
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
*Dooommm….!!!
Suar berwarna merah menyala terang diatas langit, membuat dua kelompok yang saat ini sedang sibuk bertempur, sejenak menghentikan aktivitas masing-masing, melihat kearah suar yang tiba-tiba menyala diatas medan pertempuran.
Tak seperti Tasik dan para Sesepuh kelompok Tribe yang terlihat masih bingung dengan keberadaan suar tersebut, kelompok Boss Besar para Bandit kini mulai memasang wajah buruk. Merasa situasi akan berkembang menjadi tak baik. Entah kenapa mereka bisa menebak siapa yang akan datang.
Ketika dua kelompok belum sempat memberi reaksi apapun, atau lebih tepatnya tak tahu harus bereaksi seperti apa, dari atas puncak perbukitan, kelompok orang berjumlah ratusan, kini mulai menampakkan diri, berjejer memanjang mengikuti tepian perbukitan sambil mengibarkan ratusan panji-panji. Ratusan panji tersebut, tak lain adalah panji Serigala menyalak kebanggaan kelompok Bandit Serigala.
"Tidak baik! Apakah kita dijebak?" Ucap Tasik, ketika menyadari kelompok yang baru datang adalah kawanan Bandit. Merasa Bandit Serigala merupakan bala bantuan dari aliansi Bandit.
Tasik yang mulai panik, akan memberi intruksi agar kelompok yang ia pimpin mengambil langkah mundur, sampai kemudian, suara berderak keras terdengar datang dari arah belakang.
"Sialan! Tuan muda, kita benar-benar terperangkap!" Ucap salah satu Sesepuh Akasia Tribe dengan wajah sangat panik begitu melihat dari arah belakang, dimana menjadi satu-satunya jalan keluar masuk wilayah ceruk perbukitan, ratusan orang dengan panji-panji yang sama, yakni Serigala menyalak, bergerak cepat menutup jalan keluar.
Sanir bersama Hereda memimpin divisi penyergap di garis depan dengan menunggang Serigala metalik hitam. Bergerak paling awal menutup pintu keluar, mencegah kelompok Tribe untuk melakukan retreat. Sementara ratusan lain anggota Bandit Serigala, tertinggal tak terlalu jauh dibelakang.
__ADS_1
"Kurang ajar! Beraninya para wanita rendahan itu menipu kita! Mereka pastilah utusan dari kelompok aliansi Bandit ini!" Bentak Tasik, dengan ekspresi wajah sangat marah.
"Tapi tuan muda! Lihat kearah sana!" Ucap Sesepuh Akasia Tribe sambil menunjuk kearah puncak perbukitan.
Mendengar kata-kata Sesepuhnya, Tasik dengan cepat melihat kearah yang ditunjuk. Ekspresi wajahnya berubah bingung saat melihat diatas perbukitan, kelompok bandit yang baru saja datang, saat ini tengah membidikkan senjata jarak jauh masing-masing kearah bawah. Namun, itu bukan kelompoknya yang menjadi target, melainkan justru kelompok aliansi Bandit.
"Kakak besar! Apa benar tak masalah?" Tanya salah satu anggota Bandit Serigala kepada Thomas, dimana merupakan orang yang memimpin kelompok penyergap diatas bukit.
"Hmmmm….! Tak masalah! Lagipula mereka berkumpul dan membentuk aliansi juga untuk melawan kelompok Bandit Serigala kita kan?"
"Jadi negosiasinya bisa dilakukan nanti! Untuk sekarang, kita beri mereka pelajaran dulu! Buat mereka yang berlutut meminta ampun!"
"Serang sekarang juga!" Seru Thomas. Tanpa ragu sedikitpun, memberi tanda agar kelompok yang ia pimpin, melepaskan serangan.
Mendengar intruksi Thomas, tanpa banyak bertanya lagi, anggota Bandit Serigala segera melancarkan serangan masing-masing.
Kelompok Meridian Knight, menggunakan senjata rahasia yang di desain khusus oleh pengerajin divisi senjata dimana telah mempelajari teknik penempaan rahasia kelompok Bandit Halilintar, menembakkan ratusan anak panah beratribut listrik kuning.
Serangan tersebut, membuat medan pertempuran seketika menjadi kacau, ledakan berbagai atribut Mana yang dikombinasikan dengan derak liar listrik kuning dari ratusan senjata rahasia yang di tembakkan secara bersamaan, menyebabkan kelompok aliansi Bandit tercerai berai, sibuk menghindar dan menyelamatkan diri mereka masing-masing.
Tak sedikit pula yang mulai memaksa merengksek kedepan, mendorong kawannya memasuki formasi bertahan kelompok Tribe. Hal tersebut menyebabkan para Bandit yang berada di posisi paling depan, harus rela menjadi bulan-bulanan dari lawan mereka.
