
Masih dimalam ke-14,
Dua pekan sudah terlewati, nyawa Kosim dan keluarganya baru saja kembali terselamatkan dari tuntutan perjanjian gaib. Tanpa disadari jalan negosiasi sudah mulai terbuka dengan sendirinya.
Kosim yang dibantu Abah Dul merasa sedikit lega sudah menyampaikan keberatannya atas tuntutan dari perjanjian pesugihan. Meskipun disampaikan hanya kepada bawahan siluman monyet, setidaknya rasa keberatan atas perjanjian itu diharapkan dapat menembus ke telinga Kalas Pati, Raja siluman monyet. Dan berharap Raja Kalas Pati bersedia melunturkan perjanjian itu dan melepaskannya.
Setelah sepasukan monyet siluman pergi dari halaman rumah Mahmud, keempat orang Abah Dul, Mahmud, Kosim dan Mang Ali serta tiga sukma Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin kembali masuk dan betkumpul di ruang tamu.
"Punten Dul, kami permisi balik. Sepertinya situasi sudah aman," ucap sukma Gus Harun mewakili dua sahabatnya Ustad Basyari dan Ustad Baharudin.
Tanpa sadar Abah Dul menjawabnya dengan suara obrolan seperti kepada sosok manusia saja yang membuat Mahmud, Mang Ali dan Kosim ternganga-nganga.
"Njih, Gus, Bas, Har. Matur nuwun sudah bersedia datang," jawab Abah Dul sambil menoleh ke belakang duduknya.
"Bilang apa Gus Harun Bah?!" spontan Kosim nyeletuk.
"Astagfitullah, saya lupa mereka nggak kelihatan ya, hehehe..." timpal Abah Dul.
"Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin katanya mau pamit kembali," sambung Abah Dul.
"Oh, njih Gus, Ustad Basyari, Ustad Baharudin saya Kosim dan keluarga mengucapkan matur kesuwun pisan, terima kasih banget mau membantu kami," ucap Kosim sambil merangkapkan telapak tangannya di dada menghadap ke belakang duduknya Abah Dul.
"Jangan mengadap ke saya, Sim. Ini ada dibelakang saya," sergah Abah Dul.
"Ya awas Abahnya minggir dulu." kata Kosim.
Melihat ulah Abah Dul dan Kosim membuat Mahmud dan Mang Ali tertawa. Begitupun dengan tiga sukma yang berdiri melayang dibelakang Abah Dul mereka turut tersenyum sambil geleng-geleng kepala.
"Bah, bagaimana saya menyalaminya. Saya pengen bersalaman," ujar Kosim.
"Haduuhhh, bikin repot aja ente Sim," sungut Abah Dul sambil beranjak pindah dari kursinya.
"Sok tuh, salaman mah. Yang paling kiri Gus Harun, ditengah Ustad Basyari dan yang kanan Ustad Baharudin," kata Abah Dul sembari menunjukkan posisi ketiga sukma.
Mahmud dan Mang Ali jadi terkekeh-kekeh melihat tingkah Abah Dul dan Kosim.
Kosim berdiri lalu mengulurkan kedua tangannya seolah-olah dia melihat ketiga sukma dan mengajak berjabatan tangan.
Pertama mengulurkan tangannya pada Gus Harun dan Gus Harun pun menyambutnya dengan menggengam telapak tangan Kosim.
Sesaat Kosim terdiam, ia merasakan ada hawa sejuk merambat masuk ke telapak tangannya.
"Wah, bener Bah, ini Gus Harun. Tangannya sejuuuk banget," seru Kosim kegirangan.
"Ya emang bener itu Gus Harun lagi menggenggam tangan ente," timpal Abah Dul.
__ADS_1
"Sim gantian dong, saya juga mau salaman." sela Mang Ali.
"Iya Sim, saya juga." timpal Mahmud.
Kosim kemudian terlihat melepaskankan jabat tangannya lalu berpindah menyalami Ustad Basyari.
"Ustad terima kasih banyak," ucap Kosim bersamaan dengan hawa sejuk yang dirasakan pada telapak tangannya.
"Njih, sama-sama, ente harus kuat ya Kang..." ucap sukma Ustad Basyari.
"Tuh Sim, ente dengar nggak Ustad Basyari ngasih nasihat." ujar Abah Dul.
"Masa sih Bah. Jabatan tangannya sih saya bisa rasakan tapi saya nggak mendengar suaranya Bah," kata Kosim dengan polosnya.
"Ustad Basyari kasih pesan, ente harus kuat." terang Abah Dul.
Kosim kembali menoleh kearah yang diperkirakan dimana Ustad Basyari berdiri.
"Njih Ustad, Insya Allah." balas Kosim sambil melepaskan jabatan tangannya.
Sukma Ustad Basyari senyum-senyum saja melihat tingkah Kosim yang lugu.
Kosim kemudian beralih mengulurkan tangangnya ke Ustad Baharudin. Namun kali ini uluran tangannya tidak tepat kearah posisi Ustad Baharudin berdiri. Uluran tangan Kosim kejauhan melewati posisi Ustad Baharudin berdiri.
