Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Bukit Merak


__ADS_3

Catatan Penulis:


Selamat malam, agar tak terlalu banyak catatannya, penulis langsung saja. Jadi saya cuma mau mengingatkan, sabtu minggu depan akan kembali di umumkan pemenang event spin off.


Spin off yang sudah tersedia :


Gregoric Alknight : Sang Perkasa.


Arthur Wild : Putra Kegelapan.


Issabela Alknight : Bertambah kuat.


Dan satu lagi Spin Off tambahan yang akan penulis selesaikan minggu ini, sebelum pengumuman.


Spin off adalah chapter tambahan yang masih terhubung kecerita utama. Event Spin off ini sendiri rutin saya umumkan tiap dua minggu sekali, dan pemenangnya adalah mereka dengan 3 jumlah vote terbanyak, serta 3 pembaca acak yang saya pilih dari kolom komentar.


Sekian catatan hari ini, selamat menikmati chapter terbaru. ^^


-----------


(Satu Hari kemudian)


"Sungguh deretan tebing yang sangat luas!" Kata Arthur, begitu melihat deretan tebing di hadapannya. Ekspresinya terlihat sangat antusias.


"Dasar udik..!" Dengus Aria, dari dalam kereta.


Mendengar itu, Arthur segera memasang ekspresi ingin membalas cercaan Aria, namun Master Estro menghentikanya dengan tatapan tajam mematikan.


'Hmmm… lihat saja nanti…!' Dengus Arthur kesal, dalam hati.


"Nona muda, kita sudah sampai di wilayah perbukitan Merak, setelah melewati perbukitan ini, kita akan sampai di ibukota Glaire Empire." Kata Master Estro.


"Kenapa kau selalu saja melaporkan hal-hal yang tak penting? Aku sudah tahu itu, aku juga punya mata!" Jawab Aria dari dalam kereta.


"Nona muda, kenapa moodmu akhir-akhir ini terlihat sedang tidak baik? Apa ini ada hubungannya dengan dua bocah berandal ini?" Tanya Master Estro, sambil menunjuk Theo dan Arthur.


"Siapa yang kau sebut bocah?" Bentak Arthur, terlihat tak terima.


"Sudah… sudah.. percuma mengurusi orang tua ini, lebih baik kita lakukan kompetisi lagi." Kata Theo, mencoba menenangkan Arthur.


"Ohh.. boss, kompetisi macam apa lagi kali ini?" Tanya Arthur antusias, lupa bahwa dia tadi sedang kesal.

__ADS_1


"Sebenarnya cukup sederhana, sekarang kita lakukan lomba lari, siapa yang pertama kali sampai di kaki bukit yang ada di depan, dia yang menang." Kata Theo, menunjuk kaki bukit yang agak jauh di hadapannya.


"Ohh.. kali ini aku tak akan kalah." Arthur mulai bersiap untuk berlari.


Namun, tiba-tiba Aria yang awalnya ada di dalam kereta, melompat keluar. Dengan cepat dia berlari menuju kaki bukit.


"Hmmm… dua orang siput ingin melakukan lomba lari? Akan kutunjukkan apa itu arti kecepatan pada kalian!" Kata Aria, sambil berlari.


"Bedebah, dasar penyihir wanita sialan!" Melihat Aria yang tanpa basa-basi ikut masuk dalam perlombaan, Arthur menjadi sangat kesal. Terlebih gadis ini dengan santainya mencuri start.


"Aku tak akan kalah darimu!" Teriak Arthur. Kemudian mulai berlari berusaha menyusul Aria.


"Ahhh… nona muda, tolong jangan terus-terusan seperti itu!" Teriak Master Estro, ketika melihat Aria keluar rombongan tanpa pengawalan lagi.


"Sudahlah, berhenti mengirim orang untuk mengejarnya, aku akan menjaga nona mudamu!" Kata Theo, melihat Master Estro bersiap mengirim pengawal untuk mengejar Aria.


Sejurus kemudian, Theo berlari dengan cepat mengejar Arthur dan Aria yang sudah jauh di depan.


***


(Kaki Bukit)


"Hahhahaha… akan kutunjukan apa itu arti kecepatan, sungguh lelucon!" Theo tertawa kencang, sambil mengulang kata-kata Aria.


"Curang apanya? Aku sampai kesini lebih cepat, itu faktanya!" Jawab Theo santai.


"Boss..! Kali ini aku sepakat dengan penyihir wanita ini, kau curang! Berhenti menggunakan teknik gravitasimu yang aneh itu!" Arthur ikut protes.


"Hahh.. kalah ya kalah, berhenti mencari-cari alasan, dasar duo pecundang! Lagian dari awal tak ada aturan apapun, kan aku cuma bilang lomba lari. Jadi siapapun yang sampai terlebih dahulu, dia yang menang." Kata Theo, sambil menaikkan kedua pundaknya. Memasang ekspresi polos.


"Kau….!!!" Aria semakin kesal dengan ekspresi sok polos Theo.


"Sudah.. ngomong-ngomong, perbukitan ini benar-benar menarik, ini lebih terlihat seperti labirin dari pada disebut bukit." Kata Theo, mengalihkan pembicaraan.


