
"Bubu…! Ada apa? Kenapa tadi aku merasakan auramu bergejolak dengan hebat?" Tanya Jasia. Dengan langkah bergegas menuju kearah Kera raksasa.
Sebelumnya, ia sedang menyisir untuk mencari keberadaan anggota House True Alknight, yang mungkin melakukan penjelajahan di sekitar lokasi tersebut.
Bagaimanapun juga, hancurnya tebing pintu masuk adalah kesalahannya, jadi Jasia merasa bertanggung jawab untuk menjaga agar posisi pintu masuk kedalam Jurang Misterius, tetap tak ada yang mengetahui.
Oleh karena itu, selain menempatkan Bubu dan kera-kera kecil anak buahnya untuk menjaga di sekitar pintu masuk, ia juga sering berkunjung untuk sekedar menyisir area sekitar.
Mendengar pertanyaan Jasia, Kera raksasa yang dipanggilnya Bubu hanya memberi ekspresi wajah bodoh. Kemudian bergantian melihat kearah pintu masuk dan Jasia sendiri.
Melihat ekspresi kera ini, Jasia mulai merasa sedikit khawatir, dia kemudian dengan cepat memeriksa pintu masuk. Dan begitu melihat apa yang terpasang di depan pintu masuk, Gadis ini segera memasang wajah buruk.
"Sialan! Ada orang yang berhasil masuk? Terlebih formasi macam apa ini? Kenapa aku tak bisa menembusnya?" Kata Jasia, dengan nada kesal. Sambil berkali-kali menghantam formasi penghalang dengan bola-bola Mana api miliknya.
"Bubu…! Apa yang kau lakukan? Bukankah kubilang jaga tempat ini dan jangan biarkan siapapun masuk kedalam sana!" Dengus Jasia, dengan nada sedikit membentak.
"Guuuuhhhh….!"
Bubu yang menerima dengusan Jasia, tentu saja tak memberi jawaban apapun, ia hanya tetap mempertahankan muka polosnya yang konyol, sambil menggaruk kepalanya beberapa kali.
"Hmmm… dan ada apa dengan tubuhmu yang penuh luka itu? Apakah orang ini begitu kuat?" Bentak Jasia lagi.
"Guuuhhhh….?"
"Grraaaahhhhh….!!!!"
"Huuuhhhh….!"
Bubu yang kembali di bentak, mulai tampak tak nyaman, ia menggeram kearah Jasia dengan ekspresi kesal. Kemudian sambil mendengus, melangkah menjauh, mengambil posisi nyaman tiduran diatas rumput. Kera ini tampak mengeluarkan beberapa Pisang merah darah, lalu dengan santai memakannya sambil melihat kearah Jasia.
"Dasar tak bisa diandalkan!" Bentak Jasia lagi, ketika melihat sikap Bubu.
"Kaaahhh… kahhhh… kaaahhh….!"
Sementara kera-kera kecil lain yang juga berada di lokasi, mulai berteriak dengan berisik ketika melihat Boss mereka di marahi.
"Diam….! Kalian juga sama saja! Tak bisa diandalkan!" Jasia kembali membentak dengan kesal, saat merasa seolah kera-kera kecil ini mengeluhkan sikapnya.
"Kahhh…!!! Kahhh…! kahhh..!!"
"Hmmm… sudahlah! Lebih baik aku memanggil beberapa orang dari desa tersembunyi dan juga kelompok Bandit Lebah Hitam untuk membantu berjaga disini!" Dengus Jasia. Kemudian melangkah pergi dengan cepat.
__ADS_1
Karena tak tahu siapa atau dari kelompok mana orang-orang yang berhasil memasuki Jurang Misterius, untuk berjaga-jaga, Jasia berniat meminta bantuan sebanyak yang ia bisa untuk bersiap menyergap siapapun yang nantinya akan keluar dari dalam pintu masuk tersebut.
Bagaimanapun, ia tak bisa membiarkan kelompok tersebut untuk tetap hidup setelah mengetahui adanya pintu masuk ini. Jurang Misterius adalah salah satu bagian dari rencana besar tuan mudanya untuk membangun lagi House Alknight. Jadi, sebelum semua masalah internal house selesai, tak ada yang boleh mengetahui keberadaan Jurang ini.
****
(Satu hari kemudian)
*Booommmm….!!!
*Boommmmm….!!
*Booommmmmm….!!!
"Hmmm… sungguh segel formasi yang kuat!" Kata Pemimpin pertama kelompok Bandit, setelah semua usaha serangannya yang bertujuan menghancurkan segel formasi tak membuahkan hasil.
"Saudara Bandit pertama! Itu percuma! Dari pandanganku yang merupakan seorang ahli formasi, segel ini bukanlah segel formasi biasa!"
"Meskipun aku tak pernah melihat segel seperti ini sebelumnya, aku secara kasar bisa melihat bagaimana segel ini bekerja."
"Jadi, didalam segel ini, terdapat mekanisme yang mana akan mampu mengalirkan gelombang serangan yang di terima, untuk menyebar ke area sekitar."
"Hal inilah yang akhirnya meredam semua seranganmu. Karena sekuat apapun kau menyerang, bila tak tahu di mana simpul utama dari segel, itu akan percuma!" Kata Aurega, menjelaskan mekanisme segel yang terpasang di pintu masuk.
