Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
NESTAPA


__ADS_3

Udara pagi hari pukul 6.15 wib terasa dingin menusuk tulang seiring semilir hembusannya menerpa tubuh Abah Dul, Gus Harun, Mahmud dan Mang Ali yang duduk lesehan di ruang tamu.


Wajah-wajah lusuh kecapean terlihat jelas menggurat di wajah mereka. Semalaman mereka mengalami peristiwa luar biasa yang akan selalu diingat sepanjang hidup meraka ditambah lagi belum sempat memejamkan mata beristirahat.


Kopi hitam dan keripik pisang menemani mereka yang tidak henti-hentinya membicarakan perstiwa semalam. Sesekali mereka berucap syukur karena masih diberikan umur panjang.


Diingatannya masih membekas bagaimana perasaannya saat detik-detik yang menegangkan yang menurutnya akan berakhir hidupnya. Semalam merupakan rasa ketegangan, takut dan pasrah yang benar-benar berada pada puncaknya.


Kosim keluar dari kamarnya didampingi Arin sambil menggendong Dede. Kemudian Kosim duduk bersimpuh dihadapan Abah Dul, Gus Harun, Mang Ali dan Mahmud.


"Sebelumnya saya sangat berterima kasih selama ini telah membantu saya dan keluarga saya dari tuntutan siluman monyet. Saya belum bisa bahkan mungkin tidak bisa membalas hutang budi semuanya," ucap Kosim dengan tertunduk.


"Jangan bilang hutang budi Kang Kosim, kami semua sukarela tidak mengharapkan apapun apalagi dianggap hutang budi." Sergah Gus Harun.


"Njih, njih Gus. Terima kasih banyak, punten saya sekalian pamit." Wajah Kosim terlihat diliputi kesedihan.


"Mas Mahmud, titip Arin dan Dede," ucap Kosim lirih.


"Pasti, pasti Sim. Saya dan Mbak Dewi akan menjaganya," sahut Mahmud.


Kosim pun menyalami satu persatu dan terakhir memeluk Mahmud kakak iparnya yang sudah sangat direpotkan olehnya selama tinggal di rumahnya.


Sesaat kemudian semuanya beranjak berdiri lalu mengekor mengiringi Kosim keluar. Diteras Kosim sudah ditunggu Udin yang mengajaknya bekerja di Wonosobo.


Sejenak Kosim berdiri menatap Arin dalam-dalam, seraya berucap; "Rin Mas pergi dulu ya. Jaga Dede..."


Mata Arin berkaca-kaca menahan tangisnya melepas kepergian Kosim. Ia mencium tangan Kosim penuh dengan berat hati. Kosim lalu mencium kening Arin dan Dede yang belum menyadari akan ditinggalkannya.


"Mbak Dewi, titip Arin dan Dede ya.. Maafin saya sudah merepotkan selama disini..." Ucap Kosim lirih pada kakak iparnya yang berdiri disamping Arin.


Semua mata memandang nanar berat hati melepas kepergian Kosim hingga Kosim dan Udin tidak terlihat lagi.


Setidaknya sekarang Mahmud, Abah Dul dan Mang Ali sedikit merasa tidak terlau mencemaskannya. Sebelumnya ragam prasangka negatif membayangi mereka. Khawatir kalau-kalau Kosim dijemput paksa Raja Kalas Pati ditempat kerjanya dan tidak ada yang bisa menolongnya.


Semuanya mengira kalau Raja Kalas Pati sudah benar-benar melepaskan Kosim setelah pertempuran semalam yang tiba-tiba kabur karena melihat batu Mustika Raja Ular Iblis.

__ADS_1


Sepergian Kosim rumah Mahmud serasa lenggang dan sepi. Begitu pula saat diruang tengah baru saja selesai makan bersama dengan wajah-wajah masih diliputi kemurungan setelah Kosim tidak lagi berada ditengah-tengah mereka.


Ya, Kosim sudah pergi untuk bekerja Seismik dengan kontrak dua bulan di Wonosobo.Dan sesuai waktu keberangkatannya pukul 7.00 wib Kosim dijemput temannya, Udin.


"Kang Mahmud, selepas Duhur saya langsung balik ke Banten." Ucap Gus Harun memecah keheningan suasana.


"Apa nggak besok lagi Gus?" Mahmud sedikit terkejut.


"Habis ini saya ke rumah Dul dulu, lalu langsung balik," ujar Gus Harun.


