Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
265 - Rasa Hormat


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Menarik!" Gumam Theo, setelah mendengar jawaban dari Thomas, seraya melirik kearah bocah kurus yang sedang tak sadarkan diri.


"Baiklah karena semua harta telah di bereskan, lebih baik sekarang kita kembali bergerak! Suara ribut dari pertempuran tadi pasti menarik perhatian!" Kata Theo.


"Anu Boss, apa yang akan kita lakukan pada dua bocah ini?" Tanya Yaseya.


"Untuk sementara kita bawa mereka dulu!" Jawab Theo singkat.


Dengan perintah Theo ini, kelompok Bandit Serigala kembali bergerak.


***


*Boooommmm….!!!


*Booommm….!!!


*Boooooommmmm….!!!


Pada salah satu sudut Gurun Darah Gersang, kelompok Bandit Serigala secara kebetulan kembali bertemu dengan kawanan Bandit lain. Tanpa banyak bicara, Theo kembali memerintahkan kelompoknya untuk menghabisi seluruh Bandit, tak menyisakan satupun untuk bertahan hidup.


Begitu seterusnya sepanjang hari, Kelompok Bandit Serigala bergerak menyusuri Gurun, mencari kawanan Bandit lain, kemudian menghabisi mereka, tanpa menyisahkan satupun, sembari mengumpulkan banyak harta rampasan dari kelompok Bandit yang mereka habisi dalam prosesnya.


Aksi kelompok Bandit Serigala ini, membuat mereka kini tampak bukan seperti kawanan Bandit, melainkan Tribe yang sedang berburu kelompok Bandit gurun.


Yaseya, yahuwa, dan Oscana yang merasakan hal tersebut, sebenarnya ingin bertanya kepada Theo, bagaimanapun juga, ketiga orang ini adalah Bandit tulen, sehingga mereka memiliki semacam insting solidaritas kepada sesama Bandit.


Namun, pada akhirnya ketiga orang ini memutuskan untuk diam, mengesampingkan pemikirian yang mengganjal di dalam kepalanya masing-masing, mencoba tak meragukan sama sekali intruksi Theo.


Dan ketika hari mulai petang, Theo memutuskan untuk mengakhiri perburuan Bandit yang di lakukan kelompoknya hari itu. Dengan ini, secara keseluruhan, Kelompok Bandit Serigala telah menghabisi total 11 Bandit Gurun lain cuma dalam waktu satu hari.

__ADS_1


***


(Malam harinya)


"Hahaha…! Boss! Kita panen besar!" Seru Thomas, dengan ekspresi wajah antusiasnya yang khas. Saat ini ia sedang sibuk menghitung harta hasil jarahan kelompok Bandit lain yang mereka habisi.


"Hitung dan simpan dengan benar! Jangan sampai mengambilnya untuk kepentinganmu sendiri! Itu adalah harta simpanan pertama kelompok kita!" Jawab Theo, tanpa menoleh kearah Thomas. Ia sedang sibuk meneruskan aktivitas rutinnya dalam menyalin buku usang yang ada di perpustakaan gelang ruang-waktu. Dimana merupakan salah satu amanat penting yang di tulis Tiankong dalam Jurnal peninggalannya.


"Tenang saja! Jangan lupa aku ini sebelumnya adalah seorang pedagang, catat-mencatat atau pembukuan merupakan salah satu keahlianku!" Jawab Thomas.


"Ngomong-ngomong, jika tau dalam sehari saja bisa mendapatkan harta sebanyak ini! Mungkin aku akan berganti profesi sejak lama! Itu lebih menguntungkan menjadi pemburu Bandit dari pada seorang pedagang! Hahhaha….!!!" Lanjut Thomas.


Mendengar kata-kata Thomas tersebut, Yaseya segera memasang ekspresi sengit kearahnya. "Gendut! Jaga mulutmu!" Dengus Yaseya.


"Benar! Bagaimanapun juga kau sekarang adalah seorang Bandit!" Tambah Yahuwa.


"Hormati sedikit sesama Bandit! Kau berkata seolah kelompok kita sama saja dengan para Tribe sombong sialan itu!" Seru Oscana.


Thomas yang merasa tiba-tiba menjadi musuh bersama oleh tiga Bandit tulen ini, segera mengerutkan keningnya. "Hmmm… Ada apa dengan kalian? Memangnya aku salah apa? Bukankah itu merupakan pekerjaan kelompok Bandit untuk melakukan perampokan? Jadi menurutku tak ada yang salah dengan merampok sesama Bandit! Intinya adalah merampok! Siapapun targetnya tak masalah!" Dengus Thomas balik.


"Itu benar! Tapi jaga sikapmu!" Dengus Yaseya balik. Tak mau kalah.


"Siapa yang mengatur? Aku cuma mengingatkanmu untuk sedikit respek pada kelompok Bandit yang lain!" Bentak Yaseya. Kemudian berdiri dari duduknya. Tindakan Yaseya ini, segera diikuti oleh dua kawannya.


"Ohhh… Kalian ingin bertarung?" Teriak Thomas, sambil melempar tumpukan harta yang tadi sedang ia hitung, kini mulai membocorkan auranya.


*Woooshhhh….!!!


