
Ruang tamu rumah Mahmud kini terasa hangat dipenuhi rasa kebahagiaan yang tak terkira. Semua memancarkan wajah- wajah sumringah hanyut dalam keharuan. Dua sahabat yang dikabarkan meninggal akibat kecelakaan ternyata kini masih hidup dan dalam keadaan bugar sehat wal afiat tak kekurangan apapun.
Gus Harun tak henti- hentinya mengucap syukur melihat Basyari dan Baharudin dalam keadaan baik- baik saja. Dan yang lebih mengharukan serta tidak disangka- sangka oleh Gus Harun dan Abah Dul adalah kedua sahabatnya datang menemuinya.
“Jam berapa ente berdua sampai disini?” tanya Abah Dul.
“Tapi yang jauh diluar perkiraan, Kok ente- ente bisa sampai kesini dan bisa ketemu alamat rumah Mahmud ini, gimana ceritanya Bas?” tanya Gus Harun.
“Jam berapa tadi Har kita sampai sini?” Basyari menoleh ke Baharudin meneruskan pertanyaan Gus Harun.
“Mmm… kira- kira habis Ashar. Ya jam empat atau jam lima an,” jawan Baharudin.
“Saya telpon ke nomor kang Mahmud yang ente kasih, tapi yang angkat mbak Dewi. Mbak Dewi ngasih tau kemana perginya antum bertiga, lalu saya minta share lok aja alamat rumahnya,” jawab Basyari.
“Tapi Bas, saya sempat telpon ente
berdua tapi hapenya nggak aktif,” ujar Abah Dul.
“Mungkin pada saat itu hape kami berdua baterainya habis. Mau charger juga chargernya nggak ada karena ada di dalam tas semua,” kata Basyari.
“Iya, barulah saat turun di stasiun kami meminta tolong sama petugas disana untuk meminjam charger sebentar sekedar bisa menghubungi nomor kang Mahmud. Sialnya saat di jalan mengikuti petunjuk arah dari google maps, tiba- tiba antum telpon. Saat diangkat baterainya keburu habis lagi ya koit hapenya padahal belum sampe ke rumah kang Mahmud tuh. Tapi untungnya tukang ojek motornya tau rumah kang Mahmud,” terang Baharudin.
“lalu gimana ceritanya semua barang- barang antum- antum sampai dibawa kabur orang? Ane penasaran,” kata Gus Harun yang di angguki oleh Abah Dul dan Mahmud.
“Iya Bas, Har, gimana tuh. Beritanya muncul di tivi loh, makanya kita bertiga langsung ke lokasi kecelakaan,” susul Abah Dul.
“Panjang ceritanya Gus,” jawab Basyari.
“Kita berusaha menghubungi telpon ente berdua tapi nggak aktif, kita semua panik, cemas dan sangat khawatir. Apalagi saat tahu yang menjadi korban kecelakaan itu bukan ente berdua,” ujar
Abah Dul.
“Kalau cerita sekarang mungkin wak…” ucapan Basyari terhenti karena tiba- tiba terdengar suara dering telpon dari saku celana Abah Dul.
Kririiiing….! Kririiiing…! Kririing..!
__ADS_1
Kontan semua pandangan tertuju pada Abah Dul yang segera merogoh saku celana mengambil hapenya lalu dilihatnya sebentar.
“Mmm, Nomor tidak dikenal,” gumam Abah Dul lalu menekan tombol menerima panggilan telpon tersebut.
“Hallo assalamualaikum…?” jawab Abah Dul.
“Wa’ alaikum salam, selamat malam dengan bapak Dul?” sahut suara telpon.
“Betul pak saya sendiri, maaf dari siapa ini?” balas Abah Dul.
“Sebelumnya maaf mengganggu pak, kami dari Polres Purwokerto mau mengabarkan terkait kasus kecelakaan tadi siang pak,” sahut suara dari telpon.
Abah Dul segera mengaktifkan load speaker di hapenya agar semuanya bisa ikut mendengarkan percakapan tersebut.
“Begini pak, beberapa saat lalu kami baru saja mendapat telegram dari kepolisian wilayah Semarang, bahwa ketiga korban tersebut merupakan pelaku kejahatan yang masuk dalam daftar pencarian orang alias D P O dan sedang diburu,” sahut suara dari telpon.
