Melawan Perjanjian Gaib

Melawan Perjanjian Gaib
Balas Dendam


__ADS_3

Cuaca Magrib tak biasanya sudah gelap gulita layaknya jam 10 malam. Aura mistis ditandai hawa panas mulai dirasakan hingga kedalam rumah Mahmud.


Usai melaksanakan sholat Magrib berjamaah, Abah Dul, Gus Harun dan Mang Ali masih khusuk melakukan zikir di ruang tengah. Sebelumnya Gus Harun sudah mewanti-wanti ada sesuatu yang bakal terjadi namun tidak diketahui pasti apa yang akan terjadi.


Ditengah-tengah kekhusukan, tiba-tiba dari atas berkelebat dua cahaya putih masuk kedalam rumah dan menghampiri Abah Dul dan Gus Harun. Keduanya terkejut namun kemudian tersungging senyuman di bibir keduanya.


"Assalamualaikum Warohmatullahi wabarokatuh.." Ucap dua sosok cahaya putih itu bersamaan.


"Waalaikumsalam Warohmatullahi wabarokatuh," jawab Gus Harun dan Abah Dul.


Mang Ali nampak bingung mendengar kedua orang itu menjawab salam. Ia celingukan hingga menoleh ke belakang tapi tidak menemukan siapa-siapa.


"Gimana kondisinya Bas, Har?" Tanya Gus Harun .


Dua kelebatan cahaya putih itu tak lain adalah sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin yang datang setelah siang tadi dikabari Abah Dul melalui ilmu "Pemisah Sukma" nya.


"Alhamdulillah, sudah kembali pulih. Gimana dengan ente berdua?" Sukma Ustad Basyari balik tanya.


"Alhamdulillah, kita juga sudah kembali pulih," jawab Gus Harun di iyakan Abah Dul.


Mang Ali yang baru paham kalau Gus Harun sedang berbicara dengan sosok tak kasat mata, hanya manggut-manggut.


Sementara itu diluar rumah suara desiran angin kian santer menyapu dedaunan hingga terdengar gesekan rantingnya dari ruang tengah. Suara berderak ranting-rantingnya kian menambah kemistisan seakan menjadi pertanda akan datangnya sesuatu.


"Semuanya siap-siap, jangan lengah!" Seru Gus Harun menekan suaranya.


Usai Gus Harun berucap tiba-tiba empat kilatan cahaya merah dengan cepat meluncur deras kearah Gus Harun, Abah Dul, Sukma Basyari, Sukma Baharudin dan Mang Ali.


Tubuh kelima-limanya bergetar keras tak sempat menghindar. Beruntung benteng pertahanan diri kelimanya begitu kuat sehingga hanya hawa panas saja yang langsung melingkupi ruang tengah tidak sampai menjalar kedalam tubuh Gus Harun, Abah Dul dan Mang Ali serta dua Sukma.


Mang Ali merasakan keringat dingin bercucuran membasahi kaos oblonhnya. Dengan cepat Abah Dul dan Gus Harun menghentakkan telapak tangan kanannya masing-masing ke lantai untuk melawan energi panas tersebut.


"Allahu Akbar!" Seru keduanya bersamaan.


Lain halnya dengan Sukma Ustad Basyari dan Sukma Ustad Baharudin yang lebih dulu bisa menghindar sehingga tak terlalu merasakan efek hantaman.


Dengan cepat Kedua Sukma membalas dengan menghentakkan kedua telapak tangannya diarahkan ke cahaya merah itu seraya berseru, "Allahu Akbar!"


Suara dentuman keras menggetarkan rumah Mahmud membuat perabotan-perabotan rumah di ruang tengah bergoyang-goyang. Bersamaan itu terdengar suara-suara pekikan nyaring menggema di ruangan.


"Nyiiiittt... Nyiiiittt... Nyiiitttt!"


"Jangan dikejar!" Seru Gus Harun kepada dua Sukma yang hendak mengejarnya.


"Biarlah para Siluman Monyet itu menampakkan wujudnya disini. Jika kita mengejar dan bertarung di alamnya, kekuatan mereka tak akan berkurang." Sambungnya.

