
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Woooshhhh…!!!
Raja Naga Hitam bergerak dengan kecepatan tinggi menembus langit malam yang gelap. Menjadikan udara dingin sebagai selimut bagi Theo dan Yahuwa yang sedang menunggang diatas punggungnya.
"Apa masih jauh?" Tanya Theo. Dengan sorot mata tajam memandang kedepan.
"Seharusnya tak terlalu jauh lagi!" Jawab Yahuwa.
"Raja Naga Hitam! Bergerak lebih cepat lagi!" Ucap Theo.
"Groooooaaaahhh….!!!!"
*Woooshhhh….!!!
***
(Kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun)
*Buggg….!!!
Zota yang saat ini tengah sekarat dengan tubuh penuh luka parah, dimana telah kehilangan satu lengan dan satu kaki, dilempar keras pada satu tanah lapang yang berada di tengah perkemahan besar.
"Hmmmm… Apa ini?" Ucap seorang pria berwajah bengis dengan kelas Emperor yang saat ini sedang duduk disebuah kursi sambil memandang api unggun utama.
Sementara disebelah pria tersebut, tengah duduk seorang wanita dengan kelas yang sama, Emperor tahap awal puncak.
"Boss! Dia adalah salah satu tim pengintai kelompok Bandit Serigala!" Ucap pria sepuh. Yang sebelumnnya melempar tubuh Zota.
__ADS_1
"Ohhh…! Hanya seorang King tahap Surga! Kenapa sampai bisa membuatmu dalam keadaan kacau seperti itu?" Ucap pria bengis, sambil mulai mengerutkan kening. Mengomentari kondisi sang pria tua yang tampak telah kehilangan tangan kanannya.
"Hmmmm… Kuakui aku cukup ceroboh!" Jawab pria tua.
Pria tua ini tak lain adalah wakil pemimpin kelompok Bandit Kumbang Gurun yang sebelumnya menyergap tim pengintai kelompok Bandit Serigala. Sementara lawan bicaranya, adalah Boss Besar kelompok Bandit Kumbang Gurun itu sendiri. Gahui, pria bengis yang lebih di kenal dengan julukan sang pembantai.
"Saudara Gahui, sepertinya anggota kelompok Bandit Serigala satu ini memang cukup gigih! Sama seperti satu lainnya yang disana!" Ucap wanita di sebelah Gahui. Sambil menunjuk kearah sebuah tiang yang berada tepat disamping api unggun utama. Diatas tiang itu sendiri, tubuh Yaseya yang tampak sama parah dengan Zota, terlihat di ikat dalam posisi tersalib.
"Ohhhh…. Sepertinya memang begitu!" Tanggap Gahui, sembari meludah kearah tubuh sekarat Zota saat menyadari pria itu masih bertahan untuk tetap sadar, dan kini justru mulai menatap tajam kearah Gahui.
"Tatapan tajam yang sangat menggoda! Kita lihat, berapa lama kau akan bisa mempertahankan tatapan itu!" Gumam Gahui.
"Saudari Etna! Sepertinya kunjunganmu malam ini sebagai perwakilan kelompok Bandit Menara Langit, akan semakin menyenangkan dengan beberapa pertunjukan tambahan!" Ucap Gahui.
"Hahahha…! Sungguh beruntungnya diriku!" Tanggap Etna, yang merupakan wakil pemimpin kelompok Bandit Menara Langit.
Bersama dengan kelompok Bandit Kumbang Gurun dan kelompok Bandit Malam Berbintang, tiga kelompok Bandit ini, merupakan tiga kelompok Bandit terbesar yang menguasai wilayah Gurun Purba.
"Bisa dikatakan, ini adalah satu pertunjukan pembuka yang telah disiapkan oleh langit atas kerjasama sementara dua kelompok kita! Aku akan sangat menikmatinya sebelum aliansi kita mendapat pertunjukan utamanya ketika melihat kelompok Bandit Serigala dihancurkan!" Ucap Etna.
"Tentu saja! Dan tetap, pembagian harta rampasan, kita bagi merata 50:50!" Tanggap Gahui.
"Hehehe… Bagaimanapun juga, itu adalah total harta dari seluruh kelompok Bandit di empat wilayah Gurun lainnya! Aku sungguh sudah tak sabar untuk segera memilikinya! Tak bisakah kita menyerang malam ini juga?" Tanggap Etna, tak bisa menyembunyikan sorot mata penuh keserakahan yang kini terpampang di kedua matanya.
"Lagipula, kita baru saja selesai membahas detail rencana penyerangan! Kau masih perlu menyampaikan detail tersebut kepada Boss Besar kelompok Bandit Menara Langit! Tentunya, kalian perlu penyesuaian dan persiapan!"
"Dua hari, tak akan terlalu lama!" Tutup Gahui. Dengan sorot mata penuh keantusiasan.
"Baiklah! Tim medis! Beri perawatan pada orang ini! Jangan biarkan dia mati! Kita masih perlu memberinya kesempatan untuk menikmati neraka dunia, sebelum menuju neraka yang sebenarnya! Hahahhaha….!"
