Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
287 - Tombak Kelas S


__ADS_3

Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.



Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.


Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v



_____________________________________________


Dalam riuhnya teriakan para penonton diatas tribun, Theo yang saat ini berdiri diatas Ring Arena Tongkat, tampak tak melakukan gerakan apapun. Masih menatap dengan tajam kearah Hella Asgard yang ada di hadapannya. Lawan terakhir yang harus ia singkirkan untuk bisa meraih gelar Kaisar Tongkat.


"Beberapa waktu yang lalu, sebelum pertarungan kita terganggu oleh sampah bernama Carlos Dark, kau sempat mengatakan bahwa aku bisa menghancurkan teknik bertahan terkuatmu, hanya karena memiliki senjata yang lebih bagus!"


"Benar begitu?" Tanya Theo.


Mendengar pertanyaan Theo, kali ini Hella tak memberi jawaban apapun, sorot matanya menandakan bahwa ia mulai ragu, apakah pernyataan yang tadi sempat ia lontarkan bahwa Theo bisa menang hanya karena memiliki senjata lebih bagus, adalah tepat.


Entah kenapa ia kini mulai merasa, apapun senjata yang di pakai oleh Theo, hasilnya akan tetap sama saja. Ia mulai mempercayai bahwa pemuda yang ada di hadapannya ini mampu melihat celah dari teknik bertahan tombaknya yang menurut Hella sudah sangat sempurna.


Hella masih terdiam sambil menatap Theo dengan tatapan ragu, sampai kemudian, Theo yang sedang ditatapnya, tiba-tiba menancapkan tongkat logam Baal diatas lantai Ring. Selesai menancapkan Baal, Theo membuat satu ayunan tangan ringan. Mengeluarkan sesuatu dari dalam Gelang ruang-waktu.


*Woooshhhh…!!!


Hawa dingin intens segera menyeruak kesegala penjuru Death Arena begitu Theo mengeluarkan salah satu koleksi barang simpanannya. Yang tak lain ternyata adalah senjata Tombak kelas S beratribut Es yang sebelumnya ia dapatkan dari perjalanan menjelajah Menara kuno.


"Aura yang begitu mendominasi!"


"Senjata yang luar biasa!"


"Tidak salah lagi, itu pasti senjata kelas S yang legendaris!"


Senjata kelas S yang baru saja di keluarkan Theo, tentu saja segera menarik perhatian setiap orang, bukan hanya para penonton, bahkan peserta di Ring Arena lain, kini kembali menghentikkan pertarungan masing-masing. Menatap tajam kearah Tombak yang baru saja di keluarkan Theo dengan tatapan penuh keserakahan.

__ADS_1


"Boss! Kau memang sesuatu! Mempunyai senjata seperti itu tapi tak pernah memakainya!" Ucap Thomas. Kembali dikejutkan oleh tindakan Theo.


Sementara itu, dibawah tatapan tajam setiap orang yang ada di dalam Death Arena, Theo kini memainkan Tombak Es yang baru saja ia keluarkan dengan gerakan gesit nan indah. Tampak tak terlalu peduli dengan tatapan-tatapan yang kini terarah padanya.


"Dengan senjata itu, kini pemenangnya semakin jelas lagi!" Gumam Thomas, sambil mulai mengambil posisi duduk dengan rileks. Merasa tak perlu lagi melihat sisa pertarungan.


Apa yang di pikirkan Thomas tersebut, merupakan pemikiran yang sama dimana kini berada di dalam pikiran setiap orang yang menyaksikan Arena Tongkat. Beberapa orang yang secara kebetulan masih mengharapkan sebuah keajaiban untuk kemenangan Hella, karena telah menaruh uang taruhan mereka padanya, kini tampak sudah kehilangan harapan.


Namun, ketika setiap orang sudah berfikir bahwa pertarungan di Arena Tongkat kini telah benar-benar berakhir untuk kemenangan Theo. Kejadian tak terduga kembali terpampang di hadapan mereka.


Theo lagi-lagi membuat kejutan saat dengan santai tiba-tiba melemparkan Tombak kelas S ditangannya kearah Hella. Yang kemudian disambut Hella dengan gerakan sigap menangkap Tombak tersebut.


"Woaaah….!!!"


"Boss…! Apa yang kau lakukan!"


Melihat apa yang dilakukan Theo, seluruh Death Arena sekali lagi menjadi heboh. Thomas yang sudah mulai duduk santai, kini kembali berdiri sambil berteriak lantang.


"Peserta Wolf lagi-lagi membuat kita terkejut dengan aksinya! Apa kiranya yang ada di benak peserta ini sampai dengan santainya memberi peserta Hell yang menjadi lawan terakhir baginya di dalam Ring Arena Tongkat, sebuah senjata kelas S yang legendaris!"


Tak mau ketinggalan dengan seruan heboh para penonton, Delario yang saat ini bertindak sebagai pembawa acara, segera memberikan komentar pancingan, yang mana berhasil mengarahkan para penonton untuk menjadi sama penasaran dengan dirinya.


