
3 hari lagi menjelang penyerangan,
Selepas subuh, udara masih terasa dingin namun menyajikan nuansa sejuk menyelimuti pedesaan Sukadami. Suara- suara kokok ayam jantan terdengar saling sahut- menyahut di kejauhan seolah saling menyapa dan dan membangunkan warga desa Sukadami untuk beraktifitas.
Dewi, istri Mahmud dan Arin, adik iparnya usai melaksanakan sholat subuh berjamaah langsung menyibukkan diri di dapur.
Sementara Mahmud bersiap- siap hendak melakukan rutinitasnya di kebun cabai.
Rumah Mahmud kini terasa sangat lenggang setelah Kosim dan Dede meninggalkan mereka. Jika biasanya Mahmud akan ngopi- ngopi dahulu sebelum berangkat ke ladang ditemani Kosim, kini tak lagi dilakukannya.
Kehidupan Mahmud seperti kembali seperti sebelum rumahnya ditinggali adik ipar dan keponakan satu- satunya. Berasa hambar, sepi dan tak ada nuansa lain yang ia rasakan.
“Andaikan...” ada perasaan yang terus mengganjal namun bukan sebuah perasaan penyesalan menikah dengan Dewi.
Sempat terlintas di benak Mahmud memikirkan kondisi keluarganya yang belum juga diberikan keturunan diusia pernikahannya yang menginjak 6 tahun berjalan. Mahmud membayangkan, seandainya Dewi dapat memberikan keturunan...
Akan tetapi buru- buru Mahmud menepis pikiran berandai- andainya itu, lalu melangkah menuju dapur menemui istri dan adik iparnya.
“Wi, Rin... saya pamit pergi ke kebun ya,” ucap Mahmud pada Dewi dan Arin yang sibuk di dapur.
“Iya mas, hati- hati...” sahut Dewi dan Arin.
Di keremangan pagi hari itu, Mahmud melangkahkan kakinya meninggalkan rumah menuju kebun cabainya setelah sebelumnya berpamitan pada Dewi dan Arin.
Di bahu kiri Mahmud tergantung cangkul, di tangan kirinya menenteng ceret lengkap dengan gelasnya yang diletakkan pada moncong ceret. Sedangkan di tangan kanannya membawa pedangan untuk membersihkan rumput- rumput liar.
Hembusan angin sepoy- sepoy yang sejuk langsung menerpa badannya yang tegap ketika berjalan di halaman rumah.
Sekitar 10 meter Mahmud berjalan meninggalkan rumah, mendadak angin yang awalnya sepoy- sepoy itu tiba- tiba berubah kencang menerpa tubuh Mahmud dari arah depan.
Angin yang menerpa tubuh Mahmud kemudian berubah berputar- putar vertikal. Mahmud melihat itu dari dedauan kering yang berterbangan berputar- putar di hadapannya.
Mahmud terkesiap seketika, dia tercengang menghentikan langkahnya. Kedua matanya hanya menatap daun- daun kering yang terbang berputar- putar membentuk huruf ‘O’ dengan mulut menganga.
Lama- kelamaan angin yang berputar membentuk lingkaran itu nampak semakin kencang berputar. Mahmud terdorong mundur sedikit, pakaiannya berkibar- kibar oleh kencangnya tiupan angin itu.
“Astagfirullahal ‘azim!” pekik Mahmud spontan.
Belum habis keterkejutannya, tiba- tiba Mahmud merasakan arus angin yang berputar- putar itu seperti menariknya dengan keras.
Dengan refleks Mahmud melepaskan cangkul yang tergantung di pundaknya dan melempar pedangan serta ceret di kedua tangannya.
__ADS_1
Tanpa pikir panjang, Mahmud menhatuhkan tubuhnya agar tidak tersedot oleh pusaran angin itu. Kedua tangannya meraba- raba tanah mencari pegangan, namun tak ada apapun yang dapat dijadikan pegangannya.
Arus pusaran angin itu kian kencang menarik tubuh Mahmud. Mahmud merasa tubuhnya seperti dibetot dengan keras memaksanya masuk kedalam pusaran itu.
Jari- jari Mahmud ditancapkan ke tanah kuat- kuat, namun tetap saja tubuhnya bergerak terseret menuju pusaran angin itu. Mahmud membalikkan badannya sambil kedua tangannya menggapai- gapai tanah untuk menahan tarikkan arus pusaran angin.
Akan tetapi usahanya nampaknya sia- sia belaka, tubuhya terus bergerak terseret menuju pusaran angin.
Dalam keputus asaan, Mahmud hanya pasrah dan berteriak dengan kencang; “Allahu akbar!”
Bersamaan dengan teriakkan itu tubuh Mahmud meluncur deras tersedot masuk kedalam pusaran angin itu.
Blassss...!
Setelah tubuh Mahmud masuk tersedit pusaran angin, seketika tubuh Mahmud hilang bersama dengan lenyapnya pusaran angin pula.
......................
Di tempat lain,
Abah Dul berdiri tertegun menatap sekelilingnya. Dahinya berkerut dalam- dalam penuh dengan tanda- tanya melihat pemandangan yang sangat asing baginya.
