Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Kembali ke House


__ADS_3

"Bagus, semua racun sudah di netralkan." Kata Theo.


Pagi ini, Theo telah menyelesaikan pembuatan obat untuk Aria, proses penyulingan obat yang awalnya ia perkirakan dapat diselesaikan dengan cepat, ternyata butuh waktu semalam penuh.


Meskipun telah memiliki seluruh bahan, Theo masih memerlukan kehati-hatian yang sangat intens dalam prosesnya. Karena setiap bahan obat tersebut, merupakan bahan langka yang akan sangat sulit untuk di cari lagi bila terjadi kegagalan.


"Hmmm…. Selain semua hal yang sudah kulihat, kau ahli dalam bidang apa lagi?" Tanya Aria penasaran, setelah memastikan racun di dalam tubuhnya memang sudah benar-benar bersih.


"Ohh, sekarang kau mulai kagum padaku bukan?" Tanya Theo balik. Menggoda Aria.


"Kau… sudah lupakan saja, anggap aku tak pernah bertanya." Dengus Aria kesal melihat sikap terlalu percaya diri Theo.


"Hahahhaha…… " Melihat Aria kesal, Theo malah tertawa senang.


"Sepertinya sudah saatnya kita kembali, apa kau menemukan suatu petunjuk yang di tinggalkan tetuamu ketika memeriksa sekitar beberapa hari ini?" Tanya Theo.


"Yah, aku menemukannya. Yang jelas, dia masih hidup. Itu yang bisa kupastikan untuk saat ini." Jawab Aria.


"Ohh, petunjuk apa yang dia tinggalkan?" Tanya Theo penasaran.


"Hmmm…. Jangan harap aku memberitahumu, itu metode rahasia yang hanya akan diketahui oleh house kami." Jawab Aria.


Mendengar hal itu, Theo tidak mencoba untuk bertanya lagi. Merupakan hal yang tabu menanyakan metode rahasia milik House lain.


"Baiklah, karena sudah tak ada lagi yang perlu kita lakukan disini, lebih baik segera bersiap. Kita akan melakukan perjalanan kembali ke kota Alknight." Kata Theo.


Beberapa saat kemudian keduanya melanjutkan perjalanan untuk kembali ke kota. Perjalanan kembali terasa lebih mudah, karena selain Theo masih menghafal dengan baik jalannya, pernak-pernik khusus dari bunga Arseni yang di berikan oleh para pengerajin desa tersembunyi sebagai hadiah perpisahan untuk keduanya, sangat berguna untuk menghalau sebagian besar Spirit Beast.


**


(Aula utama House Alknight)


"Tuhanku, syukurlah kau baik-baik saja!" Kata Master Estro, tetua penjaga Aria, ketika melihat Aria kembali dengan selamat.


Dia kemudian segera berjalan dengan cepat mendekati Aria. Terlihat akan memeluk gadis ini. Namun tatapan tajam Aria segera menghentikan langkahnya.


"Ahhh.. maafkan sikap tak sopanku ini nona muda!" Master Estro mulai terlihat kikuk menyadari sikapnya memang tak pantas bagi seorang tetua dari House sebesar Braveheart.

__ADS_1


"Hmmmm…. Dasar penyembah harga diri!" Kata Theo mencela melihat kejadian itu.


"Apa kau bilang?" Tanya Aria, melotot kearah Theo Ketika mendengar celaannya.


"Aku bilang penyembah harga diri, terus kau mau apa?" Jawab Theo, dengan ekspresi datar.


"Kau berani?" Aria mulai mengeluarkan pisau kecilnya lagi, menatap tajam kearah diantara dua kaki Theo.


Melihat hal itu, benda diantara dua kaki Theo segera mulai merinding lagi. "Sudah kubilang, berhenti melihat bendaku dengan tatapan menyeramkan itu! Dan untuk apa juga kau selalu mengeluarkan pisaumu!" Bentak Theo.


"Kau masih bertanya untuk apa? Sekali lagi membentakku, aku akan memotong benda kotormu itu sekarang juga!" Bentak Aria balik. Tatapan matanya semakin menyeramkan.


Ketika Theo dan Aria mulai berdebat, setiap orang di aula utama yang mendengar perdebatan keduanya, entah itu para tetua House Alknight, maupun anggota perwakilan dari house Braveheart, mulai saling menatap satu sama lain dengan tatapan canggung.


"Benda kotor?"


"Memotong?"


Melihat arah tatapan Aria, Master Estro mulai mengulangi setiap kata-kata canggung yang di ucapkan oleh Aria. Pandangannya kosong untuk sementara waktu, menolak apapun yang terlintas dipikirannya.


Kemudian setelah beberapa saat, dia mulai memandang Theo dengan tatapan penuh amarah.


"Seharusnya aku tau, kau adalah bocah bejat yang tak bisa di percaya!" Bentak Master Estro, auranya mulai bocor.


