
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
Dengan bergabungnya kelompok Bandit Halilintar, Kini jumlah anggota kelompok Bandit Serigala semakin bertambah gemuk. Dalam proses menaklukan wilayah Gurun Darah Gersang, Bandit Serigala total menundukkan 83 kelompok Bandit lain, menjadikan mereka bagian dari kelompoknya.
Sementara, tak kurang dari 23 kelompok Bandit, dimusnahkan oleh Bandit Serigala karena menolak untuk bergabung.
***
(Kemah rapat)
"Jumlah total seluruh anggota Bandit Serigala adalah 987 orang!" Ucap Oscana, sambil membuka tutup buku catatannya Ketika Theo menanyakan jumlah anggota kelompok Banditnya.
"Hmmmm…. Tidak buruk, sedikit diatas ekspektasiku!" Jawab Theo.
"Jadi kapan kita akan melancarkan invasi ke wilayah Gurun Pasir Berisik?" Tanya Sanir. Yang kini menjabat sebagai salah satu wakil pemimpin kelompok Bandit Serigala yang di namai Theo divisi penyergap. Dimana sesuai permintaan Sanir, seluruh anggotanya adalah wanita.
"Aku sudah memutuskan untuk memulai langkah invasi pada awal bulan depan!" Jawab Theo.
"Karena jumlah anggota kita bertambah secara signifikan, sumberdaya untuk merawat kelompok juga perlu di tambah!" Tambah Theo.
"Jadi, beberapa waktu kedepan, aku akan kembali melakukan perjalanan ke kota Gurun Zordan untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya kita!" Tutup Theo.
"Hmmmm… Boss! Kau harus mengajakku!" Sahut Thomas cepat. Si Gendut ini bisa menduga apa yang dimaksud Theo dengan kembali memenuhi kebutuhan sumberdaya.
"Tidak! Kali ini kau urus markas!" Jawab Theo cepat.
Mendengar Theo tak berniat mengajaknya, ekspresi wajah si Gendut berubah cemas. Ia tentu tak ingin melewatkan kesempatan mengeruk banyak Mutiara Mana dari Death Arena dalam kunjungan tersebut.
Namun, belum sempat Thomas menyuarakan keluhannya, Theo segera menambahi kalimatnya.
"Ingat, tempo hari kau sudah dengan sangat kurang ajar memberiku laporan palsu!"
__ADS_1
"Jadi, sebagai hukuman, kau harus mengelola markas dengan benar kali ini! Jika sekali lagi kau berani memberi laporan palsu, maka itu akan baik bila kepalamu kupajang diatas api unggun utama perkemahan, anggap saja sebagai peringatan untuk anggota yang lain!" Ucap Theo, dengan sorot mata dan nada yang sangat dingin.
Sorot mata dan intonasi nada bicara Theo, membuat setiap orang yang ada di lokasi tahu bahwa dia tak sedang bercanda.
"Thomas, meskipun kau adalah salah satu dari anggota paling pertama kelompok Bandit Serigala, tapi harus kau tau, sebagai seorang pemimpin, dimataku tak ada anggota dalam kelompok yang akan mendapat perlakuan spesial!"
"Semua sama!" Tambah Theo, kini dengan sedikit aura yang bocor dari dalam tubuhnya.
"B-Boss! Waktu itu aku hanya sedikit bercanda! Jangan terlalu berlebihan!" Jawab Thomas. Kaki berlemaknya kini mulai bergetar.
*Boooommmm….!!!!
Namun, kata-kata Thomas, disambut dengan tendangan keras pada perutnya. Theo tanpa bicara melancarkan serangan tiba-tiba yang membuat Thomas terpental keluar dari dalam kemah.
"Sekali lagi kau berani menjawab dengan sembarang ketika aku sedang serius, itu kepalamu yang akan kujadikan target tendangan!" Seru Theo dari dalam kemah.
"Tak akan lagi! Tak akan ku ulangi lagi!" Seru Thomas balik dari luar kemah. Ekspresi wajahnya tampak kesal dan takut disaat bersamaan.
'Sialan! Kenapa Boss beberapa hari ini suka sekali marah-marah!' Gumam Thomas dalam hati.
***
Ditemani dengan Yahuwa-Yaseya serta Razak, Theo akhirnya sampai di kota Gurun Zordan. Karena pengalaman-pengalaman sebelumnnya, untuk menghemat dan efisiensi waktu, kali ini Theo menyesuaikan waktu perjalanan agar mereka sampai di Kota Zordan tepat ketika tengah malam. Waktu dimana pertarungan Death Arena diselenggarakan.
"Yahuwa, Yaseya, kalian bersama dengan Razak pergi dahulu ke Death Arena! Aku akan segera menyusul begitu urusan dengan Gaia Treasure selesai!" Ucap Theo. Memberi intruksi.
Kembali untuk menghemat waktu, ia berencana membeli kebutuhan sumberdaya terlebih dahulu di Gaia Treasure sebelum menuju Death Arena.
