
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Hmm…. Sangat sempurna!" Kata Aria.
Saat ini, Aria tampak keluar dari dalam kepulan kabut berwarna biru langit. Ia baru saja selesai mencoba kekuatan baru dari pisaunya.
Kristal Plant, meskipun hampir mirip dengan Kristal Beast, namun memiliki fungsi yang sama sekali berbeda. Bila Kristal Beast dilebur kedalam Meridian atau Jiwa seorang Knight, itu berbeda dengan Kristal Plant. Karena entah kenapa, Kristal Plant memiliki sirkulasi Mana yang berlawanan dengan Kristal Beast.
Menurut legenda dan beberapa catatan lama, bila ada Knight yang mencoba melebur Kristal Plant kedalam tubuhnya, maka tubuh mereka akan mengalami ketidak seimbangan fluktuasi Mana. Berakhir pecahnya Meridian, membuat orang lumpuh. Atau pecahnya jiwa, membuat orang menjadi wadah kosong tanpa jiwa.
Oleh karena itu, bila ada orang yang berhasil mendapatkan Kristal Plant, jalan satu-satunya untuk mendapat manfaat adalah dengan meleburnya kedalam senjata mereka. Itupun dengan syarat, senjata itu harus memiliki setidaknya kelas S.
"Ini sama dengan yang dilakukan kabut itu pada kita sebelumnya. Jadi, aku yang mengeluarkan kabut, akan mampu memindahkan orang yang terjebak di dalamnya kemanapun aku mau, asal tetap dalam jangkauan kabut tersebut." Kata Aria menjelaskan.
"Ohh… itu menjelaskan semuanya. Jadi, yang membuat kabut ini tampak hidup sebelumnya adalah, karena Bunga Udumbara mengendalikannya. Sama seperti kau mengendalikannya sekarang." Kata Theo, memberi tanggapan.
"Yah, kurang lebih seperti itu, tapi kontrolku masih jauh bila dibandingkan dengan Bunga Udumbara. Aku cuma bisa mengeluarkan segumpal gelombang kabut saja." Kata Aria.
"Jangan terlalu serakah, itu wajar. Bagaimanapun juga, Bunga Udumbara adalah pemilik utama yang memproduksi kabut ini."
"Kedepan, karena aku sudah meleburkan Kristal Plant bunga itu ke dalam kedua pisaumu, kekuatan kontrol serta jangkauan dari kabut yang bisa kau kendalikan, akan mengikuti dari perkembangan kedua pisaumu!"
"Untuk saat ini, segumpal kabut tersebut tetap akan berguna bagimu dalam pertarungan jarak dekat. Kau bisa membuat bingung lawanmu dengan cara menjebaknya didalam. Mengacaukan pergerakannya dengan terus memindahkannya." Theo menutup penjelasannya dengan senyum isyarat.
"Ide yang cukup bagus!"
"Arthur, kau mau latih tanding?" Kata Aria kemudian.
"Ohh.. kau pikir aku bodoh atau apa? Tidak mau!" Dengus Arthur, dari awal dia sudah tak suka dengan efek yang dia rasakan ketika terjebak di dalam kabut Mistis Abadi tersebut.
"Pfftt…. Pengecut..!" Gumam Aria.
"Apa kau bilang?" Bentak Arthur.
"Bocah pengecut!" Aria kembali memprovokasi Arthur dengan menambahi kata bocah.
"Sialan! Siapa yang kau sebut bocah!" Arthur yang sangat tak suka di katai bocah, mulai terpancing.
"Siapa lagi, itu kau! Bocah pengecut!" Kata Aria lagi, kali ini dengan ekspresi sangat meremehkan.
"Tutup mulutmu!" Arthur yang tak terima, segera maju kedepan menerjang.
Pertempuranpun tak terhindarkan…
__ADS_1
"Kabut Mistis Abadi!"
Aria yang melihat Arthur terpancing dan maju menerjang kearahnya, segera mengaktifkan kekuatan dari kedua pisaunya.
Gumpalan gelombang kabut keluar dari kedua pisau, kemudian seperti hidup, karena dikendalikan dengan pikiran oleh Aria, kabut ini menerjang kedepan, melahap Arthur dengan cepat.
"Sialan!! Kabut sialann!!" Arthur berteriak memaki di dalam kabut. Saat ini, dia sama sekali tak bisa melihat sekitar. Semua yang ada dihadapannya adalah gumpalan kabut berwarna biru langit.
*Brakkk…
Ketika dalam kondisi buta tersebut, tiba-tiba sebuah pukulan mendarat di punggungnya.
"Sialan!!! Bertarung dengan jantan!" Bentak Arthur.
"Hmmm… kau bodoh atau apa? Aku wanita! Kenapa juga bersikap jantan!" Dengus Aria, suaranya terdengar tepat di samping telinga Arthur.
Arthur yang sedikit terkejut, segera secara reflek memberi tendangan. Namun, yang ditendangnya hanyalah udara kosong.
"Nenek sihir sialan! Bertarung dengan adil!" Bentak Arthur.
"Hmmm… ini adalah kekuatanku! Ini adil menurutku!" Dengus Aria, lagi-lagi suaranya tepat di samping Arthur.
"Sialan..!!!" Arthur kembali memberi tendangan kearah suara Aria. Namun sekali lagi, itu hanya udara kosong.
"Kau tahu, sekarang kau benar-benar tampak seperti penyihir sungguhan!" Bentak Arthur frustasi. Mencoba memprovokasi Aria.
"Kau…!!! Bocah sialan!" Bentak Aria balik. Kemudian dengan tiba-tiba melayangkan pukulan kearah dada Arthur.
