Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
308 - Sungguh Menyebalkan


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


"Boss! Itu benar kau!" Seru Thomas. Begitu melihat sosok Theo. Bersama dengan Razak di belakangnya, si Gendut ini berjalan dengan langkah bergegas kearah Theo.


"Hmmm… Kalian berdua tampak baik-baik saja!" Jawab Theo.


"Hahhaha… Tentu saja, asal ada aku, semua masalah dapat terselesaikan dengan baik!" Ucap Thomas. Sambil mulai menepuk kepala Razak.


"Diam kau Gendut br3ngsek!" Dengus Razak, seraya menyingkirkan tangan gemuk Thomas yang menepuk kepalanya.


"Boss! Itu benar-benar lebih baik bersamamu dari pada berakhir dengan si Gendut ini! Aku sangat iri dengan dua wanita itu!" Lanjut Razak, sambil melirik kearah Hella dan Gerel. Namun hanya untuk menyadari bahwa dua gadis itu sekarang sedang jatuh terduduk sambil terus menatap kearah Theo.


"Ada apa dengan mereka berdua?" Tanya Razak reflek, dengan ekspresi wajah polosnya yang khas.


"Emmm… Bukan apa-apa! Mereka hanya sedikit tak enak badan!" Jawab Theo canggung. Sebuah jawaban yang segera di sambut oleh Thomas dengan tatapan tajam menyelidik.


Si Gendut ini merasa ada sesuatu yang aneh begitu mendengar nada jawaban Theo yang canggung. Apalagi di tambah dengan ekspresi wajah Gerel dan Hella, semakin menguatkan kecurigaan Thomas bahwa ada sesuatu yang sedang disembunyikan oleh Theo.


"Boss…"


Thomas hendak bertanya sampai kemudian Gerel yang tiba-tiba berdiri dari posisi duduknya, membuat Thomas menghentikkan apa yang akan ia tanyakan.


"Aku pegang kata-katamu! Tak peduli berapa lama pun waktu di butuhkan, aku akan menunggu pertanggung jawabanmu!" Ucap Gerel.


Bersamaan dengan kalimat yang disampaikan Gerel, Hella kini juga mulai berdiri.


"Aku tak akan mengambil lelaki manapun sebagai suami selain dirimu!" Ucap Hella, sambil mulai menundukkan wajah.


Apa yang disampaikan oleh dua gadis ini, mau tak mau kini membuat Thomas dengan cepat menoleh kearah Theo. Ekspresi wajahnya seolah menuntut sebuah penjelasan.


"Apa?" Bentak Theo, begitu melihat ekspresi wajah Thomas.

__ADS_1


"Memang apa lagi? Apa yang telah kau lakukan pada dua wanita liar ini Boss?" Tanya Thomas.


"Bukan urusanmu!" Dengus Theo.


"Tidak bisa begitu! Aku dan Razak sebelumnya harus berjuang keras mempertaruhkan nyawa menghadapi permainan aneh! Tapi kau malah…"


"Malah apa?" Bentak Theo.


"Hmmm… Apa perlu kujelaskan?" Gumam Thomas, sambil sedikit melirik kearah Gerel dan Hella yang saat ini ternyata sudah menatapnya dengan tatapan tajam penuh nafsu membunuh.


Thomas bisa merasa, sedikit saja ia salah bicara, dua gadis liar ini tak akan segan melompat kearahnya. Mencincang habis tubuh gendutnya menjadi daging gulung.


Sementara disisi lain, Razak yang dari tadi ikut mendengarkan namun sama sekali tak mampu memahami apa yang sedang diobrolkan oleh orang-orang disekitar, hanya bisa memasang ekspresi wajah ingin tahu yang begitu polos.


"Tak ada yang perlu di bahas! Lebih baik kita membahas hal lain!" Ucap Theo.


"Ngomong-ngomong, kau tadi bilang bahwa baru saja terjebak dalam situasi hidup dan mati? Memang apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Theo, terlihat sekali sedang ingin mengalihkan pembicaraan.


Mendengar pertanyaan Theo, Thomas yang tau bahwa Theo hanya sedang ingin mengalihkan pembicaraan, tampak sama sekali tak berminat untuk memberi penjelasan.


"Boss! Sebelumnya aku dan si Gendut terjebak dalam sebuah ruangan yang di penuhi dengan puluhan patung emas!"


Saat Thomas tak berniat memberi jawaban, Razak yang masih bocah dan tak memahami apapun, dengan polos menjawab pertanyaan Theo.


"Patung emas?" Tanya Theo.


Disisi lain, begitu Thomas mendengar Razak mulai membahas patung emas, si Gendut ini segera bergerak cepat kesisinya. Dengan gerakan tangan lebar, ia mulai merangkul tubuh kecil Razak.


"Lupakan yang di katakan bocah ini! Kami memang terjebak dalam situasi berbahaya, namun dengan sedikit kerjasama tim, aku dan Razak berhasil mengatasi situasi tersebut dengan cukup baik!" Ucap Thomas. Dengan cepat menggantikan posisi Razak menjawab pertanyaan Theo sebelum sang bocah mulai membuka mulutnya.