Di hadapan Theo saat ini, di kaki bukit Merak, terdapat sebuah celah jurang yang tercipta dari himpitan beberapa bukit. Celah jurang ini memanjang mengikuti deretan bukit di sisi-sisinya.


Diujung celah jurang yang bisa dilihat Theo saat ini, terdapat beberapa cabang lagi, Theo yang penasaran, sempat melompat sangat tinggi memanfaatkan Mana Gravitasi untuk mendapatkan gambaran lebih jelas. Dan yang membuat Theo takjub, ternyata cabang celah jurang yang ada di depannya bukanlah satu-satunya.


Di ujung lain, terdapat cabang lain, dan begitu seterusnya, hingga terlihat membentuk sebuah labirin yang tercipta alami dari deretan begitu banyak perbukitan.


"Hmmmm… dasar udik, ini di sebut bukit Merak, jadi untuk sampai di ibukota Glaire Empire, kita harus melewati deretan perbukitan ini dulu." Aria mulai menjelaskan.

__ADS_1


"Namun, tak sembarang orang mampu melewati perbukitan ini, karena banyaknya cabang jalan, hanya orang yang memiliki peta resmi yang mampu melewatinya, kalau tidak, mereka akan tersesat selamanya di dalam sana."


"Dan peta ini, hanya akan di berikan oleh pihak pemerintah Glaire Empire kepada tamu yang mereka anggap penting. Dalam hal ini, kami House of Braveheart adalah salah satunya." Aria menutup penjelasannya dengan ekspresi kebanggaan.


"Boss.. ngomong-ngomong, bukankah kita akan pergi ke Blackwood Empire? Kenapa kita malah menuju ibukota Glaire Empire?" Tanya Arthur, tampak tak memperdulikan Aria.


"Kau…." Aria tampak canggung, karena penjelasannya yang di sertai kebanggan tak di perdulikan.


"Ohh, itu karena, untuk mencapai Blackwood Empire kita tak mungkin menggunakan perjalanan darat. Meskipun masih sama-sama berada di North Region, tetap saja kedua kekaisaran di pisahkan jarak yang sangat jauh." Theo mulai menjelaskan, tampak juga tak memperdulikan Aria dengan kebanggaannya.


"Kita perlu menggunakan portal resmi yang menghubungkan antar tiga ibukota dari tiga kekaisaran yang ada di North Region. Dengan begitu, kita bisa melakukan perjalanan jauh lebih cepat." Theo menutup penjelasannya.


"Portal resmi? Maksudmu adalah portal ruang yang terkenal itu? Yang diciptakan secara khusus dari logam Meteorite sehingga dapat membengkokkan ruang?" Tanya Arthur.


"Benar sekali, konsepnya hampir sama dengan cincin spacial, namun digunakan dengan cara yang agak berbeda. Sumber daya yang digunakan pun juga berbeda, karena membutuhkan sejumlah sumberdaya tambahan yang sangat banyak untuk menciptakan portal ini."


"Hanya pihak kekaisaran dengan sumberdaya melimpah yang bisa membuat serta mengaktifkan portal ini." Tutup Theo.


"Jadi seperti itu, aku sudah tak sabar untuk melihatnya!" Jawab Arthur, sangat antusias.


"Hahaha. Bukan kau saja, aku juga penasaran dan tak sabar untuk melihatnya!" Kata Theo. Selain penasaran, Theo juga ingin tahu sedikit tentang portal ini, bakat Forgingnya selalu mendidih ketika membayangkan tentang portal ruang.


"Kalian berdua, berhenti mengabaikanku seolah aku tak ada disini!" Bentak Aria, kini sudah sangat kesal dengan dua orang dihadapannya yang seperti tak menganggap keberadaanya.


"Haahha.. Arthur, mau lomba lagi?" Tanya Theo.


"Ohh.. lomba apa lagi Boss?" Tanya Arthur balik, penasaran.


"Siapa yang sampai terlebih dahulu di ujung jalan bercabang yang ada disana, dia yang menang!" Kata Theo.


"Tidak, aku tak mau lomba lari lagi bila kau masih menggunakan teknik Gravitasimu! Itu curang!" Dengus Arthur.


"Baiklah.. baiklah, kali ini lomba lari biasa, tanpa trik apapun!" Jawab Theo.


"Sepakat..!" Jawab Arthur singkat, kemudian tanpa menunggu aba-aba, berlari kedepan, mencuri start.


"Dasar.…! Ahhahahhaha…." Theo hanya tertawa sebentar melihat kelakuan Arthur, kemudian ikut berlari menyusulnya.


Melihat Theo dan Arthur memasuki celah jurang, Aria menjadi sedikit khawatir.


"Kalian berdua, berhenti! bukankah kubilang itu berbahaya masuk tanpa peta!" Teriak Aria.

__ADS_1


"Itu cuma ujung yang terlihat di depan, kenapa kau khawatir sekali? jangan bilang kau hanya takut, karena kali tak bisa mencuri start!" Teriak Theo balik.


"Apa kau bilang? Siapa yang takut!" Bentak Aria, kemudian tanpa berfikir lagi ikut maju mengejar keduanya.


__ADS_2