Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Gravity Fruit


__ADS_3

Langkah pertama Theo memasuki sisi lain. Tekanan kuat segera dia rasakan, berton-ton besi seperti dijatuhkan diatas pundaknya, seluruh tubuhnya langsung terasa berat.


Dia segera mengedarkan mana api dan tanah disekitarnya untuk membentuk mana besi, menerapkan proses teknik Iron Fist. Namun, dia tidak memfokuskan mana besi pada otot tangannya, melainkan mengedarkannya merata keseluruh otot yang ada di tubuhnya.


Jika Knight lain yang menguasai teknik Iron Fist, mereka tak akan bisa melakukan apa yang dilakukan Theo saat ini. Kecuali, Knight tersebut memiliki Element Seed tipe Netral seperti yang di milikinya.


Theo memanfaatkan melimpahnya mana yang ada di dalam Element Seed tipe Netral miliknya, serta peningkatan kualitatif tubuhnya hasil baptisan listrik ilahi untuk memodifikasi teknik Iron Fist. Menciptakan teknik baru buatannya sendiri. Theo menyebut teknik ciptaannya ini, sebagai teknik Tubuh Besi.


Teknik ciptaan Theo ini sebenarnya masih dalam pengembangan, masih banyak celah yang menurut Theo perlu dia perbaiki. Namun, dalam kondisi kritis yang tiba-tiba dia hadapi ini, Theo tak punya pilihan lain selain menggunakan teknik ini untuk memperkuat tubuhnya secara instan.


Krakkkkk….!


kraaakkk…!


kraaakkk...!


Otot-otot di seluruh tubuh Theo segera mengembang ketika aliran mana besi mulai masuk dan menyelubunginya. Mengeluarkan aura tirani yang berat, bersamaan mengembangnya otot-otot tersebut, tubuh Theo mengeluarkan bunyi berdecit yang aneh. Seperti suara tulang yang terus menerus bergesekan.


"Hahhhhh....hahhhhh…!!!"


Theo mengambil nafas berat setelah proses penerapan tekniknya selesai. Namun bersamaan dengan itu, beban berat yang sebelumnya membebani tubuhnya juga terasa lebih ringan. Tubuh fisiknya yang di selubungi mana besi, mulai bisa menahan tekanan berat dari daya tarik gravitasi.


"Sudah kubilang, teknik yang kau kembangkan itu terlalu berbahaya! membebani tubuh fisikmu secara berlebihan..!!" Suara Tiankong terdengar disisi Theo.


Ketika Tiankong pertama kali melihat Theo membuat teknik ini beberapa tahun yang lalu, dia sudah beberapa kali memperingatkan murid nya tersebut. Bahwa, meskipun teknik ini memang memiliki potensi yang bagus di masa depan, dengan kemampuan tubuh fisik Theo saat ini, meskipun telah mendapat baptisan listrik ilahi, teknik ini masih terlalu berbahaya.


"Aku sudah mempertimbangkannya, setelah beberapa kali uji coba, aku bisa mengetahui bahwa tubuh fisikku masih akan bisa bertahan. Paling tidak, selama tiga menit." Jawab Theo.


Setelah memberi jawaban singkat kepada masternya yang khawatir, Theo tak membuang waktu dan segera mulai melangkah maju.


Satu langkah..


Dua langkah..


Tiga langkah..


Empat langkah..


Lima langkah..


Di setiap langkah yang diambil Theo mendekati buah setan. Daya tarik gravitasi semakin menguat, membuat langkah nya semakin berat.


Sepuluh langkah..


Sebelas langkah…


.....


Dua puluh langkahh….


"Hahhhh…hahhhh..hahhhhhh.."


Theo bernafas semakin berat dilangkah yang kedua puluh. Kini dia tinggal beberapa langkah lagi untuk mencapai posisi buah setan. Namun dia sudah merasa mencapai batas kemampuan fisiknya. Tak bisa mengangkat kakinya untuk melangkah maju.


