Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
326 - Bakpao Makan Malam


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Ruang Tunggu Arena Tangan Kosong)


Ketika Theo berjalan masuk, ruang tunggu ternyata sudah lumayan penuh, membuat ia kesulitan mencari tempat nyaman yang cukup tenang untuk bersantai sejenak.


Theo masih berjalan santai mencari lokasi nyaman sampai kemudian beberapa pria berbadan besar menghadang.


"Anak muda, kau orang baru?" Tanya salah satu penghadang.


"Hmmm??"


Mendengar pertanyaan tersebut, sebagai jawaban, Theo hanya mendengus singkat. Ia masih menoleh kesana kemari mencari tempat nyaman. Tampak benar-benar tak peduli dengan beberapa orang yang saat ini ada di hadapannya.


"Bocah! Kau berani mengabaikanku!" Bentak orang yang tadi bertanya. Ekspresi wajahnya sangat marah saat melihat Theo tampak tak memperdulikannya.


"Boss! Sepertinya dia tipe orang yang terlalu membanggakan dirinya sendiri! Orang-orang seperti ini biasanya baru akan menyesal saat wajahnya menyentuh tanah!" Ucap salah satu penghadang lain.


"Hmmmm… Bocah! Untuk kali ini aku akan sedikit bersikap lunak! Jika kau mau minta maaf dan melakukan beberapa intruksi khusus dariku, maka aku akan melepaskan masalah sikap kurang ajarmu sebelumnya!"


"Namun, bila kau terus bersikap tak tahu diri, maka jangan salahkan aku bila ketika pertandingan dimulai, kau akan segera mati ditempat dalam hitungan detik berubah menjadi daging giling!" Ucap pemimpin dari kelompok penghadang.


Ucapan yang segera disambut dengan hampir seluruh peserta Arena Tangan Kosong yang ada di dalam ruang tunggu, menoleh kearah Theo secara serempak. Memasang ekspresi wajah penuh ancaman.


Tampaknya, peserta yang sedang mengancam Theo merupakan salah satu orang yang paling di segani dalam Arena Tangan Kosong. Paling tidak ia adalah senior yang telah berpartisipasi puluhan kali di Arena ini. Dimana membuat dirinya memiliki kedudukan tinggi diantara para peserta yang lain.


"Boss! Sepertinya kau sedang dalam mood yang baik! Tumben sekali bermurah hati!" Ucap salah satu pengikut.


"Bocah, tunggu apa lagi! Cepat minta maaf!" Bentaknya kemudian, setelah kembali menoleh kearah Theo, dan menyadari sang bocah masih diam.

__ADS_1


"BERISIK!"


Namun, kalimat bentakan yang ia ucapkan, segera disambut Theo dengan kalimat bernada kesal yang terdengar sangat dingin.


Kini Theo menatap kelompok orang yang menghadangnya dengan tatapan tajam penuh nafsu membunuh, diiringi sedikit uara yang mulai bocor dari dalam tubuhnya.


Tatapan tajam serta sedikit aura yang bocor dari tubuh Theo, membuat suasana ruang tunggu seketika berubah mencekam. Begitu mencekam hingga kelompok penghadang secara tak sadar mulai mundur satu langkah.


"Boss! Sekarang aku ingat! Jadi itu kenapa aku merasa wajahnya tak asing! Aku tahu siapa dia!" Ucap salah peserta yang menghadang Theo.


"Dia adalah peserta Wolf! Kaisar Tongkat Death Arena dua bulan lalu!" Seru orang tersebut. Kini kembali mengambil langkah mundur kebelakang. Semakin menjauh dari Theo.


Mendengar kata-kata anak buahnya, sang pemimpin mengerutkan kening untuk beberapa saat. Sebelum kembali menatap Theo dengan tatapan geram.


"Terus kenapa kalau ia adalah Kaisar Tongkat! Ini adalah Arena Tangan Kosong! Tanpa senjata tongkat ditangannya, memang ia bisa apa?" Bentak sang pemimpin.


"Jangan gusar! Kita habisi dan gencet pemuda sombong yang sedang tersesat dan tak tahu dimana tempatnya sekarang berada ini begitu pertandingannya dimulai!" Dengus sang pemimpin. Menambahi kalimat yang ia sampaikan dengan intruksi.


"Boss! Itu kau!"


Saat suasana masih tampak tegang karena perseteruan yang terjadi, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari salah satu sudut ruangan.


"Razak! Tak kusangka kau ada disini!" Ucap Theo. Begitu melihat Razak bergerak membelah kerumunan orang yang sebelumnya sedang menyaksikan keributan.


Melihat Razak memanggil Theo dengan sebutan Boss, beberapa peserta Arena Tangan Kosong yang tadi sempat terlihat memberi tatapan dukungan pada orang yang berseteru dengannya, kini dengan cepat menarik tatapan matanya. Tak mau lagi ikut campur masalah yang terjadi.


Razak sang putra dewa Besi sepertinya telah memiliki nama dan sekarang cukup di segani oleh beberapa peserta Arena Tangan Kosong.


