
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Kalian dengar intruksi Boss Besar! Maju! Musnahkan semua b*jingan ini!" Seru Thomas lantang dengan nada penuh amarah. Tanpa menunda dan tanpa mengatur divisi apapun, ia yang telah berubah kedalam mode Meridian Knightnya, melompat turun dari Glory Land Warship.
Langkah Thomas, segera diikuti oleh seluruh anggota kelompok Bandit Serigala yang lain. Ribuan orang keluar dari dalam realm kecil. Melompat turun dari atas dek Glory Land Warship sambil meneriakkan seruan-seruan perang.
*Bammmmm….!!!!
*Woooshhhh….!!!!
*Bammmmm….!!!
Disisi lain, Theo yang telah lebih dahulu memasuki medan pertempuran, kini bagaikan dewa kematian, terus melancarkan serangan ganas berbagai atribut Mana. Melangkah dengan langkah perlahan tapi pasti membelah lautan musuh. Lurus menuju kearah Gahui yang saat ini dilindungi oleh seluruh anggotanya.
"Bocah sombong! Kau pikir hanya karena memiliki satu teknik yang dapat meningkatkan seluruh potensi tubuhmu, itu akan cukup untuk melawan kelompok Bandit Kumbang Gurun? Jangan lupa kalian sekarang sedang berada di markas kami! Dan disini, ada dua orang Emperor!" Bentak Gahui.
"Kalian semua menyingkir!" Bentak Gahui, seraya memberi tanda kepada pria tua wakil pemimpin kelompok Bandit Kumbang Gurun yang memiliki kelas Emperor sama seperti dirinya, untuk maju menyerang secara bersamaan.
Gahui yang kini telah berubah kedalam Mode Meridian Knightnya, menggenggam erat senjata golok dengan kedua tangan. Menerjang kedepan sembari mengeluarkan seluruh aura kelas Emperor dalam tubuhnya. Aliran Mana Besi intens, berderak dengan suara liar.
Disisi lain, wakil pemimpin tua kelompok Bandit Kumbang Gurun yang juga ikut menerjang maju, tak mau ketinggalan dengan Boss Besarnya, ia mengeluarkan seluruh aura dalam tubuhnya. Berubah kedalam Mode Soul Knight, mengalirkan semburat Mana Angin tajam.
"Sasi! Bisa urus pria tua ini sebentar?" Gumam Theo.
Bersamaan dengan gumaman Theo, Glory Land Warship menyala terang dengan kemilau emas. Dan tepat ketika pintu dek kapal perang telah terbuka, Theo membuat gerakan tangan menunjuk kedepan, mengalirkan listrik merah dari sarung tangan kilat menuju pria tua, sebelum mengarah telunjuknya keatas.
*Bzzzzzttt…!!!
Dengan satu derakan listrik merah, tubuh pria tua menghilang.
__ADS_1
"Apa?"
Perubahan peristiwa yang tiba-tiba terjadi, membuat Gahui segera memasang ekspresi wajah terkejut, namun sebelum ia sempat menghentikan laju serangannya….
*Bammmm….!!!
Theo yang berselimut berbagai atribut Mana, menerjang balik kearahnya, memberi satu pukulan tangan keras pada wajah Gahui, dimana dengan sukses membuat tubuh Gahui terpental balik.
"Uhuuukkk…!!!"
Gahui segera muntah banyak darah segar begitu mendarat. Benar-benar tak menyangka bahwa bobot pukulan Theo akan seberat itu. Terlebih lawannya ini hanyalah seorang King tahap Bumi, sementara dirinya adalah Emperor tahap awal puncak yang juga merupakan Meridian Knight dengan atribut besi, dimana seharusnya memiliki pertahanan tubuh fisik yang luar biasa.
Setelah selesai memukul Gahui, Theo tak segera melancarkan serangan kedua, melainkan mulai menyebar atribut Mana Kegelapan dalam tubuhnya. Eye of Agamoto juga semakin menyala terang. Aksi Theo ini, diakhiri dengan ia melirik kesuatu arah di sudut kemah besar kelompok Bandit Kumbang Gurun.
"Aku tak berniat meninggalkan satu orangpun untuk bertahan hidup! Jadi itu percuma jika kau mencoba sembunyi! Apalagi kabur!" Gumam Theo. Seketika menghilang dari tempatnya berdiri.
*Woooshhhh….!!!
*Baaaammmmm….!!
Theo muncul kembali pada tempat dimana tadi sempat ia lirik, melancarkan satu pukulan pada udara kosong. Namun, dari udara kosong yang ia pukul, semburat atribut Mana Kegelapan mulai berhamburan. Satu sosok terpental keluar dari dalam udara kosong.
Sosok tersebut yang tak lain adalah Etna, terbatuk sambil menyemburkan banyak darah segar begitu mendarat. Wajahnya tampak pucat pasih saat ia menekan erat dadanya yang baru saja menerima pukulan Theo.