Tiba-tiba obrolan terhenti oleh suara dering hape Mahmud yang tergeletak diatas bufet didekat televisi.


"Halo, assalamualaikum... iya betul, maaf ini dari siapa ya?....... Oh, ya.. ya Pak.... Apa???!" wajah Mahmud seketika berubah muram.


Semua yang ada di ruang tamu terkejut oleh suara Mahmud yang tiba-tiba berseru kaget. Penuh dengan rasa penasaran mereka menatap Mahmud yang masih berbicara dengan seseorang diseberang telpon.


"Ada apa Mud?!" Seru Abah Dul dengan wajah mendadak cemas.


Mahmud terlihat masih berbicara dengan seseorang diseberang telepon dengan mata berkaca-kaca menahan tangis. Beberapa saat kemudian Mahmud menutup telponnya dan melangkah gontai dengan air mata belinang.


"Mas Mahmud ada apa Mas?!" Arin pun berseru penuh rasa cemas.


Air mata Mahmud langsung luruh di pipinya, ia tidak kuasa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Dewi langsung beranjak berdiri menyongsong suaminya yang kelihatan muram dan nampak terpukul sekali.


"Mas ada apa???" Tanya Dewi kian penasaran melihat suaminya begitu sedih hingga menangis.


Mahmud memeluk Dewi erat sekali, seraya berkata lirih; "Mobil rombongan Kosim kecelakan di jalan tol.... Semuanya tidak ada yang selamat... Termasuk Kosim..." ucap Mahmud terbata-bata disela-sela isak tangisnya.


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun..." ucap Dewi lirih.


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun..."


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun..."


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun..."

__ADS_1


"Innalillahi wainnailaihi rojiuun..."


Ucap Abah Dul, Gus Harun dan Mang Ali bersahutan dengan raut wajah terperangah mendengar ucapan Mahmud. Ketiganya saling berpandangan serasa tidak percaya.


"Apa Mas????" Arin langsung terlonjak berdiri mendengar ucapan kakak iparnya.


Mahmud masih memeluk Dewi sambil menangis tersedu-sedu hingga bahunya terguncang-guncang.


"Bilang Mas, ada apa???" Seru Arin seolah meyakinkan kalau dirinya salah dengar.


Dewi segera melepas pelukan suaminya lalu berganti memeluk adiknya erat sambil mengusap kepalanya penuh kasih sayang lalu disusul tangisnya membucah.


"Kamu harus tabah Rin..." ucap Dewi lirih tak kuasa merasakan duka.


"Tidak! Tidak! Itu pasti salah Mbak...!" Arin mulai terlihat syok meronta-ronta dalam pelukan kakaknya.


Dewi mendekap memeluknya kian erat untuk mencegah Arin berlaku liar tak terkendali.


"Mas Kosim pasti selamat.... Mas Kosim pasti selamat Mbak... Mas Kosim selamat..." suara Arin semula kencang berangsur-angsur memelan lalu tak terdengar lagi.


Matanya menatap nanar dan kosong, Dewi menangis tersedu-sedu sambil terus memeluk Arin erat-erat hingga tubuhnya terguncang-guncang.


"Ariiin..." Dewi tak sanggup lagi berkata-kata.


Kedua kakak dan adik itu menumpahkan tangisnya saling berangkulan dengan erat. Mahmud, Abah Dul, Gus Harun dan Mang Ali hanya menatap nanar keharuan itu. Semuanya tidak ada yang menyangka kalau Kosim akan pergi secepat itu padahal masih hangat tadi pagi berjabat tangan mengeringi keberangkatannya.


......................


Bukan soal apakah Raja Siluman Monyet itu kalah atau musnah akan tetapi upaya Kosim selama ini untuk melawan perjanjian gaib telah berakhir. Sampai kini kematiannya yang tragis tidak ada yang tahu apakah ada campur tangan mahluk gaib ataukah memang sudah takdir kematiannya.


Batas usia manusia tidak ada yang bisa mengetahuinya, termasuk kematian Kosim. Meski sudah berjuang Melawan Perjanjian Gaib untuk menghindari kematian namun Tuhan berkehendak lain.


Terlepas apakah Kosim meninggal karena batas usia ketentuan Tuhan atau apakah kematiannya secara paksa akibat perjanjian gaib, Wallahu A'lam Bi Shawab.


Lalu apakah Siluman monyet itu akan tetap kembali?

__ADS_1


÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷÷


__ADS_2