Abah Dul mendongak melihat kearah langit. Wajahnya kian mengerut keheranan mendapati langit di kejauhan yang nampak temaram. Langit itu terang akan tetapi tidak mendapati adanya cahaya matahari.
Sedetik berikutnya, Abah Dul langsung menundukkan kepalanya melihat kakinya berpijak.
“Subhanallah..!” pekik Abah Dul terkejut.
Mata Abah Dul terbelalak melihat dibawah pijakan kakinya bukan tanah. Tubuhnya seketika oleng karena merasa takut akan jatuh, sebab pijakan kakinya bukanlah tanah melainkan kakinya hanya berpijak pada gumpalan awan.
“Tempat apa ini?! Alam apa ini?!” seketika Abah Dul terduduk di tempatnya.
Saat menjatuhkan tubuhnya, wajah Abah Dul mendadak tercengang menyadari pijakkannya itu hanya gumpalan awan. Dia merasa tubuhnya akan jatuh menembus awan itu.
Abah Dul hanya pasrah karena sudah terlanjur menghempaskan tubuhnya. Kedua matanya kontan menutup rapat- rapat, perasaannya menanti- nanti apa yang akan terjadi.
Tetapi sedetik kemudian Abah Dul terheran- heran, ia meraba- raba badannya lalu beralih meraba- raba dibawah tempatnya terduduk.
Abah Dul terheran- heran dirinya tidak terjatuh padahal pijakkannya itu hanyalah gukungan- gulungan awan.
Di saat Abah Dul masih kebingungan dengan keadaannya, tiba- tiba terdengar suara seorang lelaki paruh baya.
__ADS_1
“Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh...”
Suaran sosok pria paruh baya itu terdengar sangat berwibawa dan menggetarkan hati namun sangat menyejukkan di telinga.
“Wa’ wa, wa’ alaikum salam warohmatullahi wabarokatuh...” jawab Abah Dul terbata- bata.
Abah Dul perlahan- lahan mendonggakkan kepalanya mencari sumber suara yang datang dari arah depan. Mula- mula ia hanya melihat kain hitam yang berkibar- kibar diatas gumpalan awan putih.
Penuh dengan penasaran sekaligus dengan dada berdebar- debar, Abah Dul meneruskan pandangannya keatas melihat sosok berkain hitam di depannya.
Semakin lama memperhatikan kain hitam itu, penglihatan Abah Dul semakin jelas kalau itu adalah sebuah kibaran kain dari pakaian jubah.
Abah Dul kian dibuat penasaran, sambil menahan gemuruh debaran di dadanya ia memberanikan diri mendongakkan kepalanya lebih keatas lagi untuk melihat rupa dari sosok berjubah hitam di hadapannya.
Sesaat Abah Dul menyipitkan matanya manakala pandangannya yang diarahkan pada bagian wajah sosok berjubah hitam di depannya.
Pada awalanya wajah itu tak begitu jelas terlihat karena tertutupi oleh cahaya putih yang memancar. Namun setelah Abah Dul memperhatikan lagi lebih seksama dengan meletakkan telapak tangannya diatas kedua matanya, barulah dia dapat melihatnya meski masih dalam samar- samar.
Sosok itu nampak memakai kain menutupi kepalanya seperti kain penutup kepala khas pahlawan nasional Pangeran Diponegoro, tetapi bedanya warnanya berwarna hitam selaras dengan warna jubahnya.
Kain hitam itu menutupi seluruh bagian kepala sehingga hanya memperlihatkan bagian mukanya saja yang nampak dan terlihat mengeluarkan cahaya yang menyilaukan.
Abah Dul kian menyipitkan matanya tanpa merubah posisi telapak tangannya diatas kepala untuk dapat melihat wajah sosok berjubah hitam itu. Akan tetapi tetap sajah wajah sosok itu tak dapat dilihat dengan jelas.
Abah Dul masih terduduk namun juga tak berusaha untuk bangkit berdiri. Dia merasa sosok berjubah hitam di hadapannya saat ini merupakan sosok suci dan memiliki kasta tinggi dibanding dirinya.
"Aku tahu yang sedang ananda alami..." ucap sosok berjubah hitam.
Abah Dul terpana di tempatnya, matanya tak berkedip memandang sosok berjubah hitam itu. Lidahnya serasa kelu hanya untuk sekedar menjawab "iya".
"Sekarang duduklah bersila, atur nafasmu sampai Nanda merasa tenang. Lalu pejamkan matamu..." ucap Sosok itu lagi.
Abah Dul masih tak dapat berkata- kata, ia hanya menuruti saja apa yang diperintahkan sosok berjubah hitam itu.
Beberapa kali Abah Dul melakukan pernafasan. Dihirupnya udara dalam- dalam, lalu di tahannya sejenak di dalam dadanya. Kemudian ia keluarkan perlahan- lahan.
Abah Dul melakukan itu berkali- kali sampai dirinya benar- benar merasa tenang. Kemudian Abah Dul menganggukkan kepalanya sebagai pengganti ucapannya, menyampaikan pada sosok berjubah hitam itu kalau dirinya sudah tenang.
......................
......................
__ADS_1