Seven Deadly Child

Seven Deadly Child
254 - Pewaris


__ADS_3

*Baaammm…!!!


Suara berdebum, kembali terdengar saat Theo selesai membuka segel ruang harta. Dan begitu ruangan sudah sepenuhnya terbuka, kali ini tumpukan Mutiara Perak menjadi pemandangan yang menyambut semua orang.


Melihat tumpukan Mutiara Perak di hadapannya, setiap orang kini hanya bisa menatap dengan pandangan tertegun. Tak pernah dalam hidup mereka, melihat tumpukan Mutiara Perak sebanyak ini.


Seluruh Mutiara Mana Perak dalam ruangan, setara dengan simpanan harta dari beberapa kelompok House kelas kecil dan menengah. Bahkan beberapa kota kecil tak akan memiliki simpanan harta sebanyak ini.


"Ki… kita kaya…!" Gumam salah satu Bandit, dengan mulut bergetar.


Disisi lain, Thomas yang biasanya tampak paling antusias ketika melihat harta, kini juga hanya memandang kosong pada tumpukan harta untuk beberapa saat, sampai tiba-tiba ia mengingat sesuatu dan segera menoleh kearah Theo.


*Woooshhhh…!


Tanpa peringatan apapun, Theo yang awalnya berdiri dihadapan semua orang, tiba-tiba bergerak cepat menuju kearah tumpukan harta. Dengan satu ayunan tangan ringan, dalam sekejap ia memindahkan gunungan Mutiara Perak kedalam gelang ruang-waktu. Lenyap seketika dari pandangan setiap orang.


"Kakak besar!"


Melihat tindakan Theo, baik itu kelompok Bandit dan juga Thomas, segera berteriak parau. Merasa Theo begitu egois mengambil semua harta untuk dirinya sendiri.


"Hmmm… Diam! Seperti kalian bilang sebelumnnya, kita tak punya banyak waktu! Jadi, untuk sementara, biar aku yang membawa seluruh harta yang ada di ruangan ini! Masalah pembagian, kita bahas setelah berhasil keluar dari sini!"


"Lagipula, tanpa aku, memang kalian bisa mencapai lantai lima?" Kata Theo, tanpa menoleh kearah kelompok yang ada di belakangnya. Kemudian mulai berjalan kearah salah satu sudut ruangan.


Mendengar kata-kata Theo seluruh orang segera terdiam. Itu benar, tanpa Theo, mungkin mereka maksimal hanya akan mampu mencapai lantai tiga. Jika mereka tetap memaksa naik dan secara kebetulan bisa mencapai lantai 5, maka hanya kematian yang akan menanti mereka. Boss Golem yang baru saja di kalahkan Theo, adalah makhluk yang memiliki tingkat kesulitan level tinggi untuk bisa di hadapi oleh kelompok Bandit maupun Thomas.


Namun, meskipun mereka sangat paham akan fakta tersebut, tetap saja, hati setiap orang merasa sakit ketika melihat Theo mengambil seluruh harta untuk dirinya sendiri. Bagaimanapun juga, meskipun Theo mengatakan akan membagi harta ketika sudah berada di luar, fakta bawha mereka baru saja saling bertemu satu sama lain, menyebabkan tingkat kepercayaan pun belum terjalin dengan baik. Sehingga keraguan segera menggerogoti hati setiap orang.

__ADS_1


*Bammmm…!!!


Ketika setiap orang masih memandang punggung Theo dengan sorot mata penuh keraguan, suara berdebam kembali terdengar. Dimana berasal dari Theo yang baru saja membongkar segel formasi rahasia lain pada dinding ruang harta.


"Hmmm… Tidak mungkin!" Seru Theo, dengan ekspresi tertegun saat melihat isi di balik dinding batu. Sebelum dengan cepat segera mengayunkan tangan, memasukkan semua yang ada di dalam ruangan dinding batu, kedalam gelang ruang-waktu.


"Hehhehe… Bila dewa Keberuntungan benar-benar eksis, maka aku adalah putranya!" Gumam Theo. Sambil memasang ekspresi sangat puas. Menepuk beberapa kali gelang ruang-waktu di pergelangan tangan kirinya.


"Kakak besar! Jadi ada ruangan tersembunyi lain di dalam gudang harta?" Teriak Thomas. Kini menyadari bahwa ada ruang rahasia di balik dinding batu.


