
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Meskipun cuma berdua, aku cukup yakin untuk bisa pergi dari sini kapan saja! Dalam prosesnya, mungkin aku juga bisa membawa kepalamu sebagai oleh-oleh untuk dibawa kembali ke perkemahan Bandit Serigala!" Ucap Theo, dengan intonasi nada yang terdengar biasa saja.
Namun, kondisi berbeda ditunjukkan sorot matanya yang penuh ketajaman. Dimana membuat setiap yang melihatnya, akan segera tau bahwa Theo tak sedang membual.
'Hanya seorang King tahap awal dan sudah memiliki aura yang begitu dalam?' Ucap Darsa dalam hati. Merasa pemuda yang baru muncul di hadapannya saat ini bukan Knight sembarangan.
"Perkenalkan! Aku adalah Boss Besar kelompok Bandit Serigala!" Ucap Theo. Tampak tak begitu peduli dengan Darsa yang saat ini jelas tengah memindai dan mengukur kedalaman kultivasinya.
"Boss Besar Bandit Serigala?" Gumam Darsa, tatapan matanya yang tersembunyi di balik kain hitam penutup wajah, kini menjadi semakin tertarik setelah mendengar kata-kata perkenalan Theo.
"Tak perlu aku mengulangi perkataanku! Sekarang lebih baik langsung pada topik utama!" Jawab Theo.
"Katakan padaku, berapa hargamu?" Tanya Theo tiba-tiba.
Sebuah pertanyaan yang segera membuat Zota yang mendengar itu, dengan cepat menoleh kearah Theo.
"Boss! Apa maksudmu?" Tanya Zota.
"Diam saja dulu! Aku sedang bertanya kepada orang bernama Darsa ini!" Jawab Theo. Tanpa menoleh kearah Zota. Pandangan matanya masih tertuju pada Darsa.
"B*jingan! Kau pikir kelompok kami ini apa? Kuda yang bisa di beli? Wakil pemimpin! Kita bunuh saja pemuda kurang ajar ini!" Bentak salah satu anggota divisi pelacak kelompok Bandit Langit Hitam. Merasa sangat tersinggung dengan kata-kata yang diucapkan Theo sebelumnya.
"Itu benar! Ia hanya bocah ingusan! Boss Besar Bandit Serigala apanya! Tak mungkin Boss Besar Bandit Serigala adalah seorang bocah berkelas King tahap awal!" Tambah anggota divisi pelacak lainnya.
"Habisi saja sekarang juga! Segera selesaikan misi dan bawa kepala Zota kembali ke perkemahan!" Sahut anggota lainnya.
Bersamaan dengan makian yang mereka lontarkan kearah Theo, ratusan anggota divisi pelacak Bandit Langit Hitam juga sudah mengeluarkan senjata masing-masing. Bersiap kapan saja untuk menerima intruksi menyerang dari pemimpinnya.
__ADS_1
Namun, setelah beberapa saat, situasi justru berkembang menjadi hening ketika Darsa malah hanya memasang sikap diam. Tak memberi intruksi apapun pada kelompoknya.
"Katakan padaku! Dimana tujuan akhir dari kelompok yang sedang kau kembangkan ini!"
Ketika Darsa akhirnya membuka mulut, ternyata bukan intruksi menyerang yang ia ucapkan. Melainkan justru memberi satu pertanyaan kepada Theo.
Hal ini tentu saja membuat seluruh anggota kelompoknya menjadi heran. Serempak memandang kearah Darsa dengan tatapan ragu. Mencoba untuk tak mempercayai apapun itu yang saat ini terlintas di dalam benak masing-masing dari mereka. Karena tanggapan Darsa, seolah menunjukkan bahwa ia sedang mempertimbangkan tawaran Theo.
Bukan hanya seluruh anggota kelompoknya. Bahkan Zota yang saat ini juga sedang berada di lokasi. Tampak ikut memandang kearah Darsa dengan tatapan tak percaya.
"Tujuan akhir ya?" Gumam Theo.
"Menguasai seluruh kelompok Bandit di wilayah Gurun East Region!" Jawab Theo.
Sebuah jawaban yang disambut Darsa dengan senyum tipis dibalik kain hitam penutup wajahnya.
"Setelah wilayah Gurun East Region?" Tanya Darsa lagi.
Mendengar pertanyaan Darsa, kali ini giliran Theo yang mulai memasang senyum tipis di wajahnya. Menatap kearah Darsa dengan tatapan penuh minat.
"Tipe orang sepertimu benar-benar sangat sulit di temui! Membuatku semakin berminat untuk merekrutmu!" Ucap Theo. Merasa Darsa adalah orang yang cukup cerdas. Hampir sama cerdas dengan Lucius Braveheart.
"Kurasa tak perlu kulanjutkan! Kau pasti bisa membaca visi yang hendak kugapai!" Tutup Theo.
Mendengar kata-kata Theo, Darsa tak segera memberi tanggapan. Hanya diam untuk beberapa saat. Sebelum tiba-tiba, secara mengejutkan membuka kain penutup wajahnya.
