
Di langit, posisi Kiyai Sapu Jagat yang berada diatas dapat melihat dengan jelas bagaimana reaksi kemurkaan yang ditunjuukkan Raja Kalas Pati. Begitu pula dengab reaksi dari para prajuritnya yang terus bergerak menuju posisi Rajanya yang juga searah dengan keberadaan empat muridnya.
“Ini bahaya! Ini bahaya!” ucap Kiyai Sapu Jagat sesaat tertegun sambil memikirkan langkah selanjutnya menghadapi Raja Kalas Pati beserta prajuritnya. Sebab apa yang dilihatnya saat ini sangat jauh diluar dari perkiraan.
Segera Kiyai Sapu Jagat meluncur ke bawah menuju posisi diantara Raja Kalas Pati dan ratusan prajurit siluman monyet yang sedang bergerak.
Melihat kemunculan Kiyai Sapu Jagat di jarak 30 jengkal itu membuat Raja Kalas Pati sedikit terkejut. Awalnya Raja Kalas Pati mengira sosok tersebut adalah tuan Denta yang di hajar dengan tongkatnya sebelumnya.
"Jin sialan itu masih hidup!" pekik Raja Kalas Pati mengerutkan dahinya dalam- dalam.
Didalam kepalanya berpikir penuh keheranan, bagaimana mungkin mahluk jin itu tidak musnah?!
Akan tetapi beberapa detik berikutnya, Raja Kalas kian terkejut setelah dapat melihat lebih seksama lagi sosok di hadapannya tersebut.
Samar- samar Raja Kalas Pati dapat melihat wujud sosok berpakaian gamis hijau panjang secara utuh di hadapannya. Dan sosok tersebut tentu sudah sangat dikenalinya.
"Kiyai Sapu Jagat!!!" suaranya bergetar kala menyebut nama itu.
Ingatannya kembali membeberkan sebuah peristiwa beberapa puluh tahun silam dimana saat dirinya bertarung melawan sosok di hadapannya.
Saat itu juga Raja Kalas Pati langsung bersikap waspada dan baru menyadari kalau ditangannya tidak menggenggam senjata andalannya. Raja Kalas Pati celingukkan kesana kemari mencari tongkat emasnya, namun tidak juga dapat menemukannya.
"Dimana senjataku?!" Raja Kalas Pati sangat heran tidak melihat adanya tongkat emas.
"Tongkat itu sebelumnya menacap disana, tapi...?" Raja Kalas Pati nampak kebingungan sekaligus membuat nyalinyan sedikit menurun.
"Sialan! Dimana kau!" pekik Raja Kalas Pati lalu mengangkat kedua tangannya dan membuat suatu gerakkan aneh.
__ADS_1
Tangan kanan digerakkan membentuk garis pola aneh lalu disusul tangan kirinya bergerak membuat garis pola namun gerakkannya berlawanan arah dengan tangan kanannya.
Seketika itu juga muncul suara desiran angin. Awalnyabsudara desiran angin itu pelan, tetapi lama kelamaan suara desiran berganti menjadi suara siutan angin. Semakin kedua tangan Raja Kalas Pati berputar kencang, suara siutan angin semakin kencang terdengar.
Siiiuuuuuuuttttt...!!!
Wajah Raja Kalas Pati bertambah murka menantikan tongkat emasnya tak juga kunjung muncul.
"Dimana senjatakuuuu...!!!" teriak Raja Kalas Pati geram.
Dikejauhan, Kiyai Sapu Jagat merasakan adanya daya tarikan yang sangat kuat yang membuat tubuhnya bergeser satu langkah. Tubuh ringkih Kiyai Sapu Jagat terdorong maju menuju posisi Raja Kalas Pati. Ia merasakan siutan suara angin dan desirannya seperti tersedot kearah Raja Kalas Pati yang menjadi pusat dari pusaran angin.
Gamis hijau yang dipakainya berkibar- kibar kencang kearah depan, kiyai Sapu Jagat dengan cepat mengerahkan kekuatannya untk menahan sedotan angin yang kian kencang.
Satu langkah lagi kaki kiyai Sapu Jagat terdorong kedepan. Segera Kiayai Sapu Jagat menghentakkan kaki kanannya yang berada di depan seolah- olah menancapkan kakinya agar tidak terbawa arus angin yang terus manarik tubuhnya.
