Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
185 - Pembantaian


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Medan pertempuran Bagian Barat, House Wildbear Melawan House Ironhead)


"Senior Arsegio, bisakah aku menitipkan bocah itu padamu? Dia adalah salah satu orang penting bagi tuan muda!" Kata Jasia, tanpa menoleh, masih melihat dengan tajam kearah kelompok House Ironhead di hadapannya.


Bersamaan dengan kata-kata Jasia, sekelompok Knight dengan pakaian yang terbuat dari bulu Spirit Beast, mulai bergerak memasuki medan pertempuran secara serentak.


"Cepat bunuh bocah itu!"


Dengan insting yang tajam, karena kaya akan pengalaman bertempur di medan perang, Legalus yang merasa situasi saat ini tak menjadi baik bagi kelompoknya, segera berteriak memberi perintah kepada beberapa Knight satuannya, yang masih berada di sekitar tubuh tak sadarkan diri Arthur untuk menghabisi bocah ini.


*Sringg…!


*Sriingg…!


*Sringgg…!


*Jleeepp…!


*Tangg…!


*Tang….!


Mendapat perintah dari Legalus, pasukannya segera akan membunuh Arthur, namun lagi-lagi lemparan beberapa senjata rahasia kembali menghentikan kelompok House Estrabat ini.


Beberapa orang terkena serangan, mati dengan wajah menghijau seperti kawan mereka sebelumnya, beberapa yang lain cukup beruntung karena mampu menangkis lemparan senjata rahasia tersebut.

__ADS_1


"Hmmm… siapa yang menginginkan bocah ini, maka silahkan lewati aku dahulu!" Kata ketua Arsegio, mendarat tepat di depan tubuh Arthur. Menatap tajam kearah Legalus, sambil sedikit membocorkan auranya.


Saat ini, pria tua tersebut juga sudah mengeluarkan Spirit Beast kontraknya yang berupa katak hijau raksasa seukuran sapi dewasa.


"Seorang King!" Gumam Legalus, saat ia yang merupakan General tahap Surga, tak mampu membaca tingkat kultivasi pria tua di hadapannya.


"Pejuang Klan Asura, dengarkan perintahku! Tahan orang-orang ini agar tak mengganggu nona Jasia!" Teriak Arsegio kemudian.


"Hmmm… tapi kalau punya kesempatan membunuh, maka bunuh saja!" Tambah Arsegio, kemudian mulai menunduk untuk memeriksa kondisi Arthur.


Pria tua ini sangat membenci sebuah pertarungan yang tak adil, oleh karena itu, saat pertama kali sampai di medan tempur, dan begitu pemandangan pertama yang menyambutnya adalah kelompok elite House Estrabat yang semuanya merupakan seorang dengan kelas General, melakukan serangan secara bersama-sama hanya untuk melawan seorang Junior muda yang hanya memiliki kelas Immortal, pria tua ini segera merasa masam di hatinya. Membenci kelompok House Estrabat yang menurutnya sungguh tak punya rasa malu. Tak punya kehormatan sama sekali.


Sementara itu, mendapat perintah dari ketua Klannya, pejuang-pejuang Klan Asura tanpa menunda segera mengeluarkan Spirit Beast kontraknya masing-masing. Maju menerjang kearah kelompok House Estrabat.


"Sialan! Jangan lengah! Orang-orang aneh ini kuat!" Teriak Legalus, mulai mengatur kembali pasukannya dan bersiap menerima serangan dari pejuang Klan Asura.


*Traangg….!!!


*Traaanngg….!!!


*Traaangg….!!!


*Boommmmm…!!


Karena anggota dari kedua kelompok, baik itu pejuang Klan Asura, ataupun pasukan elite House Estrabat merupakan Knight yang berspesialis menggunakan senjata rahasia dan juga racun, benturan antar lemparan senjata rahasia dan ledakan dari bom gas beracun yang saling di lemparkan kedua kelompok, akhirnya tak terhindarkan ketika mereka saling bentrok.


"Sialan! Dari mana orang-orang ini berasal? Aku tak pernah mendengar ada kelompok lain yang ahli dalam racun dan senjata rahasia di Glaire Empire selain House Estrabat!" Dengus Legalus, merasa sangat heran dengan kemampuan dari lawan-lawannya.


Legalus yang merupakan tuan muda dari House Estrabat, dimana Housenya sangat terkenal sebagai ahli dalam bidang senjata rahasia dan juga racun, segera bisa merasakan bahwa lawan-lawannya ini bukan kelompok biasa, mereka tak kalah ahli dalam kedua bidang yang merupakan spesialisasi Housenya. Oleh karena itu, Legalus merasa aneh sampai tak mengetahui dari mana kelompok ini berasal.


"Klan Asura! Klan Asura! Klan Asura! Dimana aku merasa pernah mendengarnya!" Gumam Legalus, merasa tak asing ketika tadi pria tua yang membunuh anggotanya, mengatakan nama Klan Asura.


