Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
242 - Mengulang Dari Awal


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


(Keesokan harinya)


"Hmmm… Kalina, kenapa kau berada disini?" Tanya ketua Aurelas, saat melihat Kalina yang biasanya tak mau keluar sama sekali dari dalam ruang perawatan kakaknya, saat ini berada di luar ruangan.


Ia sedang duduk di depan pintu sambil mencoba memasang wajah serius. Yang justru membuat wajahnya menjadi semakin menggemaskan.


"Hmmmm… untuk saat ini, tidak ada yang boleh masuk kedalam! Itu dilarang!" Kata Kalina.


Mendengar Kalina tiba-tiba mengatakan sesuatu yang aneh, ketua Aurelas segera mengerutkan keningnya.


"Kalina, jelaskan dengan benar! Jangan main-main! kau tau sendiri kakakmu sedang dalam kondisi yang gawat! Aku harus rutin memeriksa luka-luka yang ada di dalam tubuhnya setiap hari!" Kata ketua Aurelas.


"Ada apa? Kenapa kau ribut-ribut didepan ruang perawatan Aurelas?"


Saat ketua Aurelas masih mempertanyakan maksud dari kata-kata Kalina yang melarang siapapun masuk kedalam ruang perawatan, suara ketua Arsegio terdengar dari arah belakang. Ikut mendekat kearah pintu masuk.


"Kalina, kenapa kau berada disini?" Ketua Arsegio segera menanyakan hal yang sama dengan yang di tanyakan ketua Aurelas begitu melihat Kalina saat ini duduk di depan pintu masuk.


"Hmmm… sekarang kau juga ikutan ribut bukan?" Dengus Ketua Aurelas, sambil menatap sekilas kearah Arsegio, sebelum mulai kembali melihat Kalina.


Mendapat tatapan menuntut penjelasan dua pria tua ini, Kalina yang masih bocah, tentu segera menjadi gugup, bingung harus menjelaskan seperti apa. Karena sebelumnya, pria berjubah yang tak lain adalah Theo, memberinya intruksi agar tak membiarkan siapapun masuk jika ia tak keluar lebih dulu. Theo juga melarang Kalina untuk memberi tahu siapapun bahwa saat ini ia sedang berada di dalam ruang perawatan.


Dua intruksi dari Theo itulah yang saat ini membuat Kalina menjadi bingung, harus memberi penjelasan macam apa ketika dua ketua yang ada dihadapannya, menanyakan kenapa ia melarang mereka untuk masuk kedalam ruang perawatan.


"Hmmm… kalau kubilang tidak boleh ada yang masuk ya berarti tidak boleh ada yang masuk! Pokoknya itu dilarang!"


Kalina yang mulai gugup dan tak bisa memikirkan alasan apapun, akhirnya hanya bisa membentak kesal. Sambil memasang wajah cemberut kearah kedua ketua Klan, ia juga mulai menghentak-hentakkan kakinya dengan keras ketanah.

__ADS_1


Melihat kejadian ini, ketua Aurelas dan ketua Arsegio yang benar-benar tak memahami tindakan gadis kecil di hadapannya ini, hanya bisa saling pandang satu sama lain. Tak tahu harus berbuat apa.


"Hmmmm… Kalina, berhenti berbuat nakal! Ini bukan saat yang tepat! Apa kau mau terjadi sesuatu hal yang tidak baik pada kakakmu!"


Saat ketua Aurelas dan ketua Arsegio masih bingung harus bersikap seperti apa, suara serak dari pria sepuh, tiba-tiba terdengar. Suara tersebut tak lain berasal dari Master Aegric yang saat ini berjalan pelan mendekat ditemani pemimpin Bandit keempat disebelah nya.


"Master Aegric!"


Melihat Master Aegric kini ikut bergabung bersama Kedua ketua Klan, Kalina yang dari awal sudah gugup, sekarang menjadi panik.


Bagaimanapun, berbeda dengan ketika berhadapan dengan kedua ketua klan yang tak terlalu ia kenal, itu berbeda dengan Master Aegric, karena selama tinggal di kastil utama House, Master Aegric adalah orang yang paling sering mengunjungi Kalina. Sering menemaninya jalan-jalan. Membuat Kalina sangat akrab dan menghormati sosok sepuh ini. Bahkan mulai menganggapnya sebagai kakeknya sendiri.


"Kalina! Jelaskan padaku, apa yang sedang kau lakukan dengan melarang kami masuk?" Tanya Master Aegric.


Mendengar pertanyaan tersebut, Kalina yang benar-benar bingung harus menjawab apa, hanya bisa mulai menunduk.


"Sudah kubilang, pokoknya tidak boleh ada yang masuk!" Gumam Kalina.


"Beri penjelasan yang benar! Ini menyangkut keselamatan kakakmu! Jangan main-main!" Dengus Master Aegric. Kini tampak mulai tak sabar dan mengambil satu langkah maju kedepan.


Melihat itu, Kalina segera maju menghadang. Dengan muka kesal, ia menatap kearah Master Aegric sambil merentangkan tangan. Menghalangi pria sepuh tersebut untuk melangkah lebih jauh.


"Tuan muda?"


Tanya ketiga pria tua di hadapan Kalina secara bersamaan, saat Kalina keceplosan menyebut kata tersebut.


