Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Lord Santiago


__ADS_3

EVENT KHUSUS MINGGU INI : POPULARITAS 800K BUKA GEMBOK DAN PUBLISH SECARA UMUM CHAPTER SPIN OFF…!


Caranya mudah, cukup sempatkan beri like serta komentar di tiap chapternya novel Seven Deadly Child ini. Atau sempatkan buka chapter2 sebelumnya yang belum sempat di like untuk sekedar memberi like atau komentar.


Event 800k Popularitas untuk Spin Off (Arthur Wild : Putra kegelapan) Dimulai…!


Periode event : Minggu 28 Juni - Sabtu 04 Juli 2020.


Sekian, selamat menikmati Chapter terbaru ^^


------------


"Berikan obat ini secara rutin kepada tuan muda Arthur dalam satu bulan kedepan, maka dia akan Pulih secara perlahan!" Kata Wanita tua kepada Theo, setelah dia selesai melakukan perawatan kepada Arthur.


"Terima kasih!" Jawab Theo singkat, kemudian menyimpan pill obat yang diberikan padanya.


"Ngomong-ngomong kalau boleh tau, bagaimana saya bisa memanggil senior?" Kata Theo.


"Ohh… maafkan ketidaksopanan wanita tua ini! Tuan muda bisa memanggil saya Rielsa!"


"Terima kasih senior Rielsa karena sudah memberitahu metode merawat kondisi Arthur dan telah berkenan memberi beberapa pill obat!" Jawab Theo, sambil memberi salam tangan sopan.


Theo adalah orang dengan tipe sikap sederhana, seperti cermin, dia akan memberi ketulusan bila orang lain tulus kepadanya, namun begitu pula sebaliknya, bila ada orang yang bersikap tak tahu diri, dia bisa membalas lebih tak tahu diri lagi.


Melihat nenek Rielsa dengan tulus segera merawat Arthur ketika bocah ini tumbang, meskipun iblis kontrak milik Arthur baru saja menghabisi salah satu orangnya, maka Theo tanpa berfikir terlalu panjang membalas dengan sikap tulus yang sama.


"Tidak masalah, bagaimanapun juga, kalian adalah orang yang berada disisi Alejandro di saat-saat terakhirnya. Aku sebagai saudara perempuan, tentu saja harus memperlakukan kalian dengan layak!" Jawab Rielsa. Kemudian mulai menoleh kearah Santiago. Menatapnya dengan tatapan isyarat.


Mendapat tatapan dari Rielsa, Santiago terlihat berfikir sejenak.


"Brother Theo!"


"Ohh.. apakah aku boleh memanggilmu dengan sebutan Brother? Karena sepertinya umur kita tak terpaut terlalu jauh!" Kata Santiago.


"Silahkan, senyaman yang tuan muda mau!" Jawab Theo.


"Hmmm… kau juga boleh memanggilku dengan sebutan Brother kalau mau!" Jawab Santiago.


"Baiklah, aku terima niat baik Brother Santiago!"


Mendengar itu, senyum tipis yang hampir tak terlihat menghiasi wajah pucat Santiago untuk sesaat, sebelum kembali menghilang.


"Brother Theo, aku bukan orang yang pintar dengan kata-kata, namun sebagai seorang tuan muda, dan sebagai seorang anak, aku ingin mengucapkan terima kasih, karena telah mengembalikan Hell Orb ini padaku!"


"Terlebih, banyak terima kasih telah menemani saat-saat terakhir ayahku!" Kata Santiago, kini tatapannya perlahan menjadi sayu.


"Brother Santiago, tak perlu sungkan!" Jawab Theo singkat.

__ADS_1


"Hmmm… Dark Guild berhutang kepadamu! Tolong sebutkan apa yang bisa kami lakukan untuk membayarnya!" Kata Santiago.


"Sudah kubilang tak perlu sungkan! Aku melakukannya dengan tulus, lagipula akibat pertemuanku dengan senior Alejandro, itu juga memberiku sedikit keuntungan, karena kau tau sendiri aku mendapatkan iblis kontrak!"


"Jadi bisa dibilang, kalian tak berhutang apapun!" Jawab Theo.


"Tidak bisa begitu…" Santiago ingin menyanggah kata-kata tersebut, namun dengan cepat Theo memotongnya.


"Brother Santiago, kita bisa membahas hal ini lain waktu, kurasa ada yang jauh lebih penting untuk segera kau urus!" Jawab Theo, sambil menatap Santiago penuh makna.


Melihat tatapan Theo, Santiago mengangguk pelan. Terlihat mengerti. "Kau benar, baiklah kalau begitu!" Kata Santiago, tak lagi berniat mendesak Theo.


"Kurasa dengan ini urusanku sudah selesai, jadi aku mohon undur diri!" Kata Theo, memberi salam tangan sekali lagi kepada Santiago.


"Silahkan!"


Santiago membalas dengan salam tangan juga. Kemudian memberi perintah kepada Cassio yang ada di sebelahnya untuk mengantar Theo.


Dengan menggendong Arthur yang masih tak sadarkan diri dipunggungnya, Theo yang dipimpin oleh Cassio, melangkah pergi meninggalkan ruangan.


**


(Beberapa saat setelah Theo pergi)


"Nenek Rielsa, batalkan semua misi yang berhubungan dengannya!" Kata Santiago.