"HAHHAHHAHAHA….!!!!" Seluruh tindakan Darsa, diakhiri dengan ia mulai tertawa lantang. Tawa lantang yang terdengar begitu puas.
Aksi Darsa tersebut, membuat setiap orang yang ada di lokasi tentu saja menjadi termenung. Tak memahami apa yang sedang terjadi padanya. Terlebih setelah melihat wajah Darsa yang selama ini selalu tertutup kain hitam, ekspresi masing-masing dari mereka, segera berubah menjadi sedikit ngeri.
Wajah Darsa, dipenuhi dengan ukiran berbagai tatto rune aneh berwarna hitam yang terus memancarkan aura kuno. Sedangkan dalam pupil kedua mata Darsa, terdapat banyak garis-garis kecil merah seperti ketika seorang sedang marah.
"Setelah sekian lama menunggu! Akhirnya aku menemukanmu! Orang yang disebutkan dalam ramalan kuno sukuku!" Ucap Darsa tiba-tiba begitu ia menyelesaikan tawa lantangnya.
Bersamaan dengan kata-kata yang ia ucapkan, Darsa segera membuat satu segel tangan rumit. Dan begitu segel tangan Darsa selesai, suara ratusan ledakan-ledakan kecil seketika terdengar.
"Guhhh…!!!"
"Ugghhh….!!!'
__ADS_1
"Gahhh…!!!"
Secara mengejutkan, setiap anggota kelompok divisi pelacak Bandit Langit Hitam yang datang bersama Darsa, mengerang kesakitan untuk beberapa saat, sampai kemudian mengeluarkan seteguk darah dari mulutnya masing-masing.
Diakhiri dengan ratusan orang ini tumbang ke tanah. Mati dengan mata terbuka lebar. Tampak begitu terkejut karena tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mereka mati tanpa tahu apa yang membunuhnya.
"Apa-apaan!" Ucap Zota. Dengan sorot mata bergetar.
Melihat kejadian mengerikan di hadapannya. Zota tentu saja menjadi sangat ngeri. Dalam sekejap, ratusan orang Knight berkelas King tahap Bumi, mati ditempat dalam waktu yang hampir serentak.
"Ramalan kuno?"
Disisi lain, berbeda dengan Zota, Theo justru tampak tak begitu peduli dengan ratusan orang yang baru saja mati secara tiba-tiba. Tatapannya masih tajam melihat kearah Darsa. Lebih tertarik dengan maksud dari kalimat yang sebelumnya Darsa ucapkan.
"Yahh..! Ramalan kuno!" Ucap Darsa. Menatap balik kearah Theo dengan dua matanya yang tampak mengerikan.
"Katakan padaku! Apakah kau memiliki satu Guardian Beast yang terikat kontrak denganmu?" Tanya Darsa.
"Hmmm… Silver Turtle!" Jawab Theo singkat. Merasa lebih tertarik lagi pada sosok Darsa karena ternyata pria ini tahu tentang keberadaan Guardian Beast.
"Hahhaha…! Perkenalkan! Aku adalah Darsa! Keturunan terakhir dari Suku Thousand Beast! Satu suku yang di masa kuno, memiliki kedudukan sejajar dengan Suku Osiris!" Ucap Darsa.
"Jika Suku Osiris adalah penguasa sebenarnya dari Gurun Purba, kami suku Thousand Beast adalah tuan sebenarnya dari Gurun Kematian!" Tambah Darsa.
"Hmmmm… Cukup aneh! Dalam berbagai catatan kuno tentang wilayah Gurun East Region yang beberapa waktu belakangan sempat kuperiksa, semuanya hanya menyinggung tentang Suku Osiris yang merupakan penguasa tunggal!"
"Tak pernah ada catatan yang menyebut tentang Suku Thousand Beast!" Kata Theo.
"Hahahha….! Endless Heavens Sect! Mereka menghapus semua catatan tentang suku Thousand Beast!"
"Kemampuan utama suku Thousand Beast adalah menjinakkan para Spirit Beast! Kami memiliki satu manual teknik khusus yang membuat True Knight, mampu menaikkan kesempatannya untuk menambah Spirit Beast kontraknya!"
"Pada masa jayanya, setiap anggota suku Thousand Beast, memiliki paling sedikit 5 Spirit Beast kontrak!"
"Kemampuan kami ini, dianggap terlalu berbahaya oleh mereka. Sehingga selain memusnahkan seluruh suku Thousand Beast, Endless Heavens Sect juga menghapus semua catatan tentang keberadaan kami!"
"Tak ingin ada orang yang mempelajari tentang suku Thousand Beast, dimana berujung memberi motivasi untuk mencari manual teknik yang kami miliki!" Tutup Darsa.
"Ahhh… Jadi seperti itu!" Gumam Theo.
__ADS_1
"Lalu perihal ramalan kuno?" Tanya Theo.