Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
221 - Sudah Berakhir


__ADS_3

(Medan pertempuran utara, House Wildbear+Bandit Lebah Hitam+House Braveheart, melawan House True Alknight)


*Dentang….!!!


Terdengar suara benturan ringan khas logam yang saling beradu. Bersamaan dengan suara tersebut, sebuah pedang tampak terbang tinggi, terlempar keatas.


"Bila kau punya permintaan terakhir, katakan sekarang!" Kata Theo. Sambil memainkan pisau-pisau lemparnya.


Saat ini, ia sedang menatap tajam kearah Master Rodric yang tengah besimpuh dalam kondisi tubuh penuh luka tusukan parah. Darah segar juga terus mengalir dari puluhan luka yang ada di tubuhnya tersebut.


"Hmmmm… andai saja kau lahir lebih awal!" Gumam Master Rodric. Kemudian menatap kearah langit biru diatas.


Mendengar Master Rodric yang sudah diambang kematian mulai menggumamkan sesuatu, Theo hanya diam, tak memberi tanggapan apapun, memilih menjadi seorang pendengar yang baik. Sambil beberapa kali melemparkan pisaunya kearah beberapa Knight House True Alknight yang berusaha mendekatinya.


"Dari awal ketika aku mulai menceritakan kisahku dengan panjang lebar, kau tahu bahwa aku sedang berupaya mengulur waktu bukan!" Kata Master Rodric.


Kini ia mengalihkan pandangannya yang semula menatap kearah langit biru, ganti kearah Theo. Master Rodric juga mulai memasang senyum sederhana. Tampak tak memiliki penyesalan atau rasa takut apapun meskipun tahu akan segera mati.


"Bisa di bilang memang seperti itu. Lagi pula, dengan kedatangan House Braveheart, akhir dari pertempuran sudah di putuskan. Jadi, apapun yang hendak kau rencanakan, itu percuma!" Jawab Theo.


"Hahhahahahah…! Aku sungguh menyesal tak sempat mengenalmu lebih lama lagi!" Kata Master Rodric.


*Booommmm….!!!!


*Boooommmm….!!!


*Boooommmmm….!!!


Ketika Master Rodric masih terlibat obrolan dengan Theo, suara ledakan gelombang hawa dingin besar, tiba-tiba terdengar mengguncang medan pertempuran, gelombang ledakan ini tampak semakin lama semakin mendekati posisi dimana Theo dan Master Rodric sedang mengobrol.


Master Rodric yang merasakan gelombang ledakan ini, sedikit menoleh untuk melihat siapa yang berupaya melakukan langkah bergegas untuk mencapai posisi nya tersebut. Dan seolah sudah menduga siapa orang yang berusaha mendekat ini, ia hanya memberi pandangan sekilas sebelum kembali menatap Theo yang ada di hadapannya.


"Permintaan terakhir! Aku tak akan bertanya lagi setelah ini!" Kata Theo. Kini mulai berhenti memainkan pisau-pisaunya.


Master Rodric yang mendengar ancaman Theo, masih mempertahankan senyum sederhananya, kemudian segera menyampaikan permintaan terakhir.


"Kota Seribu Salju! Itu adalah nama kota tempat aku mulai merintis jalan Knightku! Ditempat itu pula saat ini tinggal istri serta putra kecilku!" Kata Master Rodric.


Ketika mulai menceritakan keberadaan keluarganya, senyum sederhana di wajah Master Rodric tampak memudar. Sorot mata tanpa kenal rasa takut yang dari tadi tampak di kedua matanya, kini juga digantikan dengan tatapan sayu. Penuh kerinduan.


"Bila kau punya waktu luang di masa depan, tolong kunjungi mereka, sampaikan salam hangat dariku! Dan bilang pada putraku, maaf karena setelah ini, tak bisa lagi menemaninya memancing!" Titik-titik air mata mulai jatuh dari kedua kelopak mata Master Rodric saat ia selesai mengucapkan permintaannya ini.


"Dan terakhir!" Lanjut Master Rodric, kali ini tatapannya berganti kearah Ivanovic yang dari tadi terus melancarkan serangan dahsyat, berusaha menembus formasi House Braveheart yang menghalanginya.