Sementara itu, di lokasi lain, dimana kelompok House Ironhead dan House Wildbear bertempur, Jasia sudah mulai melakukan aksi pembantaiannya. Dengan sayap api raksasa dipunggungnya, ia membakar semua pasukan yang ada di hadapannya, tanpa berkedip sama sekali, membakar anggota House Ironhead seperti ia sedang membakar tumpukan sampah.


"Sialan! Jangan biarkan gadis ini bertindak sesukanya! Bagaimanapun juga dia hanya seorang diri! Habisi dia dengan serangan gabungan!" Teriak tetua House Ironhead.


*Booommmm….!!!!

__ADS_1


Namun, begitu sang tetua selesai memberi perintah, serangan elemen api ganas menerjang kearahnya.


"Masih berani mengalihkan pandangamu dariku!" Dengus Master Dario, dengan aura meledak-ledak, ia menatap tajam tetua House Ironhead yang tadi menahannya untuk menyelamatkan Arthur.


Kondisi Arthur yang bisa dibilang telah aman karena mendapat perlindungan dari Arsegio, membuat Master Dario kini tanpa beban bisa meluapkan semua rasa frustasinya yang tertahan dari tadi. Tatapan matanya saat ini terlihat seperti ingin memakan hidup-hidup tetua House Ironhead yang ada di hadapannya.


"Hmmm… kau pikir hanya karena kedatangan seorang gadis muda ini, situasi bisa berbalik? House Ironhead tak akan kalah melawan House Wildbear kalian!" Dengus tetua House Ironhead, kini ikut melepaskan semua auranya. Bersiap menghadapi Master Dario.


*Boooommmm….!!!!


Namun, ketika tetua House Ironhead dan Master Dario terlihat akan mulai bertarung, ledakan besar kembali terdengar dan terlihat menghujam kearah dimana kelompok pasukan House Ironhead berkumpul.


"Grrrooooahhhh…..!!!!"


"Kaahhh….kahhh…kaaahhh…!!!"


Ledakan besar ini ternyata berasal dari pendaratan seekor kera raksasa, dengan bulu-bulu berwarna merah darahnya yang saat ini terlihat sedang terbakar dengan Mana api membara, kera ini berteriak lantang dan melihat dengan tatapan bengis kearah sekumpulan Knight yang ada di hadapannya.


Dan begitu monyet raksasa ini mendarat, sekawanan kera lainnya yang berbentuk sama, yakni memiliki bulu merah darah yang membara, namun berukuran kecil, ikut mendarat di tengah kelompok House Ironhead.


"Hahhaha… pendaratan yang sangat mengesankan! Sungguh meriah!"


Bersamaan dengan para kera yang mulai beraksi, sekolompok pria berperawakan bengis, kini tampak keluar dari dalam pepohonan hutan pinus. Mereka tak lain adalah kelompok Bandit Lebah Hitam.


"Saudara-saudaraku dari Bandit Lebah Hitam yang tersohor! Dengarkan aku!" Teriak pemimpin pertama kepada anggotanya.


"Ini adalah awal dari pesta besar yang di janjikan boss besar Theo! Jadi, silahkan kita mulai pesta pembukanya! Setiap orang boleh mengambil semua benda berharga apapun dari lawan yang berhasil mereka bunuh! Hahahhah….!"


Mendengar teriakan dari pemimpinnya tersebut, seluruh anggota bandit langsung bersemangat, mereka berteriak liar penuh kegembiraan, tanpa menunda lagi, segera maju menerjang kearah anggota House Ironhead yang berada tak jauh di hadapannya.


Kelompok bandit ini sekarang tampak seperti kawanan hewan liar yang berebut mencari mangsa masing-masing. Setiap orang, bergerak secepat yang mereka bisa, takut tertinggal dan tak kebagian harta rampasan.


"Hehhee... Mari temani nona Jasia bermain!" Kata Pemimpin pertama. Sesaat setelah selesai memberi intruksi kepada anak buahnya. Kemudian ia juga bergerak maju menerjang kedepan, ikut ambil bagian dalam pesta.


"Jangan sisahkan satupun! Habisi semua sampah ini! Tidak ada yang boleh pergi dari sini dalam keadaan hidup!" Kata Jasia, sambil terus menerjang dan membakar setiap anggota House Ironhead yang ada di hadapannya.


Didorong oleh dendam yang di pikul karena kejadian tragis yang menimpa kedua orang tuanya, Jasia saat ini tampak seperti iblis.

__ADS_1


Tak butuh waktu terlalu lama, berkat kedatangan Jasia bersama para keranya, serta ditambah kelompok Bandit Lebah Hitam, pasukan House Ironhead akhirnya benar-benar dibantai habis, tak tersisa seorangpun.


Legalus yang melihat hal tersebut, dengan cepat memutuskan untuk menarik kembali pasukannya. Bergerak mundur dari medan pertempuran.


__ADS_2