
"Sialan…!! Sialaaann…!!! Aku akan mati, aku akan mati! Kita akan mati!" Teriak Arthur dengan panik. Ketika melihat ledakan besar yang sangat mengerikan dihadapannya.
Sementara Aria yang ada disebelahnya, tak mampu berkata apapun, dia hanya melihat ledakan besar tersebut dengan tatapan kosong.
Berbeda dengan keduanya, Theo terlihat sedikit lebih tenang, dia kemudian dengan cepat segera memanggil Joy kecil.
"Tuuu….!!!"
Joy kecil bersuara lucu seperti biasa begitu keluar, tampak ingin menyapa Theo dengan manja. Namun beberapa saat kemudian, seperti digerakkan oleh insting, Joy kecil yang merasakan bahaya datang mendekat begitu keluar dari segel, segera membentuk aura pelindung untuk melindungi Theo.
*Booooommmmm….!!!!
Ledakan dahsyat menggema keras.
***
"Hahhh… hahhh… hahhh…. " Beladro bernafas dengan sangat berat, tubuhnya yang penuh bekas luka, kini tampak semakin mengerikan karena warna kulitnya memutih, sangat pucat.
"Ini sudah berakhir saudaraku! Terima kekalahanmu! Serahkan Orb itu!" Kata Beladro, dengan nafas putus-putus.
"Uhukkk… uhuukkk…." Alejandro yang ada di hadapan Beladro, terbatuk beberapa kali, dia juga beberapa kali memuntahkan darah segar dari mulutnya.
Kondisi Alejandro sendiri, jauh lebih parah dari Beladro, selain penuh luka parah, tubuhnya juga pucat pasih seperti tanpa darah sedikitpun. Selain itu, tubuhnya kini terlihat kering kerontang, tinggal kulit dan tulang. Dia bahkan seperti tak bisa menggerakkan seujung jaripun.
"Tak kusangka, akhir hidupku akan seperti ini. Uhuukkkk…" Kata Alejandro, dengan wajah putus asa.
Dia benar-benar tak menduga, setelah semua pengorbanan yang dia lakukan, untuk mengeksekusi teknik terhebat miliknya, yang harus di tukar dengan nyawa, ternyata masih belum juga bisa membunuh adik liciknya ini.
"Tak bisakah kau melepaskan Santiago? Setidaknya demi tali persaudaraan kita. Bagaimanapun juga, dia adalah keponakanmu! Dia masih memiliki darah keluarga Black kita!" Dalam keputusasaannya, Alejandro hanya bisa mulai memohon untuk keselamatan anaknya.
"Hmmm… saudaraku! bila itu adalah permintaan terakhirmu, maafkan aku! Aku tak bisa melakukannya!"
"Aku tak bisa membiarkan seorang pemuda yang pasti berpotensi mengancam posisiku di masa depan, untuk tetap hidup."
"Kau yang paling tahu, aku adalah tipe orang yang tidak suka ada sejumputpun rumput liar, tumbuh di halaman belakang rumahku!" Jawab Beladro, dengan ekspresi menyesal.
"Sungguh takdir yang sangat kejam." Alejandro yang mendengar jawaban dari adiknya, terlihat tak begitu terkejut, dia seperti tahu adiknya ini akan menjawab seperti itu.
"Sudah, terima saja takdir masing-masing, sekarang serahkan Orb itu!" Beladro kembali meminta Hell Orb yang disimpan oleh Alejandro.
"Sudah kubilang, aku tak akan pernah menyerahkannya padamu! Jika kau menginginkannya, periksa dan ambil sendiri dari mayatku!" Jawab Alejandro.
"Kenapa sampai akhirpun kau masih sangat keras kepala! Kalau memang seperti itu keinginannmu, maka aku akan mengabulkannya!" Jawab Beladro dingin, sesaat kemudian dia mulai mengangkat pedangnya, bersiap menebas leher Alejandro.
__ADS_1
***
(Beberapa saat sebelumnya)
"Uhuukkk… uhuukkk…. Aku belum mati, aku belum mati!" Teriak Arthur. Dia juga dengan panik memeriksa setiap bagian dari tubuhnya.
Saat ini, ditengah kepulan debu hasil dari ledakan dahsyat yang baru saja terjadi, yang menghancurkan wilayah sekitar menjadi rata dengan tanah bersama puing-puing reruntuhan tebing berserakan dimana-mana, terlihat kelompok Theo masih berdiri tegak tanpa terluka.
"Aura pelindung tadi? Joy kecil!" Berbeda dengan Arthur, Aria yang pernah melihat aura pelindung milik Joy kecil, dengan cepat segera tanggap tentang situasi yang terjadi.
"Tuuu……" Seolah ingin menjawab seruan Aria, Joy kecil bersuara ringan dengan polos seperti biasa.
"Ahhh… aku tahu, itu pasti kau..!" Mendengar suara Joy kecil, Aria segera menoleh dan meraihnya dari pundak Theo, mulai memeluknya dengan gemas.
