
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Bocah! Kau sudah keterlaluan! Menawarkan pertemanan? Kau pikir siapa dirimu? Hanya satu anak Serigala liar dari House Alknight, yang sedikit memiliki kelebihan bakat! Dan sekarang berani bertindak begitu congkak?" Bentak Lord Malforis. Penuh kemarahan.
Namun, ketika orang-orang di dalam aula utama merasa tertekan oleh aura milik Lord Malforis, Theo yang menjadi penyebab keluarnya tekanan aura ini, justru tampak masih mampu bertahan. Tegak berdiri menghadap Lord Malforis dengan tatapan teguh tak tergoyahkan.
"Tuuu…?"
Dengan Joy kecil di pundak, sebuah aura pelindung transparan tampak membungkus lingkungan sekitarnya. Aura pelindung ini terus bergetar hebat, terlihat bisa pecah kapan saja. Namun mampu di tahan oleh Theo dengan mengeluarkan semua simpanan Mana di dalam Element Seed tipe Netral miliknya, termasuk Mana kuno Gravitasi yang ada di dalam tubuhnya.
Pemandangan Theo yang dilindungi oleh aura Mana transparan misterius, serta berbagai jenis atribut Mana disekitarnya. Membuat setiap orang tercengang. Theo saat ini tampak seperti dewa surgawi yang turun dari surga, mengendalikan semua jenis elemen Mana untuk menahan tekanan aura milik Lord Malforis.
Sementara disamping Theo, Arthur mengeluarkan segenap Mana kegelapannya yang liar untuk ikut membantu Theo. Dan yang tak terduga, Aria yang awalnya ada di samping Master Estro, kini tampak bergabung di dalam lingkaran aura pelindung, ia mengeluarkan dua pisau kecilnya, berusaha ikut membantu menahan aura yang menekan Theo.
Lord Malforis sendiri, yang juga sedikit ikut tercengang dengan semua aura yang dikeluarkan Theo, semakin tampak tak percaya ketika melihat apa yang di lakukan Aria. Secara reflek ia kemudian menarik auranya lagi, takut secara tak sengaja menyakiti putrinya tersebut.
Melihat tindakan Aria ini, sudut-sudut mata Lord Malforis mulai berkedut, dia tak menyangkah, putri semata wayang, yang biasanya sangat egois dan suka bertindak seenaknya, sulit sekali diatur bahkan oleh dirinya sendiri, kini malah bergerak membantu seorang pemuda. Belum lagi tindakan Aria ini tentu merupakan bentuk perlawanan terhadap dirinya.
__ADS_1
"Tuanku!"
Saat Lord Malforis masih sedikit tertegun dengan berbagai pergantian peristiwa tiba-tiba yang ada dihadapannya. Theo terlihat mulai mengatakan sesuatu.
Hal ini membuat setiap orang yang awalnya melihat Aria, kembali fokus kepada Theo, yang semakin lama semakin tampak mempesona, bagaikan makhluk Illahi, ia terus mengeluarkan aura liar kuno, yang belum pernah dilihat oleh siapapun sebelumnya.
"Seperti katamu! Saat ini aku mungkin hanya serigala liar dengan kemampuan yang masih dangkal!" Kata Theo, dengan nada dingin penuh penekanan, serta sorot mata tajam yang mempesona.
"Namun, kau harus tahu, seekor serigala, tetaplah pemburu yang handal! Bahkan anak Serigala sepertiku, masihlah memiliki kuku serta taring! Dan kuyakinkan padamu! kuku dan taring milikku! Suatu saat tak akan kalah tajam dari milikmu!" Tutup Theo, masih dengan sorot mata penuh ketajamannya, menatap lurus kearah mata Lord Malforis.
Setelah Theo menyelesaikan kata-latanya itu, setiap orang di dalam aula utama semakin tertegun, bulu kuduk mereka berdiri, merinding karena suatu hal yang tak bisa mereka pahami, membuat suasana menjadi hening seketika.
Tak ada yang tahu, apakah orang-orang ini tertegun karena penampakan Theo yang seperti makhluk Illahi, sehingga membuat setiap orang terpacu adrenalinnya, mendorong bangkitnya rasa takut tersembunyi di sudut hati kecil setiap orang. Ataukah karena kata-kata tajam darinya barusan, yang merupakan kata-kata penuh percaya diri dari generasi muda, mampu membangkitkan gairah setiap orang yang mendengarnya.
