Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
186 - Terlalu Kejam


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Medan pertempuran Bagian Timur, House Alknight melawan House True Alknight)


"Sialan! Siapa itu! Siapa yang berani melakukan ini? Siapa! Cepat keluar!" Teriak tetua House Estrabat, dengan ekspresi wajah sangat marah.


Selain marah, juga tampak titik-titik ketakutan di wajah tetua ini, bagaimanapun juga, ia adalah orang yang ditugaskan khusus oleh Lord nya untuk melindungi tuan muda ketiganya. Dan saat ini, ketika masih dalam pengawasannya, tepat di depan matanya, tuan mudanya justru mati dengan cara mengenaskan.


*Bzzzzzttt…..!!


Listrik merah kembali menyala sekali lagi saat tetua House Estrabat masih berteriak marah. Namun, listrik merah tersebut, kali ini muncul jauh di ujung area pertempuran lain, tepatnya di tengah kelompok House Alknight yang sedang bergerak mundur.


"Siapa?"


Issabela masih tampak terkejut dengan semua pergantian peristiwa yang tiba-tiba ini sampai listrik merah mendadak berderak tepat di hadapannya. Membuat gadis ini sedikit bergerak mundur, mengambil sikap waspada.


Namun, saat ia melihat siapa yang muncul setelah menghilangnya listrik merah tersebut, ekspresinya langsung berubah agak tenang, cenderung bersyukur.


*Tes…


*Tes..


*Tes…


Sambil menggenggam kepala Lagor yang masih meneteskan darah segar dari luka sayatan di lehernya, sosok ini hanya diam melihat kearah Issabela dengan tatapan kontenplatif. Tampak sangat menyesal.


"Adik…!" Kata Issabela, saat melihat Theo hanya diam saja, menatapnya.


"Kakak, maafkan aku!" Jawab Theo.

__ADS_1


"Apa yang kau katakan? Kenapa minta maaf?" Tanya Issabela.


"Sebelumnya, setelah keluar dari Jurang Misterius, aku sudah berjanji padamu bahwa aku tak akan menjadi beban lagi! Aku berjanji akan melindungi kalian semua! Tapi, disaat paling di butuhkan, aku bahkan tidak berada di tempat yang tepat, membuat kau dan kak Gregoric kembali menderita!" Kata Theo, dengan tatapan sangat menyesal, kini melihat kearah kepulan debu tempat pendaratannya tadi, yang sudah mulai menghilang di terpa angin.


Ketika kepulan debu sudah benar-benar menghilang, setiap orang bisa melihat tubuh Gregoric yang penuh bekas luka tusukan sedang berada di dalam sebuah kubus formasi, terendam air sampai sebatas lehernya.


Sementara disebelah Gregoric, tampak Ketua Aurelas dari Klan Agila sedang berdiri tegak menatap kearah kelompok House Estrabat, ditemani seekor Spirit Beast berbentuk burung Elang raksasa di belakangnya.


Sebelumnya, ketika pria tua ini mendapat tugas untuk berjaga diluar pintu aula penempaan, menunggu Theo keluar dari penempaan tertutupnya, ia memberi perintah kepada seluruh pejuang terbaik Klan Agila yang memiliki Spirit Beast Kontrak berkecepatan tinggi untuk berkumpul dan ikut menunggu dengannya di depan aula penempaan.


Dengan begitu, beberapa jam setelahnya ketika Theo benar-benar keluar dari aula penempaan, tanpa menunda waktu sedikitpun, sang tetua langsung meminta Theo untuk ikut dengannya. Sambil menaiki Spirit Beast Elang raksasa milik ketua Aurelas sendiri, Theo mendapat penjelasan tentang situasi genting yang saat ini tengah menerpa Housenya.


Begitulah bagaimana Theo akhirnya bisa tiba dengan cepat di medan pertempuran, bersama pejuang-pejuang terkuat dari Klan Agila yang saat ini tampak mulai keluar dari balik hutan pinus menunggangi Spirit Beast kontraknya masing-masing.


"Adik! Jangan terlalu menyalahkan dirimu sendiri! Bagaimanapun juga, tidak ada yang tahu akan terjadi seperti ini!" Kata Issabela, mencoba menenangkan Theo yang tampak sangat tertekan.


"Tetap saja…!!" Gumam Theo, tak bisa meneruskan kata-katanya ketika melihat tubuh kakaknya Gregoric yang terluka parah.


"Senior Aurelas? Bagaimana kondisi kakakku?" Teriak Theo Kemudian.


"Cukup parah! Perlu perawatan intensif secepatnya!" Jawab tetua Aurelas singkat dan jujur.


"Jadi itu kau yang telah membunuh tuan muda! Tak bisa di maafkan! Kau harus mati dengan cara paling menyakitkan! Akan kubawa kepalamu kembali ke House untuk diserahkan pada Lord!"


Ketika Theo masih merasa sangat marah, dan tak tau harus melampiaskan ke siapa, tetua House Estrabat tiba-tiba berteriak lantang membentaknya dengan ekspresi kemarahan yang intens.


Mendengar bentakan itu, Theo langsung menoleh kearah sang tetua, matanya memerah memandang tetua House Estrabat ini, seperti menemukan tempat untuk melepaskan semua amarahnya.


