Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Nona Muda Lainnya


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Melihat apa yang di keluarkan Aria, seketika Theo dan Arthur saling memandang satu sama lain. Keduanya juga nampak memiliki ekspresi konyol di wajahnya.


"Jadi, itu kalian yang membeli Foundation Pill?" Tanya Theo dengan raut muka agak aneh.


"Yahh itu kami! Bagaimana? Masih mau menyombong di hadapanku hahh?" Kata Aria, penuh kebanggan.


Mendengar itu, dan melihat ekspresi penuh kebanggan Aria, Theo dan Arthur kembali saling pandang satu sama lain.


"Pffftt….!!!"


"Hahhahahha….!"


"Hahhahahhaha…..!"


Sejurus kemudian, keduanya tertawa lantang, terpingkal-pingkal sambil memegangi perut masing-masing.


"Sungguh konyol! Hahahhaha….!" Kata Theo, melihat kearah Aria sebentar, kemudian mulai tertawa lagi.


"Apa yang kalian tertawakan?" Bentak Aria, ketika melihat Theo dan Arthur bukannya terkesan ketika dia mengeluarkan Foundation Pill yang berharga, tapi malah tertawa seperti orang gila.


Mendengar itu, Theo dan Arthur bukannya berhenti tertawa, malahan tawa keduanya semakin liar. Arthur bahkan tampak tak tahan dan mulai berguling-guling dilantai.


"Ini sungguh lelucon! Boss! Apa kita beritahu saja pada mereka? Hahhahah…!" Tanya Arthur kepada Theo, sambil memegang perutnya yang mulai kram.


"Hahhaha… tidak usah! Tidak perlu sama sekali! Biarkan saja begitu! Aku ingin memberi mereka kejutan menyenangkan kedepannya! Hahahha…! Jawab Theo, juga masih tertawa lantang.


"Apa yang kalian tertawakan!" Bentak Aria lagi, tampak mulai kesal.


"Nona muda! Lupakan saja! Mereka mungkin hanya berakting bodoh, untuk menutupi rasa malunya karena item yang mereka beli, jauh dari item yang berhasil kita beli!" Kata Master Estro, menenangkan Aria, sambil melirik Theo dan Arthur dengan tatapan menghina.


Mendengar kata-kata Master Estro barusan, serta melihat tatapan menghinanya, tawa dari Theo dan Arthur malah semakin kencang lagi.

__ADS_1


"Hmmmm… sungguh menyebalkan! Aku sudah tak punya nafsu makan lagi!" Bentak Aria, seraya menginjak lantai beberapa kali, kemudian kembali memasukkan kotak tembaga Foundation Pill kedalam Spacial Ring nya, dan mulai berjalan meninggalkan restoran lantai tiga.


"Nona muda! Tunggu dulu!" Teriak Master Estro begitu Aria meninggalkan tempat.


"Hahhahah…. Boss! Entahlah, aku tak bisa berkata-kata lagi! Hahahha…!"


"Hahahha... Sialan kau! Sudah! Berhenti tertawa! Tawamu itu sungguh menular!" Jawab Theo.


"Kalian berdua! Berhenti tertawa!" Bentak Master Estro, tak tahan lagi dengan suara tawa Theo dan Arthur.


***


(Tiga hari kemudian)


"Hmmm… akhirnya sampai juga!" Kata Master Estro, begitu melihat gerbang dari Housenya, yakni House Braveheart, sudah tampak tak jauh di hadapannya.


"Nona muda, kita sudah sampai!"


"Ya! Hmmm… tapi kenapa aku tak melihat ada yang menyambut?" Tanya Aria.


"Yahh.. itu cukup aneh, biasanya Lord serta tuan muda pertama akan menyambut di depan gerbang bila anda pulang!" Kata Master Estro.


Beberapa menit kemudian, rombongan kereta perjalanan akhirnya sampai di depan pintu gerbang.


Wilayah House of Braveheart sendiri hampir sama dengan wilayah House Alknight, mereka memiliki kota pemukiman kecil yang merupakan tempat tinggal dari House-House cabang. Pemukiman kota kecil ini, dibangun mengelilingi sebuah kastil besar nan megah, yang merupakan tempat tinggal keluarga utama.


"Tetua ke 20 menyambut nona muda!"


Begitu kereta perjalanan berhenti tepat di depan gerbang, seorang pria tua segera berjalan dengan langkah kaki agak terburu menyambut rombongan Aria.