"Boss! seharusnya aku yang mengatakan itu! Tak kusangka kau juga ikut dalam pertandingan Arena Tangan Kosong bulan ini!"


"Dengan adanya dirimu, lenyap sudah peluangku memenangkan Arena Tangan Kosong malam ini! Benar-benar menyebalkan!" Ucap Razak.


"Hahhaah…! Seandainya aku tahu kau ikut berpartisipasi dalam Arena Tangan Kosong, aku jelas akan mengambil Arena lain! Sudah terlanjur, bagaimana lagi!" Jawab Theo.


"Ngomong-ngomong sepertinya kau berlatih dengan tekun belakangan ini! Hanya beberapa saat tak bertemu, kau sudah mampu mencapai kelas Immortal tahap awal! Perkembangan yang lumayan bagus!" Tambah Theo. Begitu melihat kultivasi Razak.


"Yah, itu semua berkat sumberdaya yang kau tinggalkan! Bulan lalu aku juga ikut serta dalam Arena Tangan Kosong, dan bisa menembus 20 besar!" Ucap Razak.


"Ohhh…! Lumayan!" Ucap Theo.

__ADS_1


Sementara Theo dan Razak masih sibuk mengobrol, seluruh peserta Arena Tangan Kosong yang dari tadi diam. Ikut menyimak obrolan keduanya, kini mulai memasang ekspresi wajah kosong.


'Pencapaian yang lumayan? Dari Pioneer ke Immortal dalam beberapa bulan disebutnya lumayan? Bedeb4h! Disini aku baru bisa mencapainya setelah berusaha keras selama puluhan tahun!'


'Lumayan? Seorang Bocah kelas Immortal tahap awal berhasil menembus 20 besar pertandingan Death Arena dia sebut lumayan? Sialan! Disini aku sudah puluhan kali ikut berpartisipasi dan hanya bisa menembus 50 besar!'


Berbagai keluhan mulai terngiang di dalam benak setiap orang begitu mendengar obrolan santai Theo dan Razak. Hampir semua peserta Arena Tangan Kosong saat ini memasang ekspresi wajah kosong.


***


(Tribun Arena)


Seperti biasa, suara riuh terdengar begitu para peserta dari lima Arena memasuki Ring masing-masing. Seorang tetua Dark Guild yang menjadi pemandu acara, turut serta memanaskan suasana dengan kalimat-kalimat pendorong adrenalin yang ia ucapkan.


Suasana hanya berubah hening ketika pemandu acara mempersilahkan para penonton untuk menentukan para petarung dari lima Arena yang mereka pilih sebagai jagoannya. Menempatkan uang taruhan masing-masing pada setiap peserta Arena yang mereka pilih.


Saat suasana hening masih terjadi, disalah satu sudut tribun penonton, terlihat seorang pria gendut sedang duduk sambil menyanggah dagunya dengan tangan kanan. Pria ini tampak sangat malas sampai kemudian matanya menangkap sesuatu diatas Ring Arena Tangan Kosong.


"B4ngsat! Tidak mungkin! Kenapa tak memberi kabar sebelumnnya!" Bentak pria gentut, yang tak lain adalah Thomas, begitu melihat sosok Theo diatas Ring Arena Tangan Kosong.


"Jika tau kau ikut serta, aku akan menaruh semua uangku untuk modal! Ahhhh…. Menyebalkan sekali!" Ucap Thomas dengan ekspresi wajah sangat kesal.


Si Gendut tak bisa untuk tak menjadi kesal, karena dalam Death Arena malam ini, ia awalnya hanya berniat melihat keramaian dan mengantar Razak. Dengan peluang menang Razak yang cukup kecil, Thomas tentu saja hanya menaruh sedikit uang sebagai modal. Dia sekedar berniat mencari hiburan dan bertaruh secara acak untuk membunuh waktu agar tak bosan.


Kini, melihat Theo ikut serta dalam pertandingan, hati kikir Thomas mulai meronta-ronta. Begitu kesal karena harus melewatkan kesempatan mendapat puluhan juta Mutiara Mana seperti sebelumnya.


"Aaaaaarrrrrgggg….!!! Boss….! Kau sungguh orang paling menyebalkan!" Teriak Thomas, sambil menjambak rambutnya.


Teriakan yang segera membuat suasana hening menjadi pecah, setiap penonton yang sebelumnya masih berkonsentrasi dalam menentukan petarung yang mereka pilih, kini semuanya menoleh kearah Thomas dengan ekspresi kesal. Merasa suara si Gendut benar-benar mengganggu.


"Gendut! Tutup mulutmu!"


"B4jingan diam!"


"Terus saja berteriak maka akan kujadikan kau bakpao makan malam!"


Suara-suara makian segera menggema diseluruh tribun Arena. Seluruhnya ditujukan untuk Thomas.


"Baahhh….!!! Berisik!" Maki Thomas balik.

__ADS_1


__ADS_2