"Tapi ngomong-ngomong, kemana para pemuda dari Klan Asura? Kenapa mereka tidak ikut menunggu disini? Bukankah biasanya kelompok kalian dan kelompok mereka bagaikan lebah dan madu? Tak bisa di pisahkan barang sedikitpun?" Tanya pemimpin pertama.
"Lebah dan madu? Sungguh perumpamaan yang mengerikan! Jangan lagi memberi perumpamaan seperti itu!" Dengus Aurega.
"Selama ini kami memang terlibat persaingan satu sama lain dengan ketat! Jadi apapun yang di lakukan kelompok klan Agila, maka kelompok klan Asura tak akan mau ketinggalan! Begitu juga sebaliknya! Jadi, jangan salah melihat hubungan kedua kelompok kami!"
"Mengenai pertanyaan kemana gerombolan kelompok berkepala panas itu pergi, jawabannya adalah mereka saat ini sedang melakukan pelatihan tertutup." Jawab Aurega.
"Ohhh… lalu kenapa kalian tak ikut? Bukankah tadi kau bilang kalau kelompok kalian saling bersaing satu sama lain dalam segala hal?" Kali ini pemimpin keempat kelompok Bandit yang bertanya, dengan nada centil menggodanya yang khas.
"Hmmm… itu karena tempat latihan tertutup ini adalah tempat khusus yang memiliki kapasitas terbatas! Jadi itu tidak akan cukup bila kedua kelompok memasukinya secara bersamaan!"
"Hmm... Lalu kenapa kalian mau menjadi kelompok yang harus menunggu? Apa kalian tak takut kalah saing?" Tanya pemimpin keempat lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Aurega menjadi sedikit tak nyaman, merasa wanita ini terlalu ingin tahu dalam urusan desanya.
"Ahhh… sudah diam! Kenapa juga aku harus menjawabnya!" Dengus Aurega.
__ADS_1
"Hihihihi…. Kenapa serius begitu! Sedikit mengobrol bukanlah hal yang sulit bukan? Lagian menunggu disini dari kemarin membuatku sangat bosan!"
"Hmmm… cari saja teman mengobrol lain!" Dengus Aurega lagi.
"Ahhh… dasar membosankan! Pemuda berbadan kekar yang bernama Armadillo itu pasti akan lebih asik bila diajak ngobrol!" Kata Pemimpin keempat, sambil memasang wajah bosan.
Mendengar hal itu, sudut-sudut mata Aurega segera berkedut. 'Hmm… seandainya kau tahu seberapa sering Armadillo mengeluh karena tingkahmu yang terus saja mengganggunya!' Gumam Aurega dalam hati. Sambil memandang pemimpin keempat dengan tatapan mencela.
*Booommmmm….!!!!
*Booommmmm….!!!
*Booommmmmm….!!!!
Saat Aurega masih memandang pemimpin keempat, suara ledakan kembali terdengar.
"Kau… sudah kubilang kan kalau itu percuma!" Teriak Aurega, ketika melihat pemimpin pertama Bandit kembali menyerang segel formasi berkali-kali.
"Bocah! Diam saja! Aku sudah bosan setengah mati!" Teriak pemimpin pertama balik.
"Hahhh… terserah kau saja!" Dengus Aurega, semakin tak paham dengan perilaku para Bandit ini.
Sementara di lokasi lain, Jasia saat ini masih dengan serius menatap kearah pintu masuk. Dia sangat menyesal karena merasa telah ceroboh membuat lokasi Jurang Misterius terpapar dan di ketahui kelompok lain.
"Nona Jasia! Santailah sedikit! Dengan kami disini, tak perlu terlalu khawatir! Siapapun yang nantinya keluar! Pasti akan mati dalam sekejap!"
"Sekarang lebih baik minum arak ini! Agar bisa lebih tenang!" Kata Pemimpin ketiga Bandit. Pria ini, dari awal pertemuannya dengan Jasia, tak hentinya berusaha mencari perhatian di hadapan gadis ini.
"Hmmm… sudah kubilang berkali-kali! Jangan menggangguku! Lebih baik cepat pergi sekarang juga! atau aku akan membunuhmu!"
"Aku yakin tuan muda akan mengerti dan tak mempermasalahkannya bila aku benar-benar melakukannya!" Dengus Jasia. Sambil menatap pemimpin ketiga dengan tatapan mematikan.
Pemimpin ketiga terlihat hendak menjawab kata-kata Jasia, namun sebuah getaran aneh yang berasal dari segel formasi yang ada di pintu masuk, segera menghentikannya.
Setiap orang di lokasi yang juga merasakan getaran tersebut, saat ini secara reflek menoleh kearah pintu masuk. Dengan sikap siaga, mereka tampak siap kapan saja menyerang siapapun yang keluar dari dalam sana.
"Hmmm… kenapa ramai sekali?"
Namun, ketika semua orang sudah bersiap melancarkan teknik terkuatnya, suara familiar justru terdengar dari dalam pintu masuk.
Dan begitu Jasia melihat dengan jelas siapa yang melangkah keluar dari sana, raut muka seriusnya langsung berubah cerah seketika.
__ADS_1
"Tuan muda!"
Sambil berseru penuh semangat, gadis ini berlari cepat kearah Theo. Melompat memeluknya.