Namun, saat keempat orang ini sudah mulai membocorkan aura masing-masing, tampak siap bertarung kapan saja, aura yang lebih intens tiba-tiba menyeruak dengan liar. Segera menekan keempatnya.


"Bisa tidak kalian diam?" Kata Theo dingin. Tanpa menoleh kearah kelompok yang sedang bertikai.


"Tapi Boss! Mereka yang mulai duluan! Tanpa sebab yang jelas tiba-tiba mengaturku!" Seru Thomas.


"Gendut! Jaga mulutmu! Kau sendiri yang memiliki mulut busuk!" Bentak Yaseya.


*Woooshhhh….!!!


Merasa peringatan awalnya diabaikan, Theo menambah tekanan aura yang ia sebarkan. Dimana dalam sekejap membuat keempat orang yang sedang bertikai terdiam seketika, nafas mereka tercekat, tak mampu menahan tekanan aura Theo yang semakin ganas.


"Sekali lagi kalian mengabaikan kata-kataku, maka jangan salahkan aku bila bertindak sedikit kejam!" Kata Theo, dengan nada dingin yang sangat mencekam. Kini ia mulai meletakkan catatannya, menoleh kearah kelompok empat orang anggotanya yang dari tadi sibuk bertikai satu sama lain.

__ADS_1


"Apa kalian mengerti?" Tanya Theo.


Pertanyaan Theo, segera disambut oleh anggukan cepat keempat orang di hadapannya. Yang dari tadi masih menggenggam leher masing-masing dengan raut wajah mulai membiru. Efek dari kesulitan bernafas.


Melihat itu, Theo yang merasa pesan yang ia sampaikan telah di tangkap oleh anggotanya. Mulai menarik auranya kembali.


"Gahhhh….!!!!"


"Hahhh….!!!!"


Dengan di tarik kembali aura Theo, Thomas dan ketiga anggota Bandit Serigala kini jatuh berlutut, menarik nafas sedalam-dalamnya. Sambil mulai menatap ngeri kearah Theo.


'Aura yang sangat mengerikan! Jadi selama ini ia masih menyembunyikan kemampuan yang sebenarnya! Hanya seorang General Bumi, dan sudah memiliki aura seperti ini!' Gumam Thomas dalam hati.


Hampir sama dengan Thomas, ketiga anggota Bandit lain, kini memiliki pemikiran serupa. Kembali di kejutkan dengan pemuda yang sudah mereka angkat sebagai pemimpinnya tersebut.


"Kalian bertiga! Aku tahu bahwa kalian memiliki keluhan dalam hati tentang intruksi yang kuberikan hari ini!"


"Jadi, katakan saja langsung apa adanya! Bukankah kalian menyebut diri sebagai Bandit! Maka bersikaplah layaknya Bandit! Berhenti bersikap seperti perempuan dengan menyampaikan keluhan menggunakan kode-kode!" Dengus Theo.


"Dan kau juga Thomas!" Lanjut Theo, kini ganti menunjuk si Gendut.


"Kau sebenarnya mengerti maksud dari ketiga orang ini! Tapi mengapa malah terus memprovokasi? Berhenti bersikap layaknya pedagang yang melakukan tawar menawar! Jangan lupa kau sekarang adalah seorang Bandit juga! Sama seperti mereka!" Bentak Theo. Mengevaluasi keempat anggota kelompoknya.


"Ingat ini! Kalian berempat! Cukup ikuti saja intruksi yang kuberikan! Dan aku menjamin, setelah berjalan beberapa waktu kedepan, semua keraguan dalam hati kalian akan sirna!"


"Aku adalah orang yang tak pernah menjanjikan sesuatu yang tak bisa kugapai! Jadi, bila aku menjanjikan kejayaan bagi kelompok Bandit Serigala, maka kupastikan itu akan terjadi!"


"Dan masalah respek dengan sesama Bandit! Kalian bertiga dengarkan, aku bukan orang yang mudah memberi rasa hormat pada orang lain! Dan ini berlaku untuk semua lawanku! Tak ada pengecualian sama sekali! Baik itu Bandit! Tribe! Atau bahkan sekte paling suci yang ada di Gaia Land! Bila menurutku mereka tak layak, maka tak perlu untuk memberi rasa hormat!"


"Rasa hormat dan respek hanya bisa di dapat dari tindakan! Bukan kalimat basa-basi!" Ucap Theo, menutup semua kalimatnya dengan sorot mata penuh ketajaman.


Sementara itu, mendengar kata-kata terakhir Theo, serta melihat sorot mata penuh ketajaman yang ia tampilkan, keempat orang anak buahnya segera menatapnya dengan tatapan penuh penghargaan.


"Jangan bedakan lawanmu!" Gumam Yaseya. Kini jatuh dalam renungan mendalam.


Ketika keempat anggota Bandit Serigala masih merenungkan kata-kata yang di sampaikannya, Theo tiba-tiba melirik ke suatu arah.


"Dan kalian! Bergerak menyelinap diam-diam seperti itu, memang mau kemana?" Tanya Theo.


Mendengar kata-kata Theo, bocah lelaki yang sekarang sedang menggandeng gadis kecil bersamanya, bergerak perlahan di balik bayangan bukit kecil, segera menghentikan langkahnya. Menatap tajam kearah Theo.

__ADS_1


__ADS_2