***


(Ruang perawatan, satu minggu kemudian)


"Tuan muda, apakah itu kau?" Jasia yang masih dalam kondisi terbaring lemah, berusaha sekuat tenaga untuk mengambil posisi duduk saat pandangan matanya menangkap keberadaan Theo.


"Jangan paksakan diri dulu! Aku masih perlu melakukan beberapa perawatan pada tubuh mu! Jadi cepat kembali berbaring!" Kata Theo, tanpa menoleh kearah Jasia. Sibuk meracik ramuan obat memunggungi gadis itu.


Mendengar suara Theo tersebut, Jasia yang segera merasa nyaman di hatinya, hanya mengangguk pelan, kemudian kembali membaringkan tubuhnya.


"Bukankah aku sudah melarangmu mempraktekkan teknik itu sebelum berada di kelas King, kenapa kau tak menuruti intruksi ku?" Tanya Theo. Masih tanpa menoleh kearah Jasia.


"Ituu…." Jasia yang mendapat pertanyaan tiba-tiba dari Theo, segera tercekat mulutnya. Tak mampu memberi jawaban apapun.

__ADS_1


"Sekali lagi kau memaksa menggunakannya sebelum sampai pada kelas King, aku mungkin masih akan mau membantu merawatmu, tapi itu akan menjadi pertemuan terakhir kita! Setelahnya, aku akan menolak bertemu denganmu lagi!" Kata Theo, dengan intonasi nada dingin.


"Tuan muda!" Mendengar kata-kata Theo, Jasia segera menjadi panik.


"Apa kau mengerti?" Namun, sebelum Jasia memberi jawaban, Theo langsung memotongnya.


"Un…" Mendengar itu, Jasia hanya bisa mengangguk pelan, tak berani membantah.


Bersamaan dengan anggukan Jasia, Theo yang telah menyelesaikan racikan obatnya, mulai menghadap kearah gadis itu. Hal tersebut membuat Jasia yang saat ini menyadari bahwa tak ada sehelai kain pun menyelimuti tubuhnya, semakin menundukkan wajah. Rona mukanya segera memerah.


"Minum ini!" Kata Theo, sambil mulai menyuapi Jasia dengan semangkuk ramuan obat. Seolah tak menyadari perubahan ekspresi Jasia.


Tepat setelah Jasia meminum ramuan obat dari Theo, tubuhnya tiba-tiba bergetar hebat. Rasa sakit teramat sangat mendera sekujur tubuhnya. Sementara itu, melihat reaksi kesakitan Jasia, Theo tanpa menunda, menggunakan ujung jarinya, mulai mengalirkan Mana cahaya. Memandu ramuan obat yang baru saja diminum oleh Jasia, kearah titik-titik vital bagian tubuhnya.


Kondisi ini bertahan untuk beberapa saat sampai akhirnya Jasia jatuh pingsan sekali lagi.


***


(Tengah malam keesokan harinya)


"Ummmm….!" Jasia bergumam lirih saat mulai mendapatkan kesadarannya kembali.


"Bagaimana kondisi mu?" Tanya Theo, saat melihat Jasia sudah siuman.


"Tuan muda! Aku sudah lebih baik!" Kata Jasia, yang kini merasa tubuhnya sudah bisa digerakkan dengan bebas. Luka-luka parah yang ada di sekujur tubuhnya, kini juga lenyap. Membuat kulitnya yang seputih salju, kembali mulus tanpa celah.


"Baguslah! Tapi jangan terlalu senang dulu, karena kau secara paksa mengaktifkan teknik Berserk buatan ketika tingkat kultivasi mu belum memadai, meskipun aku bisa membuat tubuh mu kembali bugar, tapi tetap ada efek samping buruk yang harus kau terima!"


"Luka parah yang terjadi pada Element Seedmu, menyebabkan hancurnya kultivasi yang selama ini telah kau bangun, jadi kau harus mengulang dari awal jalan Knight mu!" Kata Theo.


Mendengar itu, Jasia segera membuka mata lebar. Sebelum mulai menundukkan kepala. Namun, sebelum Jasia bahkan memberi tanggapan apapun, Theo segera menambahkan kalimatnya.


"Tapi Masterku pernah bilang, dibalik sebuah musibah, pasti ada hikmah tersembunyi didalamnya bila kita mampu melihat dengan ketajaman yang cukup!"


"Dan dalam kasus yang sedang kau hadapi saat ini, memulai dari awal jalan kultivasi bukanlah sepenuhnya hal yang buruk, karena dengan itu kau bisa kembali memperkuat pondasi kultivasi mu!"


"Memperkokoh nya agar bisa mengambil langkah baru dari jalan panjang mu sebagai seorang Knight, karena aku sendiri tak ingin kau hanya terhenti pada batasan-batasan kekuatan di Gaia Land ini! Sementara diatas sana, masih banyak realm yang lebih tinggi, dengan penghuni yang tentunya lebih kuat!" Kata Theo. Seraya mengeluarkan tumpukan Foundation Pill dari dalam Gelang Ruang-waktu.


"Tapi itu semua kembali tergantung pada kemauanmu sendiri, karena mengulang dari awal, membuatmu harus bekerja 5 sampai 6 kali lipat lebih keras dari Knight lain yang ada diluar sana!"

__ADS_1


"Jadi, apakah kau cukup gigih dan bersedia bekerja keras dari awal lagi?" Tanya Theo, menutup semua penjelasanya dengan tatapan tajam.


__ADS_2