"Anak pintar, anak pintar, lagi-lagi kau menyelamatkan mama!" Kata Aria, sambil memeluk erat Joy kecil.
"Tuuu…..!!!" Joy kecil sendiri hanya bisa bersuara ringan lagi, sambil memasang ekspresi memohon kearah Theo, seolah ingin agar dia mengambilnya dari pelukan Aria.
"Apa? Joy kecil? Jadi aura pelindung tadi berasal dari Joy kecil?" Tanya Arthur dengan antusias ketika mulai menangkap apa yang terjadi.
"Itu sangat luar biasa! Aura pelindung itu bahkan bisa menahan ledakan sedahsyat itu?" Tanya Arthur lagi.
"Boss, kenapa kau tak pernah bilang sebelumnya kalau Joy kecil memiliki kemampuan yang sangat luar biasa seperti ini?" Arthur kembali menyambung pertanyaannya dengan pertanyaan lain.
Namun, Theo yang dari tadi hanya diam, tetap tak menjawab apapun pertanyaan Arthur, dia malah memuntahkan seteguk darah segar, sejurus kemudian memegang dadanya.
"Boss…!!!"
"Ada apa denganmu?"
Arthur dan Aria yang melihat Theo tiba-tiba muntah darah, segera bertanya khawatir.
"Sudah kubilang, itu terlalu beresiko! Bukankah aku menyarankan untuk memilih opsi meninggalkan tempat ini saja tadi!" Kata Tiankong, begitu melihat kondisi Theo.
Sebelumnya, ketika kedua orang tua yang sedang mereka amati pertarungannya, terlihat akan melancarkan serangan pamungkas masing-masing, Tiankong sudah memerintahkan Theo untuk berhenti mengamati dan segera pergi menjauh.
Namun, Theo yang awalnya mendesak untuk pergi, justru malah bersikeras untuk bertahan, Tiankong yang dapat membaca pikiran Theo, segera memberi opsi untuk menggunakan pelindung aura milik Joy kecil.
"Sekarang apa lagi? Sudah kuperingatkan bahwa meskipun dapat menahannya, namun ledakan sebesar itu tetap akan mengguncang ranah jiwamu, dan itu jelas melukai Element Seedmu!"
"Dan luka dari ledakan seperti itu, jelas tidaklah ringan!" Kata Tiankong lagi.
"Aku masih mampu menahannya!" Jawab Theo singkat.
__ADS_1
"Ck... asal kau tahu, meskipun kondisi lawan dari pria tua tersebut sudah terluka parah, dia tetaplah seorang dengan kelas King! Jangan biarkan dirimu terjebak dengan perasaan emosional yang tak berguna! Kau tak berhutang apapun pada pria tua itu!" Bentak Tiankong.
"Aku tahu! tapi aku tetap tak bisa menahan rasa marahku!" Kata Theo dingin.
"Hahh... oke baiklah, jadi apa lagi yang akan kau lakukan sekarang! Melompat kesana dan mengambil pria itu begitu saja dari depan hidung seorang King? dengan kondisi tubuhmu sekarang? Sungguh lelucon!" Dengus Tiankong.
"Hmmm…. Kurang lebih seperti itu!" Jawab Theo singkat.
Sesaat setelah Theo berkata seperti itu, dia mulai sedikit mengangkat kakinya kanannya, mengarahkan ujung sepatunya kebawah, kemudian mengetuknya beberapa kali ketanah.
*Tuk… tuk… tuk…
*Bzzzttt…. Bzzztttt….
Bersamaan dengan gerakan mengetuk tanah tersebut, listrik merah terang perlahan mulai menyalah di sepatu Theo
Melihat hal itu, Tiankong yang kini sadar apa yang akan dilakukan Theo, segera akan memberi peringatan. Namun, sebelum dia sempat berkata apapun....
*Bzzzttt… Bzzztt….
*Woooshhhh…..
Dengan cepat Theo menghilang dari hadapannya.
****
(Lokasi pertempuran)
*Slaassshhhh….!
Suara ringan tebasan pedang terdengar membelah angin ketika Beladro mengayunkan pedangnya kearah leher Alejandro.
Sementara Alejandro sendiri, terlihat menutup mata, sudah bersiap menerima takdir kematiannya. Namun, beberapa detik sebelum pedang Beladro menyentuh lehernya.
*Bbzzztttt…… bzztttt…..
Seberkas listrik merah berderak ringan disamping tubuhnya. Sebelum kembali menghilang.
*Wuussss…..
Bersamaan dengan menghilangnya listrik merah, suara ringan pedang Beladro yang hanya memotong udara kosong terdengar.
Tubuh Alejandro menghilang dari lokasinya bersamaan dengan menghilangnya listrik merah tersebut. Meninggalkan Beladro yang mengayunkan pedang memotong udara kosong dengan ekspresi termenung, sangat terkejut.
__ADS_1
"Apa yang terjadi? Bagaimana bisa terjadi?" Tanya Beladro kepada udara kosong, dengan tatapan tak percaya.