
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Hmmm… Baiklah!" Kata pria sepuh, seraya mengeluarkan sebuah jurnal dari Spacial Ring, kemudian mulai mencatat.
"Gendut! Karena kau di daftarkan sebagai penonton kelas satu, sekarang serahkan seluruh modal awalmu! Aku akan memastikan total modal yang kau bawa, kemudian mencatatnya pada kartu pengenal penonton kelas satu milikmu!"
"Jadi, ketika berada di dalam arena nanti, kartu itu akan menjadi pengganti sementara untuk modal yang kau pakai saat melakukan pertaruhan!" Kata pria sepuh.
Mendengar itu, bahkan sebelum Thomas sempat menjawab, tanpa basa-basi Theo segera mengeluarkan sebuah Spacial Ring dan meletakkannya diatas meja.
"Di dalamnya terdapat 3.500.000 Mutiara Mana Perunggu, silahkan diperiksa!" Kata Theo.
Kata-kata Theo, segera disambut dengan pria sepuh meraih Spacial Ring yang tergeletak diatas meja. Dengan cekatan memindai isi Spacial Ring tersebut. Memastikan jumlah yang di sebut Theo.
"Hmmm… Totalnya tapat 3.500.000, tidak kurang dan tidak lebih!" Ucap pria sepuh. Setelah itu mulai kembali mencatat. Kali ini diatas kartu pengenal milik Thomas.
"Baiklah! Urusan administrasi untuk si Gendut selesai! Bawa ini dan segera masuk kedalam arena, ambil tempat duduk yang sesuai dengan nomer pesertamu! Kau bisa melihatnya di balik kartu pengenal ini!" Ucap pria sepuh, seraya menyerahkan kartu pengenal ditangannya pada Thomas.
Mendengar itu, Thomas menyempatkan untuk memberi senyum singkat aneh pada Theo, tampak sedang memberi isyarat. Sebelum dengan cepat meraih kartu pengenal miliknya, dan berjalan memasuki pintu khusus penonton.
"Baiklah! Kita lanjutkan urusan pendaftaran selanjutnya, tapi sebelum melanjutkan, aku ingin kembali memastikan, apakah benar kau ingin mendaftarkan bocah kecil ini sebagai peserta pertarungan di Arena Tangan kosong?" Tanya pria sepuh. Sambil dengan tatapan tajam melihat kearah Theo.
"Cukup yakin! Razak, kau ada keberatan dengan ini? Kalau merasa keberatan dengan intruksiku, katakan sekarang!" Ucap Theo.
Mendengar pertanyaan tersebut, Razak yang dari tadi hanya berdiri diam disamping Theo, segera memasang ekspresi wajah teguh. Dilanjutkan dengan sangat mantap memberi anggukan singkat kearah Theo.
__ADS_1
"Sama sekali tak keberatan!" Ucap Razak.
"Hmmm…! Bagus!" Tanggap Theo.
Pria tua yang tentunya juga mendengar percakapan Theo dan Razak. Kini hanya bisa menggeleng ringan. Sambil sedikit melihat kearah Razak dengan tatapan kasihan. Merasa bocah ini akan segera menjadi bulan-bulanan serta badut di Arena Tangan Kosong.
"Baiklah kalau begitu, aku hanya ingin sekedar memastikan! Karena jujur saja, semua pertarungan yang diadakan secara rutin oleh Death Arena, merupakan pertarungan yang sangat membahayakan nyawa!"
"Karena selain pengelompokan umum yang kami terapkan untuk membagi arena pertarungan sesuai dengan sub kelompoknya masing-masing? Kami tak memberi batasan apapaun tentang yang terjadi di dalam Arena!"
"Siapapun yang keluar dari Arena, tak sadarkan diri, atau mati di dalam Arena, otomatis dianggap gugur!" Ucap pria sepuh. Secara tak langsung memberi peringatan terakhir kepada Razak agar memikirkan kembali keputusannya untuk memasuki Arena. Pria sepuh ini tersirat mengatakan bahwa Razak bisa saja mati di dalam Arena pertarungan.
"Pak tua, sebaiknya berhenti basa-basi! Potong semak belukar dan langsung saja berikan dia kartu pengenalnya!" Ucap Theo. Menjadi sedikit tak sabar saat melihat sikap bertele-tele pria sepuh di hadapannya.
"Hmmm… Pria tua ini hanya sekedar menyampaikan rasa simpati! Karena kupikir bocah ini masih terlalu kecil! Kalau tak salah umurnya pasti sekitar 10 sampai 12 tahun!" Ucap pria sepuh. Namun setelah sedikit mengeluh, ia tak melanjutkan basa-basinya. Segera mengeluarkan sebuah kartu berwarna hitam dari Spacial Ringnya.
