Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
463 - Wanita Tua


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Beberapa saat kemudian)


Setelah mengatur jadwal, dimana disepakati bahwa latihan menempa dari Tuan Leluhur dan Sasi akan mengambil waktu masing-masing 4 jam dalam sehari secara bergantian, sementara sisa waktu hari akan di pakai Razak untuk berkultivasi dan latihan teknik bertarung lain, kompetisi antara Tuan Leluhur dan Sasi akhirnya dimulai.


Tuan Leluhur yang memenangkan undian Lempar koin, menjadi yang pertama memberi arahan. Menurunkan dasar-dasar teknik penempaaan suku Osiris kepada Razak. Menyisahkan Sasi yang saat ini terus memperhatikan dengan seksama semua arahan Tuan Leluhur kepada Razak.


Disisi lain, Theo sendiri memilih spot yang agak jauh. Tak ingin konsentrasinya terganggu. Karena bagaimanapun juga, proses penempaaan yang akan ia lakukan setelah ini, bukanlah satu proses penempaaan biasa. Melainkan mencoba untuk melebur Kristal Plant Bunga Udumbara Serbuk Besi, kedalam senjata Gauntlet kelas S milik Razak.


Kini, setelah semua bahan yang ia perlukan telah siap, Theo tampak dengan teliti memandang sepasang Gauntlet besi milik Razak yang sedang ia genggam. Dimana tampak sempurna karena memang merupakan senjata kelas S.


'Hmmmm… Sasi, bisa kesini sebentar?' Ucap Theo. Memanggil Sasi yang sedang berada di sisi lain menggunakan teknik transmisi suara.


"Saya disini!" Ucap Sasi singkat, saat sosoknya dalam sekejap hadir di sebelah Theo.


"Bukankah kau yang memberikan sepasang Gauntlet ini kepada Razak saat pertama ia menyelesaikan tantangan Istana Emas?" Tanya Theo.


"Itu benar!" Jawab Sasi.


"Apakah kau tau asal-usul dari Gauntlet ini yang sebenarnya? Aku penasaran dengan bahan yang di pakai oleh sang penempa untuk membuat senjata ini?" Tanya Theo lagi.


Pertanyaan Theo, segera membuat ekspresi wajah Sasi sedikit berubah. Sebelum dengan cepat pada detik berikutnya kembali normal.


"Tuan, sejujurnya, saya tahu betul asal-usul dari Gauntlet tersebut! Karena tak seperti item-item lain di dalam Istana Emas, Gauntlet tersebut bukanlah item yang di tinggalkan oleh Panglima Cinta-Kasih. Melainkan milikku pribadi!" Jawab Sasi.


"Ahhhh…. Bila benar begitu, seharusnya kau bisa menjelaskan langsung bahan yang di pakai untuk membuatnya? Kau yang menempanya sendiri?"

__ADS_1


"Itu benar! Sepasang Gauntlet tersebut adalah item pertama yang kutempa pertama kali setelah secara resmi di nyatakan lulus dari akademi penempa suku Goblin!" Ucap Sasi.


"Aku menggunakan satu logam khusus yang hanya ada di wilayah pertambangan suku Goblin sebagai bahan dasar pembuatannya!"


"Meskipun logam ini masih berada di kelas yang lebih rendah jika dibandingkan dengan Logam Surgawi, namun memiliki satu keistimewaan khusus, yakni itu lebih fleksibel dan mudah untuk dilebur! Jadi, bisa di bilang logam ini merupakan bentuk versi sederhana dari Logam Surgawi!" Tutup Sasi.


"Ahhhh… Itu menjelaskan kenapa aku merasa senyawa yang ada di dalam bahan logam dari Gauntlet ini, benar-benar terasa asing! Begitu asing hingga tak terasa seperti berasal dari Gaia Land! Jadi karena bahan dasarnya berasal dari Realm yang lebih tinggi, sama halnya dengan Logam Surgawi!" Gumam Theo.


"Tapi sebagai seorang penempa, aku tau bahwa kau tampaknya benar-benar tertarik pada Razak! Bahkan rela memberi item pertama yang kau tempa, dimana biasanya merupakan satu prasasti kesayangan tiap-tiap penempa, kepada anak itu!" Lanjut Theo.


Kata-kata Theo, membuat Sasi terdiam untuk beberapa saat.


"Sejujurnya, kau tau sendiri aku telah berada di dalam Istana Emas selama jutaan tahun! Menyebabkan perasaan rindu pada tempat asalku!" Ucap Sasi.


"Oleh sebab itu, ketika pertama kali melihat Razak. Dimana merupakan keturunan suku Osiris yang dicintai oleh Mana Besi, aku segera teringat oleh para ras Goblin, melihat aliran Mana Besi yang menari-nari di sekitar tubuhnya, benar-benar sedikit memberi perasaan nostalgia di dalam hatiku! Seolah aku telah pulang!" Gumam Sasi.


"Jadi sedikit hadiah spesial, kurasa tak terlalu memberatkan!" Tutup Sasi.


"Hmmmm…. Perasaan sentimentil yang cukup dalam!" Gumam Theo.


"Baik!" Jawab Sasi singkat. Sebelum sosoknya menghilang.


Meninggalkan Theo yang saat ini sudah menatap dengan pandangan mata penuh minat pada tungku penempaaan yang telah siap di hadapannya. Memabara liar seolah sudah tak sabar digunakan kapan saja.


"Kita mulai!" Gumam Theo. Seraya mulai menyalakan Api Surgawi berwarna emas pada ujung jari telunjuk tangan kanannya.


