
(Wilayah Tengah Hutan Pinus Beku)
"Hmmm… kenapa semuanya hancur berantakan seperti ini?" Gumam Theo, ketika melihat tebing yang menjadi lokasi dimana pintu masuk rahasia, menuju Jurang Misterius, saat ini luluh lantak dengan tanah.
"Gggrrrrrr……!!!!!"
Ketika Theo masih mengamati reruntuhan di hadapannya, sebuah suara menggerang dari Spirit Beast, tiba-tiba terdengar dari suatu tempat. Theo yang mendengar itu, secara reflek segera menoleh, untuk melihat sumber suara.
"Ohhh… apa yang di lakukan makhluk ini diluar jurang? Ehhh… lebih tepatnya, bagaimana dia bisa keluar?" Kata Theo, begitu ia melihat sosok Spirit Beast yang dari tadi menguncinya dengan aura kuat.
"Kahhh…. Kahhhh… kahhh… kahhh…!"
Bersamaan dengan Theo menyelesaikan kata-katanya, suara lain yang terdengar sangat berisik mulai menggema dari segala arah, menutup semua jalan kabur Theo.
"Apa-apaan! Bahkan mereka semua juga keluar dari jurang? Apa yang terjadi?" Seru Theo lagi, tampak sangat heran.
"Grrraahhhh….!"
Belum sempat Theo puas dengan rasa herannya, makhluk pertama yang tadi ia lihat, berteriak keras dan liar. Terlihat sangat marah. Kemudian maju menerjang kearah Theo.
"Kera sialan! Apa kau lupa padaku!" Dengus Theo, saat melihat Spirit Beast tersebut maju menyerangnya. Makhluk ini tak lain adalah kera raksasa yang sebelumnya keluar dari dalam jurang bersama Jasia.
"Kaaahhh… kahhhh… kahhhh…. !"
Kera-kera lain yang sebelumnya mengepung Theo, kini juga ikut maju menyerang secara serempak begitu melihat pemimpinnya bergerak.
*Woooooshhhhh…..!!!!
Theo segera memasang sikap bertahan saat tahu ia diserang dari segala arah. Aliran Mana api ganas, juga mulai menyembur keluar dari dalam tubuhnya. Kemudian aliran Mana api ini bergerak dan mulai terfokus membungkus kedua tangannya dengan balutan Mana api berbentuk tali yang terlihat memanjang.
"Hmmm… mari sedikit bermain, agar kau kembali ingat padaku!" Gumam Theo, kemudian mulai memasang senyum menyeringai seperti penjahat jalanan. Sementara tatapannya terfokus pada kera raksasa yang maju di posisi paling depan, menuju kearahnya.
"Cambuk api!" Teriak Theo, begitu posisi para kera sudah dalam jangkauan serangannya.
__ADS_1
Ia kemudian mulai memainkan Mana Api berbentuk cambuk yang ada di tangannya. Bergerak memutar kesegala arah dengan cepat. Lebih terlihat seperti sedang menari.
*Splaaaassshhh…!!!!
*Splaaaassshhh….!!!
*Splaaaassshhh….!!!!
Para kera yang terlanjur maju menerjang kedepan, akhirnya tak memiliki waktu untuk menghindar, berakhir dengan terkena sabetan cambuk berkali-kali.
Kera-kera kecil langsung mundur seketika begitu terkena serangan campuk tersebut, mereka tampak menggeliat sambil menggaruk-garuk luka di tubuh mereka.
Berbeda dengan gerombolan kera kecil, kera raksasa bukannya mundur tapi malah terus menerus maju menerjang kedepan, meskipun beberapa kali terdorong mundur karena efek sabetan cambuk milik Theo.
Kera ini baru menghentikan serangannya dan melompat mundur, sesaat setelah tubuhnya sudah penuh dengan luka berbentuk garis-garis panjang, efek dari sabetan cambuk yang berkali-kali ia terima.
"Grrrrrr…..!!!"
Sambil terus menggerang dengan nada menyeramkan, kera raksasa memandang Theo dengan sorot mata yang aneh. Ia kemudian mulai mengelus beberapa luka miliknya.
Ketika kejadian ini berlangsung, aura kuat yang sebelumnya keluar dari tubuh sang kera, perlahan mulai di tarik kembali, kera ini masih menjilati bekas darah yang ada di tangannya untuk beberapa saat, sampai akhirnya kembali melihat kearah Theo.
Namun berbeda dengan sebelumnya, kali ini sorot mata sang kera tidak terlihat mengerikan sama sekali, tapi justru terlihat seperti sedang memohon kepada Theo.