“Alhamdulillah…” gumam Abah Dul menghela nafas lega.
“Dan hal ini pun diperkuat dengan adanya laporan dari para korban atas nama Ahmad Basyari dan Muhamad Baharudin yang pada awalnya kami menduga sebagai korban- korban kecelakaan tersebut,” sambung suara dari telpon.
“Lalu kira- kira dimana Basyari dan Baharudinnya pak? Apakah kondisinya baik- baik saja?” tanya Abah Dul sambil mesem- mesem.
Mendengar pertanyaan yang dilontarkan Abah Dul membuat Gus Harun, Basyari, Baharudin serta Mahmud menggeleng- gelengkan kepala.
“Dul… Dul… kelakuan ente nggak berubah,” gumam Baharudin pelan sambil senyum- senyum.
“Menurut keterangan dari rekan kami di kepolisian Semarang, saudara Basyari dan Baharudin keadaannya baik- baik saja dan menurut keterangannya katanya saudara yang bernama Basyari langsung melanjutkan perjalanannya ke daerah Jawa Barat dengan menggunakan kereta api,” lanjut suara telpon.
“Alhamdulillah, kalau begitu terima kasih banyak pak. Nanti kami juga akan mengabarkan seandainya kami bertemu dengan saudara- saudara kami itu pak. Sekali lagi terima kasih informasinya pak,” balas Abah Dul.
“Baik, sama- sama pak.” Sahut suara telpon dan komunikasi pun terputus.
“Bisa –bisanya ente ngerjain polisi padahal itu kasus besar Dul. Kenapa ente nggak bilang saja kalau saya dan Bahar sudah berada disini bersama ente, Dul… Dul,” seloroh Basyari.
“Nanti dikabarinnya besok lagi, hehehhe…” jawab Abah Dul cengengesan.
__ADS_1
“Dul… Dul… dari dulu kelakuan jahil ente nggak berubah,” timpal Baharudin sambil senyum- senyum.
“Ya biar mereka terlihat bekerjanya Bas, Har, hehehe…” balas Abah Dul.
“Sekarang sudah jam berapa Dul?” Basyari memecah suasana penasaran yang menggantung di dalam pikiran Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud.
“Kenapa sih dari dulu saat kita masih di pesantren kalau tanya jam selalu saja sama ane Bas?” sungut Abah Dul dengan mimik kocak.
“Ya soalnya diantara kita bahkan santri- santri yang lain hanya antum yang selalu pake jam tangan, hahahaha...” celetuk Baharudin.
“Iya betul, hahaha...” timpal Gus Harun diiring derai tawa dari semua yang ada di ruang tamu.
“Hehehehe... iya juga ya,” ujar AbahbDul sambil garuk- garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Jam berapa sekarang?” tanya Basyari mengulang pertanyaannya yang sempat terabaikan oleh canda
tawa.
“Jam sepuluh lewat dua puluh lima menit Bas. Astagfirullah kita sampe lupa Gus dengan rencana kita,” jawab Abah Dul sambil menepak jidatnya.
“Nah, itu dia… nanti saja ceritanya setelah kita menjalankan rencana penyelamatan ini,” ujar Basyari.
“Ya sudah, kita bersiap- siap sekarang. Kita masih punya waktu satu jam-an, kita ambil wudlu,” kata Gus Harun.
“o iya ente berdua sudah sholat isya?” sambung Gus Harun.
“Kita berdua sudah, kalau begitu antum- antum semua melaksanakan sholat isya, kami melakukan zikir,” ujar Baharudin.
“Njih…” sahut Gus Harun.
Malam kian merambah menuju dinihari
dimana hari akan memasuki tanggal 1 Syuro. Di luar rumah suara guntur terus menerus terdengar hingga menggetarkan perabotan rumah Mahmud. Seharusnya cuaca seperti itu sudah pasti turun hujan, akan tetapi seharian itu tak setetes pun air hujan turun.
Sementara Arin dan Dewi sudah terlelap di dalam kamar semenjak 30 menit yang lalu.** BERSAMBUNG
__ADS_1