Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
House Wildbear


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Haaaahhh…. Haaahhh.. Haaaa….."


Theo kini terbaring penuh luka, sedangkan lawannya juga terbaring, namun dengan kondisi yang lebih buruk dari pada Theo. Selain di dipenuhi luka, kedua tangan dan kedua kaki lawannya patah, dia sekarang sedang mengerang kesakitan dalam sebuah lubang tanah penuh retakan, tak jauh dari posisi Theo.


Theo berhasil memenangkan pertempuran dengan banyak usaha dan menggunakan berbagai trik. Bertarung melawan seorang Immortal bumi, ternyata memanglah sudah menjadi batasan maksimal Theo.


Melihat kondisinya sekarang, dia tak bisa membayangkan bila harus melawan dua Immortal bumi secara bersamaan. Dari pertarungan ini, dia menjadi sadar bahwa dirinya masih terlalu lemah. Hal ini membuatnya semakin terdorong untuk segera melakukan terobosan menjadi seorang Immortal.


Untuk membantu house nya yang tengah dalam keadaan kritis saat ini, Theo butuh menjadi lebih kuat lagi.


"Bocah, kenapa kau tidak membunuhku?"


Knight yang saat ini terbaring penuh luka di dalam lubang, bertanya sambil mengerang menahan kesakitan di seluruh tubuhnya. Dia masih belum sepenuhnya percaya, bahwa dia yang seorang Immortal bumi, bisa dikalahkan oleh seorang pemuda kelas Pioner.


Mendengar pertanyaan tersebut, Theo yang awalnya terbaring, kini mulai mengambil posisi duduk. Kemudian dengan sorot mata santai dan senyum aneh, dia menatap orang tersebut.


"Ada seseorang disini yang lebih menginginkan kematianmu di tangannya dari pada aku." Jawab Theo, masih mempertahankan senyumnya.


Sebelum Knight yang ada di dalam lubang memahami apa maksud kata-kata Theo, dia bisa melihat seorang wanita muda dengan tubuh penuh luka berjalan mendekatinya. Wanita muda ini adalah Jasia, yang juga telah menyelesaikan pertempurannya. Pertempuran Jasia meskipun sengit, berlangsung tidak terlalu lama, karena memang lawan Jasia sudah terluka parah di serang oleh Angsa Nafas Api sebelumnya.


Jasia menatap tajam orang yang ada di dalam lubang, orang ini adalah orang yang telah berbuat keji dan membunuh ibunya. Setelah sampai di depan orang tersebut, Jasia hanya menatapnya dalam diam untuk beberapa saat.


"Gadis muda.. apa yang.."


Melihat tatapan dingin Jasia, entah kenapa sang Knight segera menjadi sangat takut. Namun sebelum dia berhasil menyelesaikan kata-katanya..


Wooooshhhhhhhhh….


Suara nyaring tedengar, Jasia mengangkat jari-jarinya, kemudian dari jari telunjuknya, mana api menyembur keluar. Semburan mana api ini terarah tepat diantara kedua sela kaki sang Knight. Mengenai area kejantanannya, dan mulai Membakar dengan liar.

__ADS_1


"Arrrrrrggggggggg……!!!!"


Teriakan parau segera terdengar ketika api mulai membakar area kejantanan Knight tersebut. Theo yang melihat kejadian ini, segera menjadi ngeri, dan secara reflek menutupi area kejantannya.


"Sekitar beberapa bulan yang lalu, kau dengan keji menistakan dan membunuh seorang wanita di area pinggiran hutan pinus beku. Tentu kau masih mengingatnya bukan?" Kata Jasia. Masih menatap orang di hadapannya yang terus berteriak kesakitan.


"Aku adalah anak dari wanita tersebut!" Setelah memperkenalkan dirinya, mana api yang keluar dari tangan Jasia semakin membesar, mulai membakar area tubuh lain dari orang tersebut.


"Aaaaaarrgggggggg…..!!!!" Knight tersebut hanya bisa berteriak parau kesakitan, tak punya waktu untuk terkejut dengan perkenalan Jasia.


Melihat Jasia mulai tak bisa menahan diri lagi, Theo segera mendekatinya.


"Snow!" Gumam Theo. Dia kembali menggunakan tekniknya untuk menenangkan Jasia.


"Tenangkan dulu dirimu, orang ini masih sedikit berguna, apa kau tak mau tau nama-nama anggota house Ironhead lainnya yang mencelakai ibumu?"


Mendengarnya, Jasia kini menjadi sedikit lebih tenang. Dan mulai menarik mana apinya, berhenti membakar, Namun masih menatap dengan tajam orang di hadapannya.


"Hahhh… biar aku ambil alih dari sini sebentar!" Kata Theo, dia bisa melihat Jasia belum mampu sepenuhnya menenangkan diri.


Theo kemudian menggunakan mana es untuk membekukan beberapa api yang masih membakar tubuh orang tersebut. Ketika api sudah mulai hilang, orang tersebut baru bisa merasakan rasa panas di tubuhnya sedikit mereda, dia mulai berhenti berteriak kesakitan.


Meskipun nafas Knight ini masih berat, dia mulai sedikit merasa lega. Namun, sebelum bisa benar-benar lega, dia bisa melihat Theo berjalan kearahnya dengan langkah perlahan, senyum khas penjahat jalanan mengkhiasi wajahnya. Melihat hal itu, hati orang ini segera menjadi dingin, dia ketakutan.


