
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Kalimat yang diucapkan oleh sang pria tua, segera disambut dengan raut wajah buruk Drani dan Meirin. Keduanya tampak mulai saling tatap satu sama lain. Kilatan sorot mata membunuh, kini terlihat dari mata masing-masing. Sampai kemudian, Zota mulai memecah ketegangan.
"Itu percuma! Dengan segel kontrak Tuan-hamba yang tertanam pada Element Seed kalian, tak ada diantara kalian berdua yang akan bisa saling bunuh!" Ucap Zota.
Sebagai sesama mantan Boss Besar Bandit, begitu melihat sorot mata kedua rekannya tersebut, Zota segera paham bahwa Drani dan Meirin berencana untuk saling bunuh satu sama lain. Memperebutkan satu slot pengampunan yang diberikan oleh pihak lawan.
Hal yang lumrah terjadi di kalangan Bandit dimana setiap orang akan berusaha menyelamatkan nyawa masing-masing ketika sudah dalam kondisi hidup dan mati. Jika memang harus, untuk bertahan hidup, mengorbankan nyawa teman sendiri adalah hal yang biasa.
"Pergi dari sini! Aku akan membuat celah dan berusaha menahan tua bangka ini selama mungkin!" Ucap Zota secara tiba-tiba, sedikit mengejutkan Drani dan Meirin.
Mendengar kata-kata itu, meskipun Drani dan Meirin tahu bahwa Zota tak akan mampu menahan pria tua itu terlalu lama, karena bagaimanapun juga lawan yang harus ia hadapi adalah seorang Emperor, tanpa menunda segera melangkahkan kakinya cepat meninggalkan tempat. Dengan sedikit waktu yang diberikan oleh Zota, keduanya berusaha sekuat tenaga menjadi satu orang yang lolos dari lokasi tersebut.
Disisi lain, begitu kedua rekannya telah meninggalkan tempat tanpa keraguan sama sekali, Zota tampak tak kembali berbalik kearah pria tua, melainkan memandang dengan tatapan tajam kearah punggung dua rekannya yang telah bergerak menuju dua arah yang berbeda.
Aliran Mana Tanah intens, kini mulai terhimpun di sekitar tubuh Zota, perlahan ia juga mulai berubah kedalam mode Meridian Knightnya. Tampak tengah menyiapkan sesuatu.
Zota masih menggenggam tangan erat mempertahankan pandangan tajamnya kearah punggung Meirin dan Drani secara bergantian. Selain tajam, sorot mata Zota juga menunjukkan ia sedang sepenuhnya memusatkan konsentrasi. Sampai kemudian, satu suara terdengar dari arah belakang. Suara ini tentu saja adalah milik pria tua.
"Hmmmm… Bukankah sudah kubilang, hanya satu yang boleh pergi?" Ucap pria tua, kemudian kembali menghilang dari lokasi tempat ia berdiri. Bagaikan terbawa angin dengan sunyi, ia secara tiba-tiba muncul dihadapan Drani.
"Tidak!" Gumam Drani, dengan ekpsresi wajah tak percaya bercampur ngeri saat sosok pria tua yang saat ini tengah memasang senyum mengerikan, dalam sekejap mata berada di hadapannya.
Drani benar-benar tak percaya, teknik gerakan yang selalu ia banggakan, nyatanya tak terlalu cepat untuk bisa sekedar kabur dari sang pria tua yang berkelas Emperor ini.
Disisi berlawanan, pria tua yang melihat Drani memasang ekspresi ngeri, tanpa belas kasihan segera membuat satu aliran Mana Angin berupa pisau pada ujung jarinya, kemudian dengan satu ayunan tangan ringan….
*Slaaaassshhh…!!!
__ADS_1
Hanya sekejap mata, kepala Drani terpenggal. Namun, bertepatan dengan jatuhnya kepala Drani, sebelum kepala tersebut menyentuh tanah....
*Graakkk….!!!
*Woooshhhh…!!!
Zota yang telah dalam mode Meridian Knight, tiba-tiba melakukan gerakan cepat, menerjang kearah pria tua yang tampak masih belum menyadari akan datangnya serangan. Masih menikmati sensasi dari tebasannya yang menyebabkan kepala Drani segera akan menyentuh tanah.
Menggunakan Golok raksasa yang di genggam erat dengan dua tangan, Zota menghimpun seluruh tenaganya untuk melancarkan satu serangan menyelinap kearah leher pria tua.
*Slaaaassshhh….!!!
Satu suara tebasan keras yang penuh tenaga, terdengar nyaring saat Zota mengayunkan golok raksasa.
"Hmmmm….!"
Sayangnya, serangan mendadak Zota yang tampak telah sempurna, ternyata masih belum cukup cepat. Dapat dihindari oleh pria tua.
Akan tetapi, serangan Zota ini juga tak sepenuhnya gagal, karena pria tua yang ia targetkan, hanya dapat menghindar dengan satu pengorbanan cukup besar. Serangan Zota, memotong lengan kanan pria tua tersebut, menyebabkan satu luka kasar yang tampak menyakitkan.