"Anak muda, dengan nama apa kau ingin dikenal dalam pertarungan Arena Tangan Kosong nanti?" Tanya pria sepuh.
"Razak!" Jawab Razak singkat. Tanpa ragu menyebutkan nama aslinya.
"Baiklah, petarung Razak, dengan nomer peserta 93, silahkan memasuki pintu sebelah sana!" Ucap pria sepuh, menyerahkan kartu peserta kepada Razak sambil menunjuk kearah salah satu pintu dengan papan plakat hitam diatasnya. Dimana bertuliskan Arena Tangan Kosong.
"Boss! Aku pergi dulu!" Ucap Razak.
'Jangan memaksakan diri! Ingat semua yang telah kusampaikan tadi!' Kata Theo, berbicara langsung di dalam kepala Razak menggunakan teknik transmisi suara.
Mendengar kata-kata Theo, Razak memberi Anggukan singkat, sebelum mulai berjalan memasuki pintu masuk Arena.
"Baiklah! Kau sendiri akan memakai nama apa?" Tanya pria sepuh, seraya mengeluarkan kartu berwarna hitam lainnya.
"Tulis saja Wolf!" Jawab Theo singkat.
__ADS_1
***
(Ruang tunggu peserta Arena Tangan Kosong)
Razak berjalan dengan langkah tak tergesa memasuki ruang tunggu. Tatapan matanya hanya lurus kedepan, tampak tak peduli dengan orang-orang di sekitarnya.
Dan setelah menemukan satu tempat yang menurutnya nyaman di salah satu sudut ruangan. Razak mulai mengambil posisi duduk bersila. Mengeluarkan sebuah Mutiara Perunggu, dan mulai menyerapnya. Memutuskan untuk menghabiskan waktu luang yang ia punya, dengan kembali melakukan proses kultivasi.
Bocah ini benar-benar memiliki dedikasi tinggi untuk bertambah kuat secepat yang ia bisa. Tak ingin menyia-nyiakan sedikit waktu pun untuk sekedar bersantai.
Razak masih fokus melakukan proses kultivasi sampai tiba-tiba beberapa peserta lain berjalan mendekat.
"Bocah! Kau anak baru?" Tanya salah satu orang yang mendekat. Orang ini adalah pria dengan tubuh besar. Begitu besar sampai ia tampak tak seperti manusia normal.
"Ada aturan di Arena Tangan Kosong ini, dimana anak baru harus bersikap sopan dan menyapa para seniornya! Bila kau tak melakukan hal tersebut, maka kau akan di cap sebagai bocah sombong!" Kata pria lain yang berdiri disamping peserta bertubuh raksasa.
"Itu benar! Jadi kusarankan sekarang kau segera meminta maaf dan mencoba bersikap baik dengan menyapa peserta lain! Lakukan satu atau dua hal yang mereka katakan sebagai bentuk permintaan maaf!" Tambah pria ketiga yang ikut mendatangi Razak.
Mendengar itu, Razak yang tak menyadari bahwa sikap acuh yang tadi ditampilkannya ketika pertama memasuki ruangan ternyata telah menarik perhatian para peserta lain, segera membuka kedua matanya.
"Terus kenapa jika kalian menganggapku sebagai bocah sombong? Memang aku harus perduli dengan itu? Terserah kalian mau menganggapku seperti apa! Itu bukan urusanku!" Dengus Razak. Seraya kembali menutup mata. Mengacuhkan tiga orang di hadapannya dengan sekali lagi fokus dalam proses kultivasi.
*Braakkk…!!!
*Braakkk….!!!
*Braakk….!!!
Kalimat jawaban dari Razak, segera di sambut dengan beberapa suara benturan keras dari perabotan ruang tunggu yang hancur. Hampir seluruh peserta Arena Tangan Kosong yang saat ini berada di dalam ruangan, mulai menatap kearah Razak dengan tatapan mematikan.
"Bocah sombong! Kau baru saja menggali kuburanmu sendiri!" Kata pria bertubuh raksasa. Sambil memasang sebuah senyum licik di wajahnya. Kemudian tanpa mengatakan apapun lagi, ia berjalan menjauh diikuti oleh dua rekannya.
__ADS_1
Disisi lain, Razak yang tentunya mendengar keributan di sekitar, tampak benar-benar tak peduli sama sekali. Masih meneruskan proses kultivasi yang sedang ia lakukan.
'Semakin brutal pertarungannya nanti! Itu akan semakin bagus!' Gumam Razak dalam hati. Kini justru merasa senang karena mendapat tantangan lebih.