"Baik!" Jawab Yahuwa dan Yaseya hampir serentak, kemudian tanpa menunda pergi menuju Death Arena bersama Razak dengan ekspresi wajah sumringah.
Dua orang ini tampak sangat senang sejak pertama kali menginjakkan kaki di kota Gurun Zordan. Bagaimanapun juga, berlatih sepanjang waktu di wilayah gurun, membuat keduanya sedikit jenuh.
***
(Death Arena)
Theo yang telah menyelesaikan urusan di Gaia Treasure, kini mulai memasuki Death Arena. Dan seperti biasa, ketua Dark Guild cabang kota Zordan, Delario Dark, menyambut di aula depan, bertindak sebagai petugas administrasi.
"Sang Godfather, sudah kuduga kau akan datang!" Ucap Delario, sambil memberi salam tangan saat Theo sampai di hadapannya.
"Tetua Delario! Salam!" Jawab Theo, dengan salam tangan yang sama dan senyum sederhana.
__ADS_1
"Kurasa kau sudah tahu apa tujuanku datang kesini!" Tambah Theo.
"Yahh… Beberapa waktu yang lalu, tepat ketika kau berhasil merebut gelar Kaisar Fisik, dimana menjadikan kau sebagai orang pertama dalam sejarah Death Arena yang berhasil meraih gelar Kaisar dalam dua sub Arena berbeda, pria tua ini segera memberi laporan pada Lord Santiago di markas utama!"
"Ohhh… Begitu?" Tanggap Theo singkat.
"Tuan muda! Tak perlu memasang ekspresi seolah sedang terkejut seperti itu! Pria tua ini tau bahwa kau pasti sudah menduganya!" Jawab Delario.
"Hahhaha….!!! Maafkan aku! Sudah menjadi kebiasaan buruk yang sulit kuhindari!" Ucap Theo. Merasa tak enak hati karena berusaha mempermainkan pria tua dihadapannya dengan permainan psikologis menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lain.
"Lalu, bagaimana tanggapan brother Santiago?" Tanya Theo.
"Hmmmm… Beliau justru tertawa terbahak-bahak. Menyebabkan semua tetua yang ada di aula utama tertegun karena baru pertama kali itu melihatnya tertawa begitu keras!" Jawab Delario.
"Beliau juga menekankan, selama kau tak melanggar aturan, maka aku tak perlu melakukan tindakan mempersulit apapun!"
"Dan terakhir, Master Cassio yang juga hadir di dalam aula utama, mengatakan bahwa kemungkinan besar kau akan kembali datang dan mendaftar di Arena lain!" Tutup Delario.
"Senior Cassio sang Penjagal! Aku berhutang banyak padanya! Bila ada waktu luang, aku harus menyempatkan minum-minum bersamanya!" Ucap Theo. Kembali memasang senyum sederhana.
"Baiklah, tetua Delario, kali ini aku mendaftar di Arena Senjata Rahasia!" Tutup Theo. Seraya meletakkan biaya pendaftaran diatas meja.
"Baiklah! Karena Lord Santiago tak mempermasalahkan, tentu aku tak punya wewenang apapun!" Jawab Delario.
Meskipun berkata demikian, terlihat sekali ada titik-titik ketidak-ikhlasan di mata pria tua ini. Merasa malam ini Death Arena yang ia pimpin akan kembali kehilangan banyak Mutiara Mana.
"Tetua, tolong jangan memasang wajah seperti itu, kau membuatku seolah sedang menjahatimu!" Ucap Theo.
"Bagaimanapun juga, sebagai penyelenggara dan juga Bandar, kita semua tahu kalian tak pernah menjadi pihak yang merugi! Jumlah yang kumenangkan pastilah hanya remah-remah roti bagi kalian!"
"Dan lagi, aku hanya mempunyai kesempatan 3 kali lagi mengikuti pertarungan Death Arena!" Tambah Theo. Benar-benar tak enak hati saat melihat ekspresi wajah pria tua di hadapannya.
"Hmmmm….! Yang kau katakan benar! Tapi tetap saja!" Gumam Delario.
"Tuan muda, aku punya satu permintaan! Selama mengikuti pertarungan Death Arena, tolong sembunyikan identitasmu dengan topeng, dan jangan lagi memakai nama Wolf!" Tambah Delario.
Mendengar permintaan tersebut, Theo segera mengangguk. Bersedia menerima permintaan Delario. Ia paham kenapa pria tua tersebut membuat permintaan seperti itu.
Dengan Theo yang telah memenangkan dua Arena berbeda, dan menyandang gelar dua kaisar. Kedepan, setiap ia kembali mengikuti pertarungan Death Arena, perhatian para penonton pasti akan terfokus padanya. Tak menutup kemungkinan mereka mempertaruhkan semua uangnya pada Theo. Hal ini tentu saja akan sangat merugikan pihak Death Arena sebagai penyelenggara dan juga bandar judi.
"Terimakasih!" Ucap Delario, seraya memberi token peserta Arana senjata rahasia pada Theo.
__ADS_1