
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Didepan pintu gua kecil tempat Bunga Udumbara Serbuk Besi berada)
*Wusshh….!!!
Dengan satu ayunan tangan sederhana, Theo membongkar teknik Ice Projection yang sebelumnya ia pasang pada pintu masuk. Menyebabkan sekali lagi pintu gua kecil dapat dilihat oleh mata telanjang.
"Teknik yang menarik! Jadi Mana Es bisa dimanfaatkan seperti itu! Kau benar-benar tak hentinya membuatku kagum!" Ucap Tuan Leluhur. Yang saat ini berdiri di samping Theo. Memutuskan untuk menemani dan melihat proses pencabutan Bunga Udumbara Serbuk Besi yang akan di lakukan oleh Theo.
"Apakah ini juga salah satu teknik yang diajarkan Mastermu yang luar biasa itu?" Tanya Tuan Leluhur.
"Tidak! Yang satu ini, dan beberapa lainnya, merupakan ciptaanku sendiri!" Jawab Theo singkat.
"Ohhhh… Masih begitu muda! Tapi kau sudah mampu menciptakan manual teknik sendiri? Itu hal yang biasanya hanya bisa dilakukan oleh seorang Knight tua dengan pengalaman hidup yang lumayan panjang!"
"Hanya mereka yang telah lama bergelut dengan suatu atribut Mana, akan cukup mampu untuk melakukan improvisasi dan membuat satu manual teknik baru!" Tambah Tuan Leluhur, menatap dengan tatapan penuh minat kearah Theo.
Kata-kata Tuan Leluhur, disambut dengan satu senyum tipis kini terlihat di wajah Theo.
"Bagaimana aku harus menjelaskannya? Sesuatu yang tampak oleh mata, kadang bisa menipu! Mungkin aku memang sudah cukup tua! Sehingga bisa melakukan hal-hal tersebut!" Jawab Theo.
Satu jawaban yang dengan segera menyebabkan Tuan Leluhur mulai memasang senyum seringai menyeramkan. Memamerkan gigi-gigi runcing Serigala perak dibalik mulutnya.
"Aku sudah sempat sedikit menerka-nerka! Dari awal, ketika pertama melihat tatapan matamu, dimana memiliki ketajaman yang tak sesuai dengan usia yang kau miliki, ditambah dengan ketika melakukan obrolan denganmu, dimana aku seperti sedang mengobrol dengan orang yang sebaya, kau pastilah memiliki usia jiwa yang tak normal!" Ucap Tuan Leluhur.
"Katakan, apa kau adalah seorang senior dari masa lampau yang melakukan satu teknik legendaris dalam mitos catatan-catatan kuno? Teknik reinkarnasi? Memindahkan jiwa dan segala kesadarannya kedalam tubuh baru jauh di masa depan?" Tanya Tuan Leluhur.
"Hahahha….!!"
__ADS_1
Pertanyaan Tuan Leluhur, segera disambut Theo dengan tawa lantang. Merasa spekulasi yang ia sampaikan, terlalu jauh.
"Kau salah total! Diriku sepenuhnya adalah orang yang lahir pada jaman ini! Dan aku juga meragukan bahwa teknik reinkarnasi benar-benar ada! Itu mungkin hanya satu mitos yang di tulis oleh seorang dari jaman kuno dimana mendambakan tambahan umur!"
"Bagaimanapun juga, sebagai seorang yang telah berada di puncak jalan Knight, yakni Emperor tahap Surga, kau pasti juga memiliki perasaan macam itu! Mendambakan tambahan umur untuk bisa membongkar misteri, apakah memang benar ada tingkatan lain diatas Emperor!" Jawab Theo.
"Hmmmm… Benarkah begitu? Aku tak bisa menemukan metode lain untuk menjelaskan kondisimu!" Ucap Tuan Leluhur.
"Yah, aku tak bisa menjelaskan secara detail! Intinya adalah, ada satu item peninggalan Masterku yang menyebabkan jiwaku, harus mengalami kehidupan selama ratusan untuk menaklukkannya! Dan sampai saat ini, aku telah menaklukkan empat dari item tersebut!" Jawab Theo.
Penjelasan Theo, segera membuat Tuan Leluhur sedikit memicingkan mata. Tampak berfikir untuk beberapa saat.
"Jika yang kau katakan itu benar, dan dirimu telah menaklukkan empat item, yang mana kau seharusnya telah menjalani empat kehidupan, maka usia jiwamu seharusnya…" Gumam Tuan Leluhur, seraya menatap dengan tatapan mata bergetar kearah Theo.
"Hahhaha…! Sudah, tak perlu dipikirkan! Hanya membuang waktu! Tak ada manfaatnya juga!" Ucap Theo, kemudian segera mengaktifkan tatto segel Guardian Beast di punggung tangan kanannya.
Joy kecil melompat keluar, mendarat dipundak Theo untuk sesaat, sebelum dengan pandangan antusias, melompat kearah Gua, menerjang masuk sembari melahap aliran Serbuk Besi. Sementara Theo, tanpa menunda mengikuti di belakang.
