
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Keesokan harinya)
"Ini percuma! Sialan!" Bentak Theo frustasi, ketika kembali gagal membuat kemajuan dalam percobaannya.
"Hmmm… aku punya ide, tapi seperti biasa, ini perjudian!" Kata Tiankong, di samping Theo.
Mendengar itu, Theo mengerutkan keningnya. "Master, tolong katakan, ide macam apa itu?" Tanya Theo.
"Mudah saja, balik prosesnya, jangan gunakan sepatumu untuk keluar, tapi gunakan untuk masuk kedalam diawal!" Kata Tiankong.
"Dengan begitu, kau akan mencapai posisi start awal lebih jauh di dalam gua, sebelum mulai berlari masuk lagi kedalam!"
Theo kembali mengerutkan keningnya ketika mendengar ide dari Tiankong. Seperti kata Masternya, ini adalah sebuah perjudian. Dengan menggunakan sepatu kelas Illahinya di awal, Theo memang bisa membuat posisi start jauh di dalam gua.
Namun, bila sudah sejauh itu dan dia tetap tak mampu menjangkau tempat tumbuhnya Bunga Udumbara Embun dengan berlari biasa di sisa perjalanan, maka tentu tak akan ada jalan kembali. Karena semua sisa simpanan Mananya telah habis di awal untuk mengaktifkan sepatu kelas Illahi. Kondisi terburuknya, dia akan berakhir terjebak dan terbawa oleh Kabut Mistis Abadi.
"Hmmmm… ini memang sepenuhnya perjudian. Karena kita tak tahu seberapa dalam gua itu, kita benar-benar tak bisa menghitung rasio keberhasilan ide ini." Gumam Theo.
"Namun, kukira ide ini layak di coba." Kata Theo, dia sendiri memang sudah tak memiliki ide atau cara lain selain yang di tawarkan oleh Masternya ini.
"Paling tidak, ini bukan situasi yang menyangkut nyawa. Aku hanya akan terjebak di dalam kabut tersebut, dan dipindahkan ke tempat lain." Gumam Theo kemudian. Bagaimanapun juga dia masih memiliki teknik Ice Projection.
Ketika memang harus terbawa kabut, dia bisa mengumpulkan Mananya lagi, dan ketika sudah cukup, dia bisa mengaktifkan tekniknya tersebut, sehingga bisa lolos dari seretan kabut seperti sebelum-sebelumnya.
"Baik, sudah diputuskan, aku ambil perjudiannya lagi!" Kata Theo. Kemudian mulai kembali mengisi simpanan Mana yang ada di dalam Element Seednya.
**
__ADS_1
(Hari berikutnya)
Theo yang telah mengisi penuh simpanan Mananya, kini terkihat telah siap untuk melakukan percobaan menerobos gua sekali lagi.
"Boss… mau mencoba lagi?" Tanya Arthur.
"Yah.. tapi kali ini akan sedikit berbeda!" Jawab Theo.
"Sedikit berbeda bagaimana?" Kali ini, Aria yang dalam beberapa hari terakhir jarang berbicara, ikut bertanya.
"Setelah ini, bila dalam setengah hari aku tak keluar, kalian segera tinggalkan tempat. Tak perlu menungguku!" Jawab Theo.
Mendengar itu, Aria segera mengerutkan keningnya, entah kenapa ia merasa ada sesuatu yang tidak beres.
"Apa lagi yang kau rencanakan? Jangan bertindak gegabah!" Kata Aria, terlihat agak cemas.
"Itu benar Boss! Lebih baik kita lepaskan saja bunga sialan ini! Kita bisa kembali lain waktu!" Arthur ikut menambahi.
"Tidak bisa! Kita saat ini, bahkan tak tau lokasi dimana kita berada! Jadi menurutmu, bagaimana cara untuk kembali kesini?" Tanya Theo.
"Terlebih lagi, perbukitan Merak ini hampir sama luas dengan Hutan Pinus Beku. Itu akan sangat sulit mencari lokasi ini lagi. Aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan yang ada di hadapanku sekarang!"
"Hmmm… berhenti bersikap percaya diri dan narsis! Kau pikir semua hal yang terjadi di dunia ini hanya berputar di sekitarmu? Kau pikir bahwa kau ini adalah manusia istimewa yang di sayang takdir atau semacamnya?" Bentak Aria, mulai kesal dengan sikap Theo.
"Sungguh, aku memang mulai berfikir seperti itu!" Kata Theo singkat, sambil memasang senyum aneh.
"Hahaha.. dasar narsis! Tapi entah kenapa aku juga berfikir seperti itu!" Kata Tiankong, di sebelah Theo. Juga dengan senyum aneh.
"Kau… " Mendengar jawaban sangat narsis dari Theo, Aria sampai kehabisan kata-kata. Tak mampu memberi sanggahan apapun.