"Jadi lebih baik kita sekarang tak membahas hal tersebut! Untuk saat ini, langkah apa yang harus kita lakukan selanjutnya?" Tanya Thomas, kini ia yang ganti mencoba mengalihkan pembicaraan.


'Hmmm… Razak, jelaskan dengan benar!'


Merasa aneh dengan perubahan sikap tiba-tiba yang ditunjukkan Thomas, Theo dengan sigap melakukan teknik transmisi suara pada Razak.


'Itu…. Jadi sebelumnnya kami….'


Tanpa keraguan, Razak yang mendengar suara Theo tiba-tiba menggema di dalam kepalanya, segera menceritakan semua yang sebelumnya terjadi.


"Jadi begitu!" Ucap Theo, begitu selesai mendengar penjelasan Razak.

__ADS_1


"Jadi begitu apa?" Tanya Thomas, kini tampak mulai gugup saat melihat perubahan ekspresi tiba-tiba yang di tunjukkan Theo.


"Razak sudah menceritakan semuanya! Jadi, apa masih perlu bertanya?" Gumam Theo, sambil mulai memasang seringai lebar.


"Bocah biadab!" Bentak Thomas kearah Razak, kini paham bahwa Theo baru saja bertanya pada Razak menggunakan teknik transmisi suara miliknya.


"Keluarkan semua emasnya! Aku benar-benar tertarik dengan patung emas yang di sebut oleh Razak! Apakah mereka sejenis boneka bernyawa yang sebelumnya menjadi guardian menara kuno?" Tanya Theo.


"Berbeda! Mereka tak sama! Mekanisme formasinya berbeda!" Jawab Thomas cepat.


"Aku sudah tau itu! Razak sudah menceritakannya secara detail, jadi aku sedikit banyak memiliki gambaran tentang formasinya! Jadi keluarkan saja! Setidaknya aku bisa mempelajari sisa-sisa patung emas tersebut!" Ucap Theo.


"Boss! Tak perlu! Itu hanya tumpukan sampah tak berguna!" Balas Thomas.


"Puluhan keping sisa tubuh yang seluruhnya terbuat dari emas murni, kau pikir aku bodoh menganggap itu adalah tumpukan sampah?"


"Bila memang tak ada yang bisa kupelajari dari tumpukan emas itu, setidaknya tumpukan itu akan tetap bisa berguna untuk dijadikan simpanan kas tambahan Bandit Serigala!" Kata Theo.


"Boss! Tidak bisa begitu! Aku mendapatkannya dengan usahaku sendiri! Jadi emas-emas itu sepenuhnya adalah milikku!" Jawab Thomas. Tak rela bila harus menyerahkan panen besar yang baru saja ia dapatkan.


"Bahh…! Omong kosong! Jika tak ada Razak yang melakukan serangan terakhir, maka mungkin kau sudah menjadi segumpal daging cincang saat ini!" Dengus Theo.


"Jadi peran dari Razak bisa dikatakan cukup besar dan paling berpengaruh! Sekarang aku akan bertanya padanya! Razak, apa kau bersedia emas-emas itu dijadikan kas tambahan kelompok Bandit kita?" Tanya Theo. Tanpa menoleh kearah Razak.


"Tentu saja!" Jawab Razak singkat.


"Bahhh…! Kau benar-benar bocah biadab!" Bentak Thomas.


"Sekarang serahkan semuanya!" Ucap Theo.


"Boss! Bagaimanapun juga, aku ikut berperan! Jadi bila memang harus, maka emas-emas ini akan di bagi menjadi dua!" Jawab Thomas. Masih bersikeras dalam berusaha mempertahankan panennya.


Tampaknya, bila sudah menyangkut urusan harta, si Gendut ini akan berubah menjadi orang yang bernyali besar dan cukup keras kepala.


"Hmmmm… Baiklah kalau kau masih bersikeras bertahan! Bagaimanapun juga apa yang kau katakan ada benarnya! Kau punya hak! Jadi aku tak akan memaksa lagi, itu akan terkesan aku bersikap tak adil dan sedang berusaha merampokmu!" Ucap Theo.


Mendengar itu, Thomas kini mulai memasang ekspresi wajah bahagia, sebelum tiba-tiba Theo melanjutkan kembali kalimatnya.


"Tapi jangan harap aku akan membawamu dalam usaha mencari jalan keluar dari tempat aneh ini! Berusaha saja sendiri!" Ucap Theo.


Ucapan terakhir Theo, seketika membuat ekspresi wajah bahagia yang ditunjukkan oleh Thomas, dengan cepat berganti menjadi ekspresi wajah kesal.

__ADS_1


"Bahhh… Boss! Kau sungguh menyebalkan!" Dengus Thomas. Seraya melepas Spacial Ring yang ia kenakan. Kemudian melemparkannya kearah Theo.


__ADS_2