Perkembangan situasi ini, membuat Aliansi Bandit dihadapkan dengan situasi buntu yang bagaikan neraka. Mereka tergencet dari dua sisi. Di belakang ada hujan serangan berdaya ledak dahysat, sementara di depan terdapat kelompok Tribe yang kini memasang formasi bertahan sempurna.
Ketika para Bandit sudah mulai merasa tak ada harapan, mereka hanya bisa dengan putus asa dan sekuat tenaga memaksa terus merengsek kedepan, memegang satu helai tali harapan terakhir dimana sebisa mungkin membongkar formasi bertahan lawannya dan lolos dari neraka.
Namun, yang tak disadari oleh aliansi Bandit adalah, situasi yang hampir sama, sebenarnya saat ini juga tengah dihadapi oleh kelompok Tribe. Bersamaan dengan tanda menyerang yang diberikan Thomas, Sanir yang memimpin tim penyergap di pintu keluar ceruk perbukitan, juga memberi tanda untuk kelompoknya melakukan serangan. Merengsek maju membantai kelompok Tribe.
__ADS_1
Aksi tim penyergap yang di pimpin Sanir tersebut, menyebabkan kelompok Tribe terdorong mundur kebelakang. Berakhir dalam situasi saling dorong dengan lawan mereka di pertempuran sebelumnnya, yakni aliansi Bandit.
Kelompok Bandit Serigala datang di waktu yang sangat sempurna untuk melakukan sergapan pada dua kubu yang saling bertempur. Dengan sukses kini menggencet dari dua arah baik itu kelompok Tribe maupun aliansi Bandit yang sedang dalam kondisi kelelahan secara fisik dan mental akibat pertempuran intens yang mereka lakukan sebelumnya.
"Aaaaaarrrrrgggg….!!! Aku tak mau mati dengan cara konyol seperti ini!" Teriak salah satu Boss Besar Bandit dengan ekspresi wajah frustasi.
Selesai berteriak frustasi, ia melihat kearah atas, merasa jalan satu-satunya untuk bisa keluar dari situasi saling gencet ini adalah dengan melewati puncak perbukitan.
Tanpa menunda, ia kemudian melakukan lompatan tinggi, memanfaatkan bentuk Soul Knightnya yang berupa Spirit Beast tipe terbang, pria ini mengepakkan aliran Mana sayapnya untuk beberapa kali, terbang keatas menuju puncak bukit.
Melihat aksi yang di lakukan salah satu Boss Besar Bandit tersebut, beberapa anggota Bandit segera mengikuti, mereka yang memiliki bentuk Soul Knight tipe terbang, ikut melompat keatas. Sementara para True Knight yang memiliki Spirit Beast kontrak tipe terbang, menaiki Spirit Beastnya untuk terbang keatas.
Menyadari ada setitik harapan untuk bisa keluar dari situasi bagaikan neraka yang sedang mereka hadapi, beberapa anggota kelompok Tribe ikut meniru aksi para Bandit. Meninggal formasi bertahan rapat yang sedang mereka lakukan, dan melompat terbang kearah atas.
"B*jingan egois!"
Anggota Tribe yang melihat beberapa kawannya kabur sendiri meninggalkan formasi, segera berteriak memaki.
"Ini kesempatan kita! Maju! Serang sekuat tenaga!"
Disisi lain, kelompok aliansi Bandit segera melakukan gempuran keras begitu menemukan celah dari formasi bertahan rapat yang dari tadi dipertahankan oleh kelompok Tribe.
Perkembangan situasi tersebut, membuat medan pertempuran justru menjadi semakin kacau, dari yang awalnya saling dorong, berubah menjadi saling injak. Setiap orang berusaha naik ke posisi lebih tinggi, maju kedepan dengan menginjak siapapun itu yang tak beruntung karena terjatuh dalam kacaunya situasi.
Sementara itu, diatas medan pertempuran yang kacau, beberapa Knight baik itu dari kelompok Bandit ataupun Tribe yang sebelumnya menggunakan teknik terbang masing-masing untuk bisa lolos dari situasi neraka di bawah, belum sempat terlalu lama menghirup nafas lega sampai kemudian, sesosok bayangan raksasa terbang cepat menukik dari atas langit.
Mata mereka terbuka lebar begitu melihat dengan jelas sosok yang bergerak cepat kearah mereka.
__ADS_1
"Groooooaaaahhh….!!!!"
Sosok raksasa tersebut tak lain adalah Raja Naga Hitam. Makhluk mengerikan yang saat ini berteriak keras dengan sangat liar. Mulai menebas setiap orang yang berusaha kabur dari medan pertempuran menggunakan sayap berdurinya.