"Tangan ente kejauhan Sim, itu tangan ente menembus badan Ustad Baharudin." sergah Abah Dul.
"Eh, maaf... Maaf ustad," cepat-cepat Kosim menarik tangannya setengah dari jarak sebelumnya.
Tiga sukma yang dapat melihat jelas tingkah polah Kosim dan Abah Dul akhirnya tak dapat menahan tawanya.
"Nah, segitu pas tuh." kata Abah Dul.
Kosim kembali merasakan hawa sejuk di telapak tangannya, "Ustad terima kasih banyak atas bantuannya," ucap Kosim meyakini tangannya sedang dijabat oleh Ustad Baharudin.
"Iya sama-sama Kang. Awas amalan dari Gus Harun itu jangan disia-siakan ya, itu amalan dahsyat. Kamu beruntung bisa memilikinya," tutur Ustad Baharudin lalu melepadkan jabat tangannya.
Kosim menoleh ke Abah Dul, "Bah, kayaknya saya dapat nasihat banyak dari Ustad Baharudin." ucap Kosim.
Spontan di otak Abah Dul keisengan ngerjain Kosim muncul, "Hallahhh, sok tau ente Sim," ujar Abah Dul.
"Yakin saya mah Bah. Genggamannya lama seperti sedang bicara ke saya," kata Kosim dengan wajah polosnya.
Abah Dul langsung terkekeh-kekeh melihat wajah Kosim,
"Iya, iya Sim. Ustad Baharudin bilang, amalan dari Gus Harun itu jangan disia-siakan, itu amalan dahsyat. Kamu beruntung bisa memilikinya," terang Abah Dul masih dengan sisa ketawanya.
__ADS_1
"Tuh kan bener." tukas Kosim.
Kosim lalu menoleh kembali kearah posisi Ustad Baharudin dan berkata, "Njih ustad, insya Allah akan saya jaga," ucap Kosim.
Lalu Kosim kembali ke posisi duduknya. Kini gantian Mahmud yang berdiri menyalami ketiga sukma. Sama dengan Kosim telapak tangan Mahmud merasakan hawa sejuk saat tangannya dijabat Gus Harun, Ustad Basyari dan Ustad Baharudin.
Saat bersalaman dengan Ustad Baharudin, Mahmud mendapat nasihat tapi Mahmud tak menghiraukannya karena sama sekali tidak mendengarnya.
"Mud, ente dapat pesan tuh dari Ustad Baharudin. Maen tarik tangan aja," sergah Abah Dul.
"Oh, maaf punten, punten ustad saya nggak tau." ucap Mahmud seolah berbicara pada Ustad Baharudin.
Sukma Ustad Baharudin hanya tersenyum melihat Mahmud dan Abah Dul.
"Dul, Dul. Kelakuanmu yang jail nggak pernah hilang sama saat masih di pesantren.." ucap Sukma Baharudin kepada Abah Dul.
Abah Dul langsung tertawa mendengar ucapaan Ustad Baharudin. Tetapi tanggapan dari Mahmud lain, ia meras dirinya dikerjain Abah Dul.
"Ah, bohong ente Bah," timpal Mahmud.
"Yeee, beneran Mud." kata Abah Dul meyakinkan.
"Lah, itu sih ente ketawa gitu," kata Mahmud.
"Saya ketawa karena ucapan Ustad Baharudin Mud, bukan nertawain ente. Huh' susah kalau ngobrol dengan orang yang nggak kelihatan mah, hikhikhik..' seloroh Abah Dul.
"Oh, ya ya deh. Apa katanya Bah?"
"Bikin kopi lagi aja dulu Mud, ya..." kata Abah Dul yang langsung disambut tawa semuanya termasuk tiga sukma.
"Ya sudah Dul, kita-kita pamitan sekarang, assalamualaikum..." sela Gus Harun dengan senyum yang belum hilang.
"Waalaikum salam..." jawab Abah Dul disela-sela ketawanya.
Ketiga sukma itu lalu berpencar melesat ketiga arah. Gus Harun ke Banten, Ustad Basyari ke Surabaya dan Ustad Baharudin ke Kuatai, Kalimantan Timur.
......................
Ada ungkapan gini, persahabat itu melebihi toleransi dari saudara satu darah. Sahabat yang sejati tidak ada pengecualian, tidak memandang dan mengukur materi. Tak ada kata sibuk, yang menjadikan alasan untuk tidak menolongnya jika dibutuhkan. Tidak mengharapkan upah atau bayaran saat diminta tolong.
Dijaman sekarang entah masih ada atau tidak rasa persahabatan sejati tanpa pamrih. Saling suport, saling membatu ketika membutuhkan pertolongan. Sampai-sampai tidak ada perhitungan lagi terhadap materi.
Sahabat sejati itu loyal tidak pernah perhitungan dan tidak akan pernah menghitung untung-rugi. Sungguh sulit menemukan sahabat sejati.
Jika kalian saat ini memiliki tanda-tanda sahabat sejati, jangan disia-siakan! Jangan balas ketulusannya dengan menyakiti hatinya. Sebab kecewanya tak dapat termaafkan!!!
__ADS_1
......................