"Hmmm… tetua ke 20, dimana ayah dan kakak? Kenapa mereka tak menyambutku?" Tanya Aria, dengan raut muka kesal.


"Ituu… beberapa jam yang lalu, sebenarnya mereka dan beberapa tetua sudah bersiap menyambut dan menunggu disini, namun…"


"Namun apa? Jangan berbelit! Langsung saja!" Bentak Aria, memotong kata-kata pria tua ini.


Mendapat bentakan dari Aria, pria tua ini sedikit tergagap, kemudian dengan cepat menjelaskan secara ringkas.


Menurut pria tua ini, beberapa jam yang lalu, rombongan penyambut sudah siap di tempat, namun tiba-tiba, datang seorang wanita muda yang mengaku bernama Hella Asgard. Nona muda ketiga dari House of Asgard, satu dari 10 Biggest Knight Group yang berasal dari Ironsheild Empire.


Wanita ini, dengan sombong mengetuk papan nama House Braveheart tepat di hadapan Lord dan para tetua, kemudian mengajukan tantangan kepada tuan muda pertama House Braveheart, yakni Lucius Braveheart.


Yang di lakukan wanita ini adalah sebuah tradisi tantangan kepada suatu House, dan karena mendapat tantangan langsung di hadapan Lord, untuk menjaga harga diri House, tanpa menunda mereka segera menyiapkan arena pertarungan untuk melayani tantangan wanita ini.

__ADS_1


"Begitulah, kenapa sekarang tak ada penyambut di depan gerbang!" Kata tetua ke 20, menutup penjelasannya.


"Hmmm… Hella Asgard? Sungguh sombong! Aku ingin melihat bagaimana muka ****** ini!" Dengus Aria, moodnya yang dari awal sedang tidak baik dalam beberapa hari ini, kini semakin bertambah buruk.


"Hmmm… salah satu Nona Muda dari 10 Biggest Knight Group lainnya? Aku jadi penasaran!" Gumam Theo, yang dari tadi juga ikut mendengarkan cerita tetua ke 20.


"Hmmm... Boss! Sebaiknya mulai sekarang kita jauh-jauh saja dari Nona muda House-House besar ini! Sepertinya setiap dari mereka sama saja, suka membuat keributan dan sombong!" Dengus Arthur.


"Apa yang kau katakan?" Bentak Aria, ketika secara tak sengaja mendengar kata-kata Arthur.


"Hmmm kau lihat, benar bukan? Selalu saja membuat keributan!" Kata Arthur lagi, begitu Aria membentaknya.


"Hahahhah… apa kalian tak capek ribut-ribut terus?" Kata Theo, melihat Arthur dan Aria kembali akan bertengkar.


Sementara tetua ke 20, kini menatap Theo dan Arthur dengan tatapan sedikit ngeri.


'Siapa dua pemuda ini? Berani sekali berbicara seperti itu pada Nona Muda? Apa mereka tak takut mati?' Gumamnya dalam hati.


"Hmmm… Bocah! Berhenti mengganggu Nona muda!" Dengus Master Estro.


"Siapa yang kau panggil bocah? Dasar pak tua!" Dengus Arthur balik.


"Kauu…."


"Sudah diam! Kenapa juga kau ikut campur!" Bentak Aria, memotong kata-kata Master Estro.


Sementara Theo yang melihat hal ini, mulai memijit keningnya, tak tahu lagi bagaimana bersikap menghadapi orang-orang konyol di sekitarnya.


**


(Arena pertempuran House of Braveheart)


*Klang… klang… klang….


*Roaaarrr…..!


Ketika kelompok Theo memasuki Arena pertempuran, suara benturan senjata, serta raungan dari seekor Spirit Beast terdengar keras menyambut mereka.


"Hmmm, pertempuran sepertinya sudah akan berakhir!" Kata Theo, ketika melihat kearah arena.


"Woahh, apakah itu Sabertooth?" Tanya Arthur antusias, ketika melihat sesosok Spirit Beast berbentuk Harimau dengan bulu putih polos, yang memiliki dua taring besar, diatas arena.


Spirit Beast ini, memiliki tubuh seukuran pria dewasa, dan saat ini tampak dengan garang melindungi wanita muda berambut pirang yang terluka di belakangnya.

__ADS_1


"Yah, itu adalah Sabertooth, salah satu Ancient Beast yang memiliki dual atribut, Air dan angin!" Kata Theo. Menjawab pertanyaan Arthur.


__ADS_2