Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
PERSIAPAN


__ADS_3

Mahmud sudah menyiapkan ruang tengah sebagai tempat melakukan penyelamatan arwah Dede. Ruangan tengah rumah Mahmud luasnya 3 kali lebih besar dari ruang tempat sholat. Suasana haru pertemuan empat sahabat sebelumnyabitu kini berubah seketika menjadi suasana yang menegangkan dan mencekam.


Getaran- getaran dari suara gelegar guntur diatas langit masih terus dirasakan mereka berempat. Sesekali pendaran cahaya dari kilatan- kilatannya terlihat cahayanya dari jendela meskipun tertutup gor den kian menambah kemistisan suasana malam yang tengah merambat melalui jam 12 malam tersebut.


Setelah selesai menunaikan ibadah sholat Isya, Gus Harun, Abah Dul serta Mahmud langsung bergabung bersama Basyari dan Baharudin yang


tengah duduk bersila sambil terus berzikir. Gus Harun, Abah Dul serta Mahmud mengambil posisi duduk melingkar saling berhadapan, Basyari dan Baharudin yang merasakan ketiga rekannya selelsai melaksanakan sholatnya langsung membetulkan posisi duduknya agar membentuk lingkaran agar lebih sempurna.


“Gus, apakah kita tetap menjalankan rencana sebelumnya?” tanya Baharudin setelah melihat semuanya sudah duduk rapih.


“Njih Har, apakah ente berdua punya usulan rencana lain?” Gus Harun balik bertanya.


“Sepertinya rencana pertama juga sudah cukup bagus, tinggal kita memperkuatnya lagi di pasukkan yang bertugas mengalihkan perhatian prajurit siluman monyet,” kata Basyari.


“Saya setuju itu Bas, lalu apakah pasukan kita cukup Gus?” tanya Abah Dul.


“Mm, kalau menghitung jumlah pasukan kita dengan pasukkan siluman monyet, ane rasa masih kalah jauh. Akan tetapi mudah- mudahan bantuan dari pasukan tuan Denta dari golongan jin bisa menambah kekuatan pasukan kita,


iya kan Dul?” kata Gus Harun sambil menoleh kearah Abah Dul meminta untuk meyakinkannya.


“Insya allah, tuan Denta katanya akan membawa serta mantan- mantan prajurit pasukannya dahulu,” sahut Abah Dul.


“o iya, ditambah lagi, kang Kosim juga akan membawa pasukannya dari golongan Kaziman. Mudah- mudahan semuanya berjalan sesuai dengan rencana dan strategi kita,” sambung Gus Harun.


“Dimana pasuka- pasukan bantuan itu Gus?” tanya Baharudin.


“Sebentar lagi mereka akan datang Bas,” jawab Gus Harun setelah lebih dulu melihat jarum jam dinding yang tergantung diatas televisi.


“Syukurlah kalau begitu, mudah- mudahan strategi kita


berjalan sesuai rencana,” ucap Baharudin.


“Tapi kita mesti menyiapkan rencana kedua, hanya untuk berjaga- jaga apabila strategi yang pertama dirasa ada kendala atau gagal,” kata Gus Harun.


“Iya betul Gus, kira- kira apa rencana keduanya?” tanya Basyari antusias.


“Seandainya rencana yang pertama tidak sesuai yang kita harapkan, berarti mau tidak mau kita akan berperang secara kolosal. Tapi sebenarnya


ini yang paling saya takutkan dan sebisa mungkin kita hindari. Sebab, tidak


menutup kemungkinan akan memakan korban lebih banyak bahkan mungkin korbannya

__ADS_1


diantara kita ini,” kata Gus Harun sedikit gusar.


“Kalau kita berhadapan langsung dan menyerang secara terang- terangan dan terbuka, bisa jadi kita semua musanh di alam siluman.,” timpalbBaharudin.


“Nah, itu dia Har yang ane khawatirkan. Bukannya ane takutbmati tapi urusannya akan sangat panjang bagi keluarga Mahmud, iya kan?” ujar Gus Harun.


“Betul juga Gus, dan warga akan dibuat gempar juga. Kalau di rumah Mahmud ada lima orang meninggal dan tidak diketahui penyebabnya, kan jadi repot,” timpal Abah Dul.


“Ya semoga saja rencana pertama kita berjalan sesuai dengan yang kita harapkan,” ujar Gus Harun.


