Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Situasi Canggung


__ADS_3

(Keesokan harinya)


Theo baru selesai membersihkan racun menggunakan Mana Air penyembuh, dan kali ini mulai menggunakan Mana Cahaya untuk menekan racun yang ada di dalam tubuh Aria.


Ketika proses penekanan racun dimulai, tubuh Aria Mulai mengejang, dia terus berteriak kesakitan. Theo yang tahu hal ini adalah proses yang memang harus di tanggung oleh tubuh Aria, hanya bisa menekan rasa tak tega nya. Dan terus melakukan proses menekan racun.


Proses menekan racun ini ternyata berlangung lebih lama dari proses pembersihan tubuh bagian luar. Theo beberapa kali harus berhenti untuk mengisi simpanan Mananya dengan mutiara Mana, sebelum kembali melakukan proses penekanan.


**


(Dua hari kemudian)


"Hahhhh… Haahhhh… Haaahh…. "


Nafas Theo berat, dalam dua hari ini dia terus menerus menggunakan Mana Cahaya untuk menggiring racun yang ada di dalam tubuh Aria ke satu titik, dan mulai menekan serta membatasi titik tersebut. Mencegahnya untuk menyebar dalam beberapa waktu kedepan.


"Menggunakan Mana Cahaya untuk praktek Alchemy selalu saja proses yang melelahkan, sungguh menguras pikiran." Kata Theo.


"Tentu saja, proses Alchemy menggunakan Mana cahaya membutuhkan konsentrasi yang sangat tinggi, sedikit saja salah maka akan terjadi komplikasi dan membuat tubuh pasien bukannya membaik, malah memburuk." Kata Tiankong, menganggapi keluhan Theo.


"Itu juga menunjukkan, kemampuan pengendalian Mana mu masih sangat buruk!" Tiankong melanjutkan dengan Kritikan pedas.


"Sekarang berikan obat pelancar peredaran darah untuk membuat rasa sakit yang dialami gadis ini sedikit mereda dalam beberapa waktu kedepan."


Theo yang tak punya waktu untuk mengeluh atas kritikan Masternya, segera melaksanakan intruksi. Dia megeluarkan beberapa obat sekaligus dan memasukkannya kedalam mulut Aria, menggunakan Mana Cahaya sekali lagi untuk mendorong obat memasuki tubuhnya.


Setelah mengkonsumsi obat, raut wajah Aria mulai sedikit membaik, terlihat tak kesakitan lagi. Namun, sebelum Theo mulai bernafas lega, tubuh Aria mulai sedikit mengejang lagi. Terus bergetar, menggigil.


"Master, apa lagi yang terjadi sekarang?" Theo bertanya kepada Tiankong sambil mengusap keringat di dahinya. Terlihat sangat kelelahan.


"Hmmm, ini adalah efek samping dari perubahan tiba-tiba yang terjadi dalam tubuhnya. Sekarang dia menggigil, karena temperatur tubuhnya menurun." Jawab Tiankong.


Mendengar hal itu, Theo segera mengambil selimut dari gelang ruang waktu dan menyampirkannya pada tubuh telanjang Aria. Kemudian dia mulai mengumpulkan beberapa ranting dan membuat api unggun. Berharap itu akan cukup untuk menghangatkan tubuh Aria.

__ADS_1


Namun, setelah api unggun menyala, dia bisa melihat tubuh Aria masih saja menggigil kedinginan. membuat Theo mengerutkan dahinya, tak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.


Dalam kebingungan Theo, Tiankong tiba-tiba bersuara. "Hemmm, kau pikir ini semua akan cukup? Tubuhnya kedinginan karena efek pergantian tiba-tiba dalam pembulu darahnya."


"Jadi apa yang harus kulakukan?"


Mendengar pertanyaan Theo, Tiankong mulai tersenyum aneh. "Tentu saja kau harus mengalirkan mana api yang diolah secara hati-hati langsung kedalam tubuhnya secara merata."


"Maksudmu?"


"Kondisikan Mana Api diseluruh tubuhmu, setelah cukup merata dan teratur, gunakan untuk kau salurkan ke tubuhnya." Kata Tiankong.


"Setelah itu? Bagaimana aku menyalurkannya?" Tanya Theo masih tak mengerti.


Senyum di wajah Tiankong semakin melebar. "Tentu saja dengan memeluknya dalam kondisi telanjang juga, dengan begitu kau bisa menyalurkan mana api yang sudah kau atur secara merata ketubuhnya."


"Kau pasti bercanda!!!" Bentak Theo.