Sekarang ia jadi mengerti, alasan kenapa Theo mengabaikan beberapa harta lain di lantai yang lebih rendah. Itu pasti karena, item yang tersimpan di dalam ruang rahasia di balik dinding, jauh lebih berharga dari pada tumpukan harta. Malahan mungkin itu merupakan item utama yang paling berharga dari setiap lantai.


"Yah... Memang ada ruang rahasia lain yang memiliki item berharga di baliknya, terus kau mau apa?" Jawab Theo begitu mendengar pertanyaan Thomas.


"Buuu… bukan begitu! Seharusnya kau membagi dengan kami, bukankah kita memasuki menara kuno ini sebagai tim!" Protes Thomas.


Sebelumnya mereka terlalu di sibukkan oleh memasukkan tumpukan harta sampai mengabaikan Theo yang menemukan ruang rahasia lain. Orang-orang ini mengira, Theo hanya bermain-main dan belajar tentang formasi kuno yang terukir di dinding ruangan.


"Hmmm… Aku sudah membagi harta bukan? Pada 3 lantai awal, aku sama sekali tak menyentuh harta lain selain yang berada di balik ruang rahasia yang berhasil kutemukan!"


"Lagi pula, aku menemukannya dengan usahaku sendiri! Kenapa juga aku harus membaginya dengan kalian!" Dengus Theo. Yang segera di sambut tatapan nanar dari kelompok di hadapannya.


Lagi-lagi semua yang di ucapkan Theo adalah benar. Tapi tetap saja, hati mereka terasa sakit. Sekarang setiap orang mulai merasa bahwa tumpukan harta yang berhasil mereka dapatkan di dalam Spacial Ring, hanyalah remah-remah kue yang tak penting. Sementara kue terlezat, saat ini telah di kantongi Theo.


"Hmmmm… Kenapa masih menatapku seperti itu?" Dengus Theo dengan nada sangat dingin. Saat menyadari tatapan serakah mulai muncul pada ekspresi setiap orang.


Mendengar kata-kata Theo, serta melihat ekspresi menyeramkan yang kini mulai terpasang di wajahnya, para Bandit segera menundukkan kepala, tak berani lagi protes. Hanya menyisakan si Gendut yang tampak masih sedikit tak terima.

__ADS_1


"Kalau kalian masih tak terima, maka cukup disini saja! Aku akan naik kelantai enam seorang diri! Dengan begitu lupakan tentang pembagian harta!" Dengus Theo. Kini mulai berjalan keluar ruangan harta. Menuju tangga lantai enam yang tampaknya adalah lantai puncak menara.


Mendengar itu, para Bandit serta Thomas segera mengejar Theo, tak mau di tinggal olehnya. Lagipula, masih ada harapan bahwa janji Theo yang akan membagi harta setelah berhasil keluar dari menara akan ia penuhi.


Theo sudah melangkah pada pertengahan tangga menuju lantai enam, sampai kelompok di belakangnya mencoba menyusul. Namun, ketika orang-orang ini hendak melangkahkan kakinya pada anak tangga pertama...


*Bzzzttt….!!!


Sebuah derakan keras yang diiringi dengan terjangan kilatan listrik merah, tiba-tiba menerjang kearah kelompok ini. Membuat setiap orang yang terkena serangan listrik merah itu, segera terpental mundur. Hangus seluruh tubuhnya oleh derakan listrik merah yang dahsyat.


"Apa yang terjadi?" Seru Theo kaget, saat listrik merah tiba-tiba menyala dari lantai enam, melewati dirinya begitu saja, kemudian mendarat dengan derakan keras pada kelompok di belakangnya.


"Hanya pewarisku yang boleh naik kelantai enam! Setiap orang yang tidak berkepentingan, silahkan kembali!"


Saat Theo dan orang-orang di belakangnya masih tampak bingung dengan peristiwa aneh yang baru saja terjadi. Sebuah suara serak nan berat seorang lelaki, tiba-tiba terdengar menggema dengan keras dari arah lantai enam menara.


"Pewaris?" Gumam Theo.


"Listrik merah ya, dan dengan semua formasi yang terpasang di dalam menara, dimana hampir sama persis dengan yang di pasang di tempat itu, maka tak salah lagi!"


"Jadi, itu kenapa aku merasa ada sesuatu yang memanggilku untuk segera masuk, ketika berada di pintu luar menara!"


------


Note :


Karena sekarang hari minggu, jadi satu chapter ^^

__ADS_1


__ADS_2