Hanya satu orang di tempat tersebut yang tampak masih tenang, dan justru memasang ekspresi penuh ketertarikan dengan sorot mata yang licik. Dia adalah Lucius Braveheart. Pemuda ini tampak memikirkan serta merencanakan sesuatu begitu melihat semua yang bisa dilakukan Theo.
Ketika suasana aula utama masih hening, Theo secara perlahan menarik lagi semua auranya. Kembali ke wujud normal.
"Master, kau tahu, bila tak berjalan sesuai rencana, aku mungkin akan mati disini! Kuharap kau tak terlalu kecewa!" Jawab Theo.
"Apa yang kau katakan? Kebanggaan adalah salah satu hal penting yang harus dimiliki oleh seorang Knight! Jadi tak ada alasan bagiku untuk kecewa!"
"Dan setelah semua yang kau tunjukan tadi, bila Lord tua ini masih belum juga bisa melihat potensimu! Maka dia adalah Lord yang gagal! Sangat bodoh menolak investasi jangka panjang penuh potensi tak terduga!" Kata Tiankong, dengan senyum tipis penuh makna, memandang Lord Malforis sebentar, sebelum melirik kearah Lucius Braveheart.
"Hmmm… tapi sepertinya kau tak perlu khawatir, ada satu orang dengan jalan pikiran licik namun sangat logis disini, yang sepertinya akan membuat arah negosiasi yang kau tawarkan bisa berjalan ke titik temu!"
"Hmmmm… Lucius Braveheart!" Kata Theo, memahami siapa yang di maksud oleh Masternya.
__ADS_1
"Benar sekali! Kau harus sedikit hati-hati dengan pemuda ini! Dia tak kalah licik darimu!" Jawab Tiankong.
"Menarik!" Kata Theo singkat, sambil melirik kearah Lucius.
Suasana masih hening karena tak ada yang berinisiatif membuka percakapan meskipun Theo maupun Lord Malforis sudah menarik auranya masing-masing. Sampai akhirnya satu orang tak terduga maju memecah keheningan.
"Ayah! Aku memintamu mempertimbangkan permintaan serta tawaran Theo!"
Itu adalah Aria, yang pertama kali berbicara memecah keheningan, memohon pada ayahnya untuk memenuhi permintaan Theo.
Mendengar itu, baik Lord Malforis maupun Lucius mengerutkan keningnya masing-masing, kemudian setiap dari keduanya memasang ekspresi yang saling bertolak belakang satu sama lain. Lord Malforis tampak marah, sementara Lucius malah tampak semakin licik. Seperti menemukan sesuatu.
"Apa yang kau katakan! Sejak kapan kau berani membela orang luar! Apa kau pikir mengorbankan pertunangan kakakmu adalah hal sepele? Jangan bilang kau lebih mementingkan pemuda ini dari pada Housemu sendiri!" Bentak Lord Malforis penuh kemarahan.
Dia awalnya sudah agak terkesan kepada Theo, mulai mempertimbangkan tawarannya, namun begitu Aria memohon untuk pemuda ini, justru membuat Lord Malforis tersinggung. Dia tak menduga putrinya ini begitu mementingkan orang luar.
"Apa yang telah di lakukan pemuda ini padamu sehingga kau bertindak berlebihan seperti ini! Tak seperti dirimu biasanya!" Bentak Lord Malforis lagi, jiwa seorang ayahnya mulai curiga dan marah kepada Theo, merasa Theo telah memberi pengaruh atau melakukan hal buruk lainnya pada Aria yang masih polos.
Setelah mengatakan itu, Lord Malforis kemudian memberi tatapan menuntut penjelasan kepada Master Estro. Tetua yang di tugaskan secara khusus mengawal Aria.
Melihat tatapan itu, Master Estro tak tahu harus menjawab seperti apa, bila ia mengatakan peristiwa sebenarnya yang terjadi di dalam hutan pinus beku, maka pasti hukuman mati akan menimpa dirinya serta seluruh anggota keluarganya.
Susana hening bertahan cukup lama karena baik Master Estro maupun Aria tak segera memberi jawaban, hanya saling pandang satu sama lain.
Ditengah suasana hening ini, Lucius yang masih tampak tenang berdiri di samping Lord Malforis tiba-tiba memecah keheningan.
"Ayah, aku menerima pembatalan pertunangan ini!"
__ADS_1
"Apa katamu?" Tanya Lord Malforis kaget. Tak menyangkah Lucius menerima tawaran Theo membatalkan pertunangannya.
"Yahh… tapi sebagai gantinya, aku ingin pertunangannya di ganti! Menjadi antara pemuda ini dengan Aria!" Kata Lucius sambil memasang senyum tipis.