Mendengar hal itu, Theo mulai melotot, dia bergantian melihat kearah Tiankong dan Aria. Sangat bingung harus berbuat seperti apa.


"Master!! Apa tak ada cara lain?" Kata Theo ketika melihat Aria mulai mengejang lagi.


Tiankong tak memberi jawaban, mulai menutup matanya dengan posisi tidur santai melayang.


"Aahhhhhhhhh… awas saja bila kau mengerjaiku lagi!" Kata Theo kesal.


Dia kemudian mulai melepas seluruh pakaiannya, mengatur suhu tubuhnya hingga titik yang telah di intruksikan Masternya dengan Mana Api. Setelah merasa cukup, dia melihat kearah Aria.


Sebelum berjalan kearah Aria, Theo melihat Masternya sekali lagi, berharap masternya hanya bercanda. Namun, masternya tak menunjukkan tanda-tanda sedang bercanda.


Theo berjalan pelan mendekati Aria yang tengah menggigil kedinginan. Setelah berada tepat di depannya, Theo dengan ragu-ragu membuka selimut Aria.


"Glekkkk…" Theo menelan air liurnya ketika melihat tubuh telanjang Aria.

__ADS_1


Sebelum ini ia sudah terbiasa melihat tubuh telanjang Aria ketika melakukan proses pengobatan dalam beberapa hari belakangan. Namun, kali ini, ketika berfikir harus tidur memeluk tubuh telanjang Aria dengan tubuh telanjangnya, Theo mendapatkan sensasi aneh yang tak bisa di tahan. Sensasi normal yang akan dimiliki oleh semua pria.


Setelah tertegun sejenak, Theo membulatkan tekad dan mulai masuk kedalam selimut. Ia secara perlahan memeluk tubuh Aria, butuh waktu beberapa saat bagi Theo untuk menahan godaan dari melakukan hal aneh-aneh ketika merasakan sensasi pertama memeluk gadis ini.


Setelah berhasil menahan godaan, Theo mulai mengalirkan Mana Api keseluruh tubuh Aria. Mendapat dorongan Mana Api yang menghangatkan tubuhnya, Aria yang masih tak sadar memeluk balik tubuh Theo dengan erat.


"Aaahhhhhhh, iniii….. " Theo mulai sedikit mengerang ketika Aria memeluknya balik.


Namun karena Theo sudah mencapai kondisi Anata pada gerbang nafsu, ia berhasil mengendalikan dirinya. Dia mulai terbiasa dan mengalirkan Mana Api secara bertahap. Beberapa jam kemudian ketika tubuh Aria mulai berhenti menggigil, Theo jatuh tertidur.


***


(Keesokan Harinya)


"Emmmm, dimana ini?" Gumam Aria.


Kepalanya masih sedikit terasa pusing, tak tahu apa yang sedang terjadi. Terakhir kali yang bisa dia ingat adalah bahwa dia terkena cairan ungu yang disemburkan oleh Ular Petir Ungu. Setelah terkena cairan ini, seluruh tubuhnya terasa seperti remuk redam, sangat sakit. Setelah itu dia tak mengingat apa-apa lagi.


Aria masih kebingunan mengumpulkan kepingan ingatan ketika merasa ada sesuatu yang menusuk pahannya. Secara reflek, dia segera menggunakan tangannya untuk memegang benda yang menusuk pahanya.


"Ahhhh…." Theo yang merasa bagian tubuhnya di sentuh seseorang, segera bangun dari tidurnya.


Aria yang mendengar suara di sebelahnya segera merasa kaget dan membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Dan ketika selimut terbuka, pemandangan tak terduga membuatnya terkejut bukan main, mukanya memerah dan mulai berteriak.


"Ahhhhhhhhhh…. Apa yang kau lakukan?" Teriak Aria, dan secara reflek mencengkram dengan keras benda keras menusuk pahanya yang masih dia genggam.


"Aaaargggggghhhhhhhhh….." Theo berteriak tak kalah keras ketika merasa bendanya di cengkram dengan keras. Sangat menyakitkan.


"Aaahhhhhhhhh….." Aria yang akhirnya sadar benda apa yang sedang ia genggam mulai berteriak lebih keras lagi. Dia segera melepaskannya dan menendang Theo dengan keras.


Theo terlempar menjauh dengan posisi tubuh telanjang, sementara Aria mengambil selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.


"Kauu, kauu.. apa yang telah kau lakukan?" Aria mulai berkata dengan terbata-bata, air mata keluar dari sudut-sudut matanya.

__ADS_1


__ADS_2