Melihat hal itu, Theo mundur satu langkah. Dia tahu, dalam situasi ini, dia tak akan bisa menjelaskan apapun secara baik-baik kepada tetua di hadapannya. Semua penjelasannya akan menjadi kesalah pahaman.


"Master Estro, jaga sikapmu! Kalau memang dia telah melakukan hal yang kau pikirkan, mana mungkin dia masih berdiri sehat dan tetap hidup seperti sekarang!"


"Apa kau berencana menodai nama baikku?" Disaat situasi genting ini, Aria tiba-tiba angkat bicara untuk meredam situasi.


Aura Master Estro segera kembali mereda ketika mendengar kata-kata Nona mudanya. "Nona muda, bukan begitu maksudku!" Katanya mulai panik.


"Sudah..! Sekarang diam!" Bentak Aria.


"Baik!" Jawab Master Estro singkat, mulai meringsut mundur lagi memasuki barisan. Namun sesekali dia masih menatap kearah Theo yang berada di sebelah Aria.


Saat situasi sudah kembali mereda, Theo yang bisa bernafas lega hanya bisa berbisik mengucapkan terima kasih kepada Aria.

__ADS_1


"Jangan berterima kasih, urusan kita yang tadi belum selesai!" Kata Aria dingin, ketika mendengar ucapan terima kasih Theo.


Theo akan membalas ucapan Aria, namun kata-katanya terhenti karena mendengar pintu aula utama di buka dengan keras.


*Braaaakkkkk……


"Dasar putra kurang ajar!" Tiba-tiba suara keras terdengar. Begitu pintu terbuka.


"Kau bilang hanya akan melakukan pelatihan tertutup di tempat aman! Namun nyatanya, kau malah pergi ke wilayah bagian dalam Hutan Pinus Beku yang sangat berbahaya!"


"Dan lagi, hanya seorang diri tanpa pengawal sekalipun!" Bentak Lord Arduric. Kini dia berjalan memasuki aula utama dengan langkah lebar, di temani Bosweric di sebelahnya.


Berbeda dengan reaksi Master Estro yang terlihat sangat lega dan bersyukur ketika melihat Aria kembali, reaksi Lord Arduric ketika pertama kali melihat Theo adalah memakinya.


"Ahhh… ayah, bukan begitu…"


"Diam! Bukan begitu apa? Aku sudah mendengar semua yang terjadi dari Master Estro!" Bentak Lord Arduric memotong kata-kata Theo.


"Paman…" Melihat ayahnya sangat marah, Theo mengalihkan pandangannya kearah Bosweric, memasang sedikit ekspresi memelas. Berharap mendapat pembelaan.


"Kenapa kau melihatku? Yang kau lakukan memang salah! Dasar bocah ceroboh!" Namun, bukannya memberi pembelaan, Bosweric malah ikut memaki Theo.


"Hahh…." Merasa tak ada jalan keluar, Theo hanya bisa menghela nafas. Mulai menyiapkan mentalnya. Dia tahu akan segera mendapat cercaan nasehat dan makian selama berjam-jam setelah ini.


Dilain sisi entah kenapa dia juga merasa hangat di hatinya, merasa bahwa kedua orang ini peduli kepadanya. Dia tahu mereka hanya merasa cemas dan khawatir.


Beberapa saat kemudian, tak lama setelah makian ayah dan pamannya agak reda, langkah terburu-buru lain terdengar dari arah pintu masuk aula utama.


Jasia dan Kalina tampak berusaha menerobos penjagaan, sementara para penjaga yang mengetahui bahwa kedua gadis ini memiliki hubungan dekat dengan Theo, tak berani terlalu kasar. Hal ini akhirnya membuat keduanya bisa menerobos masuk ke aula utama.


Dan ketika kedua gadis ini melihat Theo yang berada di tengah ruangan…


"Kak Theo…!" Kalina berteriak penuh semangat.


Berkebalikan dengan Kalina, Jasia justru mulai menangis. Tanpa berkata-kata, dia kemudian berlari kearah Theo, memeluknya dengan erat.


"Tuan muda, syukurlah.. syukurlah kau baik-baik saja." Kata Jasia ditengah tangisnya dalam posisi memeluk Theo.

__ADS_1


Theo yang merasa terkejut dengan sikap Jasia yang agak berlebihan, menjadi kikuk dan tak tahu harus berbuat apa, secara reflek akhirnya dia hanya bisa memeluk balik gadis tersebut.


Namun, Theo tak sadar. Aria yang tepat berada di sebelahnya, kini mulai mengeluarkan pisau kecilnya lagi. Bersamaan dengan itu, aura yang sangat dingin bocor dari tubuhnya. Dia menatap Theo yang sedang memeluk Jasia, dengan tatapan mematikan.


__ADS_2