Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
GUNDAH GULANA


__ADS_3

Gus Harun memeras otaknya lebih keras memikirkan segala kemungkinan yang akan dilakukan mengingat dua sahabatnya itu tak kunjung ada kabar sama sekali.


Strategi dan taktik yang sudah direncanakan sebelumnya terpaksa harus dirubah. Tidak adanya Baharudin dan Basyari jelas akan sangat berpengaruh terhadap strategi penyerangan yang sudah mantap disusun sebelumnya.


Sayangnya strategi itu harus didaur ulang, Gus Hqrun harus menyusun kembali strateginya tanpa melibatkan Baharudin dan Basyari.


Berat memang tanpa kehadiran Baharudin dan Basyari. Bukan saja akan mengurangi kekuatan di pihaknya namun juga tidak dapat meneruskan rencana yang sudah matang itu.


"Ya Allah, bagaimana ini? Apa yang harus hamba lakukan?" ucap Gus Harun dalam hati memohon petunjuk Allah Subhanahu wata'ala.


Demikian pula dengan Abah Dul, hatinya pun diliputi gundah gulana. Ia sangat menyayangkan ketidak hadiran dua sahabatnya itu. Jika sebelumnya Abah Dul memiliki keyakinan 100 persen berhasil menyelamatkan putra Kosim, tetapi kini kepercayaan dirinya sedikit menurun bahkan dirinya merasa pesimis akan bisa berhasil.


Ini pertarungan hidup dan mati, taruhannya adalah nyawa. Perjuangannya bukan lagi menghadapi dedemit kelas rendahan, melainkan setingkat raja. Ya, raja Kalas Pati, raja siluman monyet.


Abah Dul menghisap rokoknya dalam- dalam lalu dihembuskannya kuat- kuat, seolah ingin melepaskan kegundahan di hatinya. Kini semangatnya sudah menurun bahkan cenderung pesimis.


Sebab dari strategi yang sudah matang diauaun itu, tugas Baharudin dan Basyari termasuk tugas vital. Ditangan kedua sahabatnya lah nyawa Dede ditentukan.


"Gus, apa rencana selanjutnya. Mengingat tidak ada lagi waktunya hanya malam ini satu- satunya kesempatan terakhir," kata Abah Dul memecah keheningan.


"Itu dia Dul yang sedang ane pikirkan dari tadi. Ini benar- benar sebuah dilema, maju konyol, mundur pun kita akan menanggung beban moral seumur hidup kita," kata Gus Harun.


"Iya juga ya Gus, lalu sebaiknya bagaimana Gus?" tanya Abah Dul.


"Satu- satunya jalan kita tetap meju Dul. Kita buat rencana dan strategi lagi, tolong ente panggilkan kang Kosim Dul," kata Gus Harun.


"Waduh, saya belum pernah melakukannya Gus. Bahkan keberadaan Kosim pun entah ada di mana, saya nggak tahu," ujar Abah Dul.


“Waduh!” Gerutu Gus Harun.


“Saya bisa Gus!” Seru Mahmud tiba- tiba.

__ADS_1


“Beneran Mud?!” Timpal Abah Dul. Ia benar- benar terkejut.


“Iya bah,” balas Mahmud.


“Gimana bisa?” Tanya Abah Dul.


Ini sungguh diluar perkiraan Abah Dul dan Gus Harun, sebab mereka sendiri tidak mengetahui alam Kajiman itu berada dimana. Alam yang menjadi tempat tinggal Kosim saat ini.


“Syukurlah, sudah- sudah Dul. Monggo kang dipanggil kang Kosimnya,” sela Gus Harun.


“Njih Gus,” sahut Mahmud.


Mahmud langsung memposisikan duduknya dengan bersilah. Matanya dipejamkan lalu mulutnya terlihat komat- kamit. Sepertinya tidak banyak yang diucapkannya, melihat dari gerakan bibirnya yang diuvapkan Mahmud itu hanya 3 kata.


Entah apa yang dia baca, Abah Dul dan Gus Harun sendiri tidak tahu bacaan apa yang diucapkan Mahmud. Keduanya hanya memperhatikan Mahmud antara percaya dan tidak.


“Sejak kapan Mahmud bisa memanggil Kosim. Kok baru tahu sekarang?”


Abah Dul merasa heran dan hanya berucap dalam hati sambil memperhatikan Mahmud.


Abah Dul dan Gus Harun saling berspekulasi didalam hatinya masing- masing sekaligus tak dapat menyembunyikan keheranan mereka.


