Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
RENCANA KEDUA


__ADS_3

Tuan Denta menjelaskan semuanya secara detil untuk membuat Mahmud dapat turut serta dalam misi pembebasan arwah putra Kosim. Mahmud langsung mengembangkan senyumnya lebar- lebar, wajahnya menjadi sumringah mendengar penjelasan tuan Denta yang akhirnya memungkinkannya bisa bersama sahabat sahabatnya menjalankan misi tersebut.


Meskipun yang di katatakan tuan Denta cara itu hanyalah sementara bukan permanen seperti pertolongannya membuka mata batin sebelumnya, namun Mahmud cukup puas dan sangat memahami situasi dan kondisinya untuk saat ini. Mungkin setelah ini dia kepikiran akan mendalami ilmu kebatinan secara sungguh- sungguh dan menekuninya. Dia merasa tidak mungkin akan selamanya selalu mengandalkan Abah Dul atau pun Gus Harun. Bagaimana jika pada suatu kondisi kedua sahabatnya itu sedang tidak berada di tempat?


“Baiklah, sekarang tinggal kita mempersiapkan diri dengan memperkuat amunisi kita dan menyusun ulang rencana ini mumpung waktunya masih ada,” ucap


Gus Harun.


“Injih, Gus. Tapi Kosim beberapa hari ini dia tidak pernah muncul lagi Gus, kira- kira Kosim kemana ya?” ujar Abah Dul mencemaskannya.


“Nggak pernah muncul? Maksudnya?” tanya Gus Harun keheranan.


“Iya Gus, setelah kemunculannya yang terakhir kali pada saat waktu yang ditentukan untuk melakukan penyerangan yang gagal itu, dia tak pernah lagi muncul Gus,” terang Abah Dul.


“Hmm,” gumam Gus Harun mengertukan keningnya dalam- dalam.


“Kita juga nggak tahu Kosim berdiam dimana,” ucap Abah Dul.


“Ehem!” tuan Denta menyela dengan berdehem lebih dahulu sebelum berkata.


“Tuan Kosim itu masuk dalam golongan arwah Kajiman, jadi dia mendiami alam Kajiman bersama arwah- arwah senasibnya,” terang tuan Denta.


Gus Harun dan Mahmud terkesiap mendengar penjelasan tuan Denta karena baru mengetahui kalau arwah Kosim yang gentayangan menjadi penghuni alam Kajiman. Sementara Abah Dul hanya menggut- manggut karena sudah mengetahui sejak awal kemunculan Kosim setelah kematiannya.


“Apa yang dimaksud Kajiman itu tuan?!”tanya Mahmud bingung.


Abah Dul menyela untuk menjawabnya karena tuan Denta menoleh padanya. Ia mengerti isyarat yang diberikan tuan Denta yang meminta dirinya untuk menjelaskan tentang arwah Kajiman. Sementara Gus Harun nampak mengingat-ingat tentang kata ‘Kajiman’ hingga raut wajahnya mengerut dalam- dalam, ia nampaknya masih asing dengan Kajiman.


Kemudian Abah Dul pun menerangkan tentang asal usul Kosim menjadi golongan Kajiman, lalu menjelaskan dengan singkat apa itu mahluk Kajiman. Namun Abah Dul tidak bisa menjelaskan dimana alam Kajiman itu sendiri. Abah Dul pun melemparkan pandangannya kepada tuan Denta memintanya untuk menjelaskan lebih lanjut.

__ADS_1


“Mm, biar aku yang akan menemui tuan Kosim di alam Kajiman. Aku mengenal baik dengan Raja Gandewa,” ujar tuan Denta mengerti dengan isyarat yang di tunjukkan Abah Dul.


"Raja Gandewa?!" seru ketiganya serempak.


"Dia pemimpin Kajiman, tunggu aku kembali." ujar tuan Denta.


Setelah mengatakan itu tuan Denta langsung lenyap dari ruang tamu rumah Mahmud itu. Gus Harun, Abah Dul dan Mahmud sedikit bisa vernafas lega dan tanpa di sadari ketiga orang itu menghempaskan nafas beratnya bersamaan saat tuan Denta tiba- tiba lenyap dari tempatnya.


Suasana hening sesaat setelah tuan Denta lenyap hanya suara detak- detak jarum jam yang ada di dinding ruang tengah. Tak berasa hari sudah kian larut melewati tengah malam.


"Dul, Kang Mahmud... untuk misi ini kita semua harus mempersiapkan diri sekuat- kuatnya," ucap Gus Harun memecah keheningan.


"Injih Gus," sahut Abah Dul dan Mahmud.