"Hehhe… sekarang sudah ingat padaku hah?" Kata Theo, masih dengan senyum penjahat jalanannya.
Sesaat setelah mengatakan itu, tanpa menunda lagi, Theo segera melompat maju kedepan. Dengan liar kembali mencambuk sang kera raksasa berulang kali.
"Graaahhh…. Gruuuuhhh… auuuuuhhhh….!!!"
Kera raksasa yang menerima cambukan dari Theo, segera berteriak keras, seperti sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat. Namun, berbeda dengan teriakannya yang terdengar memilukan, ekspresi wajah kera ini justru memperlihatkan bahwa ia sangat menikmati setiap cambukan yang ia terima.
"Hahhaha… tak tau kenapa, aku sangat senang dengan Spirit Beast berbentuk kera!"
__ADS_1
"Mereka sungguh makhluk yang sangat menarik!" Gumam Theo, saat ini ia tiba-tiba teringat dengan Raging Ape yang dulu menyebabkan ia jatuh kedalam Jurang Misterius.
Raging Ape tersebut pula yang secara tak langsung mengubah nasibnya. Karena bila ia tak jatuh kedalam Jurang Misterius, dan bertemu dengan Masternya, ia pasti saat ini masihlah seorang tuan muda sampah yang tak berguna.
Setelah puas mencambuk untuk beberapa saat, Theo akhirnya menghentikan semua aksinya. Ia mundur beberapa langkah, sambil tetap menatap Kera raksasa yang baru saja di siksanya dengan ratusan cambukan.
Namun, begitu Theo mundur dan berhenti mencambuk, kera raksasa justru memasang ekspresi wajah kesal cenderung memelas. Tampak tak terima saat Theo berhenti menyiksanya.
"Hahhaha… dasar kera aneh! Kau masih tak berubah! Justru senang dengan rasa sakit dari luka yang ditimbulkan oleh Mana api ganas!" Kata Theo.
"Kaahhh… kaahhh… kahhhh….!"
Sama seperti kera raksasa, puluhan kera kecil yang dari tadi diam untuk melihat pertunjukan, tampak tak puas saat Theo berhenti mencambuk.
"Hahhaha… sudah-sudah! Lain kali akan kutemani bermain lagi! Saat ini aku sedang sibuk!" Kata Theo. Menjawab protes kumpulan kera ini, seolah kera-kera yang ada disekitarnya memahami kalimat yang baru saja ia katakan.
"Aku merekomendasikan Jasia untuk pergi ke sarang kalian ketika menyuruhnya untuk masuk kedalam Jurang Misterius guna melakukan latihan tertutup. Jadi, apa itu dia yang membawa kalian keluar?"
"Guuhhhh….?"
"Kaahhhh… kahhhh… kahh….!"
Mendengar pertanyaan Theo, kera raksasa justru memasang ekspresi wajah bodoh. Tampak tak paham. Diikuti dengan kera-kera kecil lain yang kemudian kembali berteriak berisik.
"Hahhhh… bodoh sekali, mencoba berbicara dengan kera!" Gumam Theo, menghardik dirinya sendiri.
Setelah itu, tanpa menunda Theo mulai berjalan kearah reruntuhan tebing, mencoba mencari jalan masuk kedalam Jurang Misterius.
Sementara para kera yang melihat itu, kini mulai berbaris rapi mengikuti Theo kemanapun ia pergi. Kera raksasa masih memandangnya dengan tatapan memelas sambil menunjuk kearah luka-lukanya, seolah ingin mengatakan agar Theo mencambuknya lagi.
Melihat hal itu, mau tak mau Theo mulai tertawa sampai terpingkal-pingkal, merasa ekspresi wajah kera raksasa sangat lucu. Wajah memelasnya sungguh tak cocok dengan bentuk tubuh raksasanya yang menyeramkan.
"Berhenti memasang wajah seperti itu! Hahahha... Sudah kubilang, aku tak punya waktu!" Kata Theo, seraya kemudian memasang beberapa kertas jimat dan membentuk segel tangan. Menutup celah masuk kedalam Jurang Misterius yang berhasil ia temukan. Mencegah para kera untuk terus mengikutinya.
__ADS_1
"Bermain dengan Jasia saja! Aku yakin kalian mengikuti gadis itu sampai-sampai keluar dari dalam jurang!" Kata Theo, kemudian tanpa menunda lagi, berbalik memasuki lorong Jurang Misterius. Meninggalkan kera raksasa dan juga gerombolan anak buahnya yang masih memasang ekspresi memelas.