Disisi lain, Hella yang saat ini menggenggam tombak Es, tentu saja tak paham dengan maksud Theo. Sama seperti para penonton, dia juga dikejutkan dengan aksi tiba-tiba Theo tersebut.


"Itu adalah senjata kelas S yang secara tak sengaja kudapatkan dalam pertemuan kebetulan di suatu lokasi misterius beberapa bulan yang lalu!" Jawab Theo.


"Untuk saat ini, kupinjamkan tombak itu padamu! Mari lanjutkan pertarungan kita! Aku akan tetap memakai Tongkat Logam kelas A milikku!" Ucap Theo.


Kata-kata yang disampaikan Theo, segera membuat Hella mengerutkan kening. Kini ia paham bahwa Theo hanya ingin membuktikan, jika kemenangan yang ia dapatkan di bentrokan terakhir antara keduanya sebelum ini, bukan disebabkan karena Theo memiliki senjata yang lebih baik.


"Hmmm… Harus kuakui kau memang memiliki mata yang tajam dengan mampu melihat celah dari teknik tombakku! Tapi apa kau tak merasa tindakanmu kali ini terlalu sombong? Jangan salahkan aku bila setelah ini kau harus mengakui kekalahan!" Dengus Hella. Sambil mulai memainkan tombak yang ada di tangannya.


"Hahahaha….! Tenang saja! Aku cukup percaya diri dengan hasil akhirnya!" Jawab Theo.


"Benar-benar sombong!" Dengus Hella. Kini sudah mulai mengambil kuda-kuda serangan.

__ADS_1


"Ehhh… Tapi sebelum memulai lagi pertarunganya, aku punya satu permintaan!" Kata Theo tiba-tiba.


"Katakan!" Jawab Hella singkat.


"Bukankah kau seorang True Knight dengan Sabertooth Salju yang sangat langka sebagai Spirit Beast kontrakmu?" Tanya Theo.


"Itu benar!" Jawab Hella singkat sekali lagi.


"Keluarkan dia sekarang! Aku tak mau bertarung melawan seorang True Knight hanya dengan setengah kekuatannya!" Ucap Theo, dengan seringai lebar kini mulai terlihat di wajahnya.


Mendengar kata-kata Theo, Hella kembali dibuat terhenyak, bukan hanya Hella, seluruh penonton yang ada di tribun kini juga kembali berteriak liar. Benar-benar tak menduga Theo justru menyuruh lawannya yang ternyata adalah seorang True Knight, untuk mengeluarkan Spirit Beast kontraknya. Dimana tentu saja merupakan kerugian bagi dirinya sendiri.


"Boss…! Apa yang kau lakukan! Lagipula itu tak bisa dilakukan! Benar-benar melanggar peraturan dari Death Arena!" Teriak Thomas dengan nada nanar. Tak rela saat menyadari ada sedikit saja kemungkinan dari hadiah tumpukan uang yang sudah ada di depan pintunya, untuk gagal ia dapatkan.


"Thomas! Diam saja! Tutup mulut berbisamu!" Bentak Theo, saat mendengar Thomas mulai meneriakkan aturan Arena agar Theo tak meneruskan niatnya.


Mendengar bentakan Theo, Thomas segera kembali terduduk. Tak berani membantah. Namun tetap saja titik-titik rasa kesal masih terlihat di wajahnya. Sebagai mantan seorang saudagar. Ia benar-benar menyayangi tumpukan uang.


Setelah membuat Thomas kembali duduk, Theo kini ganti mengalihkan tatapannya kearah podium Arena, tempat Delario berdiri.


"Tetua Delario, kuharap tak ada masalah dengan permintaanku ini!" Ucap Theo.


"Tentu saja tak masalah! Justru akan membuat pertarungan terakhir di Arena Tongkat semakin menarik!" Jawab tetua Delario.


Mendengar jawaban tersebut, para penonton yang sebenarnya sedikit bingung kenapa pihak Dark Guild sebagai penyelenggara menuruti keinginan aneh peserta Wolf yang jelas-jelas melanggar aturan, kini tampak tak peduli lagi.


Mereka mulai berteriak riuh sekali lagi. Merasa bahwa pihak Dark Guild sedikit melonggarkan aturan agar pertarungan menjadi semakin menarik untuk menebus rasa bersalah mereka sebelumnya.


"Groooooaaaahhh….!!!"


Disisi lain, Hella yang juga mendengar kata-kata tetua Delario, tanpa menunda segera memanggil keluar Spirit Beast Kontraknya.


Sabertooth berukuran besar dengan bulu putih lebat, kini menyalak ganas diatas Ring Arena Tongkat. Sambil menatap tajam kearah Theo.


"Sudah sejauh ini, jangan menyesal dengan kelalahan yang menantimu!" Gumam Hella.

__ADS_1


Gumaman yang segera disambut Theo dengan seringai lebar yang semakin mengembang.


"Maju!" Ucap Theo.


__ADS_2