Gus Harun mengangkat wajahnya memperhatikan Mahmud. Mahmud merasa jengah di perhatikan oleh Gus Harun, ia hanya menundukkan kepalanya.


“Saya lihat antara Kang Mahmud, Dul dan Kosim memiliki sebuah aura yang mengikat. Aura itu berwarna emas dan begitu kuat memancar, kalau boleh tahu apakah itu?” Tanya Gus Harun.


Sementara Abah Dul hanya tersenyum melihat reaksi Mahmud. Meski begitu dirinya juga masih belum mengerti dengan pertanyaan Gus Harun.


“Maksudnya Gus?” Tanya Abah Dul yang dianggukkan Mahmud.


“Iya, saya melihat aura keemasan itu mengikat kalian bertiga. Tapi aku nggak tahu berasal dari apa Dul,” ujar Gus Harun.


Abah Dul tertegun, pikirannya langsung mengingat- ingat sesuatu yang berhubungan dengan warna emas. Beberapa saat kemudian Abah Dul memejamkan matanya, tangan kanan kananya dibuka tengadah, mulutnya nampak bergerak komat- kamit membaca sesuatu.


Lalu tiba- tiba sinaran cahaya kuning keemasan memancar membungkus telapak tangan Abah Dul. Secara reflek Abah Dul langsung menggerakkan jari- jarinya menggenggam sebuah benda bulat yang muncul di atas telapak tangannya yang terbuka.


Gus Harun dan Mahmud sama- sama terkesiap dan langsung menghalangi kedua matanya dengan punggung tangan menangkal silaunya cahaya tersebut. Setelah Abah Dul menggenggamnya cahaya itu sedikit meredup, cahaya tak lagi memancar luas.

__ADS_1


Lalu perlahan- lahan Gus Harun dan Mahmud kembali membuka punggung tangan yang memghalangi matanya untuk melihat benda yang memancarkan cahaya di tangan Abah Dul.


“Telur mustika naga kencana!” pekik Mahmud.


“Telur mustika naga kencana?!” Gus Harun mengulangi.


Mahmud langsung beranjak dari kursinya meninggalkan ruang tamu tanpa sepatah kata. Gus Harun hanya melihat Mahmud pergi dari hadapannya tanpa bertanya apapun. Ia masih memperhatikan benda bulat sebesar telur di genggaman Abah Dul.


Gus Harun mendadak menolehkan pandangannya ke arah ruang tamu karena ada pendaran cahaya yang sama memancar. Tak lama kemudian Mahmud muncul kembali ke ruang tamu. Rupanya cahaya yang memancar di ruang tamu itu berasal dari mustika telur naga yang dibawa dalam genggaman Mahmud.


Seketika ruangan tamu pun menjadi terang benderang oleh cahaya kuning keemasan saat kedua mustika itu di sandingkan. Gus Harun memandang takjub terhadap dua benda mati namun memiliki aura kekuatan yang luar biasa.


“Sudah, sudah... simpan kembali mustikanya,” kata Gus Harun.


Abah Dul kembali membaca sesuatu dan sesaat kemudian batu mustika telur naga kencana itu lenyap dari tangannya. Sementara Mahmud buru- buru kembali beranjak dari ruang tamu untuk menaruhnya lagi di tempatnya.


“Berarti kang Kosim juga memiliki mustika itu?!” tanya Gus Harun memastikan.


“Injih Gus, batu mustika itu titipan dari ibunya Mahmud saat Kosim masih hidup,” terang Abah Dul.


"Semoga saja dengan ikut sertanya kang Mahmud, misi membantu kang Kosim ini dapat di tuntaskan," ujar Gus Harun.


......................


Sementara itu di alam Kajiman,


Tuan Denta berdiri dengan tenang memandangi dua mahluk tinggi besar penjaga gerbang masuk alam Kajiman. Dia di introgasi maksud kedatangannya karena dapat diketahui dirinya bukan dari golongan Kaniman.


Penjagaan secara ketat itu diterapkan semenjak terjadinya penyerangan oleh mahluk siluman monyet yang mencari sosok Kosim. Setelah penjaga itu menjelaskan alasannya, tuan Denta pun menjelaskan maksud kedatangannya bahkan kedua penjaga itu terkejut ketika tuan Denta menyebut Raja Gandewa adalah teman baiknya.

__ADS_1


Namun dua penjaga itu tidak begitu saja mempercayai perkataan tuan Denta dan memintanya menunggu. Tuan Denta pun dengan tenang menuruti permintaan penjaga itu untuk menunggunya. Kemudian salah satu penjaga melesat lenyap untuk melaporkannya pada raja mereka.


......................


__ADS_2