
Sebagai bentuk dukungan kawan-kawan buat Novel Seven Deadly Child ini. Penulis berharap, tanpa paksaan, cukup melakukan dua hal ini.
Sempatkan pencet tombol LIKE sebelum membaca.
Sempatkan meninggalkan KOMENTAR setelah membaca, terserah mau komen kayak apa, ketik satu huruf "A" saja sudah termasuk komentar kok :v
_____________________________________________
(Arena Tongkat)
"Sekarang aku ingat, kau adalah nona muda dari House of Asgard yang sebelumnya pernah menantang Lucius Braveheart!" Ucap Theo.
"Aku sempat melihatmu secara sekilas di Arena pribadi House of Braveheart ketika pertama kali berkunjung kesana!"
"Harus kuakui, pertarunganmu waktu itu sungguh nyaris! Seharunya kau bisa memenangkan pertarungan, hanya saja kau terlalu sering melakukan langkah ceroboh!"
"Tak mampu melihat beberapa celah dari gerakan teknik pedang Lucius!"
"Terlebih lagi, Lucius itu memanglah orang yang cukup licik! Menurutku, bila kau memutuskan untuk bertarung dengannya, tak cukup hanya mengandalkan kekuatan dalam pertarungan biasa! Kau harus mengimbangi kelicikannya!" Kata Theo, secara tiba-tiba berbicara panjang lebar, mengomentari pertarungan yang pernah ia lihat antara gadis bernama Hella dihadapannya, dengan Lucius Braveheart.
Peserta wanita yang kini akan di hadapi Theo sebagai lawan terakhir dalam pertandingan Arena Tongkat, ternyata tak lain adalah Hella Asgard, nona muda ketiga dari House of Asgard, satu dari 10 Biggest Knight Group yang bertempat di North Region.
Wanita inilah yang menjadi penyebab tak adanya orang yang menyambut rombongan Aria ketika pertama sampai di gerbang Housenya dari perjalanan kunjungan kewilayah Hutan Pinus Beku House Alknight.
Ketika itu, Hella Asgard datang dengan sombong, mengetuk papan nama House Braveheart tepat di hadapan Lord dan para tetua, kemudian mengajukan tantangan kepada tuan muda pertama House Braveheart, yakni Lucius Braveheart.
Yang di lakukan Hella saat itu adalah sebuah tradisi tantangan kepada suatu House, dan karena mendapat tantangan langsung di hadapan sang Lord, untuk menjaga harga diri House, tanpa menunda House Braveheart segera menyiapkan arena pertarungan untuk melayani tantangan Hella. Diakhir pertandingan tersebut, Hella Asgard harus menerima kekalahan dari Lucius.
Disisi lain, Hella yang saat ini mendengar Theo tiba-tiba mengomentari pertarungan antara dirinya dan Lucius, segera mengepalkan tangan erat. Menggenggam tombaknya dengan keras.
"Memangnya kau tau apa tentang diriku? Menganggap aku tak cukup cermat dalam melihat celah dari gerakan lawanku!" Gumam Hella, kini dengan ekspresi wajah ketus.
Pertanyaan ketus dari Hella, segera disambut dengan Theo mulai memasang ekspresi santai yang sedikit tengil.
__ADS_1
"Ohhh… Aku memang tak terlalu mengenal pribadimu! Karena kita memang benar-benar tak saling kenal!" Jawab Theo.
"Hanya saja, asal kau tahu, seorang Knight akan bisa di lihat sikap dan kepribadiannya, cukup dengan memperhatikan dengan teliti bagaimana cara ia memainkan senjata atau teknik-teknik pertempuran lain yang ia mainkan!"
"Dan dari caramu memainkan tombak, aku bisa melihat kau adalah orang yang cukup ceroboh dan sangat suka tergesa-gesa dalam melakukan apapun!" Ucap Theo, kini memandang Hella dengan sorot mata seperti seorang senior yang sedang menasehati juniornya.
Nada bicara Theo, serta sorot mata yang ia tunjukkan, segera membuat Hella kini tampak mulai menggertakkan gigi-giginya.
"Kau pikir siapa dirimu? Seorang pertapa kuno yang tak tertandingi? Beraninya mengomentari caraku bertarung!" Dengus Hella. Kemudian mulai mengangkat Tombaknya, memasang kuda-kuda sikap menyerang. Dan tanpa menunda, maju menerjang kearah Theo.
Melihat gadis muda dihadapannya mengambil inisiatif serangan, Theo hanya memberi senyum tipis, berdiri tegak sambil memanggul tongkat logam Baal di pundaknya. Tampak tak berniat memasang teknik bertahan apapun untuk menyambut terjangan lawannya.
"Sombong! Kau mencari kematian!" Gumam Hella, gadis ini terlihat tak berniat mengurangi tenaga sedikitpun meski tau lawannya tak memasang sikap bertahan.
"Mati!" Teriak Hella, malancarkan teknik serangan tombak menusuk kedepan, mengarahkan tombaknya yang tampak sangat bermartabat, tepat pada kepala Theo.
Namun, hanya sepersekian detik sebelum ujung tajam tombak Hella mengenai kening lawannya, Theo yang menjadi target serangan, tiba-tiba melakukan gerakan sederhana menyamping dengan ringan. Mengeksekusi Teknik Langkah Siput.
Hal ini menyebabkan Hella yang sedang mengeksekusi teknik serangan tombaknya dengan sekuat tenaga, harus sedikit terjerembab kedepan saat target serangannya tiba-tiba menghindar di detik terakhir.
