Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Theo V.S Arthur


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Hoooaaarrgggg….. Mati saja kau….!!!" Arthur berteriak marah mendengar kata-kata Theo yang terus memanggilnya bocah. Entah kenapa dia selalu tersinggung secara berlebihan ketika ada yang mengatainya bocah.


"Dark Ball…!!!" Sejurus kemudian, Arthur mengangkat tangannya, elemen kegelapan mulai muncul di telapak tangannya tersebut, terus memadat dan memadat, membentuk sebuah bola kegelapan.


"Makan ini…!!!" Setelah bola kegelapan terbentuk. Dia melemparkannya dengan cepat dan keras kearah Theo.


"Itu berbahaya, jangan sampai terkena!" Teriak Tiankong mengingatkan.


Mendengar peringatan Masternya, Theo segera mengeksekusi langkah siput untuk menghindari bola kegelapan Arthur.


*Blaaaarrr………!!! Woss… wosss.. wosss…


Suara ledakan menggema cukup keras begitu bola kegelapan Arthur mendarat di tanah tempat Theo sebelumnya berdiri. Selain meledak, bola ini juga mulai membusukkan area tersebut.


"Wow…. Itu tadi berbahaya, ternyata elemen kegelapan juga bisa digunakan dengan cara itu!" Kata Theo, malah kagum dengan teknik Arthur.


"Hmmm…. " Melihat Theo menghindari serangannya, Arthur mendengus kesal.


"Dark ball…!!!" Dengan cepat dia membentuk bola kegelapan, dan melemparnya lagi kearah Theo.


Namun lagi-lagi dengan langkah siputnya, Theo berhasil menghindar.


"Hoaaarrggghh…. Berhenti menghindar!" Teriak Arthur semakin marah ketika Theo kembali menghindar.


"Kau bodoh atau apa? Kau pikir aku idiot yang akan menurutimu bila kau bilang jangan menghindar?" Bentak Theo kesal.


"Hoaarggghhh…. Diam!"


"Dark ball..!"


"Dark ball…! Dark ball…! Dark ball…!" Arthur yang terlihat semakin marah, dengan cepat dan membabi buta terus melempar bola kegelapannya berkali-kali kearah Theo.


"Hahahha… kau kuat, elemen kegelapanmu juga sangat ganas, sayangnya kau sangat lambat!" Kata Theo, tertawa lantang sambil menghindari semua serangan Arthur.


"Ngomong-ngomong, konsep dari teknik bola kegelapanmu ini kalau tak salah adalah memadatkan elemen kegelapan bukan?"

__ADS_1


"Jadi seperti ini?"


Ketika Arthur mengambil jeda serangan dan mulai memadatkan bola kegelapan lagi, Theo yang melihatnya justru mengikuti gerakan Arthur.


"Dark ball!" Theo berkata pelan, bola kegelapan juga muncul di telapak tangannya. Sementara Arthur yang melihat Theo meniru tekniknya, terlihat sedikit terkejut.


"Hoooaarrggghhhh.... ! Peniru….!!! Kurang ajar…!!! Kau menyebalkan..!!" Bentak Arthur, kembali berteriak marah. Terlihat sangat kesal.


Dia kemudian mulai melempar bola kegelapan miliknya kearah Theo. Melihat hal itu, Theo juga melakukan lemparan yang sama.


*Booommmmm……!!! Woooooossssss…. !!!!


Kini suara ledakan terdengar lebih keras dari sebelumnya, bentrokan antara dua bola kegelapan membuat area sekitar hancur berantakan, kemudian mulai membusuk, menyerap energi kehidupan setiap makhluk hidup entah itu hewan atau tanaman di sekitar lokasi, yang secara tak sengaja terkena dampaknya.


"Hoooaargggg….. Dark ball.. Dark ball.. Dark ball….!" Arthur yang terlihat semakin marah, kembali melempar bola kegelapan dengan membabi buta kearah Theo.


"Hahhahahha.... bocah konyol, hahhaha... !!!" Namun, kali ini Theo tak membalasnya dengan bola kegelapan yang sama seperti sebelumnya.


Dia hanya terus menghindari serangan memanfaatkan Mana Gravitasi, dengan teknik langkah siputnya. Tapi, bersamaan dengan dia menghindari serangan Arthur, tangan kanannya masih terangkat dan terus memadatkan elemen kegelapan.


Elemen kegelapan yang di padatkan Theo sendiri, sekarang tampak berbeda dengan milik Arthur, dia tak memadatkannya membentuk sebuah bola, tapi justru memanjangkannya.


"Hahaha…. Aku turut prihatin dengan sisi kreatifitasmu!" Kata Theo ketika Arthur kembali mengambil jeda serangan.


"Kenapa juga terus membentuknya seperti bola, bila kau bisa menggunakannya seperti ini?" Tanya Theo, dengan senyum menyeringai seperti penjahat jalanan.


"Dark Spear…!" Sejurus kemudian, dia melempar tombak kegelapan ciptaannya dengan keras kearah Arthur yang terlihat belum siap dan sedikit terkejut dengan modifikasi teknik yang dilakukan Theo.