“O iya Gus, saya hampir lupa. Mama yai Sapu Jagat berpesan agar jangan memaksakan diri jika kondisi dan keadaannya sudah tidak


memungkinkan,” kata Basyari.


“Njih Bas, insya allah…” balas Gus Harun.


Selesai Gus Harun mengucapkan itu tiba- tiba Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta Mahmud merasakan datangnya angin yang berhembus kencang menerpa tubuh mereka.


Wusssshhhh…


Wussssshhh…


“Astagfirullahal azim!” seru mereka bersamaan.


Belum sempat ada yang bertanya tiba- tiba terdengar suara muncul diantara hembusan- hembusan angin yang entah dari mana datangnya.


“Assalamualaikum warohmatullahi wabaro katuh…”


Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin serta Mahmud sesaat terkejut mendengar suara yang tiba- tiba saja muncul ditengah suara hembusan


angin tersebut lalu mereka membalas ucapan salam secara spontan.


“Wa alaikum salam…” balas Gus Harun beserta yang lainnya secara bersamaan.


“Tuan Denta?!” seru Gus Harun.


“Tuan Denta?” gumam Basyari,  Baharudin serta Mahmud secara bersamaan.


Di tengah- tengah duduk melingkar, mereka menyaksikan satubsosok tinggi besar berpakaian prajurit perang lengkap dengan senjata di tangannya berdiri dengan gagah membukukkan badan.


“Kami sudah siap siap tuanku,” ucap Tuan Denta.

__ADS_1


“Alhamdulillah, selamat datang tuan Denta,” ucap Gus Harun menyapa.


“Kami siap melaksanakan perintah tuan,” sahut Tuan Denta menangkupkan telapak tangannya di depan dada.


“Dimana pasukanmu tuan Denta?” tanya Abah Dul.


“Pasukan prajurit hamba siaga diatas tuan Dul,” jawab tuan Denta.


Secara reflek Gus Harun, Abah Dul, Basyari, Baharudin dan Mahmud mendongak keatas. Namun mereka lupa kalau pasukan prajurit yang di tunjukkan tuan Denta itu dari golongan mahluk gaib, sehingga yang mereka lihat


hanyalah plafon langit- langit rumah Mahmud saja.


Setelah menyadari itu Gus Harun dan yang lainnya langsung mengerahkan mata batinnya untuk melihat pasukkan dari tuan Denta. Dengan sekali ucap Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin sudah langsung dapat melihat ribuan


barisan prajurit yang berjajar rapih dan bersiaga dengan senjata di tangannya


masing- masing.


Sementara Mahmud sedikit lebih lambat dari keempat rekannya sebelum akhirnya dapat melihat dengan jelas ribuan pasukkan prajurit dengan berbagai wujud dengan postur tinggi besar. Para pasukan prajurit yang dibawa tuan Denta tersebut memiliki beragam wujudnya, ada yang memiliki wujud kepala harimau tapi


leher kebawah menyerupai manusia. Lalu ada juga yang badannya manusia tapi kepalanya srigala, anjing, kera, gorila, babi hutan dan bintang- binatang lainnya.


“Astagfirullahal azim!” pekik Mahmud sepontan melihat penampakkan yang tak biasa di matanya.


Seketika semua mata menoleh kearah Mahmud karena terkejut dengan pekikan Mahmud. Namun seketika itu juga mereka tersenyum.


“jangan kaget kang Mahmud, tenangkan dan biasakan diri melihat mahluk- mahluk dari alam gaib,” ucap Gus Harun sambil menepuk- nepuk


pundak Mahmud.


“Ah, ngagetin aja ente Mud,” sungut Abah Dul.


“Maaf, maaf semuanya. Saya baru pertama kali melihat wujud seperti itu,” ucap Mahmud merasa bersalah.


Usai Mahmud mengatakan itu tiba- tiba mereka semua mencium bau harum melati memenuhi seisi ruangan. Gus harun dan yang lainnya celingukkan kesana kemari mencari sumber datangnya bau harum melati tersebut namun tak dapat melihatnya.


“Assalamualaikum…”


Tiba- tiba sebuah suara yang tidak asing di telinga Mahmud, Abah Dul dan Gus harun terdengar di ruangan tersebut. Suaranya terdengar begitu dekat seolah- olah orang yang mengucapkannya itu berada di samping mereka.


“Wa alaikum salam…” jawab Gus Harun dan yang lain secara bersamaan.* BERSAMBUNG ...

__ADS_1


__ADS_2