__ADS_1


"Bila berkenan, bisakah kau ampuni Tuan Ivanovic? Kau tak perlu membunuhnya bukan! Cukup memenjarakannya!"


"Bagaimanapun juga, semua yang ia lakukan selama ini, hanyalah untuk kebaikan House!" Kata Master Rodric, menutup kalimatnya dengan kembali memandang kearah Theo.


"Apa dua hal tadi adalah permintaan terakhirmu? Tak ada yang lain lagi?" Tanya Theo.


"Tidak ada, cukup itu saja!" Jawab Master Rodric singkat.


"Baiklah! Untuk permintaan pertama, aku berjanji padamu, setelah pertempuran ini berakhir, akan kukunjungi mereka! Istri dan putramu akan mendapat perawatan selayaknya!"


"Bila putramu mampu menumbuhkan Element Seednya, memungkinkan untuk menempuh jalan seorang Knight, maka aku sendiri yang akan merawat serta melatihnya! Dan sebagai penghargaan atas semua jasamu pada House selama ini, aku akan mempertimbangkan memberikan nama Alknight padanya!" Kata Theo, dengan sorot mata tajam penuh ketulusan saat mengucapkan setiap kalimatnya.


Hal ini membuat sudut hati kecil terdalam dari Master Rodric yang mendengarnya, segera menjadi hangat. Sangat tersentuh.


"Namun untuk permintaan kedua. Mohon maaf, aku tak bisa memenuhinya!" Kata Theo lagi. Membuat Master Rodric sedikit terhenyak.


Namun, kondisi terhenyak dari Master Rodric ini, tak bertahan terlalu lama, ia segera menyadari bahwa permintaan terakhirnya yang memohon ampunan untuk nyawa Ivanovic adalah hal yang sangat naif. Tidak mungkin terjadi.


"Aku mengerti!" Kata Master Rodric pelan, sebelum mulai menutup kedua matanya.


Dan tanpa mengatakan apapun lagi, Theo dengan gerakan cepat, melempar salah satu pisaunya. Tepat kearah dahi Master Rodric yang tampak telah siap menerima kematiannya, sama sekali tak membuat bentuk pertahanan apapun.


Hal ini membuat pisau Theo, dengan mudah menembus kepala Master Rodric. Membunuh nya seketika tanpa rasa sakit.


Sore itu, Rodric Alknight, mantan tetua ketujuh House Alknight, pria yang memegang teguh prinsip keadilan dalam House, pria yang memiliki dedikasi tinggi serta menjadi teladan bagi banyak generasi muda. Menghembuskan nafas terakhirnya dalam medan tempur.


Disaat Theo baru saja selesai menghabisi Master Rodric, Ivanovic yang akhirnya berhasil menembus pertahanan House Braveheart, mendarat tepat tak jauh di hadapannya.


Dan begitu melihat pemandangan dari Master Rodric yang mati dalam kondisi menggenaskan, dimana tubuhnya berdarah-darah penuh luka. Ekspresi wajah Ivanovic segera menjadi penuh kemarahan.


Bagaimanapun juga, dari semua orang, Rodric adalah orang yang paling ia percayai. Orang yang selama ini dengan tulus selalu setia dan memberinya dukungan dalam kondisi apapun. Ivanovic bahkan sudah menganggap Rodric sebagai adiknya sendiri.


"Ayah…!"


Disisi lain, melihat Ivanovic akhirnya sampai, Ioric langsung berteriak keras, memanggil ayahnya. Namun, berbeda dengan harapan Ioric yang mengira sang ayah akan segera menghampirinya. Tatapan Ivanovic justru terkunci kearah Theo.


"THEO…..!!!! KAU HARUS MATI…!!!" Teriak Ivanovic, penuh amarah.


Bersamaan dengan teriakannya ini, aliran Mana berbentuk buaya buas yang dari awal sudah tampak begitu deras menyelimuti tubuh Ivanovic, kini menjadi semakin bergerak liar dan kacau.


Selain aliran Mana tersebut, pedang kuno yang ia pegang kini juga mulai bergetar hebat, memancarkan aura dingin yang begitu intens.