Gadis ini kemudian harus berakhir dalam posisi jatuh yang cukup memalukan, saat Theo yang telah berhasil menghindar, melanjutkan aksinya dengan menendang ringan pantat Hella. Membuat Hella yang sudah kesulitan menjaga keseimbangan, benar-benar jatuh terjungkal kedepan.
"Bajing4n! Aku akan membunuhmu!" Bentak Hella, dengan wajah memerah karena malu. Ia langsung mengambil posisi berdiri sekali lagi, dan melanjutkan menerjang kearah Theo.
"Lagi?" Gumam Theo pelan, saat melihat Hella kembali menerjang kearahnya.
*Bug…!!!
Kejadian selanjutnya, hampir sama dengan serangan pertama Hella. Theo menghindar di detik terakhir dengan gerakan menyamping sederhana, dilanjutkan dengan sekali lagi menendang pantat Hella, membuat gadis tersebut kembali jatuh terjerembab kedepan.
"Lawan aku dengan benar kau baj1ngan!" Bentak Hella, ekspresi wajahnya kini semakin merah padam. Percampuran antara malu dan marah di saat bersamaan.
Setelah membentak marah, Hella kembali menerjang kearah Theo, hanya untuk kemudian berakhir dalam kondisi yang sama. Terjerembab kedepan dalam posisi memalukan.
"Kau..."
Hella hendak sekali lagi membentak Theo, namun kali ini Theo memotongnya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Kau ingin aku bertarung dengan benar! Tapi dirimu sendiri selalu melakukan serangan yang tak benar! Menerjang maju kedepan dengan ceroboh, tanpa menghitung terlebih dahulu bagaimana bila lawanmu mampu menghindari serangan yang sedang kau lancarkan!"
"Teknikmu memang begitu kuat dan sangat mendominasi, hanya saja memiliki satu lubang besar! Tak ada langkah pencegahan apapun bila terjadi kemungkinan serangan tersebut di hindari atau di tepis lawan!" Ucap Theo.
"Dan yang paling parah! Kau seperti tak belajar apapun, terus mengulang langkah yang sama meskipun sudah tau lawanmu bisa mengantisipasinya!" Tutup Theo, kini dengan sorot mata penuh ketajaman.
Mendengar kata-kata Theo, Hella masih tampak memasang wajah sengit, tapi kali ini ia hanya berdiri. Tak langsung melakukan terjangan kedepan. Gadis ini memandang Theo dengan tatapan tajam, sebelum mulai memainkan Tombaknya. Memasang kuda-kuda serangan yang agak berbeda.
"Tau apa kau tentang teknik tombakku? Ini adalah teknik tombak terbaik milik House of Asgard! Diciptakan langsung oleh salah satu leluhur kami, dan di turunkan secara turun temurun!"
"Kata-katamu barusan seolah mengatakan leluhur House of Asgard ku adalah seorang Knight yang tak kompeten!" Dengus Hella. Tatapannya semakin tajam kearah Theo. Kini mulai diwarnai titik-titik kebencian.
Theo yang mendengar kata-kata Hella, kini justru memasang ekspresi wajah meremehkan.
"Entah itu seorang pertapa agung! Atau bahkan seorang leluhur yang terhormat! Bila memang terdapat celah dari apapun yang mereka ajarkan atau turunkan! Maka itu sudah kewajiban generasi selanjutnya untuk meluruskan serta memperbaikinya agar menjadi lebih baik lagi!"
"Suatu kebodohan bila mengabaikan hal tersebut, dibutakan oleh sebuah senioritas yang menyesatkan, adalah jalan lapang menuju kehancuran!" Ucap Theo. Kini mulai membocorkan aura yang dari tadi ia tahan.
Kata-kata tajam Theo, segera membuat setiap penonton yang saat ini terfokus perhatiannya kearah Ring Arena Tongkat, karena pertarungan menarik lain di Arena Tangan Kosong telah berakhir, seketika menjadi terdiam.
Entah kenapa seluruh penonton kini mulai merasa merinding bulu kuduknya. Sensasi tersebut, dibarengi oleh dada mereka mulai berdebar hebat. Kalimat yang di ucapkan Theo, menginisiasi adrenalin setiap orang terpacu.
*Woooshhhh…!!!
Saat perhatian setiap orang masih terfokus kearahnya, Theo tiba-tiba melakukan gerakan maju menerjang kedepan, kali ini mengambil inisiatif serangan.
Melihat hal itu, Hella tanpa menunda mengambil kuda-kuda bertahan. Menyiapkan sikap pertahanan terbaik dari teknik tombak turun-menurun milik House of Asgard yang telah ia pelajari semenjak kecil.
Ia ingin membuktikan kata-kata tajam Theo yang secara tak langsung menganggap salah satu leluhurnya adalah Knight yang tak kompeten karena menurunkan teknik tombak cacat, adalah sebuah omong kosong besar.
*Dentang….!!!
Kejadian selanjutnya, tongkat logam Baal yang mendarat keras pada punggung tombak Hella, menyebabkan suara benturan memekakkan telinga yang menggema diseluruh Death Arena.
Situasi sempat terlihat buntu saat langkah keduanya tampak berimbang. Theo menekan keras Hella, sementara Hella kokoh menahan Theo. Sampai kemudian…
*Kraaakkk…!!!
__ADS_1
*Tanggg….!!!
Suara retakan yang diteruskan dengan bunyi logam patah, menjadi pertanda dari tombak Hella yang terpecah menjadi dua bagian.