Namun, Arthur yang kali ini telah siap menerima serangan, dengan cepat menangkap tangan Aria begitu pukulannya mendarat.
"Hahhaaha… kali ini aku tak akan melepaskanmu!" Kata Arthur, dia merasa puas, karena meskipun mendapat pukulan, tapi dia juga berhasil menangkap Aria.
"Hmmm… jangan senang dulu!" Dengus Aria singkat.
Sesaat kemudian, dia memindahkan Arthur ketempat lain, di salah satu sudut area kabut Mistis Abadi. Membuatnya kembali terlepas dari tangkapan Arthur.
"Penyihir sialan! Itu curang! Sialan! Sialan! Sialan!" Bentak Arthur keras. Dia sangat kesal, merasa teknik Aria sangatlah tak adil.
"Hhahaha… teruslah berteriak dan memaki! Itu percuma! Kau pikir dengan memaki bisa memenangkan pertempuran!" Dengus Aria.
"Kali ini kita lihat, apa kedepan kau masih berani menantangku!" Aria melanjutkan dengan nada sangat meremehkan.
"Sialan! Kau pikir aku takut denganmu hanya karena kau sekarang bisa menggunakan trik aneh murahan ini?" Bentak Arthur.
"Hahhaha…. Terserah kau takut atau tidak, yang jelas mulai sekarang, aku bisa terus menghajarmu sesukaku!"
*Buuggg….
*Buuggg….
*Buggg…..
Rentetan pukulan menyelinap mendarat dengan keras ketubuh Arthur setelah Aria menyelesaikan kata-katanya.
__ADS_1
"Aaarggghhhh…. Menyebalkan sekali! Kau pikir kau tak terkalahkan hahh?" Teriak Arthur, tampak sangat marah.
*Woooshhhh….
Bersamaan dengan teriakan Arthur, elemen kegelapan pekat keluar dari tubuhnya. Menyebar kesegalah arah di area kabut.
"Jika aku tak bisa melihatmu! Aku tinggal menyisir dan mengisi seluruh kabutmu dengan kegelapanku! Aku ingin tahu, kau bisa lari kemana lagi! Hahahhaha…..!" Kata Arthur, sambil tertawa penuh kemenangan.
"Ckk…. Ini menyebalkan!"
Sementara Aria yang melihat kegelapan Arthur mulai menyebar luas mengisi setiap sudut dari kabutnya. Hanya bisa mendengus kesal dan segera keluar dari dalam kabut.
"Hahhahhaah… kupikir kalian masih berimbang!" Kata Theo ketika melihat Aria keluar dari dalam kabut.
Sesaat kemudian dia menyerap kembali seluruh kabutnya kedalam pisau, diikuti Arthur yang juga menyerap kegelapanya kembali.
"Atribut kegelapan itu sangat menyebalkan! Andai saja kau tak punya itu! Aku sudah menghajarmu habis-habisan dari dulu!" Dengus Aria.
"Ohh.. sekarang merasa tak adil? Kegelapan ini adalah kekuatanku! Jadi ini adil menurutku!" Kata Arthur, mengulang apa yang diucapkan Aria sebelumnya. Sambil memasang wajah mengejek.
"Kauu…!!!"
"Hahhaha… sudah-sudah…! latih tandingnya kalian teruskan lain waktu saja! Sekarang sebaiknya kita kembali mencari cara keluar dari labirin ini!" Kata Theo menengahi.
"Sudah hampir seminggu kita terjebak disini, orang-orang dari Housemu sekarang pasti sangat khawatir."
"Aku bahkan tak bisa membayangkan bagaimana khawatirnya si tua Estro itu, mungkin dia akan mencoba untuk membunuhku ketika kita berhasil keluar dan bertemu dengannya lagi. Hahahhaha....!" Kata Theo melanjutkan, sambil melihat kearah Aria.
"Yahh… sepertinya semua orang dari House Braveheart adalah seorang psikopat gila!" Tambah Arthur.
"Kau! Jaga mulutmu!" Bentak Aria. Terlihat akan kembali menerjang kearah Arthur.
"Ohh... mau bertarung lagi? Sini maju!" Dengus Arthur, dengan senyum meremehkan.
"Ayolah... Sudah hentikan! Kita tak punya waktu lagi untuk ini! Lain kali saja kalian lanjutkan!" Kata Theo. Mulai tampak kesal dengan dua orang di hadapannya.
***
Beberapa saat kemudian, setelah situasi sudah agak tenang.
"Hmm… jadi rute mana yang akan kita ambil?" Tanya Aria.
"Sebenarnya sekarang sudah agak mudah, dengan tak adanya kabut mistis abadi yang menyesatkan, kita tinggal mengambil arah ketimur. Bukankah ibukota ada di arah sana!" Kata Theo.
"Logikanya memang seperti itu sih." Jawab Aria.
"Masalahnya sekarang adalah, kita harus berhati-hati di sisa perjalanan. Orang bernama Beladro itu, pasti masih mencari kita saat tahu Hell Orb tidak berada di tangan Alejandro."
"Kemungkinan terburuknya, dia akan menunggu kita di pintu keluar perbukitan ini." Kata Theo, menutup penjelasannya.
"Boss..! Pikirkan itu terakhir saja. Mau tak mau kita tetap harus keluar!" Kata Arthur.
"Yah... Masih ada kemungkinan juga kita akan bertemu dengan rombongan Houseku dalam perjalanan keluar." Tambah Aria.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang." Kata Theo.
Kemudian dengan teknik gerakannya masing-masing, mereka bergerak cepat kearah timur.