Mendengar intruksi Boss Besarnya, tim medis kelompok Bandit Kumbang Gurun segera melakukan perawatan kepada tubuh sekarat Zota. Sebelum mulai mengikatnya pada satu tiang, dan menempatkan tiang tersebut, bersebelahan dengan tiang yang menyalib Yaseya.
"Zota! Ini sungguh kacau! Bagaimana bisa kau juga berakhir disini?" Ucap Yaseya. Dengan suara lirih. Tak sanggup mengangkat wajahnya.
"Hmmmm… Anggap saja ini balasan dari sikap ramahmu saat pertama kali aku bergabung dalam kelompok Bandit Serigala! Kini, langit mengatur agar aku menemanimu pada saat-saat terakhir!" Jawab Zota. Sambil mulai memasang senyum tipis.
"Sungguh takdir yang tak lucu!" Tanggap Yaseya.
"Ohhh… Dua pecundang sedang saling mengobrol? Biar kutebak, kalian sedang saling melontarkan kalimat melankolis untuk menghibur satu sama lain? Hahhahahha….!" Seru Gahui, diakhiri dengan tawa lantang membahana.
__ADS_1
Tawa Gahui, segera diikuti dengan tawa lantang yang sama oleh seluruh anggota kelompok Bandit Kumbang Gurun lain yang saat ini tengah berkumpul mengitari api unggun utama. Mereka tampak sangat menikmati hiburan yang di dapatnya malam itu.
"Baiklah! Saudari Etna! Aku memberimu satu kesempatan untuk membuka jamuan malam ini!" Ucap Gahui.
"Jadi, pertunjukan apa yang ingin kau lihat?" Tanya Gahui.
"Hihihi…! Sungguh mendebarkan!" Jawab Etna.
"Dua orang ini terlihat akrab satu sama lain! Mungkin keduanya adalah sahabat karib! Jadi, untuk memberi rasa kesetiakawanan, bagaimana kalau kau buat mereka dalam keadaan yang sama?"
"Potong satu lengan, serta satu kaki pria yang satunya! Agar sama dengan kawannya!" Ucap Etna. Dengan satu senyum lebar.
"Ohhh… Ide yang brilian! Kau sungguh sangat cerdas! Hahahhaha…!" Seru Gahui. Seraya kemudian mengambil golok besar yang ada di bawah kakinya.
Tanpa banyak bicara lagi, namun masih dengan tawa lantang, Gahui melompat keatas, dengan dua gerakan cepat, menebas tangan dan kaki kanan Yaseya.
*Slasshh….!!!
*Slaaaassshhh….!!!
"Aaaaaarrrrrgggg….!!!!"
Dua suara tebasan yang diakhiri dengan teriakan penuh rasa sakit dari Yaseya, kini terdengar menggema keseluruh kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun. Namun, teriakan Yaseya hanya terdengar untuk beberapa saat, sebelum tertutup oleh teriakan-teriakan antusias serta tawa lantang seluruh anggota kelompok Bandit Kumbang Gurun.
Mereka semua tampak sangat terhibur begitu melihat ekspresi wajah kesakitan Yaseya. Dua orang bahkan menyempatkan untuk mengambil lengan dan kaki Yaseya yang telah terpotong, untuk dilempar kearah api unggun utama.
"Hahhaha…! Tambahan bahan bakar untuk api unggun malam ini!" Seru salah satu anggota yang melempar tangan Yaseya. Satu seruan yang segera kembali membuat suasana di sekitar api unggun riuh dengan suara tawa lantang membahana.
"B*jingan!" Bentak Zota. Dengan ekspresi wajah penuh amarah saat melihat apa yang menimpa Yaseya.
"Hahahaha….!!! Sekarang, apa lagi pertunjukan yang ingin kalian lihat? Masih ada beberapa bagian tubuh yang bisa di jadikan bahan bakar api unggun!" Seru Gahui.
*Woooshhhh….!!!
Namun, bertepatan dengan kata-kata terakhir yang diucapkan Gahui, saat setiap orang akan kembali tertawa lantang, satu hawa membunuh intens yang begitu dingin, tiba-tiba muncul dari atas langit. Begitu intensnya hawa membunuh ini, sampai-sampai menyebar luas keseluruh wilayah kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun.
Hawa membunuh yang membuat punggung setiap orang merasa dingin tersebut, tentu saja seketika menyebabkan kemah besar menjadi hening, setiap orang kini menatap keatas langit, tempat dimana hawa membunuh yang mereka rasakan berasal.
"Siapa kau?" Ucap Gahui, memecah keheningan. Sambil menatap tajam satu sosok yang saat ini sedang berdiri tegak diatas seekor makhluk berbentuk Naga Hitam.
__ADS_1
Disisi lain, sosok tersebut kini tampak sedang melihat kearah Zota dan Yaseya untuk beberapa saat, sebelum mengalihkan pandangannya kepada Gahui, menatap balik kearah Gahui dengan tatapan tajam mengerikan bagaikan iblis.
"Bagaimana kau ingin mati?" Tanya sosok tersebut, yang tak lain adalah Theo.