__ADS_1


"Mang Ali nggak apa-apa?!" Tanya Abah Dul.


"Alhamdulillah, masih bisa diatasi Bah," jawab Mang Ali.


Abah Dul tahu persis kemampuan ilmu kebatinan yang dimiliki Mang Ali makanya membiarkannya ikut berada didalam medan pertempuran. Bedanya Mang Ali menggunakan ilmu kebatinan 'Kejawen' turunan dari buyutnya. Meski begitu secara tingkatan, levelnya terbilang tinggi berada satu tingkat dibawah Abah Dul dan Gus Harun serta dua Sukma.


"Keluarkan senjata!" Seru Gus Harun.


Abah Dul langsung kembali konsentrasi, tangan kanannya diacungkan keatas sembari membaca amalan pemanggil pusaka. Begitu pula dengan Gus Harun dan kedua Sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin.


Diawali percikan cahaya putih menyelubungi tangan Abah Dul dan sedetik kemudian nampak digenggamannya Tombak Mata Kembar.


Ditangan Gus Harun pun sudah tergenggam Cambuk Amal Rosuli, semenatara Sukma Ustad Basyari ditangannya tergenggam pedang besar bernama Abu Bakar dan di tangan Sukma Ustad Baharudin tergenggam Tongkat Pagar Alam. (*baca episode 21)


Mang Ali tak tinggal diam, ia merogoh pinggangnya dan terhunuslah sebuah keris eluk 7 berwarna hitam legam ditangannya. Pamornya begitu terasa besar menyiratkan kekuatan maha dahsyat. Keris di tangan Mang Ali itu bernama Keris Skober warisan moyangnya dari garis keturanan generasi ke-21.


Menurut bapaknya, kakek buyutnya pernah bercerita kalau Keris Skober tersebut hasil dari pertapaan di Gunung Gede dan pernah memporak porandakan pasukan Belanda hanya dengan menancapkannya di tanah.


Sesaat tangan Mang Ali bergetar ketika Keris Skober itu diacungkan. Sampai-sampai Abah Dul pun menoleh terkesiap merasakan efek aura yang keluar dari keris tersebut.


Kemudian tiga orang dan dua Sukma sakti itu duduk bersila, mulutnya merapalkan bacaannya masing-masing. Tiba-tiba terdengar suara tawa menggema memenuhi ruangan.


"Wuahahahahaha... Wuahahaha...Wuahahaha... Manusia bodoh! Kalian semua akan mampus!"


Empat Monyet Siluman itu satu diantara Anggada Arya, Sang pemimpin penjemputan tumbal yang pernah dikalahkan Abah Dul. (*baca episode Arin diculik)


"Tak kapok-kapok juga rupanya!" Seru Abah Dul sembari menuding Arya.


Tanpa diduga salah satu monyet siluman berikat kepala kuning yang berdiri sebelah kiri secara tiba-tiba menyabetkan tongkat kuningnya kearah Abah Dul. Tokat kuning melayang dari atas kebawah seolah ingin membelah tubuhnya.


Abah Dul dengan cepat berdiri sembari menjulurkan Tombak Mata Kembarnya keatas untuk menangkisnya. Tombak Mata Kembar barhasil menjepit tongkat siluman monyet diantara dua mata tombak. Secepat kilat Abah Dul membuat gerakan memutar Tombak Mata Kembarnya dengan hentakkan keras.


'Krakkk!' Tongkat siluman monyet itu patah seketika.


Sejurus berikutnya Abah Dul menghantamkan telapak tangan kirinya ke tubuh monyet ikat kepala kuning itu. Hawa panas menderu menghakar dengan telak dibagian dada membuat monyet ikat kepala kuning terpelanting jatuh tersungkur menghantam lantai.


Abah Dul tak memberi ampun langsung menyongsongnya dengan tusukkan Tombak Mata Kembar mengarah perut.


'Blesss!'


Tombak Mata Kembar menusuk perut monyet berikat kepala kuning hingga tembus ke punggung. Suara jerit kesakitan melengking bersamaan suara dentuman saat Tombak Mata Kembar ditarik kembali.


Tubuh monyet ikat kepala kuning itu hancur seketika dan meninggalkan kepulan asap kelabu.


