
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Kau ingin menyampaikan sesuatu?" Tanya Theo, dengan nada berat yang bergetar, sambil menggenggam erat tangan Aria.
Selesai Theo bertanya, sudut-sudut bibir Aria mulai bergerak. Tampak ingin menyampaikan sesuatu. Namun….
"Gouuchhhh….!!!"
Lagi-lagi Aria tak mampu berbicara, kembali memuntahkan seteguk darah segar dalam usahanya tersebut.
"Hmmm… nak, waktu yang ia miliki sudah tak lama lagi, apa kau tak ingin menyampaikan sesuatu pada gadis ini? Setidaknya, disaat terakhir, ia layak mengetahui yang sebenarnya!"
Ketika Theo masih tampak kebingungan dan tergoncang karena melihat kondisi Aria, Tiankong yang melayang di sebelah tiba-tiba mengutarakan pendapatnya.
"Master, apa maksud kata-katamu?" Tanya Theo. Tanpa menoleh kearah Tiankong, tatapannya masih terfokus pada wajah Aria.
"Hmmm... Aku adalah orang yang juga telah menyelesaikan gerbang nafsu, sama sepertimu! Apa masih perlu menanyakan maksud dari kata-kata ku? Aku yakin kau sebenarnya sudah memahaminya!" Jawab Tiankong.
"Aku tak paham! Katakan saja apa yang ingin kau katakan! Berhenti bersikap misterius!" Bentak Theo. Tampak emosional.
Mendengar itu, Tiankong langsung mengerutkan keningnya, ekspresi wajah santai yang selama ini selalu ia tampilkan, segera lenyap seketika, diganti dengan ekspresi wajah serius.
"THEO! berhenti mencoba menipu dirimu sendiri! Jangan lupa, selain telah menaklukkan gerbang nafsu, aku juga bisa membaca setiap pikiran yang ada di dalam otakmu!" Bentak Tiankong.
"Dengan telah menaklukkan gerbang nafsu, kita secara tak sadar, telah menjadi orang yang memiliki pikiran logis, jarang terbawa oleh nafsu!"
"Dan semenjak pertama kali kau melihat bagaimana cara gadis ini menatapmu pada pertemuan pertama kalian, pikiran logis yang ada di otakmu, yang dikombinasikan dengan kemampuan membaca hasrat milik orang lain dimana kau dapat dari menaklukan Gerbang nafsu, menuntunmu untuk secara otomatis berfikir cepat, bagaimana harus memanfaatkan gadis ini, serta memasukkannya dalam rencana jangka panjangmu!"
"Jadi, jujur saja akui, bahwa semua yang kau lakukan untuk gadis ini, selama beberapa waktu terakhir, hanya bertujuan untuk memanipulasi pikirannya. Agar kau bisa memakai kepolosannya dalam melancarkan semua rencanamu!" Kata Tiankong, menutup semua ceramahnya dengan nada dingin.
Mendengar semua yang di katakan Masternya, Theo yang saat ini masih memandang Aria, semakin mengeraskan genggaman tangannya pada gadis tersebut. Ia juga mulai menggertakkan giginya.
__ADS_1
"Master, bukankah itu terlalu kejam?" Tanya Theo, merasa semua tuntutan yang disampaikan Masternya agar ia berkata jujur pada Aria, adalah sesuatu yang terlalu kejam. Bagaimana mungkin ia bisa mengatakan sesuatu yang pastinya akan menyakiti perasaan Aria, disaat gadis itu sedang meregang nyawa.
"Terlalu kejam? Apa menurutmu ditipu dan di manfaatkan sampai akhir itu tidak kejam?" Tanya Tiankong.
"Gadis ini layak mengetahui yang sebenarnya!"
"Goouuuggghhhh….!"
Saat Tiankong selesai berbicara, Aria yang sudah tampak semakin pucat, kembali batuk darah sekali lagi. Membuat Theo yang awalnya menoleh kearah Tiankong, ingin kembali menyampaikan sesuatu, segera menelan lagi semua yang akan ia katakan, dengan cepat kembali menatap kearah Aria.
Theo tampak hanya memandang wajah Aria untuk beberapa saat, terlihat sedang berperang dengan batinnya sendiri. Sebelum akhirnya mulai berbicara.
"Aria…!" Kata Theo, dengan nada bergetar.
Mendengar Theo ingin menyampaikan sesuatu, Aria yang pandangan matanya sudah mulai gelap, dengan sekuat tenaga mencoba memfokuskan lagi pandangannya, kemudian menatap Theo dengan tatapan hangat.
"Maafkan aku, selama ini….."
Dengan berat, Theo mulai menyampaikan semuanya, tentang bagaimana sebenarnya ia hanya memanfaatkannya untuk membuat rencana-rencana yang ia susun bisa berjalan lebih baik. Memanfaatkan perasaan tulus serta kepolosan nya, hanya untuk membuat kesepakatan yang ingin di lakukan Theo pada House Braveheart, berjalan lebih mudah.
Setelah menyampaikan itu semua, Theo yang merasa sangat bersalah, mulai meregangkan genggaman tangannya pada Aria, ia juga memalingkan wajah, tak mampu memandang Aria lebih lama.
Theo yang awalnya menduga bahwa Aria dengan semua sikap manja serta keegoisannya, akan sangat marah saat ia menyampaikan yang sebenarnya, dibuat sedikit terhenyak, benar-benar tak menyangkah bahwa ternyata ia justru bersikap sebaliknya.
