
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
"Haaahhhh…! Aku berhasil!" Gumam Theo. Dengan nafas berat serta tubuh basah kuyup oleh keringat.
Bukan hanya itu, bahkan set pakaian yang sebelumnya ia kenakan, kini telah terbakar habis. Hanya menyisahkan sepatu dan sarung tangan kilat menempel di tubuhnya. Sementara kulit tubuh Theo sendiri yang begitu keras, berakhir dipenuhi dengan berbagai luka bakar serius.
"Master terlalu santai saat menyebut prosesnya tak terlalu menyusahkan!" Umpat Theo, mulai merasa Masternya kembali memberi satu trik kecil untuk mengerjainya dalam intruksi yang pernah ia ucapkan.
Theo bisa menduga, jika saja Masternya saat ini masih ada, ia pasti sedang tertawa lantang begitu melihat kondisi mengenaskan tubuhnya.
"Hehehehe…! Tapi semuanya sepadan! Aku berhasil menaklukan Api Surgawi!" Gumam Theo, sembari menyalakan satu kobaran kecil Api Surgawi di jari telunjuk tangan kanannya.
Melihat kobaran Api Surgawi, entah kenapa membuat rasa sakit yang saat ini mendera seluruh tubuhnya, seakan lenyap begitu saja.
"Boss! Kau tak apa-apa?" Teriak Razak dari arah belakang.
Satu teriakan yang membuat Theo kembali sadar dari lamunan tatap matanya pada Api Surgawi. Seketika rasa sakit kembali menjalar keseluruh tubuhnya. Menyebabkan Theo yang mulai merasa tak tahan dengan semua rasa sakit tersebut, segera jatuh tak sadarkan diri.
"Boss!"
Melihat Theo jatuh dengan benturan keras pada lantai ruangan, anggota tim ekspedisi kelompok Bandit Serigala yang awalnya masih belum berani mendekat karena hawa panas sisa masih menyelimuti lokasi dimana Theo berada, kini tak peduli lagi dengan hal tersebut, dengan ekspresi wajah panik, mereka serentak maju kedepan untuk melihat kondisi Boss Besarnya.
"Benar-benar sembrono!" Gumam Tuan Leluhur. Sambil mulai melihat sekeliling. Dimana saat ini, ruang penyimpanan harta Suku Osiris, telah hancur berantakan. Sebagian harta sumberdaya kuno berharga, lenyap terbakar api.
Ia sendiri tak menyangka bahwa proses menaklukan yang dikatakan dengan santai oleh Theo, akan berlangsung sangat berbahaya, bukan hanya bagi Theo yang sedang melakukan proses menaklukan Api Surgawi, bahkan orang-orang lain yang berada di dalam ruang harta, juga ikut mempertaruhkan nyawa.
Kobaran api liar yang begitu intens, serta hawa panas yang tak tertahankan, bisa saja membunuh beberapa orang jika Tuan Leluhur tadi tak turun tangan langsung mengeksekusi teknik pertahanan miliknya untuk melindungi semua orang.
***
"Bagaimana kondisinya?" Tanya Sanir, kepada Darsa yang selesai memeriksa tubuh Theo.
"Hmmmm… Luka bakar di tubuhnya meskipun bisa dikatakan sangat parah, namun secara aneh membaik sedikit demi sedikit seiring berjalannya waktu!" Jawab Darsa.
__ADS_1
"Bagaimana bisa?" Tanya Guan Zifei. Sambil memasang ekspresi wajah meragukan.
"Aku juga tak tahu! Jika tak percaya, kau bisa memeriksanya sendiri!" Jawab Darsa singkat.
Mendengar kata-kata Darsa, Guan Zifei yang terlihat ragu, tanpa menunda segera memeriksa kondisi Theo.
"Tubuh fisik yang luar biasa!" Gumam Guan Zifei. Sesaat setelah memeriksa luka-luka Theo.
"Minggir!"
Setiap orang masih menatap kearah tubuh Theo dengan tatapan tak menentu, tak tahu apa yang harus mereka perbuat, sampai kemudian suara Tuan Leluhur terdengar lantang.
Tuan Leluhur berjalan menyingkirkan setiap orang yang sedang mengerumuni Theo, dan ketika sudah berada tepat di hadapannya, dengan tiba-tiba ia menyalurkan aliran Mana Besi pekat kedalam tubuh Theo. Menyebabkan hentakan keras yang mengguncang seluruh tubuhnya.
"Apa yang kau lakukan!" Bentak Gerel, ketika melihat apa yang dilakukan Tuan Leluhur. Ekspresi wajahnya tampak begitu cemas saat tubuh Theo kini mulai bergetar hebat.
"Pak tua! Apa yang kau lakukan!" Teriak Hella, ikut membentak Tuan Leluhur dengan raut wajah penuh amarah.
"Tuan Leluhur kenapa kau melakukan itu?" Tanya Razak. Memasang ekspresi cemas.
"Diam!" Bentak Tuan Leluhur balik. Saat merasa setiap orang yang ada di sekitar, kini menatapnya dengan tatapan penuh nafsu membunuh.