"Gus cepat lakukan sesuatu!" seru Abah Dul diantara deru angin yang terasa menyedot tubuh mereka.
"Iya Gus, cepat kendalikan tongkat emas ini!" susul Baharudin.
Sebelumnya Gus Harun, Abah Dul, Basyari dan Baharudin saling beradu cepat menemukan amalan yang dapat mengendalikan tongkat tersebut seperti yang diperintahkan Kiyai Sapu Jagat.
Pada mulanya keempat murid Kiyai Sapu Jagat itu beberapa kali mencobanya namun tetap tak ada reaksi apapun pada tongkat emas milik Raja Kalas Pati tersebut.
Satu persatu mereka secara bergantian mencoba mengingat- ingat dan membaca amalan- amalan yang mereka hafal yang pernah diberikan oleh gurunya, namun tetap saja tak tongkat emas itu tak bergeming ditempatnya.
Hingga beberapa saat bersamaan dengan terdengarnya raungan Raja Kalas Pati menggema di angkasa, seketika Gus Harun teringat dengan satu bacaan yang sangat jarang di gunakannya. Dan bahkan bacaan tersebut baik Abah Dul maupun Basyari dan Baharudin pun memilikinya. Sebab berkat bacaan tersebut mereka semua dapat memiliki senjata- senjata gaib yangmemiliki kekuatan besar.
__ADS_1
Namun Abah Dul, Basyari dan Baharudin tidak sedikit pun terlintas di pikiran mereka untuk menggunakan
amalan tersebut. Hanya Gus Harun yang mencobanya itupun setelah dua kali gagal menaklukkan, lalu mengingat- ingat kembali amalan apa saja yang pernah diajarkan Kiyai Sapu jagat langsung pada tingkatan amalan yang paling besar.
Seketika Gus Harun teringat akan senjata gaibnya berupa Cambuk Amal Rosuli, senjata gaib tersebut diperolehnya melalui perjuangan berat dimana dirinya harus melakukan tirakat khusus hingga pada puncak tirakatnya muncul suara tanpa rupa yang memberikan sebuah kalimah untuk menaklukkan senjata gaib tersebut.
Setelah dirasa sangat yakin kalau amalan itulah yang dimaksud gurunya, Gus Harun pun segera membacakannya dengan segenap keyakinan. Selasai amalan itu dibaca tiga kali, Gus Harun menghentakkan
kakinya dengan kuat sambil berteriak dengan lantang dan tegas secara bersamaan didalam hatinya mengucap sebuah kalimat perintah.
“Kun Fayaquuun!”
Dalam sekejap tongkat emas yang besarnya 2 kali lipat drum minyak dan memiliki tinggi 10 kali lipat dari ukuran
tubuh manusia itu tiba- tiba berubah menyusut dan mengecil hingga tampak tergenggam di dalam genggaman tangan Gus Harun.
Saat tongkat emas tersebut berubah mengecil, sontak saja tubuh Abah Dul. Basyari dan Baharudin saling bertubrukkan karena tiba- tiba tangannya hanya memegang tempat kosong. Belum sempat hilang rasa
terkejutnya, tiba- tiba muncul suara siuran angin yang perlahan-lahan bertambanh kencang dan membuat tubuh keempat murid kiyai Sapu Jagat itu terseret beberapa langkah.
Merasakan gelagat yang tidak baik, Gus Harun secara sepontan meloncat setinggi 1 meter membuat gerakkan menancapkan tongkat emas tersebut dengan kuat. Dan berkat tongkat emas tersebut mereka mampu menahan tubuh mereka dari kekuatan yang diciptakan Raja Kalas Pati yang menarik tubuhnya.
Tongkat emas yang di genggam kuat- kuat oleh Gus Harun, Abah Dul, Basyari serta Baharudin seketika bergetar hebat seakan ada yang mencoba menariknya. Gus Harun cepat- cepat mengucapkan perintah pada tongkat emas tersebut agar tidak terpengaruh oleh daya tarikan yang berasal dari Raja Kalas Pati.
“Tahan!” teriak Gus Harun.
Seketika getaran keras tongkat emas itu berangsur- angsur melemah, semakin lama getaran tongkat emas semakin hilang hingga tak ada lagi getaran pada tongkat tersebut. Bahkan sebaliknya tongkat emas semakin kokoh menancap hingga mampu memberikan perlindungan pada empat murid Kiyai Sapu Jagat tersebut.** BERSAMBUNG
__ADS_1