Tanpa berkata-kata sekalipun untuk memberi jawaban, Theo kemudian melempar sekuat tenaga kepala Lagor yang sedang di genggamnya kearah tetua yang membentak tadi.


Melihat kepala tuan mudanya dilempar dengan keras kearahnya, sang tetua tampak bersiap hendak menangkapnya dengan baik, setidaknya dengan mendapatkan kepala ini kembali, tuan mudanya akan dapat dikuburkan dengan layak. Dan dengan gerakan menangkap yang elegan, sang tetua akhirnya berhasil menggenggam kepala tuan mudanya.


Namun, sesaat setelah sang tetua berhasil menangkap kepala Lagor, Theo segera membentuk segel tangan. Bersamaan dengan itu, kepala Lagor yang berada di genggaman tangan sang tetua langsung meledak pecah, membuat darah segar menciprat dan membasahi seluruh wajah tetua House Estrabat tersebut.


Tanpa di ketahui semua orang, Theo telah memasang segel formasi jenis ledakan pada kepala Lagor, sesaat sebelum ia melemparnya dengan keras.


"Kauu… kauu… kauu…! Tak bisa di maafkan! Tak bisa dimaafkan! Bocah kejam! Kau terlalu kejam!" Gumam tetua House Estrabat, agak terbata-bata, matanya memerah, tampak sudah mulai menggila.


"Habisi mereka semua! Balaskan kematian tuan muda! Habisi dengan kematian paling menyakitkan!" Teriak sang tetua memberi perintah pada pasukannya untuk bergerak menyerang.

__ADS_1


Tanpa menunda, pasukan House Estrabat lain yang juga tampak sangat marah, maju menerjang kedepan kearah kelompok House Alknight.


"Bocah gila!" Gumam Eric Alknight, yang saat ini ikut termenung mengamati semua pergantian peristiwa yang tiba-tiba terjadi.


Pria tua ini, sekarang terlihat bimbang harus melanjutkan pertempuran atau tidak, dia beberapa kali bergantian melihat kearah Theo, kelompok Klan Agila, dan juga kelompok House Estrabat yang saat ini tengah menggila menerjang maju.


Setelah diam beberapa saat, Eric yang merasa situasi saat ini tidak menguntungkan kelompoknya, secara sembunyi-sembunyi memberi intruksi agar pasukan House True Alknight untuk mengambil langkah mundur secara berkala.


"Pejuang Klan Agila! Bertarung dengan segenap hati! Kita habisi musuh-musuh dari tuan muda Theo, Pejuang Agung Desa tersembunyi!" Kata Aurelas, saat melihat kelompok House Estrabat mulai maju kearah Theo.


"Hoaaahhh….!!!"


Teriakan perang segera menggema dikelompok Klan Agila, menunggangi Spirit Beast kontrak masing-masing, mereka maju menghadang kelompok House Estrabat.


Theo sendiri saat ini tampak sudah mulai maju, akan ikut masuk kedalam pertempuran, sampai tiba-tiba teringat sesuatu dan segera menghentikan langkahnya, ia kemudian kembali berbalik menghampiri Issabela.


Sesampainya dihadapan kakaknya, dengan ayunan tangan ringan, Theo mengeluarkan sebuah busur dan Armor dari dalam gelang ruang-waktu.


"Kakak… busur ini kubuat khusus untukmu, dan sudah kulebur dengan Kristal Plant Udumbara beku!" Kata Theo, seraya menyerahkan Busur serta Armor kepada Issabela, kemudian tanpa memberi penjelasan lebih lanjut, ia berbalik dan maju menerjang ke medan tempur.


Issabela sedikit tertegun dengan penjelasan singkat Theo, sampai tiba-tiba hawa dingin intens menyerebak keluar dari busur yang sedang dipegangnya, bersamaan dengan hawa dingin ini, sebuah jarum es timbul dari gagang busur dan dengan cepat menusuk telapak tangan Issabela, membuat setetes darahnya jatuh pada gagang busur.


Setelah darahnya menetes di gagang busur, sebuah tatto formasi segel mulai terbentuk di telapak tangan Issabela.


"Hihihihi…!"


Semua kejadian ini diakhiri dengan terdengarnya suara tawa aneh seorang gadis kecil.


"Ini….!!!" Gumam Issabela, sambil memandang busur ditangannya dengan tatapan kontenplatif.


Kemudian, seperti mengerti sesuatu, tanpa mengatakan apapun lagi, Issabela mulai mengangkat busurnya, sambil mengalirkan Mana atribut Es miliknya, Issabela mengambil posisi menarik busur. Dan dalam sekejap, aliran Mana es mulai membentuk anak panah terbuat dari Es raksasa.


Anak panah es raksasa ini, tampak tak singkron dengan busur serta tubuh langsing Issabela, menyajikan pemandangan yang sangat mengerikan. Terlebih hawa dingin yang sangat intens, juga mulai menyerebak keluar kesegala arah. Membuat orang-orang yang ada disekitar Issabela bergerak mundur karena takut.


Mengabaikan reaksi orang-orang di sekitarnya, tanpa berkedip, Issabela yang telah mengarahkan anak panahnya keposisi kelompok House Estrabat, melepaskan panah raksasanya tersebut.


*Woooshhh…..!!!!


Pemandangan lebih mengerikan lagi segera tersaji begitu Issabela melepaskan anak panahnya.

__ADS_1


__ADS_2