"Hahhaha... Boss...! Kau sangat keren!" Berbeda dengan Aria yang terlihat kesal dengan jawaban Theo, Arthur justru menganggapnya keren.
"Sudahlah, ingat kata-kataku tadi, bila dalam setengah hari aku tak kembali, segera tinggalkan tempat! Jangan lupa, masih ada orang bernama Beladro yang kita tak tahu nasibnya!" Kata Theo, sambil melihat kearah Aria.
Kemudian, tanpa menunggu tanggapan lagi dari Aria, Theo mulai mengetuk sepatu kelas Illahinya ketanah.
*Dug… dug… dug…
Melihat apa yang dilakukan Theo, Aria yang kini sadar dengan garis besar rencana Theo, mulai terlihat khawatir.
__ADS_1
"Untuk mencapai puncak tertinggi, kau harus berani mengambil resiko dan menyambar semua kesempatan" Gumam Theo, mengulang kata-kata yang dulu diucapkan oleh Tiankong, ketika dirinya akan memasuki Gerbang dosa.
Mendengar itu, Aria kini tak bisa menyembunyikan ekspresi khawatirnya lagi. "Kau gila, jangan…."
*Bzzztt…. Bzztt… bzzztt…
Namun, sebelum Aria menyelesaikan kata-katanya, Theo menghilang dalam sekejap dari hadapannya. Hanya menyisahkan seberkas listrik merah yang tertinggal.
"Dasar idiot..! Idiot…! Idiot..!!" Aria yang tak tahu lagi harus berkata apa, hanya bisa mengumpat kesal. Dia mengulang kata idiot tiga kali sambil menghentak-hentakkan kakinya ketanah beberapa kali.
"Untuk mencapai puncak tertinggi, kau harus berani mengambil resiko dan menyambar semua kesempatan! Itu sangat keren!" Gumam Arthur mengulang kata-kata Theo, Berbeda dengan Aria, Arthur justru terlihat semakin fanatik mengagumi Theo.
**
(Didalam gua)
*Bzzztt… bzzzttt… bzzztt….
"Oke, kita lihat hasil taruhannya!" Gumam Theo, ketika sampai di lokasi terjauhnya didalam gua. sejurus kemudian, ia mulai berlari kencang.
Kini Theo yang hanya bisa mengandalkan tenaga fisiknya saja untuk menyelesaikan sisa perjalanan, terus berlari kencang tanpa menoleh kebelakang sekalipun, setiap detik adalah berharga.
Kondisi tersebut bertahan hingga 5 menit terakhir, sebelum batas waktu 30 menitnya berakhir, dan gelombang kabut berikutnya akan muncul. Hal ini membuat Theo semakin khawatir. Namun, ketika menit terakhir tersisa, dia tiba-tiba mendengar sebuah suara aneh.
"Huuuu….. huuu…. Huuu… "
Suara mendayu aneh terdengar samar-samar tak jauh di hadapannya. Suara mendayu ini entah kenapa membuatnya sangat merinding. Suara ini terdengar seperti sebuah tangisan, tangisan dari orang yang tengah dalam kesedihan yang sangat mendalam.
"Sudah tak jauh lagi, ini adalah tangisan pilu, suara khas dari bunga Udumbara." Kata Tiankong.
Mendengar itu, Theo menjadi bersemangat, dia segera memaksa tubuhnya untuk bergerak lebih cepat lagi menuju arah sumber suara.
Beberapa saat kemudian, Theo akhirnya sampai ditempat yang ia tuju, dihadapannya saat ini, dia bisa melihat sebuah bunga dengan kelopak raksasa berwarna biru pucat. Kelopak tersebut berdiri tegak, ditopang oleh sebuah tangkai panjang yang sangat menjulang tinggi.
Tangkai itu sendiri, meskipun sangat tinggi, namun memiliki bentuk yang sangat tipis. Hal ini akhirnya membuat penampakan Bunga Udumbara Embun terlihat aneh dan janggal. Selain itu, bunga ini juga terus bergerak-gerak seperti sedang bergoyang ringan, membuat penampakannya yang dikombinasikan dengan suara tangisan yang keluar darinya, semakin aneh saja. Cenderung menakutkan.
Theo sedikit terhenyak ketika pertama kali melihat bentuk Bunga Udumbara Embun di hadapannya, dia hanya baru tersadar kembali ketika Tiankong memanggil dan memperingatkannya bahwa bunga ini akan segera memproduksi Kabut Mistis Abadi lagi.
Tanpa menunda, Theo yang kembali sadar, segera maju menerjang kedepan. Menggunakan tangan kosong, dia terlihat hendak meraih tangkai bunga yang masih bergoyang-goyang.
__ADS_1