Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Aria Braveheart


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Aria Braveheart adalah tuan putri ketiga dari House Braveheart. Dia terkenal sangat manja dan suka bertindak semaunya sendiri, kerap membuat permintaan yang aneh-aneh. Hampir semua orang memahami sifat tuan putri ketiga ini. Oleh karena itu, begitu Lord Arduric mengetahui pemimpin rombongan kali ini adalah tuan putri ini. Suasana hatinya langsung menjadi buruk.


**


(Aula utama House Alknight)


*Braakkkkkkkk…


Sebuah meja hancur berantakan. Seorang wanita muda terlihat cemberut dan menhancurkan meja di hadapannya dengan satu pukulan.


"Kemana Lord kalian? Kenapa begitu lama? Apa begini cara House Alknight menyambut tamu penting?" Teriak wanita muda tersebut.


Wanita muda ini memiliki paras yang begitu cantik. Rambut hitam panjangnya dibiarkan terurai kebelakang tanpa di ikat. Dia memiliki mata biru indah yang tenang. Namun mata biru tenang ini berkebalikan dengan ekspresi wajahnya yang menggebu-nggebu. Menyajikan pemandangan kontras tapi memiliki daya tarik tersendiri.


Paras yang menarik hati ini dipadukan dengan bentuk tubuh indah seorang remaja yang mulai berkembang. Membuat setiap lelaki yang memandangnya akan secara naluria menelan air liurnya, sulit untuk memalingkan wajah dan tak melihatnya.


Namun, siapapun yang berani memandangnya terlalu lama, akan merasakan pengalaman yang tak akan terlupakan. Pernah suatu ketika, tuan muda terpandang dari salah satu house besar memandang gadis ini terlalu lama, gadis ini yang menyadari pandangan sang pemuda segera tersenyum hangat kearahnya.


Sang pemuda yang berbunga-bunga mendapat senyuman tersebut melayangkan senyuman balik dan hendak menghampiri gadis ini untuk memulai obrolan. Tapi tak seperti dugaan sang pemuda, gadis ini mendatanginya terlebih dahulu. Dan tanpa mengatakan apapun, ketika sampai di hadapan sang pemuda, gadis ini melayangkan tendangan kaki keras diantara kedua kaki pemuda tersebut. Menghancurkan titik vitalnya.

__ADS_1


Desas-desus mengatakan, pemuda ini pingsan selama seminggu penuh setelah mendapatkan tendangan tersebut. Selain itu, desas-desus juga mengatakan pemuda tersebut kehilangan masa depan untuk mendapatkan keturunan.


Peristiwa ini segera menyebar kesegala wilayah dan house-house besar. Membuat gadis muda ini mendapat julukan sebagai wanita iblis. Dan semenjak peristiwa itu, tak ada yang berani memandang nya terlalu lama. Tak ada yang mau mengambil resiko untuk mengalami kejadian yang sama seperti sang pemuda yang kehilangan masa depannya.


Gadis muda tersebut adalah Aria Braveheart, tuan putri ketiga dari House of Braveheart yang kali ini menjadi pemimpin rombongan house Braveheart yang berkunjung ke house Alknight.


Saat ini, di Aula utama House Alknight, para tetua yang sedang menemani Aria menjadi panik ketika melihat gadis ini mulai kehilangan kesabaran.


"Nona muda, harap bersabar. Lord saat ini sedang berada di halaman tuan muda ketiga kami. Dan kami telah mengutus salah satu pelayan untuk menyampaikan kedatanganmu." Jawab salah satu tetua.


"Tuan muda ketiga? Bukannya tuan muda ketiga kalian sudah lama mati? Jangan bilang kalian sedang ingin membodohiku?" Bentak Aria.


"Bu..bukan begitu." Tetua yang memberi penjelasan menjadi panik.


Dia segera menoleh ke kanan dan kiri nya. Menatap tetua yang lain, berharap ada yang membantunya memberi penjelasan. Namun, begitu tatapannya sampai ke kolega-koleganya, setiap orang yang mendapat tatapan darinya segera memalingkan muka. Mereka tak mau terlibat dalam menghadapi Aria. Melihat hal itu, sang tetua segera menyesal telah mengambil inisiatif untuk memberi penjelasan.


"Bukan begitu apa? Jelaskan dengan benar!" Bentak Aria lagi, mulai tak sabar.


"Hmmm, jadi tuan muda ketiga kalian yang terkenal sebagai sampah hidup itu tak jadi meninggal?"


"Sayang sekali, dia hanya akan berakhir sebagai sampah yang membuang-buang sumber daya lagi, bukankah lebih baik bila dia tetap mati saja?" Kata Aria.


Mendengar kata-kata Aria, setiap setua yang ada di dalam ruangan segera menjadi buruk ekspresi wajahnya. Meskipun Theo dulu adalah sampah, dan banyak tetua di dalam ruangan ini yang tak menyukai keberadaannya. Namun tetap saja, Theo adalah tuan muda ketiga House mereka. Mendengar orang luar menghina nya, mereka merasa tidak terima.