Melihat temannya musnah, monyet siluman berikat kepala hijau yang sedang dihadapi Mang Ali melompat memukulkan Gada besar ditangannya kediaertai teriakan kemarahan.

__ADS_1


Gada besar itu meluncur deras mengarah kepala Mang Ali. Sesaat Mang Ali terkesiap, dengan gerakkan reflek ilmu silat yang dikuasainya, ia memiringkan tubuhnya. Senjata Gada besar itu melintas beberapa centi disamping tubuhnya dan menghantam tempat kosong.


Secepat kilat Mang Ali membuat gerakan balasan menyerang. Keris eluk 7 ditangan kanannya ditusukkan ke punggung monyet ikat kepala biru.


Kilatan cahaya merah terpancar saat keris itu menembus punggung dibarengi dentuman keras.


"Buummmm..!"


Tubuhnya monyet ikat kepala biru sesaat limbung kesana kemari dengan liar lalu ambruk tak berkutik lagi.


Gus Harun tak tinggal diam, dihentakkannya Cambuk Amal Rosuli kearah Anggada Arya. Mata cambuk dengan deras membidik kepala akan tetapi Anggada Arya berhasil menghindar dengan satu langkah gerakan mundur. Anggada Arya balas menyerang memukulkan tongkat besar berwarna keemasan.


Tongkat keemasan itu menderu mengarah ke pundak Gus Harun. Deru anginnya terasa begitu besar menerpa Gus Harun sebelum tongkat menghantamnya.


Gus Harun mengibaskan Cambuk Amal Rosuli menahan hantaman tongkat Anggada Arya. Mata cambuknya berhasil melilit pergelangan tangan Anggada Arya. Tingga satu jengkal lagi tongkat besar itu mengenai pundak, dengan cepat Gus Harun menghentakkan Cambuk Amal Rosulinya.


Seketika Anggada Arya menjerit dengan keras karena tangannya putus sebatas siku. Gus Harun tak memberinya ampun, ia lantas menghantamkan amalan Penghancur Sukma yang selama ini belum pernah ia gunakan.


Tangan kirinya bergetar dengan posisi mengepal memusatkan tenaga dalamnya lalu didorong dengan hentakkan keras ke tubuh Anggada Arya.


Angin bekekuatan maha dahsyat menderu keluar dari kepalan tangan Gus Harun.


'Boooommmm...!" Amalan Penghancur Sukma telak menghantam dada Arya.


Seketika tubuh Anggada Arya hancur berkeping-keping meninggalkan asap tebal. Asap itu sesaat menebal lalu lenyap.


Dua monyet siluman lainnya terperangah melihat tiga temannya musnah, keduanya saling berpandangan lalu berusaha kabur. Tubuhnya melesat hendak meninggalkan ruangan. Melihat gelagat itu dua Sukma Ustad Basyari dan Ustad Baharudin bergerak cepat membuat gerakkan menebas dengan senjata pusakanya masing-masing.


Pedang Abu Bakar ditangan Sukma Ustad Basyari menghujam dari atas tubuh monyet siluman berikat kepala merah. Sempat terkesiap namun terlambat buat menghindar, ayunan pedang Abu Bakar dengan telak membelah tubuhnya.


Disaat bersamaan Tongkat Pagar Alam yang diayunkan Sukma Ustad Baharudin hanya mengenai tempat kosong. Monyet siluman berikat kepala hijau itu lebih cepat bergerak melayang keatas lalu lenyap menembus atap rumah Mahmud.


"Biarkan, jangan dikejar Bas!" Seru Gus Harun.


"Gimana keadaan kalian, apa ada yang terluka?!" Sambungnya.


Sesaat Abah Dul, Mang Ali dan dua sukma itu saling melihat tubuh satu sama lain.


"Alhamdulillah, kami baik-baik saja Gus.." Ujar Abah Dul.


"Syukurlah, mari kita bereskan tempat ini." Kata Gus Harun.


Ruangan tengah rumah Mahmud nampak kacau. Beberapa benda jatuh dari bufet dan berserakkan dilantai akibat getaran-getaran yang ditimbulkan pertempuran tadi.


......................

__ADS_1


__ADS_2