Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
CERITA ROH 5


__ADS_3

Waktu terus berjalan menjelang 1 tahun, kehidupan Karso dan Romlah pun begitu bergelimang harta. Mobil mewah, rumah megah, gemerlap kilauan perhiasan emas yang menghiasai di tangan, jari, leher bahkan kaki  Romlah sekarang sudah menjadi ciri khas penampilannya tak ubahnya seperti toko mas berjalan.  Kini Karso dan Romlah hidup serba kecukupan.


“Pak, ingat dua hari lagi tanggal 1 syuro,” kata Romlah usai menyantap makan malam.


“Iya, bu. Bapak juga sedang memikirkannya, siapa ya bu yang akan kita tumbalkan?” jawab Karso balik tanya.


Romlah nampak berpikir sejenak, matanya menerawang menatap langit- langit ruang makan. Terlintas didalam


pikirannya secara spontan akan beberapa orang Karyawan.


"Bagaimana kalau anaknya si Jukri aja pa?" usul Romlah.


"Jukri?" sahut Karso sedikit terkejut.


"Iya si Jukri, tukang timbang bapak itu. Dia punya tiga anak, yang paling besar laki- laki kelas tiga SMA,


yang kedua masih SD kelas enam dan yang bungsu masih berusia lima tahun," kata Romlah.


"Jukri... Jukri... Jukri..." gumam Karso mengernyitkan kening.


Raut wajahnya nampak ada rasa keberatan dengan orang yang diusulkan istrinya.


"Jangan keluarga Jukri lah, dia orangnya jujur bu. Bapak suka dengan kerjanya dan juga orangnya tidak pernah


macam- macam, kasihan dia orangnya penurut," ujar Karso.


Romlah tak langsung menanggapi atas keberatan Karso, ia kembali mengingat- ingat karyawan- karyawan suaminya. Beberapa nama masuk dalam pikirannya, ada mang Gogon, mang Diman, mang Jaka, mang Tayo, mang Cucun. Saat hendak mengungkapkan nama- nama tersebut, Karso sudah lebih dulu membuka suara.


“Ya sudah biar nanti bapak sendiri yang mencarinya bu,” ujar Karso.


“Bener ya pak, awas jangan sampai lupa. Lusa harus sudah dapat,” sahut Romlah, ia  pun tak jadi mengusulkan orang- orang tersebut.


“Iya, bapak ingat koq,” timpal Karso.


......................


Hari berikutnya tatkala waktu sudah menjelang petang, beberapa karyawan rongsokkan terlihat sedang membereskan barang- barang rongsokkan yang banyak berserakan di gudang tempat penyimpanan. Sebagian karyawan sudah pulang lebih dulu, kini yang tersisa tinggal mang Cucun, mang Diman, mang Jaka dan mang Tayo. Keempat orang tersebut dapat dibilang merupakan karyawan utama dan orang- orang paling dekat dan menjadi orang- orang kepercayaan Karso.


Sebab berkat merekalah semua pekerjaan dapat berjalan dengan baik sesuai dengan tugas masing- masing, dari mulai menimbang barang rongsok dari orang- orang yang setor setelah berkeliling dari kampung ke kampung. Hingga dipercaya memegang uang pembayaran.


"Jak, Jaka..!" terdengar suara dari luar gudang memanggil- manggil Jaka.


"Jak, jak itu suara bos karso manggil- manggil," ujar mang Cucun.

__ADS_1


mang Jaka yang sedang menyapu kontan menghentikan pekerjaannya lalu setengah berlari keluar sembari menyahut,


"Iya bosooosss!"


Setelah keluar dari gudang Rongsokan, Jaka melihat bos Karso sedang berdiri sambil bersiul- siul memandang


burung didalam sangkar yang tergantung di sudut rumahnya. Karso memainkan Jarinya yang menimbulkan suara seirama dengan siulannya.


"Ada apa bos?" tanya mang Jaka sambil tergopoh- gopoh mendatangi bos Karso.


Karso menoleh sejenak kearah mang Jaka lalu pandangannya kembali diarahkan ke burung di dalam sangkar, kemudian berkata tanpa menoleh; "mang Jaka nanti jangan pulang dulu ya, habis magrib temenenin saya ketemu orang,"


"Oh, i, iya bos. Siap!" jawab mang Jaka tegas penuh hormat.


"Ya sudah kamu kembali lanjutkan pekerjaannya. Setelah itu kamu mandi dan ganti pakaian ya," ucap bos Karso.