Tombak kegelapan Theo mendarat dengan telak ketubuh Arthur. Karena mengambil bentuk tombak, teknik ini bisa dilemparkan dengan lebih cepat dan efisien terfokus pada satu titik.


"Oaaarrgggggghhhhh….. kurang ajar…!!!" Arthur berteriak marah, namun terlihat tak merasa kesakitan sama sekali meskipun tubuhnya terluka oleh serangan Theo.


"Hahh…. Dipengaruhi oleh kegelapan memang berbahaya, kau bahkan tak bisa merasa sakit?" Tanya Theo, sedikit kesal namun juga prihatin dengan kondisi Arthur.


"Hoaaarrgggh….! Diam….!" Bentak Arthur. Kemudian maju menerjang kearah Theo. Terlihat sudah sangat tak sabar menghadapi Theo.


Bentrokan kembali terjadi, kali ini Arthur menggunakan kepalan tangannya yang dialiri oleh mana Kegelapan untuk memukul Theo. Sementara Theo juga melakukan hal yang sama. Keduanya bentrok mengandalkan teknik pukulan jarak dekatnya masing-masing.


Keadaan ini berlangsung beberapa saat, sampai akhirnya lama kelamaan Arthur terlihat dalam keadaan yang tidak diuntungkan. Mulai terpojok dan di paksa dalam posisi bertahan.


"Hahhaha.. kau yang terlalu mengandalkan elemen kegelapanmu, mencoba bertarung jarak dekat denganku? Sungguh konyol!" Di tengah pertarungan, Theo kembali mengejek Arthur.


"Mungkin selama ini kau bisa menekan musuhmu yang takut dengan kegelapanmu! Sehingga kau bisa unggul dalam pertarungan jarak dekat. Namun yang kau hadapi sekarang adalah sesama pengguna elemen kegelapan! Kau pikir aku takut degan kegelapanmu?" Kata Theo, sambil memasang senyum meremehkan.


"Hoooaaargggg…. ! Diam..! Kau kurang… "


*Booooommmmm….. !!!

__ADS_1


*Sraaaakkkk…..


Arthur kembali berteriak marah dan akan memaki Theo, tapi belum sempat dia menyelesaikan kata-katanya, tinju Theo mendarat keras tepat di wajahnya. Membuatnya terpental sangat jauh, dengan posisi menggesek tanah.


"Untuk ukuran bocah ingusan, kau sangat cerewet!" Kata Theo.


*Wooosssss….


*Wooosss…. Wossss…. !


Namun bersamaan Theo menyelesaikan kata-katanya, elemen kegelapan di tubuh Arthur yang masih terbaring di tanah, kini mulai bergejolak hebat.


"Hmmm….." Theo yang melihat hal itu, segera memicingkan matanya.


*Boooommmmm…..


Setelah bergejolak hebat beberapa saat, elemen kegelapan di tubuh Arthur mulai meledak. Bersamaan dengan ledakan itu, kini Arthur terlihat berdiri lagi.


"Hoooarrggghhhhh…… kau harus mati, kau harus mati, kau harus mati." Arthur mengulangi kata harus mati tiga kali sambil memandang Theo dengan sorot mata penuh kebencian.


*Wooossss….


*Wooos….. woooosss… woossss…


Elemen kegelapan kembali bergejolak di sekitar tubuh Arthur. Namun kali ini intensitasnya lebih padat dan juga lebih besar, terlihat sangat mengerikan.


"Kau harus mati… hoaaarggghhhh… Dark Explotion..!!!"


Bersamaan dengan teriakan Arthur, aura ledakan hebat yang menekan segera terasa di sekitar area tersebut.


"Hmmm… Master, apa ini waktunya?" Tanya Theo tiba-tiba kearah Tiankong yang dari tadi mengawasi pertarungan dalam diam.


"Tunggu sedikit lagi! Tapi untuk bersiap-siap, keluarkan saja bocah itu sekarang." Jawab Tiankong.


Mendengar itu, Theo memberikan anggukan singkat. "Mammon, aku memanggilmu!" Sejurus kemudian dia memanggil Mammon.


"Master, kau memanggilku?" Tanya Mammon begitu keluar dari tatto segel. Seperti biasa, dengan ekspresi datar dan polos. Sangat tak cocok dengan bentuk tubuh menyeramkannya yang seperti miniatur Hydra.


"Yah, cepat berubah kedalam mode senjata!" Perintah Theo.


Tanpa menanyakan apapun lagi, Mammon berubah menjadi seperangkat pisau lempar, kemudian secara otomatis terpasang menempel di pinggang Theo.


Setelah mengambil tubuh Hydra, bentuk pisau Mammon sendiri sekarang sudah tidak putih polos seperti sebelumnya. Melainkan memiliki enam warna berbeda di setiap pisaunya, mengikuti warna atribut setiap elemen.


Dan tepat ketika Theo selesai mengatur posisi Mammon, ledakan keras menggema hebat. Arthur telah selesai mengeksekusi teknik Dark Explotionnya.


"Sekarang saatnya!" Teriak Tiankong.

__ADS_1


Tanpa menjawab, Theo mengambil enam pisau lempar, menempatkan masing-masing tiga buah di sela jari-jari tangan kanan dan kirinya.


"Sikap pertama dari teknik Dosa Keserakahan…!"


__ADS_2