Sebagai orang yang dalam beberapa waktu terakhir mengurusi Guild, Santiago tau bahwa beberapa hari lalu ada sekelompok orang yang menyewa League of Assassin untuk menghabisi Theo.


"Tuan muda, apakah itu bijaksana? Selama ratusan tahun, kita tak pernah sekalipun membatalkan misi yang sudah diterima oleh Guild!"


"Saya khawatir, hal ini akan menjatuhkan prestise Dark Guild kita!"


Mendengar itu, Santiago segera mengerutkan keningnya, sambil menatap tajam kearah tetua yang baru saja mempertanyakan keputusannya.


"Hmm… kalau begitu, dari sekarang batalkan semua misi! Mulai hari ini, Dark Guild akan melakukan isolasi! kita akan fokus membersihan para kecoak yang ada didalam Guild!" Jawab Santiago. Dengan tatapan penuh ketajaman. Cenderung menyeramkan.


"Ituu…!"


Kata-kata Santiago segera membuat deretan tetua yang ada di dalam ruangan terhenyak, ini adalah keputusan besar yang tak pernah terjadi sebelumnya.


"Apalagi yang kalian pertanyakan? Itu adalah perintah! Dan ingat, jangan ada lagi yang memanggil Santiago dengan sebutan tuan muda!" Kata Nenek Rielsa. Kemudian mulai menunduk bersujud di hadapan Santiago.


"Mulai hari ini, dia adalah Lord dari Dark Guild!"


Para tetua yang mendengar hal itu, kini mulai sadar kembali dari keterkejutan masing-masing, mereka kemudian dengan cepat segera mengikuti apa yang di lakukan oleh Nenek Rielsa, bersujud dihadapan Santiago.


"Kami memberi hormat kepada Lord Santiago!" Kata semua tetua secara serentak.

__ADS_1


***


(Didepan Nameless Market)


"Senior, terima kasih telah mengantar!" Kata Theo kepada Cassio, sambil menunduk mencoba memberi salam. Dia tak bisa memberi salam tangan seperti biasa karena sedang menggendong Arthur.


"Tidak masalah, mampirlah lagi lain waktu!" Jawab Cassio. Kemudian memberi salam tangan kepada Theo.


Merasa urusannya sudah selesai dengan baik, Theo yang ingin segera merawat Arthur, mulai melangkah pergi. Namun, baru beberapa langkah Theo berjalan, hawa membunuh yang sangat pekat mengunci posisinya.


"Hmmm… akhirnya kau keluar juga!"


Hawa membunuh ini berasal dari pasangan Knight berpakaian serba hitam yang kini terlihat sedang berdiri di salah satu atap gedung, tak jauh dari posisi Theo berada.


"Hmmm… siapa kalian?" Tanya Theo, sambil menatap tajam kedua orang ini.


Merasakan hawa membunuh tersebut, Cassio yang awalnya sudah akan masuk kembali kedalam Nameless Market, segera menghentikan langkah kakinya, melihat apa yang terjadi.


"Kalian?"


Cassio agak berseru dengan nada heran, sesaat setelah menyadari siapa dua orang yang tengah mengeluarkan hawa membunuh pekat tersebut.


"Senior Cassio, mohon maaf, kami tak tahu apa hubunganmu dengan pemuda ini, tapi dia adalah target dari Guild. Jadi, berdasarkan aturan Guild, kau tak boleh ikut campur!" Kata sang Kakak dari duo bersaudara pembunuh bayaran ini.


Mendengarnya, Cassio mulai mengernyitkan dahinya. "Ohh, tuan muda ini target dari Guild?" Tanya Cassio.


"Yah.. itu benar! Jadi tolong biarkan kami menyelesaikan misi dengan cepat!" Jawab Sang adik.


Sesaat kemudian, kedua pembunuh bayaran ini mulai mengeluarkan auranya masing-masing, yang merupakan General tahap awal.


Melihat itu, Cassio segera melangkah maju untuk menghentikan kedua orang ini, namun Theo bergerak lebih cepat dengan mendatanginya terlebih dahulu.


"Senior, boleh titip kawanku ini sebentar?" Kata Theo, seraya membaringkan Arthur di hadapan Cassio.


"Tuan muda…!"


"Senior, aku tau kau mencoba berniat baik, tapi dari yang kusimpulkan ketika mendengar percakapan kalian, aku bisa menduga kau akan dalam posisi yang tidak baik bila bergerak membantuku!"


"Ituu…."


Cassio ingin kembali menjelaskan, namun Theo kembali memotongnya.


"Kuhargai niat baikmu! Tapi biar kuurus sendiri masalah ini!"


Bersamaan dengan selesainnya kata-kata Theo, aura kuat mulai merembes keluar dari dalam tubuhnya.


Merasakan aura itu, Cassio tak lagi berniat menyanggah kata-kata Theo, kini dia justru sangat tertarik untuk melihat apa yang coba akan dilakukan pemuda di hadapannya ini.

__ADS_1


Bagaimanapun juga dia hanyalah seorang Immortal tahap bumi, sementara lawannya adalah dua orang General tahap awal. Cassio juga tak merasakan ada aura kegelapan yang dikeluarkan oleh pemuda ini, sehingga dia tahu bahwa Theo tak berniat memanggil iblis kontraknya.


'Menarik! dengan cara apa kau akan menyelesaikan masalahmu?' Gumam Cassio dalam hati, sambil terus mengamati setiap gerak-gerik Theo.


__ADS_2