Kini, saat Theo melihat Aria tersenyum hangat padanya, titik-titik air mata yang sudah lama tak keluar dari mata Theo, mulai terjatuh. Theo kini sadar, sejak pertama kali bertemu dengan Aria, baru saat inilah gadis ini memasang sebuah senyum hangat.
Masih dengan mempertahankan senyum hangat di wajahnya, bibir Aria tampak sedikit bergerak, ia terlihat dengan susah payah, ingin menyampaikan sesuatu.
"Gouuhhhggg…!"
Tapi lagi-lagi, usahanya hanya berakhir dengan kembali memuntahkan banyak darah segar.
Melihat hal ini, Tiankong yang entah kenapa tampak emosional, tak seperti dirinya yang biasa. Seperti pernah punya pengalaman sejenis yang ada dihadapannya dimana membuat ia sangat tak nyaman dan di rundung penyesalan. Dengan tiba-tiba segera menampakkan wujudnya dihadapan Aria. Memberi ijin agar gadis ini bisa melihatnya.
Aria yang melihat sosok Tiankong secara mendadak muncul di hadapannya, tampak terkejut untuk beberapa saat. Sebelum memutuskan tak peduli dan tak ingin memikirkan lebih jauh, kembali memandang wajah Theo yang ada di hadapannya.
"Gadis muda! Perkenalkan, aku adalah Xiao Tiankong, Master dari pemuda yang saat ini sedang memelukmu!" Kata Tiankong, memperkenalkan diri pada Aria.
"Sebagai Master, aku turut meminta maaf, karena muridku telah memperlakukanmu seperti ini!"
Mendengar itu, Aria hanya melirik Tiankong sebentar, memasang sorot mata hangat, seolah menerima permintaan maaf Tiankong, kemudian kembali mengalihkan pandangan kearah wajah Theo.
__ADS_1
Melihat ekspresi dan sorot mata Aria tersebut, Tiankong hanya membalas dengan senyum hangat, sebelum kembali menyampaikan sesuatu.
"Aku tahu, bahwa saat ini, banyak yang ingin kau katakan, tapi lukamu membuat tak mampu melakukannya!"
"Aku punya beberapa trik yang mungkin bisa digunakan untuk membuat dirimu mmapu menyampaikan semua yang ada di pikiranmu kepada Theo!"
"Tapi trik ini mengharuskanku memasuki alam bawah sadar dalam otakmu, yang tentunya akan membuat semua rahasia yang kau miliki, akan terakses dan mengalir pada pikiran Theo!"
"Apa kau bersedia?" Tanya Tiankong, meminta ijin pada Aria.
Mendengar itu, sorot mata Aria menjadi cerah untuk beberapa saat, tampak sangat bersyukur. Kemudian dengan segera, ia mengangguk pelan, tanda bahwa memberi ijin.
Tiankong yang menangkap tanda dari Aria, tanpa menunda lagi, mulai mengarahkan kedua tangannya pada kening Theo serta Aria. Dengan dua ujung jari menunjuk kening, ia mulai mengalirkan Mana cahaya kedalam otak pasangan pemuda di hadapannya ini. Mengeksekusi teknik miliknya.
*Wungg….!!!
Dalam sekejap, aliran informasi yang merupakan perjalanan hidup dari Aria semenjak lahir, dengan deras memasuki otak Theo. Membuat Theo yang kini bisa merasakan bagaimana perasaan tulus Aria kepadanya, kembali menitikkan air mata.
Aliran informasi kemudian ditutup dengan kejadian terakhir yang dialami Aria, bagaimana ia bisa mendapat lukanya. Dan bagaimana perasaan marahnya kepada Sirius karena telah mencuri dua pisau kecil kesayangannya, yang ternyata merupakan barang peninggalan terakhir yang diberikan ibunya sebelum sang ibu meninggal, semuanya tersampaikan pada Theo tanpa tertinggal satupun.
'Terima kasih, karena telah jujur padaku! Setidaknya, disaat terakhir, aku bisa mendengar untuk pertama kali, kau membicarakan tentang sebuah perasaan padaku!' Kata Aria, menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan dari tadi kepada Theo, menggunakan pikirannya.
Bersamaan dengan kata-kata Aria tersebut, aliran informasi mulai terputus. Mata Aria terpejam, gadis ini mati dengan senyum hangat di wajahnya. Tampak seperti sedang tertidur lelap.
"Hei… Aria!"
Theo yang sebenarnya tahu bahwa Aria telah tiada, entah kenapa tetap memanggil namanya, berusaha membangunkannya. Memandang wajah gadis di hadapannya dengan tatapan nanar penuh penyesalan.
*Wuunnnnggggg…..!!!!
Saat Theo masih tergoncang oleh kematian Aria, sebuah dengungan keras yang segera diiringi oleh hembusan kuat aura kegelapan, tiba-tiba menyebar dari arah langit.
"Tidak mungkin! Kenapa iblis bernama Barbatos itu membiarkannya!" Seru Tiankong, dengan ekspresi wajah tertegun saat melihat kearah atas. Dimana saat ini, tampak tubuh Arthur mulai bergetar hebat dengan aura kegelapan yang ada di sekitarnya, bergerak liar tak terkendali.
Bersamaan dengan kata-kata Tiankong, aura kegelapan liar yang ada di sekitar tubuh Arthur, mulai bergerak menyatu kedalam tubuhnya. Terkompres kuat. Kemudian….
*BOOOMMMMMM……!!!
Tubuh Arthur, meledak.
Membuat Theo yang saat ini ikut melihat kearahnya, segera melebarkan kedua mata, memasang ekspresi kosong menatap langit.
__ADS_1