Hanya beberapa detik setelah Mahmud selesai komat- kamit, tiba- tiba terdengar suara ucapan salam.


“Wa alaikum salam...” jawab ketiganya serempak.


Abah Dul dan Gus Harun dibuat takjub dengan kemajuan Mahmud. Semula keduanya ragu- ragu oleh ucapan Mahmud yang bisa memanggil Kosim, namun kini keraguan mereka hilang seketika bersama munculnya Kosim secara tiba- tiba diantara mereka.


“Ada apa mas, Gus, bah?” tanya Kosim dengan mimik datar, sosoknya masih melayang- layang samar seperti siluet.


“Duduk dulu kang Kosim, ada hal serius yang akan kita musyawarahkan,” ucap Gus Harun.

__ADS_1


Wujud Kosim pun duduk di sebelah Mahmud di tempat yang biasa dia duduki saat masih hidup, yakni dibawah jendela.


Gus harun pun menceritakan situasinya saat ini berkaitan dengan tidak ada kabarnya daro Basyari dan Baharudin. Sedangkan waktu untuk melancarkan aksi penyelamatan tinggal beberapa jam lagi.


“Apakah dengan bantuan sepasukan dari golongan Kajiman tidak cukup Gus?” tanya Kosim.


“Kalau untuk bertempur secara langsung, jelas kita kalah kang. Dari jumlahnya saja kekuatan kita hanya sepermpatnya dari jumlah golongan siluman monyet,” terang Gus Harun tersenyum pahit.


"Maka dari itu rencana yang sudah kita susun kemarin itulah satu- satunya cara yang dapat kita lakukan untuk mencapai tujuan. Ingat tujuan kita hanyalah untuk membawa pulang arwah putra ente kang Kosim, bukan untuk memusnahkan siluman monyet," terang Gus Harum mengingatkan.


Kosim seketika termangu, dia sendiri baru menyadari kalau tujuan utama penyerbuan malam ini hanya untuk menyelamatkan Dede, bukan untuk membasmi siluman monyet sialan itu.


"Tapi Gus, mengapa meminta golongan kajiman turut serta?" tanya Kosim.


"Nah, itu juga bagian dari strategi ini kang. Pertempuran memang pasti terjadi dan tak bisa dihindari akan tetapi sekali lagi saya ingatkan. bukan itu tujuan utamanya. Pasukan Kajiman silahkan saja memusnahkan siluman monyet itu sebanyak mungkin untuk membalaskan dendam kalian, saya tidak melarangnya. Namun seperti yang sudah dibicarakan sebelumnya, pertempuran itu sendiri sudah diatur waktunya," jawab Gus Harun.


Kosim mengangguk- anggukkan kepalanya memahami garis besar dari strategi yang sudah direncanakan sebelumnya.


"Saat ini situasinya ternyata berbeda. Baharudin dan Basyari belum tahu pasti dan tak tahu kabarnya, apakah mereka ikut atau tidak. Kalau ikut tentunya strategi itu tetap dijalankan seperti rencana. Tapi yang sekarang sedang dipikirkan adalah bagaimana jika dilakukan tanpa mereka?" sambung Gus Harun.


Tanpa terasa hari sudah beranjak siang padahal suasana di luar masih tampak sama seperti waktu pagi hari. Dan mereka baru menyadari itu setelah terdengar suara kumandang azan duhur dari toa mushola.


"Astagfirullah, sudah zuhur aja," gumam Abah Dul setelah mendengarkan satu kalimat azan.


Beberapa saat lamanya tak ada yang bersuara mendengarkan azan tersebut sambil menjawab setiap kalimat azan didalam hatinya masing- masing.


"Mari kita sholat duhur dulu," kata Gus Harun usai kumandang azan itu selesai.


Diatas sana, langit dipenuhi gumpalan- gumpalan hitam pekat menggantung memenuhi luas cakrawala. Kilatan petir sesekali nampak berkelip- kelip diakhiri suara gemuruh dan dentuman yang menggelegar.


Cuaca di desa Sukadami benar- benar dinaungi mendung tebal semenjak pagi dini hari. Sampai dengan tengah hari pun tak nampak cahaya matahari menyinarinya.

__ADS_1


Sebagian warganya lebih memilih berdiam di dalam rumah masing- masing. Mereka enggan untuk beranjak melakukan rutinitasnya, pergi ke ladang, menyiangi tanaman di kebunnya atau hanya sekedar untuk menengok sawahnya yang baru saja selesai di tanam.


...***...


__ADS_2