Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
Kejutan Menyenangkan


__ADS_3

"Uhhhhh lucu sekaliiiii!!!!" Jasia yang melihat Kura-kura kecil tiba-tiba muncul dan membuat ekspresi menggemaskan segera berteriak antusias.


Dia segera maju, ingin menyentuh kura-kura kecil tersebut. Namun sebelum tangan Jasia dapat menyentuh kura-kura kecil. Kura-kura itu melompat dengan gesit kearah Theo.


"Ahhhhh…!!!" Jasia segera berteriak kaget. Sangat aneh ada kura-kura bisa bergerak segesit itu.


Theo yang melihat kura-kura kecil melompat, segera tersenyum dan mengarahkan tangan kearahnya. Kura-kura kecil kemudian dengan anggun mendarat di telapak tangan Theo.


"Tuuuu…. Tuuuuu.. tuuuu…. " Kura-kura kecil kembali membuat suara menggemaskan sambil menatap kearah Theo dengan tatapan mata antusias. Seperti seorang anak melihat ayahnya.


"Hahahha anak pintar, anak pintar." Theo mengelus kepala kura-kura kecil.


"Ahhh tuan muda. Biarkan aku menyentuhnya, kura-kura kecil ini sungguh menggemaskan!" Jasia yang dari tadi sudah merasa gemas segera memohon. Kehilangan semua sikap malu-malu dan sopannya.


"Apa itu? Makhluk menggemaskan apa itu?"


Tiba-tiba suara kecil riang terdengar dari belakang Jasia dan Theo. Kalina yang sebelumnya entah dari mana, kini berlari dengan cepat menuju kearah keduanya. Terlihat sangat tertarik dengan kura-kura kecil.


"Tuuu… tuuu… tuuu… " Kura-kura kecil terlihat bingung ketika dua gadis ini mengerubunginya, berusaha menyentuh kepala mungilnya.


"Haha, kura-kura kecil ini bisa di bilang adalah Spirit Beast kontrakku. Namun dia agak sedikit special, aku menetaskannya sendiri." Theo mulai menjelaskan.


"Ahhhhh, aku juga mau yang seperti ini. Sungguh membuat iri." Kata Kalina.


"Kak Theo, siapa nama si kecil ini?" Tanya Kalina.


"Adik sudah kubilang, jangan panggil tuan muda seperti itu." Jasia kembali memarahi Kalina, dia masih belum bisa menerima adiknya ini memanggil Theo dengan panggilan kakak.


"Jasia, sudahlah. Bukankah kubilang itu tak masalah." Jawab Theo.


"Tapi tuan muda."


"Sudah.. sudah.. lupakan itu! Kalina benar, aku belum memberi kura-kura kecil ini sebuah nama. Lebih baik bantu aku memikirkan hal itu sekarang! Apa kalian punya saran? Tanya Theo.


"Kura-kura imut." Jawab Kalina cepat.


"Tuuuuu!!!" Kura-kura kecil segera menggeleng cepat. Seperti mengerti pembicaraan di sekitarnya.


"Hahahha, sepertinya dia tak mau nama aneh itu." Jawab Jasia.

__ADS_1


"Huhhh…" Kalina segera memonyongkan bibirnya tak puas.


"Bagaimana kalau kura-kura menggemaskan?" Saran Jasia.


"Tuuuuu!!!!" Kura-kura kecil semakin cepat menggelengkan kepalanya mendengar ide Jasia.


"Pfftttt… dia juga tak suka nama kau berikan kak!" Ejek Kalina, terlihat puas.


"Emmmm.. karena berwarna putih, dan kemunculannya membawa kegembiraan, bagaimana kalau kita panggil saja White Joy?" Theo memberi saran.


"Tuuu??" Kura-kura kecil memandang Theo.


"Hmmm kau bodoh atau apa?" Tiankong tiba-tiba keluar dan ikut bergabung dengan obrolan. Membuat Theo sedikit kaget.


"Apa maksudmu master?" Tanya Theo.


"Kau pikir kenapa Guardian Beast ini di sebut dengan Silver Turtle? Itu karena ketika dia tumbuh kelak, cangkangnya akan berwarna perak terang, sementara tubuhnya berwarna hijau tua." Tiankong mulai menjelaskan.


"Sekarang dia berwarna putih karena memang dia baru saja menetas. Kalau kau mau memberinya nama seperti tadi, pakai saja Silver Joy." Saran Tiankong.


"Tuuuu… tuuuu.. tuuu… " kura-kura kecil segera bersemangat mendengar nama tersebut. Dia menganggukkan kepalanya dengan cepat berulang kali. Semakin membuat yang melihatnya gemas.


"Tuan muda ada apa?" Jasia dan Kalina yang tidak bisa melihat Tiankong segera menjadi bingung.


"Bukan apa-apa, sudah di putuskan. Nama kura-kura kecil ini adalah Silver Joy. Mulai sekarang kalian bisa memanggilnya Joy." Kata Theo.