Sementara waktu terus berjalan, batas waktu tiga menit yang bisa dia tanggung juga semakin berkurang. Sebelum fisiknya tak bisa menahan teknik Tubuh Besi, dan tulang-tulangnya akan mulai hancur.


Meskipun dia bisa melepaskan teknik tubuh besi, gravitasi masih akan segera menghancurkan tubuhnya bila dia melakukan itu.


Situasi Theo semakin serba sulit. Ketika dia mulai kehilangan harapan, dia tiba-tiba teringat dengan orang tua dan kedua kakaknya. Disisi lain, dia bisa melihat masternya terus mengamati tak jauh dari tempat ia berada. Tatapan sang master mulai di penuhi dengan rasa khawatir.


Sebelumnya, dalam perjalanan ketika Theo mulai memasuki kedalaman ruang tak kasat mata nol gravitasi. Masternya memberi penjelasan singkat. Bahwa, di ruangan teritori dari buah setan lain, dia tak akan bisa terlalu banyak membantu selain hanya memberi arahan. Karena di ruangan ini, kekuatannya secara alami mengalami batasan.


Jika pun Masternya memaksa membantu Theo dan menggunakan mana nya, konsumsi mana yang harus dikeluarkan masternya akan meningkat secara ekstrim berpuluh bahkan beratus kali lipat.


Ada juga kemungkinan buah setan yang ada disini akan merasakan sisa-sisa energi buah setan yang ada dalam roh masternya, dan akan mulai menyerap roh masternya untuk menjadikannya pupuk makanan.


Buah setan yang ada disini adalah buah setan alami yang masih hidup dan belum di petik. Sementara masternya hanyalah sesosok roh yang tidak memiliki tubuh fisik. Jika hal itu benar-benar terjadi, masternya tak akan memiliki kesempatan melawan sama sekali. Harus menerima nasibnya, di serap oleh buah setan dan di jadikan sebagai pupuk makanan.


Untuk menemani Theo masuk dan memberinya arahan. Masternya sudah berkorban banyak hanya untuk mengendalikan mana dan mempertahankan wujud rohnya di dalam ruangan ini.


Setelah melihat ekspresi sang master, Theo kembali menatap buah setan yang tak jauh dari hadapannya.


"Aku harus berhasil! aku akan kembali ke keluargaku! aku tak akan merepotkan master! tak akan membuatnya harus berkorban lebih banyak lagi! aku tak akan mengecewakan master..!!"


Theo memberi dorongan kepada diri nya sendiri untuk bertahan, dia hanya bisa mengandalkan kekuatannya sendiri untuk saat ini.


Ketika tekad Theo mulai menguat lagi, tiba-tiba satu pikiran gila terlintas di kepalanya.


"Baiklah, aku akan bertaruh! tak ada kekuatan yang bisa di raih dengan gratis, aku akan mengambil resiko sekali lagi!" gumam Theo.


Setelah berkata seperti itu, Theo segera mengalirkan seluruh mana besi yang menyelubungi otot-otot seluruh tubuhnya kearah kakinya, dia memfokuskan seluruh mana besi hanya ke otot-otot kakinya.


"Apa kau sudah gilaaa….!!!!" Tiankong yang melihat hal itu segera berteriak khawatir.


Krataakkkkkk…!


Kratakkkkk..!

__ADS_1


Krataaakkkk….!!


Suara retakan keras segera terdengar dari seluruh tubuh Theo ketika dia melepaskan mana besi yang menyelubungi tubuhnya.


Daya tarik gravitasi kuat yang sebelumnya tertahan oleh kekuatan otot mana besi, segera mulai menghancurkan seluruh tubuh Theo.


Sepersekian detik setelah gravitasi mulai ******* tubuh nya, Theo memfokuskan seluruh tenaga ke kakinya, dan mulai mendorong tanah di bawahnya untuk melakukan lompatan besar sambil berteriak keras kesakitan.


"Aaaarrgghhhh…..!!!!"