"Kau sudah mendengar apa yang kukatakan pada gadis itu sebelumnya bukan? Sekarang katakan, siapa saja orang-orang biadab yang bersamamu waktu itu! atau...." Selesai bertanya, dengan ayunan tangan Theo membekukan area kejantanan pria tersebut, dan mulai mengarahkan kakinya diatasnya. Terlihat bersiap menginjak dan memecahkannya.


"Hentikan… hentikan… akan kukatakan, akan ku jawab pertanyaanmu!" Katanya buru-buru ketika melihat kaki Theo sudah menyentuh es di area kejantanannya


"Baik, sebagai sesama lelaki aku juga sebenarnya tak tega, asal kau menjawab dengan benar dan terperinci, aku berjanji tak akan melakukan yang aneh-aneh." Kata Theo.


Orang tersebut kemudian menjelaskan siapa-siapa saja yang bersamanya waktu itu. Dia menjelaskan secara sangat terperinci dan gamblang, tanpa meninggalkan sedikitpun informasi yang tertahan. Dan setelah beberapa waktu, penjelasannya akhirnya selesai.


"Ahhh.. terima kasih telah bekerja sama dengan baik!" Kata Theo. Dia kemudian segera menarik kakinya dari area kejantanan orang itu.


Namun, sebelum orang tersebut dapat mengambil nafas lega…


"Sebagai lelaki aku berjanji tak akan berbuat keji, tapi gadis ini tak punya janji yang sama." Kata Theo kemudian mulai tersenyum jahat, dan menoleh kearah Jasia.


"Lakukan apapun yang ingin kau lakukan, aku akan memeriksa keadaan Kalina." Theo segera melangkah pergi setelah berkata demikian.


Mendengar kata-kata Theo, orang tersebut menjadi ketakutan, menatap ngeri kearah Jasia yang mulai berjalan mendekatinya.

__ADS_1


Krataaaakkkkkkkkkkkk……!!!


Setelah Theo pergi, suara retakan pecah segera terdengar, di iringi dengan teriakan parau.


***


Setelah semua urusan selesai, Theo dan kelompoknya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Sebelumnya, Theo juga tak lupa mengumpulkan seluruh barang berharga yang di miliki kelompok house Ironhead, sekaligus mengambil kristal beast dari Angsa Nafas Api, kemudian menyimpan tubuhnya kedalam gelang ruang-waktu.


"Hmmm.. sungguh kristal beast yang sangat indah."


Kali ini, Theo terlihat sedang megamati kristal beast dari Angsa Nafas Api yang ada di tangannya, kristal ini berwarna merah membara, dengan bayangan Angsa terlihat di dalamnya. Setelah puas mengamati kristal beast teesebut, Theo tiba-tiba melemparnya kearah Jasia. Meskipun sedikit kaget, Jasia berhasil menangkapnya dengan sigap.


"Itu untukmu!" Kata Theo.


"Tuan muda…!" Jasia segera ingin menolak.


Namun sebelum Jasia menyelesaikan kata-katanya, Theo memotong nya. "Sudahlah, setelah ini, ketika aku memberimu sesuatu, segera terima saja! Akan merepotkan jika kita harus berdebat dulu setiap waktu sebelum kau mau menerimanya."


Mendengar itu, Jasia segera menelan lagi kata-katanya. Kemudian mulai menunduk, wajahnya memerah sambil terus menatap kristal beast yang ada ditangannya, tatapannya seperti sedang melihat barang paling berharga.


Ketika Theo melihat reaksi Jasia, dia hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Ingat, aku memberimu kristal itu untuk kau integrasikan, bukan sebagai barang kenang-kenangan atau sejenisnya."


Merasa Theo menyadari reaksinya yang berlebihan, Jasia segera menjadi salah tingkah.


"Ahhh.... Un.." Jasia segera mengangguk, kemudian kembali menundukkan kepalanya, tak berani menatap Theo terlalu lama, wajahnya semakin memerah.


"Hahhhh…." Theo hanya bisa menghela nafas sambil menggelengkan kepala melihat kelakuan Jasia.


Sementara Kalina, hanya bisa terkikik melihat sikap kakaknya. Dia dengan manja mulai menggoda sang kakak.


***


Setelah melakukan perjalanan kurang lebih sehari, kelompok mereka yang tak memiliki hambatan berarti, akhirnya bisa keluar dari wilayah house Ironhead. Perjalanan berlanjut beberapa saat sampai akhirnya Theo bisa melihat basecamp house Alknight, panji-panji berlambang house nya berdiri tegak berkibar diatas puncak menara yang mengelilingi basecamp tersebut.


Dari tempatnya berdiri kini, Theo bisa melihat disekitar basecamp tersebut sedang terjadi beberapa pertempuran kecil, sekelompok knight terlihat sedang menyerang basecamp house Alknight.


"Di wilayah perbatasan, pertempuran kecil seperti ini sudah umum terjadi tuan muda." Jasia mulai menjelaskan.


"Hmmm… dari kelompok mana orang-orang itu?" Tanya Theo. Sambil terus melihat kearah kelompok yang menyerang basecamp housenya.


"Dari lambang di pakaian mereka, seharusnya mereka adalah orang-orang house Wildbear." Jawab Jasia.

__ADS_1


__ADS_2