***


(Satu minggu kemudian)


Kelompok Bandit Serigala tak melakukan pergerakan apapun selama satu minggu ini, karena sang Boss Besar, memang tengah sibuk melakukan proses penempaaan. Setiap orang tampak menghabisikan waktu dengan berlatih dan juga berkultivasi. Memanfaatkan ruang Kultivasi yang ada di dalam Benteng Osiris.


Selain berlatih, beberapa orang juga tampak melakukan penjelajahan untuk melihat lebih detail Benteng Osiris yang kini menjadi markas mereka. Mencari berbagai fasilitas baru yang bisa berguna untuk latihannya.


Ditengah situasi yang bisa dikatakan cukup tenang tersebut, pada daerah oasis yang ada di wilayah tak jauh dari Benteng Osiris, namun masih berada di dalam lingkup perbukitan yang membentang melingkar menutup seluruh wilayah Benteng di balik tabir kabut Serbuk Besi, beberapa orang wanita tampak sedang sibuk melakukan latih tanding.


Yang sedang berlatih tanding tak lain adalah trio kembar Xika, Xoya, dan Xafi. Ketiganya terlihat serius bertarung, menyerang dan bertahan secara bergantian dalam tempo yang tampak telah diatur dengan sempurna oleh ketiganya.

__ADS_1


Sementara itu, tak jauh dari trio gadis ini berlatih tanding, pada tepian danau oasis yang rimbun dengan banyaknya tanaman berbentuk eksotis, Syakira terlihat sedang melakukan beberapa gerakan mengayunkan Tombak, seperti sedang menari ringan.


Dihadapan Syakira, Hella yang duduk santai diatas sebuah batu ditemani White Fang bersimpuh sebelahnya, memandang dengan tatapan tajam. Beberapa kali menyampaikan intruksi kepada Syakira ketika melihat ada kesalahan dalam gerakan tombak yang sedang ia lakukan.


"Hmmmm… Ini cukup membosankan! Kenapa juga ia tertarik mempelajari teknik Martial Art! Padahal sudah menerima arahan tentang mengatur aliran Mana dariku!" Gumam Gerel. Saat ini sedang melihat latihan Syakira, dari sisi lain danau Oasis.


"Nagini! Apa kondisimu telah benar-benar pulih?" Tanya Gerel kemudian. Mengalihkan pandangan kearah Guardian Beastnya.


Nagini sendiri, tampak sedang sibuk memakan Spirit Beast buruannya yang berbentuk seperti Bison, merupakan Spirit Beast dimana hidup dengan liar disekitar wilayah perbukitan Benteng Osiris.


"Tssaaaaaahhhhh….!!!" Jawab Nagini, dengan ekspresi wajah cerah kearah Gerel untuk sesaat, sebelum kembali melakukan aktivitas makannya.


"Hmmmmm… Jangan makan secara terburu-buru! Lagipula, aku selalu heran, kenapa juga kau masih perlu memakan Spirit Beast! Bukankah suplai Mana Lumpur yang tiap hari kuberikan padamu sudah cukup untuk memberimu energi terus tumbuh?" Tanya Gerel.


"Tssaaaaaahhhhh….!!!" Jawab Nagini sekali lagi, dengan ekspresi wajah sedikit kesal. Merasa Gerel mengganggu waktu makannya dengan terus bertanya.


"Yahh…! Yahh…! Itu hobi! Baiklah, aku tak akan bertanya lagi!" Dengus Gerel.


Gerel tampak akan kembali melihat kearah Syakira sedang berlatih, sampai kemudian, tatto segel yang ada di balik lengan kirinya, secara tiba-tiba mulai menyala samar.


Merasakan hal tersebut, raut wajah Gerel berubah menjadi sedikit cemas. Dengan terburu-buru ia menarik paksa Nagini kedalam tatto segel, sebelum melompat cepat meninggalkan tempat. Menuju ke suatu arah.


***


Menggunakan terowongan rahasia tersembunyi bawah tanah dimana hanya di ketahui oleh beberapa anggota kelompok Bandit Serigala, Gerel yang secara kebetulan ikut hadir pada rapat terbatas antar wakil pemimpin saat Razak dan Tuan Leluhur memberitahukan tentang jalur tersebut, bergerak keluar dari wilayah kabut serbuk besi yang menyelubungi perbukitan Benteng Osiris.


Dan tepat ketika Gerel baru berjalan beberapa langkah begitu keluar dari dalam terowongan, memindai wilayah sekitar seperti sedang mencari sesuatu, satu sosok tiba-tiba muncul tak jauh di hadapannya.


Sosok ini merupakan seorang wanita tua yang terlihat masih sangat cantik dengan bentuk tubuh yang terawat baik.


Sorot mata Gerel berubah tajam saat melihat sosok ini berjalan mendekat.


"Apa yang kau lakukan disini? Jika ingin memintaku pulang, maka lupakan! Dan jangan berani-berani memberi informasi apapun pada Tribe tentang semua yang telah kau lihat!"


"Aku benar-benar tak akan memaafkan dan bersumpah tak akan mau bertemu denganmu lagi bila itu benar-benar terjadi!" Dengus Gerel.


"Ohhhh… Cucuku yang paling cantik! Kenapa selalu saja bersikap kesal pada setiap hal! Itu tak bagus untukmu! Membuat wajahmu hanya akan bertambah tua lebih cepat!" Ucap sang wanita tua.

__ADS_1


__ADS_2