Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
166 - Api-Api Kecil


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Wilayah tengah Hutan Pinus Beku)


*Booommmm….!!


*Boommmmm….!


*Boooommmmm…!


Suara ledakan lantang, terdengar dimana-mana. Saat ini, sekelompok Knight dengan pakaian serba hitam, dan juga menggunakan penutup wajah, sedang menyerang sebuah Basecamp.


"Sialan! Mereka lagi! Sebenarnya siapa orang-orang ini!" Dengus salah satu penjaga Basecamp.


"Hahhaa… serang terus! Buat para cecunguk ini kembali pulang ke Markas mereka!" Kata salah satu penyerang, yang saat ini terlihat terbang menaiki Spirit Beast berbentuk burung walet.


"Saudara pertama, lebih baik jangan terlalu banyak bergerak! Tubuh besarmu itu membuat Spirit Beast ku kesusahan menjaga keseimbangan!" Kata seorang Knight muda berperawakan kurus, dia merupakan pemilik dari Burung Walet, yang saat ini sedang memberi tumpangan kepada pria sebelumnya.


"Hahhhaa… saudaraku! Jangan terlalu serius! Kau harus tahu bagaimana caranya sedikit bersenang-senang! Jatuh dari ketinggian ini tentunya suatu yang mendebarkan!" Jawab Pria yang di panggil sebagai saudara pertama.


"Hmmm… Klan kami tidak memegang prinsip seperti itu! Selesaikan misi dengan cepat, kemudian kembali ke markas dengan cepat juga! Segera memberi laporan!" Jawab Knight muda yang memberi tunggangan. Sambil mengobrol, dia juga beberapa kali melemparkan kertas jimat formasi kearah Basecamp yang ada di bawahnya.


"Sungguh prinsip yang membosankan! Bagaimana kalian bisa hidup dengan cara seperti itu!" Gumam Saudara pertama, kemudian melemparkan Bola Mana api kearah jimat-jimat yang telah di sebar oleh kawannya.


*Booommmm….!!!!

__ADS_1


*Booommmmm….!!!


*Booommmmmm…!!!


Begitu Bola api mengenai kertas jimat, rentetan ledakan keras kembali menggema.


"Hahhahha…." Saudara pertama kembali tertawa lantang begitu melihat ledakan-ledakan tersebut.


"Awass…!"


Namun, ketika pria ini dalam kondisi kurang waspada karena sibuk tertawa seperti orang gila, sebuah serangan tersembunyi yang terbuat dari Mana air berbentuk pisau, mendarat tepat di pundaknya.


"Sialan!"


Gumam pria tersebut setelah mendapat serangan, dia juga mulai kehilangan keseimbangan dan berakhir jatuh dari atas Burung Walet tunggangannya.


"Saudara pertama!"


Melihat kejadian itu, Knight muda yang memberinya tungganan segera berteriak cemas, dia kemudian mulai mengarahkan Burung Walet miliknya terbang menukik turun dengan tajam, berusaha mencapai kawannya sebelum membentur tanah.


Namun, baru setengah jalan Knight muda ini terbang menukik turun, sebuah Mana petir berbentuk panah tiba-tiba menerjang dengan cepat kearahnya, dan seketika menembus sayap dari burung Walet tunggangannya.


"Sialan! Dari mana serangan-serangan ini berasal!" Maki Knight muda tersebut, dalam posisi jatuh berputar di udara.


Dia sama sekali tak menduga akan adanya serangan tersembunyi lain. Dengan cepat dia kemudian membentuk segel tangan, menarik kembali Spirit Beast kontraknya.


*Woooshhhh…


Sepersekian detik sebelum Knight muda mendarat di tanah, Spirit Beast terbang lain berbentuk burung Pipit, bergerak dengan cepat menggunakan cakarnya menangkap pemuda ini.


"Adarsio, apa kau baik-baik saja?" Kata seorang yang menunggangi burung Pipit setelah berhasil menangkap Knight muda yang jatuh. Dari suaranya, Knight muda lain yang juga menggunakan penutup wajah ini merupakan seorang wanita.


"Tidak masalah, kau berhasil menyelamatkanku tepat waktu Aralia!" Jawab Pemuda yang di panggil Adarsio.


"Tapi saudara pertama mendarat dengan keras! Aku khawatir dia terluka parah"

__ADS_1


Mendengar itu, Seorang wanita lain yang juga berada di tunggangan burung Pipit milik gadis bernama Aralia, mulai tertawa lantang dengan nada centil.


"Tenang saja! Itu tak akan melukainya! Apa kau lupa kakak pertamaku itu adalah seorang General?" Kata wanita tersebut.