"Wah, bos kalau ganti pakaian saya nggak bawa ganti, atau saya pulang dulu nanti kesini lagi," uajr mang Jaka.


"Nggak usah pulang, pakai kaos saya aja. badan kamu hampir sama dengan saya," ucap bos Karso.


"Ya udah deh bos, kalau begitu saya selesaikan dulu beres- beresnya," ujar mang Jaka.


"Iyah," balas bos Karso singkat pandangannya masih memandang burung kesayangnannya sambil memainkan


mang Jaka pun langsung balik badan kembali ke dalam gudang. Setelah mang Jaka hendak kembali melanjutkan pekerjaan menyapunya, mang Cucun dan mang Gogon yang posisinya dekat merasa penasaran dan langsung memberondong dengan pertanyaan.


"Ada apa mang, bos manggil mang Jaka tadi?" tanya mang Cucun yang di iyakan mang Gogon.


"Oh, itu bos Karso meminta tolong nemenin, katanya mau ketemu sama seseorang tptapi nggak tau siapa,"


jawab mang Jaka.


"Siapa?" sergah mang Gogon penasaran.


"Saya nggak tahu mang, bos Karso nggak nyebutin namanya," ujar mang Jaka kemudian mang Jaka pun


kembali melanjutkan menyapunya.


Mang Gogon dan mang Cucun saling berpandangan, hati keduanya dipenuhi dengan pertanyaan yang  tak terungkap.


"Wah, jangan- jangan bos Karyo  mau ketemu orang yang hendak bekerja sama membuka cabang lagi di daerah lain ya mang?" kata mang Cucun.


"Bisa jadi Cun, hebat ya Bos Karyo semakin di depan, hahaha...." seloroh mang Gogon diakhiri derai tawa keduanya.

__ADS_1


****


"Bos, ini sih restoran mahal," ucap mang Jaka yang duduk di samping bos Karso yang nyetir mobil mewahnya.


"Yah, sekali- kali Jak, kamu belum pernah kan?" balas bos Karyo sekaligus bertanya.


"Ya belum lah bos, boro- boro mau makan di restouran kaya begini. Lidah saya kayaknya nggak cocok bos,


hehehe..." kelakar mang Jaka.


"Masa? makanannya enak- enak loh mang," ujar bos karso.


"O iya temannya bos apa sudah ada di sini bos?" tanya mang Jaka.


"Kayaknya dia nggak jadi datang Jak. Tadi sebelum berangkat dia telpon katanya masih ada di luar kota dalam


perjalanan pulang. Jadi dia nggak bisa datang sesuai waktu yang disepakati sebelumnya," jawab bos Karso sambil tengok sana sini mencari parkiran.


"Tapi bos, harusnya nggak usah jadi aja kesininya," ucap mang Jaka.


"Saya nggak enak Jak, sudah terlanjur ngajak kamu sampai- sampai kamu nggak pulang," balas bos Karso.


Mang Jaka hanya manggut- manggut tanpa menyahut lagi. Tak lama kemudian mobil pun berbelok kekanan pelan- pelan masuk diantara mobil- mobil lain yang parkir.


"Nah, sampai Jak. Yuk turun," ajak bos Karso.


Baru kali ini mang Jaka merasa menjadi orang kaya. Naik mobil mewah dan makan di restourant mewah pula. Dengan langkah gagah mang Jaka berjalan mengikuti bos Karyo yang berjalan selangkah di depannya.


Begitu sampai di pintu masuk restourant, Bos Karso dan mang Jaka disambut dengan ramah oleh seorang wanita cantik berpakaian seragam restouran.


“Selamat datang di restouran B and D…” sambut wanita pelayan resotran.


Bos karso membalas dengan menganggukkan kepala dengan bibirnya menyunggingkan senyuman sedikit genit.


Mang Jaka yang mengikuti dibelakangnya ikut- ikutan mengangguk dan senyum namun terlihat canggung. Hawa dingin air conditioner langsung dirasakan mang Jaka begitu masuk melewati pintu dan wanita penjaga pintu restouran.


Seketika mang Jaka mengedarkan pandangannya melihat sekeliling ruang restouran yang nampak ramai namun


suasanya begitu tenang. Mang Jaka melihat orang- orang sedang menikmati makanan yang tersaji diatas meja, ada yang hanya berdua, berempat hingga lebih mungkin mereka satu keluarga.


......................


BERSAMBUNG.....

__ADS_1


__ADS_2