"Itu berbahaya!" Kata Master Estro, yang saat ini tampak memimpin pasukan House Braveheart untuk bergerak maju kedepan. Berniat menyusul dan memberi dukungan pada Theo.

__ADS_1


"Hmmm… dia ingin bertarung sampai mati?" Gumam Master Dario, yang saat ini juga bergerak maju kedepan, memimpin pasukan House Wildbear serta kelompok Bandit Lebah Hitam.


Sementara itu, sambil menerjang kedepan, kelompok Bandit yang ia pimpin, tak henti-hentinya membantai pasukan House True Alknight yang menghadang mereka. Masih tetap berusaha melakukan perampokan dalam situasi sengit ini.


Disisi lain, Theo yang mendapatkan tatapan sengit penuh amarah dari Ivanovic, saat ini memandang balik pria tua di hadapannya dengan tatapan yang tak kalah sengit. Kemudian mulai memasang seringai di wajahnya.


"Paman, apa kau tak melihat sekitar? Pemenang dalam pertempuran yang berlarut-larut ini telah ditentukan!" Kata Theo. Masih dengan seringai lebarnya.


"Diam kau bocah tengik! Aku tak peduli lagi!" Bentak Ivanovic, kemudian mulai maju menerjang kedepan.


Melihat ini, Theo segera kembali memainkan pisau-pisau kecilnya. Terlihat melakukan gerakan akan melempar pisau.


*Wuuuussshhh….!!!


Suara jalur angin yang terpotong oleh laju pisau, segera terdengar bersamaan dengan Theo yang akhirnya melemparkan salah satu pisaunya.


Namun, ketika Theo benar-benar melemparkan pisaunya, itu bukanlah lemparan yang tertuju pada Ivanovic, melainkan justru pada putranya, Ioric yang berada tak jauh dari lokasi.


*Jlep….!


Lemparan Theo segera mendarat tepat pada dahi Ioric. Membuat sepupunya yang sama sekali tak menduga akan menjadi target serangan, mati dengan mata terbuka lebar. Tampak sangat tak terima dengan cara kematiannya yang sungguh memalukan.


"Kau!"


Ivanovic yang melihat hal ini, segera menghentikan arah terjangannya, menatap dengan tatapan bergetar kearah tubuh putranya yang telah tumbang.


*Woooooshhhh…..!!!


Namun, seolah masih kurang, pisau lempar Theo yang masih tertancap pada dahi Ioric yang telah tumbang, mulai memancarkan Mana api ganas. Membakar tubuh sepupunya dengan liar.


"THEOOOOOOO……!!!!!"


Melihat kondisi menggenaskan pada jasad putranya, kini bukan hanya mata Ivanovic yang bergetar. Tapi seluruh jiwa dan mentalnya juga ikut bergetar. Dengan mata memerah, ia kemudian menerjang maju kedepan.


Tapi, hanya separuh jalan ia bergerak. Sebuah serangan menyelinap beratribut es, menerjang dari arah belakang. Membentur tubuhnya dengan keras. Membuat laju terjangan Ivanovic terhenti, tubuhnya dengan keras menghantam tanah di bawahnya.


Dan begitu tubuh Ivanovic terjerembab pada retakan tanah yang hancur, serangan lain segera menghujam kearahnya. Kali ini berupa tebasan-tebasan elemen api yang tajam.


Dua serangan ini tak lain berasal dari Master Estro serta Master Dario yang akhirnya sampai di formasi garis tengah pasukan House True Alknight.


Memanfaatkan kondisi mental Ivanovic yang tengah kacau, keduanya dengan cerdik melancarkan serangan dari teknik terkuatnya masing-masing pada titik buta dari gerakan menerjang yang dilakukan Ivanovic.


"Gouuchhhh….!!!!"

__ADS_1


Ivanovic segera batuk darah begitu menadapat dua serangan tersebut. Ia masih berusaha mengatur nafasnya sampai tiba-tiba sesosok berambut putih, dengan seringai lebar. Mendarat tepat dihadapannya.


"Sudah berakhir paman!" Kata Theo dingin, sambil memainkan pisau-pisau nya.


__ADS_2