Booommmm…....!!!!


Disertai dengan teriakan keras kesakitan Theo yang memekakkan telinga, daya tarik gravitasi yang kuat juga membuat pendaratannya menghasilkan suara yang keras. Menggetarkan daerah di sekitarnya.


Sesaat setelah mendarat, Theo langsung tertancap pada posisi berbaring di tanah yang penuh retakan, sambil terus berteriak keras kesakitan. Dia merasakan seluruh tubuhnya seperti dilumat-***** oleh tangan raksasa yang tak terlihat.


Theo kini telah mencapai posisi dari buah setan, buah setan berada di sisi tebing yang tak jauh tepat diatasnya. Namun, kondisi Theo sudah tak memungkinkannya untuk bisa bergerak sama sekali, di tekan oleh gravitasi yang meremukkan tulang-tulangnya.


"Anak bodohhh! apalagi sekarang….?"


Tiankong yang dari tadi sudah sangat khawatir ketika melihat seluruh aksi berbahaya Theo, segera melayang maju. Dia sudah berniat akan membantu Theo, tak peduli seberapa besar harga yang harus dia bayar.


Namun sebelum Tiankong sempat bereaksi lebih lanjut, dia mendengar Theo meneriakkan sesuatu.


"Baal.…aku memanggilmu..!!!"


Sesaat setelah Theo berteriak, Baal segera muncul dari dalam Tatto lengan kirinya.


"Master, kau memanggil….."


"Tekanan kuat macam apa ini??"


Baal yang baru saja keluar dari tatto segera merasakan tekanan kuat yang membebani tubuh nya. Tak seperti Tiankong yang merupakan roh murni sehingga tak terpengaruh oleh daya tarik gravitasi. Baal adalah roh item, dia masih memiliki tubuh fisik.


"Cepat berubah menjadi tongkat…!!!!"


Sebelum Baal mulai jatuh ketanah karena tekanan gravitasi, Theo segera berteriak.


Melihat kondisi yang aneh dan berbahaya, Baal melupakan pikiran untuk bermain-main dengan masternya seperti biasa. Dia segera menuruti perintah masternya tanpa berfikir dan berubah menjadi bentuk senjata.


Dalam bentuk tongkat logam, Baal jatuh lurus dengan posisi berdiri menghadap keatas. Jatuh tepat disebelah Theo dengan suara berdebam.


Menggunakan seluruh tenaga yang tersisa, Theo yang masih mengerang kesakitan berusaha mengarahkan tangannya untuk meraih dan menggenggam Tongkat logam. Dengan segenap usaha dan rasa sakit, dia akhirnya berhasil menggenggam tongkat logam.


"Memanjaangggg…..!!!!" Teriak Theo dengan tenaga terakhirnya.


Bukkk....


Dengan putusnya tungkai yang menahannya, buah setan terlepas, dan jatuh ketanah dengan suara ringan.


Diiringi dengan terpetiknya buah setan, ruangan tak kasat mata segera berfluktiasi sebentar dan perlahan mulai menghilang.


Tekanan daya tarik gravitasi yang di rasakan Theo segera menghilang bersamaan dengan hilangnya ruang tak kasat mata.


"Hahhhhh…hahhhh..hahhhh…!!!"


Theo mengambil nafas berat setelah tekanan yang dia rasakan menghilang.


"Aku berhasil! aku berhasil..! hahhahahha..! master aku berhasil..! hahahha..!!!" Theo mulai tertawa lantang.


Bletaakkkkkkk……!!!


Batang kayu tiba-tiba terbang dan memukul kepala Theo dengan keras.


"Master….??"


Sebelum Theo bisa menyelesaikan kata-katanya, rasa sakit yang teramat sangat menjalar keseluruh tubuhnya.


Sebelumnya, dorongan adrenalin dari rasa senang karena berhasil memetik buah setan, membuat Theo sempat melupakan rasa sakitnya. Pukulan di kepala dari masternya seperti stimulan yang membuatnya kembali merasakan seluruh rasa sakit.


