lain di sekitarnya.
Ada ratusan bahkan mungkin ribuan berbagai jenis, anak- anak, remaja, dewasa, orang tua, laki- laki maupun perempuan bercampur menjadi satu di ruangan itu.
Auara erangan dan tangisan penyesalan dan ketakutan terdengar menggema saling bersahutan dari berbagai sudut.
“Lepaskan... lepaskaaaan...!”
“Saya kapook...”
“Aku menyesaaaal!”
“Tobaaaat...!”
Teriakkan -teriakan disertai dengan tangisan itu tak henti- henti bersahutan menggema diruangan sepanjang waktu.
Mereka tak lain adalah manusia- manusia yang telah melakukan perjanjian gaib yang sudah habis masa kontraknya atau pun mereka yangengingkari perjanjian.
Selain itu banyak juga diantaranya arwah- arwah manusia yang telah dijadikannya tumbal.
......................
__ADS_1
Didalam istana ruang utama, Raja Kalas Pati sedang mendengarkan laporan dari para bahawannya
“Lapor junjungan, pesta sesembahan sedang dikerjakan!” Tegas siluman monyet dengan pakaian perang lengkap.
“Baik panglima Rukso, lalu bagaimana soal manusia bernama Kosim yang menjadi golongan Kajiman?!” Seru Raja Kalas Pati.
“Ampun junjungan, kami belum berhasil membawanya. Tetapi menurut telik sandi yang tersebr di jagat manusia, baru- baru ini ada yang melaporkan melihatnya,” ungkap panglima Rukso.
“Dimana?!” tanya Raja Kalas Pati menggertakan giginya.
“Mahluk Kajiman itu terlihat ada di rumah manusia bernama Mahmud,” jawab panglima Rukso.
“Apa yang dia lakukan di kediaman manusia bernama Mahmud itu?!” selidik Raja Kalas Pati.
“Para telik sandi tidak dapat melihatnya lagi setelah manusia Kajiman itu masuk di kediaman manusia bernama Mahmud!” terang panglima Rukso itu takut- takut.
“Cepat panggil Ki Suta, suruh menghadap kepadaku!” perintah Raja Kalas Pati.
Ki Suta berdiri di hadapkan pada Raja Kalas Pati yang duduk di kursi besar yang tampak berkilauan bercahaya emas.
“Ada apa junjungan memanggil hamba?!” Tanya Ki Suta sambil menangkupkan kedua telapak tangan di depan dada.
“Ki Suta kamu turun ke rumah manusia yang bernama Mahmud. Cari tahu apa yang sedang dilakukan mahluk Kajiman bernama Kosim disana!” Titah Raja Kalas Pati.
“Dimana manusia bernama Mahmud itu junjungan?” Tanya Ki Suta takut- takut.
“Prajurit antarkan dia ke tempat kediaman manusia bernama Mahmud, sekarang juga!” perintah Raja Kalas Pati pada panglima.
......................
Desa Sukadami,
__ADS_1
Cuaca langit malam hari tampak cerah, bias merah kekuning- kuningan dari bulan mewarnai pekatnya langit.
Maklum menjelang bulan purnama, bulan sudah menampakkan bulatan indahnya memancar diufuk sebelah timur.
Bisa cahayanya menimbulkan penampakkan mega- mega yang melayang dilangit seakan- akan bergerak perlahan.
Di ruang tamu rumah Mahmud, Mahmud bersama Abah Dul duduk ngobrol sambil menunggu kedatangan Gus Harun.
Abah Dul duduk di kursi langganannya, menyudut dekat jendela.
Aura di Wajahnya tampak berbeda dari seminggu yang lalu sebelum ia berangkat ke kediaman gurunya.
Hal itu diperhatikan secara seksama dan baru disadari oleh Mahmud yang duduk di kursi yang juga biasa di tempatinya.
Disebelahnya, duduk pula sosok Kosim yang tak berwujud. Namun hanya Mahmud dan Abah Dul saja yang dapat melihat keberadaannya.
Sedangkan Arin dan Dewi sudah masuk ke dalam kamarnya masing- masing setelah menonton sinetron favoritnya selesai.
“Mm, kayak ada yang beda...” gumam Mahmud sambil memperhatikan Abah Dul.
“Beda apanya sih Mud?!” ujar Abah Dul kemudian memperhatikañ dirinya sendiri.
“Berhasil bah?” tanya Mahmud tak menghiraukan pertanyaan Abah Dul.
“Alhamdulillah Mud,” jawab Abah Dul.
“Apa yang ente dapat dari sana Bah?” tanya Mahmud penasaran karena melihat perubaham pada tubuh Abah Dul.
Tanpa tedeng aling- aling, Abah Dul lalu menceritakan pengalamannya pada saat ketika menjalani perjalanan spiritualnya. Akan tetapi tidak semuanya ia ceritakan, ada beberapa bagian yang sengaja tak diberitahunya karena itu bagian dari rahasia yang harus dipegangnya.
Mahmud terkesima menyimak perjalanan spiritual sahabatnya itu, tanpa sadar mulutnya ternganga- nganga saking takjubnya.
__ADS_1
......................