Apalagi Theo yang sekarang berbeda dengan Theo yang dulu, dia bukanlah sampah lagi, melainkan tuan muda yang bisa di andalkan, berbakat dalam berbagai bidang. Hampir semua tetua yang ada di dalam ruangan pernah mendapat manfaat dari Theo belakangan ini. Hal ini membuat semua tetua yang ada diruangan menjadi marah, menatap dengan tatapan tajam kearah Aria. Suasana di Aula utama segera menjadi berat.


Para pengawal dan tetua dari house Braveheart yang pertama menyadari perubahan tiba-tiba tersebut. Mereka sedikit terkejut, para tetua house Alknight yang awalnya begitu sopan dan terkesan menyembah kepada mereka, tiba-tiba berubah dalam sekejap, setiap orang memiliki tatapan mata yang tajam kearah kelompok House Braveheart yang berada di tengah ruangan.


"Nona muda, harap tenangkan dirimu." Salah satu tetua house Braveheart segera mencoba menenangkan Aria begitu menyadari situasi menjadi tidak baik.


"Kenapa? Apa yang salah? Bukankan dia memang sampah? Dan apa yang kalian lihat? Kalian berani menatapku seperti itu?" Bentar Aria. Dia melihat dengan sorot mata tajam kearah para tetua di sekitarnya.

__ADS_1


Mendengar kata sampah dan bentakan Aria, para tetua yang marah hanya bisa menunjukkan kemarahan mereka lewat ekspresi, tak berani bertindak lebih jauh, karena mereka sadar siapa yang mereka hadapi.


"Kalian masih berani menatapku seperti itu? Jangan bilang House Alknight mencoba menantang House Braveheart?" Bentak Aria semakin keras.


Menyadari Nona muda nya sudah mulai lepas kendali dan mulai kelewatan, salah satu tetua house Braveheart segera maju. "Nona muda, tolong hentikan, kita kesini bukan untuk mencari masalah. Tolong hargai mereka sebagai tuan rumah."


"Tutup mulutmu! Tuan rumah macam apa yang membiarkan tamunya menunggu begitu lama?" Aria bukannya tenang malah kembali marah-marah.


"Ayahku bilang, bila kau ingin di hormati, maka hormatilah orang lain terlebih dahulu. Saat ini mereka tak bisa menghormatiku, jadi tak ada alasan bagiku menghormati mereka!"


"Dan lihatlah para orang tua ini, mengapa ekspresi mereka begitu kurang ajar? bukankah aku mengatakan apa adanya, bahwa tuan muda ketiga mereka memanglah sampah?" Bentak Aria semakin keras.


"TUTUP MULUTMUUUU!!!!" tiba-tiba suara keras orang tua yang berwibawah terdengar dari salah satu pojok ruangan.


Master Aegric yang dari tadi mendengar Theo yang sudah dia anggap sebagai cucunya sendiri di hina sebagai sampah, tak bisa menahan diri lagi.


"Kau boleh menghina kami semaumu, tapi jangan pernah berani sekalipun menghina tuan muda kami!" Bentak Master Aegric dengan keras.


Aria yang mendengar teguran keras itu segera mukanya berubah merah padam, dia sangat marah. Dalam sekejap dia menerjang kearah Master Aegric, berniat melancarkan pukulan. Master Aegric yang menyadari hal tersebut mulai menutup matanya. Dia sebenarnya bisa saja memblokir atau menghindari serangan gadis muda ini, namun dia memutuskan untuk menerimanya. Dia tau tindakannya barusan adalah masalah serius yang bisa merusak hubungan antara kedua house, terlebih keadaan saat ini membuat house Alknight berada dalam posisi di bawah dan membutuhkan bantuan dari pihak lain.


Master Aegric berharap bisa menebus tindakannya dengan menerima pukulan tanpa perlawanan, meskipun hal ini jelas membahayakan nyawanya. Namun dia sudah puas meskipun harus mati. Puas karena mati untuk membela Theo yang sudah seperti cucunya sendiri.


Namun begitu pukulan Aria akan mencapai dada Master Aegric.…


*Boooommmmmmm….


Seorang pemuda berambut putih tiba-tiba melompat entah dari mana dan memblokir pukulan tersebut. Dengan satu tangan sang pemuda memblokir pukulan, sementara tangannya yang lain mencengkram erat pergelangan tangan Aria.


"Setiap anggota House Alknight adalah seekor Serigala liar. Jika kau berfikir setiap orang disini akan patuh kepadamu, maka kau salah besar." Pemuda tersebut menatap tajam kearah mata Aria.


"Serigala hanya akan patuh dan melindungi kawanannya sendiri!"

__ADS_1


__ADS_2