"Ahhh… benar juga! Aku terlalu khawatir!" Jawab Adarsio.


"Yasudah! Karena Spirit Beast mu sedang terluka! Lebih baik kita kembali dulu markas! Situasi di bawah biar di selesaikan oleh kakak pertama dan yang lainnya!"


"Lagian di sana juga ada Nona Jasia! Tak ada yang perlu di khawatirkan!" Kata wanita ini lagi.


Wanita tersebut tak lain adalah Pemimpin keempat dari Bandit Lebah Hitam. Dan yang jatuh barusan adalah kakak pertamanya, pemimpin pertama kelompok bandit.


Sedangkan dua orang Knight muda yang bersamanya saat ini, adalah anggota dari Klan Arsega Desa tersembunyi.


Hari ini, sudah terhitung satu bulan sejak pertemuan pertama antarakelompok Bandit Lebah Hitam, kelompok Desa tersembunyi, dan juga kelompok Jasia bersama para keranya. Pertemuan pertama yang merupakan sebuah pertempuran antar dua kelompok, dengan kelompok Bandit Lebah Hitam, berakhir dengan gencatan senjata, saat mereka tau bahwa setiap dari ketiga kelompok ini, terikat satu sama lain.


Jasia yang saat itu mendengar bahwa Bandit Lebah Hitam merupakan kelompok yang berada di bawah kendali tuan mudanya, akhirnya memutuskan untuk berkomunikasi lebih lanjut. Dan begitu mengkonfirmasi bahwa yang di katakan para Bandit ini benar, ia akhirnya melepaskan masalah.


Jasia sendiri dapat mengkonfirmasi kebenaran informasi yang di berikan oleh para Bandit, karena mendapat pernyataan dukungan dari Aurega yang saat itu, memastikan bahwa di dalam jiwa masing-masing pemimpin Bandit dan kelompoknya, terpasang formasi segel kehidupan yang seharusnya hanya dimiliki oleh leluhur Klan Arseganya. Dan bila ada orang luar lain yang bisa menguasai Formasi segel ini, itu pasti hanya Theo dengan bakat Formasinya yang diluar nalar.


Setelah kejadian itu, Kelompok Bandit serta Jasia memutuskan untuk mampir ke desa tersembunyi. Disana mereka disambut dengan baik karena merupakan bawahan dari Theo, yang merupakan orang dengan gelar Pejuang Agung desa tersembunyi. Kedudukan Theo secara sosial hampir sejajar dengan kedua kepala Klan di desa ini.


Baik Jasia maupun kelompok Bandit menetap beberapa hari di dalam desa, dan menjadi akrab satu sama lain. Dalam beberapa hari itu juga, Jasia serta kelompok Bandit saling tukar informasi mengenai beberapa hal samar yang di sampaikan Theo pada mereka.


Setelah menggabungkan masing-masing informasi ini, secara kasar kedua kelompok akhirnya menyimpulkan, bahwa rencana Theo berhubungan erat dengan House True Alknight. Dan mungkin akan berujung menjadi sebuah pertempuran besar.


Dari kesimpulan tersebutlah, akhirnya di putuskan, sambil menunggu intruksi lebih lanjut dari Theo, yang masih belum kembali dari perjalanannya ke Blackwood Empire, kedua kelompok, baik Bandit Lebah Hitam, maupun Jasia, menyepakati bekerjasama melakukan serangan gerilya kepada basecamp-basecamp House True Alknight yang ada di wilayah tengah Hutan Pinus Beku.


Sementara itu, mendengar rencana kedua kelompok dan kisah konflik internal yang terjadi di House Pejuang Agung mereka, Desa tersembunyi yang memiliki hutang budi besar kepada Theo, akhirnya memutuskan untuk bergabung dalam rencana serangan gerilya tersebut.


Begitulah, sampai pada saat ini, sudah banyak Basecamp dari House True Alknight yang menjadi korban dari serangan gerilya gabungan ketiga kelompok.


Hal ini tentunya membuat House True Alknight menjadi sangat kelabakan, mereka yang bahkan tak tahu siapa identitas dan dari mana kelompok yang menyerang Basecamp, berakhir dalam kondisi frustasi, karena dalam satu bulan ini, tak bisa dengan tenang mengumpulkan sumber daya yang sangat mereka butuhkan di wilayah tengah Hutan Pinus Beku.


Serangan gerilya yang tiba-tiba selalu datang mengganggu mereka di waktu yang tidak bisa diprediksi.

__ADS_1


__ADS_2