Jika Gahui tak menyangka bahwa bobot pukulan Theo begitu berat, Etna disisi lain tak menyangka bahwa ia akan bisa ditemukan semudah itu oleh Theo. Menyebabkan Etna sama sekali tak mengaliri tubuhnya dengan teknik pertahanan apapun. Karena dari awal, ia yang berencana kabur, hanya memfokuskan untuk menekan hawa keberadaannya.
"Hmmmm… Seorang Emperor lainnya!" Gumam Theo. Seraya membuat satu gerakan tangan menunjuk kearah Gahui yang berada disisi lain. Memerintahkan agar keempat senjata dosa, untuk menahannya terlebih dahulu.
"Baiklah! Kau yang pertama! Sebelum aku kembali mengurus sampah yang ada disana!" Gumam Theo. Kembali menghilang dari lokasi tempat ia berdiri.
"Tu-Tunggu…!" Seru Etna.
*Baaaammmmm….!!!!
Namun, seruan Etna, tak membuat Theo menghentikan serangan. Ia sekali lagi mendaratkan satu pukulan telak pada perut wanita tersebut.
"Goooaahhh….!!!!"
Etna kembali tepental sembari memuntahkan banyak darah segar. Serangan pertama Theo dalam bentuk rage buatan absolute yang ia terima tanpa pertahanan sama sekali, sepertinya telah memberi dampak luka yang sangat serius pada tubuh dan ranah jiwa Etna. Menyebabkan kini ia menjadi tak berdaya, bahkan kesulitan mengatur aliran Mana dalam tubuhnya.
__ADS_1
Hal ini pula yang menjadi alasan kenapa Theo memutuskan untuk menyelesaikan Etna terlebih dahulu.
*Bammmmm….!!!
Etna yang baru saja mendarat, tak sempat mengatur nafas saat Theo sekali lagi dengan tanpa berkedip dan tanpa belas kasihan mendaratkan pukulan ketiga. Di titik yang sama persis. Menyebabkan luka Etna menjadi semakin parah.
"Uhuuukkkk….!!!"
Melihat Etna sudah sekarat, Theo kembali menghilang dari lokasi semula, kini berdiri tepat di hadapan Etna, menatapnya dengan tatapan tajam. Terlihat akan memberi pukulan terakhir.
"Tu-Tunggu…!!!" Gumam Etna. Sebelum dengan putus asa melempar sesuatu dari dalam Spacial Ringnya. Yang ia lempar, adalah sebuah tanda pengenal.
Satu tanda pengenal yang membuat Theo sedikit mengerutkan kening. Karena ia mengetahui tanda pengenal tersebut.
"Aku adalah anggota tak resmi dari salah satu cabang Dark Guild! Dan Boss Besar dari kelompok Bandit Menara Langitku adalah seorang Godfather! Sama sepertimu!" Ucap Etna, dengan suara bergetar.
Perkataan Etna yang dengan putus asa mencoba untuk bertahan hidup, ternyata tak membuat ekspresi wajah Theo menunjukkan perubahan sama sekali. Ia masih menatap kearahnya dengan tatapan tajam.
"Godfather?" Gumam Theo. Dengan nada dingin.
"Kau pikir aku peduli dengan identitas Boss Besarmu?" Tambah Theo.
Satu kalimat yang segera membuat ekspresi wajah Etna menjadi semakin putus asa.
Bersamaan dengan kata-kata terakhir yang diucapkan oleh Theo, ia tanpa berkedip membuat satu gerakan menebas kedepan. Mengalirkan Mana Angin pada ujung jarinya, Theo memenggal kepala Etna.
Dengan menggelindingnya kepala Etna, seorang Emperor yang menjadi salah satu pilar penjaga keseimbangan dari empat kelompok besar yang menguasai wilayah Gurun Purba, mati di tangan Theo malam itu.
Tindakan Theo ini, tentu saja membuat setiap orang yang kebetulan ada di sekitar, segera menghentikan pertempuran masing-masing. Mereka menatap kearah Theo dengan tatapan tak percaya. Seorang pemuda berkelas King, baru saja membunuh seorang Emperor seperti sedang memotong rumput yang tak penting.
Dan saat tatapan setiap orang masih terarah padanya, Theo yang tampak tak peduli, kini mulai mengalihkan pandangannya kepada Gahui yang saat ini masih bertarung melawan empat senjata dosa.
Pada detik berikutnya, sosoknya kembali menghilang, bersama dengan menghilangnya sosok Theo, setiap kepala anggota kelompok Bandit Kumbang Gurun yang berada di jarak antara dirinya dan Gahui, kini terlepas dari badannya masing-masing.
*Bammmmm….!!!
Theo muncul kembali dengan satu tinju keras yang kali ini disambut Gahui dengan teknik pertahanan sempurna. Ia tampak tak ingin mengulang kejadian pertama dimana tertangkap lengah meremehkan bobot pukulan Theo.
Namun, meskipun tampak telah siap, terlihat jelas dari sorot matanya, bahwa Gahui mulai merasa takut pada sosok pemuda bagaikan iblis yang saat ini menjadi lawannya.
__ADS_1