"Tuuuuu…..!!!" Kura-kura kecil terlihat bersemangat.


"Unchhh.. Joy kecil, cepat kemari bermain dengan kakak." Kalina menggoda Joy, berusaha mengambilnya dari telapak tangan Theo.


Melihat hal itu, Joy segera menoleh dan kemudian meloncat ke pundak Theo. Dia terlihat tak mau di pegang oleh siapapun selain Theo.


"Uhhhh dasar pelit!" Kalina segera mnejadi kesal. Dia telah berkali-kali mencoba memegang Joy, tapi selalu saja gagal.


"Hahhahah.. mungkin dia belum terbiasa dengan kalian." Kata Theo. Kemudian mulai mengelus kepala mungil Joy.


"Tuuuuu.. tuuuu…." Joy terlihat sangat menikmati ketika Theo mengelus kepala mungilnya. Membuat Theo selalu tertawa melihat tingkah dan ekspresi menggemaskan Joy. Entah kenapa dia begitu bahagia melihat kura-kura kecil ini bangun.


"Sepertinya kau harus menunda dulu rencana perjalanan ke dalam Hutan Pinus Beku." Tiankong mulai berbicara.

__ADS_1


"Ini adalah momen penting bagi perkembangan Guardian Beast mu, kau harus memberinya makan pertama kali dengan Mana Besi mu."


"Ini penting untuk mengembangkan koneksi batin antara kau dengannya. Beri makan dia secara rutin, dan kedepan kau akan bisa berkomunikasi dengannya menggunakan pikiran."


"Lagi pula Guardian Beast juga merupakan bagian dari keuatannmu. Bisa di bilang, makhluk ini akan menjadi teman paling setia untukmu, tak akan pernah mengkhianatimu sama sekali." Tiankong menutup penjelasannya.


Mendengar penjelasan dari masternya, Theo segera pamit kepada Jasia dan Kalina, dia masuk keruangannya dan mulai memberi makan Joy kecil dengan Mana Besi miliknya.


**


(Tiga hari kemudian)


Theo menghabiskan tiga hari penuh untuk memberi makan Joy kecil. Menurut Tiankong, proses memberi makan Guardian Beast pertama kali memang membutuhkan kesabaran dan waktu yang relatif lama. Namun, setelah di beri makan pertama kali, kedepan Guardian Beast tak akan membutuhkan waktu terlalu lama untuk makan. Dan ada juga beberapa tanaman atau sumber daya tertentu yang bisa dia makan untuk mengembangkan kekuatannya.


Theo hanya perlu memberinya makan secara rutin selama beberapa hari sekali dengan Mana nya, untuk terus memperkuat koneksi batinnya dengan Joy kecil.


Di hari ketiga ketika matahari terik tepat di atas kepala, Theo keluar dari kamar nya. Joy kecil telah kembali kedalam tatto segel dan kembali tertidur. Ketika pertama kali keluar dari kamar, Theo bisa melihat Jasia telah menunggu pada kursi batu di taman kecil depan kamarnya.


"Ahh tuan muda, kau akhirnya keluar." Jasia segera berdiri dan menyambut Theo begitu melihatnya keluar dari kamar.


"Ehh dimana Joy kecil?" Tanya Jasia ketika melihat Theo keluar tanpa Joy kecil.


"Dia kembali tidur ketika selesai makan, nafsu makannya sungguh mengerikan." Jawab Theo.


"Ahhh sayang sekali, aku sangat ingin menyentuhnya."


"Haha.. Kapan-kapan kau pasti punya kesempatan. Ngomong-ngomong, kenapa kau tak berlatih dan malah menungguku disini?" Tanya Theo.


"Ahhh.. iya, sebenarnya aku menunggumu untuk menyampaikan pesan penting. Kemarin malam, kakak anda Issabela pulang ke house." Jawab Jasia.


"Kakakku pulang? Dimana dia sekarang? Kenapa tak ada yang mengabariku sebelumnya?" Tanya Theo lagi.


"Masalah itu, bukannya anda sebelumnya berpesan untuk tak ada yang mengganggumu, oleh karena itu ketika Lord datang sebelumnya, aku menyampaikan pesan anda, bahwa anda sedang dalam pelatihan tertutup dan tak mau diganggu." Jawab Jasia.


Mendengar jawaban Jasia, Theo segera menjadi sedikit pusing, Jasia ini benar-benar serius dalam menanggapi semua perintahnya. Dia bahkan berani menghadang Lord dan kakaknya yang berusaha menemuinya. Dia tak tau apakah sikap patuh Jasia yang tak pandang bulu ini merupakan hal yang baik atau buruk.


Ketika Theo akan kembali menyampaikan sesuatu kepada Jasia, Tiba-tiba suara merdu dan akrab terdengar dari arah pintu masuk halamannya.


"Adikkk……"

__ADS_1


__ADS_2