"Kau yang diam! Jelaskan apa yang telah kau lakukan padanya!" Bentak Zhou Kang.
"Kalian semua! Berhenti cemas! Yang ia lakukan sudah sangat tepat!"
Setiap orang masih menatap dengan tatapan penuh nafsu membunuh kearah Tuan Leluhur, sampai kemudian, suara Theo tiba-tiba terdengar. Ia saat ini terlihat telah mengambil posisi duduk bersila. Dengan cepat menelan beberapa Pill obat, kemudian jatuh kedalam kondisi meditasi.
"Sekumpulan amatir! Jika saja aku tak menyentak Element Seednya dengan aliran Mana Besi, ia jelas akan berakhir menderita luka parah! Sementara kalian yang tak memiliki cukup wawasan, hanya akan melihat disamping, merasa tubuh pemuda ini akan pulih dengan sendirinya! Konyol!"
"Razak, ikut aku!" Ucap Tuan Leluhur, seraya berjalan menjauh.
Mendengar kata-kata Tuan Leluhur, Razak yang merasa Boss Besarnya telah dalam kondisi aman, segera mengikuti di belakang.
***
"Hmmmm… Sudah berapa lama aku memulihkan diri?" Ucap Theo, ketika pertama kali membuka mata.
Menyadari Theo telah kembali membuka mata, setiap orang yang sedang berjaga di sekitar, segera mendekat.
"Sekitar dua hari penuh!" Jawab Darsa.
"Ahhh… Lumayan lama!" Tanggap Theo, seraya mulai berdiri.
__ADS_1
"Kalian tak lapar?" Tanya Theo. Sambil memegang perutnya.
"Emmmm… Boss! Sebaiknya kau kenakan pakaian dulu! Bisa dibilang kau sekarang sedang telanjang bulat!" Ucap Sanir. Dengan wajah memerah serta tatapan mata tak fokus sedikit melihat kearah bagian intim Theo.
Mendengar kata-kata Sanir, Theo segera memasang ekspresi wajah sedikit tergugup, sebelum dengan cepat mengeluarkan persediaan pakaian dari dalam gelang ruang-waktu. Memakainya secepat yang ia bisa.
***
(Beberapa saat kemudian)
"Hahhaha…! Maaf, itu tadi tak sengaja!" Ucap Theo. sambil tertawa canggung.
"Hmmmm… Tak perlu di risaukan! Yang lebih penting, bagaimana kondisimu?" Tanya Darsa.
"Sudah cukup baik!" Jawab Theo, seraya mengeluarkan beberapa makanan dari dalam Gelang ruang-waktu. Memakannya dengan lahap.
"Ngomong-ngomong, dimana Razak dan Tuan Leluhur?" Tanya Theo.
"Mereka pergi ke salah satu ruangan lain! Tuan Leluhur tak membiarkan setiap orang untuk ikut masuk!" Jawab Darsa.
"Ohhh….! Baiklah!" Jawab Theo.
"Itu karena ruangan tersebut adalah ruang rahasia suku Osiris! Salah satu area terbatas yang hanya boleh di masuki olehku dan Razak!"
Theo masih makan dengan lahap, sampai tiba-tiba suara Tuan Leluhur terdengar dari arah belakang setiap orang. Ia berjalan mendekat bersama dengan Razak.
"Kau tak masalah dengan itu bukan?" Tanya Tuan Leluhur.
"Tentu saja tak masalah! Bagaimanapun juga, reruntuhan kuno ini adalah milik kalian! Aku akan tetap memegang prinsip sopan santun!" Jawab Theo.
"Terimakasih! Selain ruangan tersebut, itu terserah kau untuk melakukan pengaturan, karena Razak tadi bilang bahwa kau yang menjadi pemimpin kelompok! Ia menyerahkan semua kepadamu!" Ucap Tuan Leluhur.
Ucapan Tuan Leluhur, segera disambut dengan senyum sederhana oleh Theo. Tanpa menunda, ia kemudian mulai memberi intruksi.
Darsa, Sanir, Gerel, dan Guan Zifei, bertugas merekap jumlah Gunungan Mutiara Mana. Memilah dari Mutiara Mana Perunggu, sampai Mutiara Emas yang bernilai kota. Sementara Hella, Zhou Kang, dan Razak, bertugas memeriksa sumberdaya lain, berupa tanaman obat dan perlengkapan tempur.
Disisi lain, Theo sendiri, mengajak Tuan Leluhur, kelokasi dimana rongsokan Glory Land Warship berada.
"Apa sebenarnya yang ingin kau lakukan?" Tanya Tuan Leluhur.
"Hmmmmm… Dengan Api Surgawi yang telah kumiliki, aku punya satu ide yang mungkin bisa dicoba! Jika ide ini berjalan lancar, kurasa aku bisa memperbaiki kapal perang ini!" Jawab Theo.
"Namun, dalam prosesnya, aku perlu sedikit bantuanmu!"
__ADS_1