Theo mengerang sebentar sebelum kemudian jatuh pingsan.


"Anak ini, kenapa sungguh gegabah?" gumam Tiankong kesal.


Namun setelah berkata demikian, dia memandang muridnya yang terbaring pingsan dengan tatapan bangga. Senyum puas menghiasi wajahnya.


**


Ketika membuka matanya kembali, rasa sakit Theo sedikit mereda. Tubuhnya di selimuti mana air yang membuatnya sangat nyaman. Namun, dia bisa melihat masternya menatap dingin kearahnya.


"Haha..master! kenapa memasang wajah serius begitu?" Kata Theo.


Ketika mendengar Theo bertanya seperti itu sesaat setelah dia bangun, tatapan dingin Tiankong segera menghilang. Diganti dengan tatapan menyeramkan dan senyum menyeringai yang membuat bulu kuduk Theo merinding.


"Bagus, masih bisa bercanda..?"


Setelah berkata demikian, Tiankong mengibaskan tangannya.

__ADS_1


Bersamaan dengan gerak mengibaskan tangan Tiankong, mana air yang menyelimuti tubuh Theo segera berhamburan menyebar kemudian menghilang.


Theo yang masih belum memahami apa yang terjadi, sedikit terkejut ketika mana air nyaman yang mengelilingi tubuhnya menyebar dan hilang.


Bersamaan dengan menghilangnya mana air, rasa sakit yang sebelumnya sudah mereda kembali menguat. Pergantian situasi yang tiba-tiba tersebut membuat seluruh tubuh Theo mulai mengejang kesakitan. Tak siap menahan rasa sakit.


"Aaarrggghhhhh….! ini sakitt…! ini sakit! master..!!!"


Theo segera berteriak kesakitan, memohon kepada masternya. Ia merasa tulang-tulang di sekujur tubuhnya remuk redam.


"Kemana perginya sikap santaimu tadi?" Jawab Tiankong acuh tak acuh.


Mendengar teriakan kesakitan dan memohon Theo. Tiankong bukannya iba, malah mulai memasang wajah tak peduli. Kemudian mencari posisi bagus dan mulai tidur rebahan dengan santai.


"Aaarrgghhhh! Master kumohon! ini benar-benar sakit. Aku tidak sedang bercanda kali ini..!!!" Teriak Theo semakin keras.


"Tentu saja aku tahu kau sedang tak bercanda. Hampir seluruh tulang di tubuhmu patah. Itu normal bila kau kesakitan."


"Minta maaf dulu, dan akui bahwa kau adalah anak yang idiot." jawab Tiankong singkat.


"Iyaaa, iyaaa, aku minta maaf! aku adalah anak idiot! sekarang cepat lakukan sesuatu..!!" Mohon Theo sekali lagi.


Tanpa menoleh kearah Theo, dan masih dengan posisi santai tiduran sambil menutup mata. Tiankong kemudian menjawab.


"Bukankah sepanjang perjalanan kesini sebelumnya, kau terus mengumpulkan buah energi yang kau sebut sebagai buah bercahaya?"


"Makan saja buah itu secara bertahap dan mulai serap energinya. Energi kehidupan di dalamnya akan membuat tubuhmu membaik secara perlahan dan meredakan rasa sakitnya."


Mendengar hal tersebut, Theo sekarang benar-benar merasa idiot, sampai melupakan fakta khasiat buah bercahaya yang dulu pernah menyembuhkan tangannya yang patah.


Bukankah dia memang sengaja mengumpulkan buah bercahaya sepanjang jalan, untuk berjaga-jaga ketika harus dalam kondisi darurat seperti yang dia alami saat ini?


"Dasar Idiot…!!" Theo mengutuk dirinya sendiri.


Tanpa membuang waktu lebih lama lagi, dia segera mengeluarkan beberapa buah bercahaya dari dalam gelang ruang-waktu. Mulai mengkonsumsinya.