"Kau b*jingan licik! Sengaja mengorbankan salah satu rekanmu secara acak hanya untuk melancarkan serangan menyelinap!" Gumam pria tua, sambil menekan tangan kanannya yang telah buntung. Ekspresi wajahnya kini tampak sangat amat marah. Aliran Mana Angin, juga mulai bergerak liar tak beraturan di sekitar tubuh tua tersebut.
"Hmmmm… Apa yang salah? Kita adalah Bandit! Lagipula, bukankah itu hanya akan ada satu diantara kita yang bisa kembali dalam keadaan selamat?" Jawab Zota.
"Dengan begini, setidaknya kematian salah satu dari kami yang tetap tinggal, akan sedikit berguna!" Tambah Zota.
"Ngomong-ngomong, bagaimana rasanya kehilangan satu tangan? Kau pria tua bau tanah b*jingan! Sangat layak mendapatkan itu!" Tutup Zota. Dengan raut wajah penuh kebencian. Kemudian mulai menarik nafas panjang.
"MEIRIN….!!!! Jika kau mendengar suaraku ini! Sampaikan pada Boss Besar! Aku Zota, merasa sangat terhormat telah diberi kesempatan untuk bergabung dengan kelompok Bandit Serigala!" Teriak Zota lantang. Sebelum mulai kembali menggenggam erat golok raksasa miliknya dengan kedua tangan. Tanpa ragu maju menerjang kearah pria tua yang ada di hadapannya.
"Kau mencari kematian!" Bentak pria tua. Dengan raut wajah marah merilis seluruh aura di dalam tubuhnya. Dengan satu ayunan tangan, ia melempar ribuan Mana Angin berbentuk pisau-pisau tajam kearah Zota.
"Oaaaaaarrrrgggggghhhhhh…..!!!!"
Sementara itu, Zota yang melihat ribuan pisau kini dilemparkan kepadanya, tampak tak gentar sama sekali. Sambil berteriak lantang menyerukan seruan perang, sorot mata Zota teguh menatap kedepan. Tak sedikitpun mengurangi kecepatan lajunya.
***
(Reruntuhan Benteng suku Osiris, di dalam Gelang ruang-waktu)
__ADS_1
*Dentang…!!!
Satu suara benturan antar logam terdengar sangat nyaring, diiringi dengan satu kemilau keemasan mulai menyebar luas memenuhi ruangan kosong di depan kastil Gelang ruang-waktu.
"Bocah! Jika sampai gagal! Aku benar-benar akan membunuhmu!" Teriak Ernesto. Pada kemilau cahaya emas di hadapannya. Dengan tubuh penuh jilatan listrik merah, saat ini ia tampak sedang menatap tajam kearah kemilau emas tersebut.
*Dentang….!!!
Tepat ketika Ernesto menyelesaikan kalimatnya, satu suara benturan antar logam kembali terdengar dengan sangat nyaring.
"B*jingan mesum! Sekarang!" Teriak Theo lantang, suaranya terdengar dari dalam cahaya kemilau emas.
"Hmmmm… Hahahhaha…! Kau benar-benar selalu penuh kejutan!" Ucap Ernesto, seraya mulai melakukan gerakan menghimpun Mana. Mengalirkan seluruh simpanan Listrik merah di dalam tubuhnya, terfokus pada ujung jari telunjuk tangan kanan.
Kemudian, dengan gerakan mengayun yang tampak sangat berat, Ernesto melempar himpunan listrik merah intens di jari telunjuknya, menuju kearah cahaya kemilau.
*Blaaaaaaaazzzzzzttttt….!!!!
*Bzzzzzttt…!!!!
*Bzzzzzttt…!!!
Suara listrik yang berderak keras segera terdengar begitu Ernesto mengeksekusi tekniknya. Kemilau cahaya emas, kini bercampur dengan kilatan-kilatan merah terang dari Mana Listrik mutasi milik Ernesto.
Situasi yang tampak liar tersebut, bertahan untuk beberapa saat, sampai kemudian mulai mereda. Listrik merah menghilang pertama kali, dilanjutkan dengan kemilau cahaya emas, juga mulai meredup.
Dan ketika cahaya kemilau telah benar-benar redup, sosok Theo yang saat ini memanggul Palu Raksasa Belphegor dengan tubuh terbakar sepenuhnya dengan bara api emas, terlihat berdiri tegak menatap satu kapal perang raksasa yang sangat megah.
"Selesai! Rekontruksi telah selesai! Mahakarya besar lainnya berhasil kubuat!" Gumam Theo. Dengan seringai lebar di wajahnya.
"Hmmmm….???"
Namun, seringai lebar dan rasa puas yang di rasakan Theo, bertahan hanya untuk beberapa saat. Sebelum kemudian ekspresi wajahnya tiba-tiba berubah buruk. Cenderung menyeramkan.
"Drani mati?" Gumam Theo. Saat merasa ikatan Kontrak Tuan-hamba dengan Drani terputus.
"Siapa yang berani membunuh orangku!" Ucap Theo. Bersamaan dengan ucapannya tersebut, hawa membunuh pekat yang sangat liar, kini mulai menyebar luas.
Menyebabkan Ernesto yang menjadi satu-satunya orang di tempat tersebut, segera merasa dingin pada punggungnya begitu diterpa oleh hawa membunuh intens yang dikeluarkan Theo.
__ADS_1