"Tidak bisa begitu! Jika semua yang kau sampaikan benar, maka itu kau yang harusnya di panggil sebagai Tuan Leluhur! Usiaku ketika terakhir menghembuskan nafas bahkan tak sampai menyentuh 200 tahun!"
"Dan lagi, sebenarnya makhluk apa yang kau kontrak itu? Kenapa ia memiliki aura Mana Besi yang bahkan jauh lebih murni dari milikku?" Seru Tuan Leluhur, sembari bergerak mengikuti Theo.
(Di dalam gua)
"Tuuu….!!!!"
"Tuuuu….!!!"
Joy Kecil yang telah selesai memakan semua serbuk besi di sekitar, saat ini dengan ekspresi wajah riang gembira duduk di depan Bunga Udumbara Serbuk Besi. Melahap tiap aliran serbuk besi baru yang di produksi oleh bunga tersebut.
"Hmmmmm… Bunga Udumbara Serbuk Besi ini berkembang tak terlalu banyak semenjak aku melihatnya terakhir kali!" Ucap Tuan Leluhur, saat melihat Bunga Udumbara Serbuk Besi di hadapannya.
"Itu normal! Karena bagaimanapun juga, Variant Bunga Udumbara hanya menyerap inti sari paling murni dari aliran Mana sebagai makanannya!" Jawab Theo. Seraya mengeluarkan dua pisau kembar milik Aria.
"Jadi, bagaimana kau akan memotong bunga ini? Bahkan Leluhur kami dan beberapa anggota terkuat Suku Osiris di masa lampau, tak mampu melakukannya!" Tanya Tuan Leluhur.
"Itu karena kalian bukan orang yang dipilih oleh bunga ini! Tak memiliki ikatan takdir dengannya!" Jawab Theo.
"Dari kata-katamu, kau seperti tahu banyak tentang bunga ini." Ucap Tuan Leluhur.
__ADS_1
"Lumayan banyak! Aku juga sempat melihat variant lain Bunga Udumbara! Jadi ini adalah yang kedua, sementara untuk Kristal Plant, jika nanti berhasil memanen yang satu ini, maka akan menjadi yang ketiga! Karena kebetulan, salah satu kakakku juga sempat memetik satu Variant yang lain!" Jawab Theo.
"Mustahil! Presentasi perjumpaan dengan Bunga Udumbara bahkan tak tak ternilai! Itu lebih dari 1 banding miliaran kesempatan!" Gumam Tuan Leluhur, kini mulai melihat Theo layaknya putra kesayangan dewa keberuntungan.
"Hahaha…! Anggaplah aku cukup beruntung!" Jawab Theo singkat.
"Tapi kali ini, tak akan berjalan dengan mudah. Karena sepertinya aku juga bukan merupakan orang pilihan Bunga Udumbara Serbuk Besi ini! Aku sama sekali tak mendengar ia memanggilku?" Tambah Theo.
"Namun, ada metode lain untuk memetiknya! Dan secara kebetulan, lagi-lagi aku cukup beruntung bisa menggunakan metode tersebut!" Gumam Theo. Seraya mulai mengaktifkan dua pisau kembar milik Aria yang sedang ia genggam.
"Metode tersebut adalah, memetiknya menggunakan senjata yang telah di lebur dengan Kristal Plant Variant Bunga Udumbara lain!" Tambah Theo, dengan satu senyum tipis di wajahnya.
"Jangan bilang, pisau kembar itu…" Gumam Tuan Leluhur. Sebelum satu aura aneh yang menyebabkan visi menjadi buruk, mulai menyebar luas.
*Woooshhhh….!!!!
Kabut Mistis Abadi keluar dari ujung kedua pisau kembar, segera memenuhi seluruh ruangan dengan cepat ketika Theo mengaktifkan Kristal Plant Bunga Udumbara Embun yang tertanam di dalamnya.
*Slaaaassshhh….!!!!
Bersamaan dengan Kabut Mistis Abadi yang telah sepenuhnya menutup seluruh area, satu suara tebasan terdengar lirih ketika Tuan Leluhur masih belum bisa melihat apapun disekitarnya.
Tak lama setelah terdengarnya suara tebasan tersebut, Kabut Mistis Abadi berangsur mulai menghilang. Berakhir menampakkan sosok Theo yang saat ini telah menggenggam satu bola kristal berwarna perak cerah di genggaman tangannya.
"Dapat!" Gumam Theo, dengan ekspresi wajah antusias menatap Kristal Plant yang berhasil ia dapatkan.
Sementara Tuan Leluhur, saat ini hanya hanya bisa menatap hening kearah Theo dengan tatapan sedikit bergetar. Benar-benar tak menyangka bahwa prosesnya akan sesingkat itu.
"Krauuukkkk….!!!"
"Krauuukkkkkkk….!!!"
"Krauuukkkkkkk….!!!"
Suasana hening hanya terpecah ketika suara kunyahan keras yang sedikit mengganggu, tiba-tiba terdengar.
Suara kunyahan ini berasal dari Joy Kecil yang dengan lahap, kini mulai memakan tangkai-tangkai Bunga Udumbara Serbuk Besi.
"Tuuu….!!!"
__ADS_1
"Tuuu….!!!"