**


Butuh waktu lebih dari satu minggu sampai Theo merasa tubuhnya mulai membaik.


Saat ini dia sedang duduk bersila, mengamati buah putih polos seukuran telapak tangannya yang sedang dia genggam.


"Master, apa aku hanya harus memakannya secara langsung? Tidak ada metode khusus?"


Di tangan Theo saat ini tak lain adalah buah setan yang sebelumnya ia petik dengan susah payah mempertaruhkan nyawa.


Mengetahui kecenderungan masternya yang suka membuat dirinya sebagai bahan lelucon, Theo bertanya sekali lagi untuk memastikan bahwa buah tersebut aman untuk di makan secara langsung.


"Sudah kubilang, makan saja langsung! kenapa kau masih ragu?" Dengus Tiankong.


Tiankong masih tak beranjak dari posisi tiduran santainya selama beberapa hari ini.


Theo masih menatap masternya dengan ragu, sebelum menguatkan hati dan mulai menggigit buah di tangannya dengan satu gigitan kecil.


Kressssss…


Suara renyah terdengar bersamaan Theo menggigit buah setan.


"Ohh.. aku akan mengingatkanmu, rasa buah itu sangat tidak enak, dan kau tak boleh menyisahkan sedikitpun! Atau, manfaatnya akan berkurang dan tidak optimal." Kata Tiankong sesaat setelah Theo menggigit buah.


Setelah masternya berbicara, rasa pahit yang sangat kuat segera menjalar di seluruh mulut Theo. Dia ingin memuntahkan buah tersebut, namun mendengar peringatan sang master, dia segera menutup mulutnya dengan kedua tangan. Berusaha tidak memuntahkannya.


Setelah berhasil menahan untuk tak memuntahkannya, dia menelan gigitan pertama tanpa mengunyah sama sekali.


Theo berhasil menelan gigitan pertama, walaupun dengan susah payah. Ia kemudian menatap sisa buah di tangannya. Ragu sejenak, sebelum Theo menguatkan tekad dan mulai memakan buah yang tersisa dengan gigitan-gigitan besar, menelan secepat yang dia bisa.


Melihat Theo memakan seluruh sisa buah, Tiankong diam-diam mulai tersenyum menyeriangai tanpa sepengetahuan Theo.


Setelah menelan seluruh bagian buah, wajah Theo menjadi hijau. Dia mulai menjulurkan lidah, menggaruk-garuknya.


"Sungguh buah yang sangat pahit….!!"


Theo sibuk menggaruk-garuk lidahnya, berusaha menghilangkan rasa pahit di mulutnya. Lupa bahwa dia sebelumnya merasa sedikit kesal dengan peringatan telat dari masternya.


Ketika Theo sedang sibuk menggaruk-garuk lidahnya yang terasa sangat pahit, tiba-tiba dia bisa mendengar suara tawa lantang disebelahnya.


"Hahhahah, sebenarnya satu gigitan saja sudah cukup, sisa buah yang lain tak memiliki manfaat..!!"


"Hahhahahhahha…" masternya berkata sambil terus tertawa lantang.


Mendengar hal itu, masih dengan muka hijau, Theo menoleh kearah sang master. Mulutnya terbuka dengan lidah menjulur, tangannya juga masih menggaruk. Tak mengakatakan apapun, hanya menatap masternya dengan ekspresi tak percaya.


Theo merasa sungguh tak habis pikir dengan sikap masternya ini, dia bahkan sudah lelah untuk menghardik sang master saat ini. Hanya bisa menelan semua keluhannya dalam hati.


Tiankong yang melihat ekpresi bodoh Theo, mulai tertawa lebih kencang lagi.


Setelah puas tertawa beberapa saat, Tiankong kemudian mulai menjelaskan.

__ADS_1


"Yang kau makan itu adalah buah setan yang di sebut dengan Gravity Fruit. Orang yang memakannya akan memiliki kemampuan untuk mengendalikan Gravitasi di sekitarnya."


__ADS_2